NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Bunga Yang Hampir Layu

Lunaris duduk di halte dekat sekolah untuk menunggu bus. Meskipun kakinya berdenyut sakit setiap kali digerakkan, tapi Lunaris tetap memaksakan untuk menyeret kakinya menuju halte.

Langit di atas kota masih dihiasi semburat jingga. Angin sore bertiup lebih kencang, membawa aroma hujan yang tertunda dan debu jalanan yang tak pernah tidur.

Bagi Lunaris, setiap langkah adalah menahan penyiksaan dari rasa sakit yang terus berdenyut tanpa ampun.

Dan saat bus datang gadis itu kembali menyeret kaki kanannya yang terkilir untuk naik ke dalam bus, sedikit terburu memaksakan kakinya yang sakit karena sang supir tidak akan berbaik hati menunggu Lunaris.

Rasa sakit di pergelangan kakinya bukan lagi sekadar denyutan, melainkan tikaman jarum panas yang menjalar hingga ke pinggang setiap kali ia menumpukan berat tubuhnya.

Seragam baju olahraga kini tampak menyedihkan. Noda darah kering berwarna cokelat kemerahan menghiasi kerahnya, bercampur dengan bekas air kotor dan debu lantai sekolah yang melekat seperti kulit kedua.

Orang-orang yang berada dalam bus menatap dengan pandangan beragam. Ada yang jijik, ada yang iba sesaat lalu membuang muka, dan ada yang pura-pura tidak melihat seolah kemalangan adalah penyakit menular. Lunaris tidak peduli. Ia sudah terbiasa menjadi hantu di tengah keramaian manusia.

Pikirannya melayang ke rumah. Ke ibunya.

"Gue gak bisa pulang kaya gini," batin Lunaris, menggigit bibir bawahnya yang pecah hingga terasa amis darah.

Jika ia pulang sekarang, ibunya akan hancur. Ibunya mungkin akan menangis, menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak mampu melindungi putri semata wayangnya, dan mungkin nekat mendatangi sekolah besok pagi—tindakan yang hanya akan membuat mereka diusir dari kota ini oleh kekuasaan keluarga Bracia. Tidak. Lunaris harus menelan rasa sakit ini sendirian. Ia harus membersihkan jejak 'neraka' ini sebelum berdiri di hadapan ibunya.

Beberapa menit berlalu, akhirnya bus yang ditumpangi Lunaris sampai di halte dekat jalan menuju rumahnya.

Langkah kakinya membawanya menjauh dari rute rumah, menuju sebuah bangunan tua di sudut jalan yang diapit oleh toko barang antik dan kedai kopi yang sudah bangkrut, gak terlalu jauh dari halte. Di sana, sebuah papan kayu bergambar bunga mawar yang catnya mulai mengelupas berayun pelan tertiup angin.

"Lyn’s Florist."

Aroma itu menyambutnya bahkan sebelum ia menyentuh gagang pintu. Wangi tanah basah, sedap malam, dan mawar yang baru dipotong. Aroma kehidupan yang tenang, kontras dengan bau kematian dan kebencian yang ia hirup seharian di sekolah.

Kring.

Lonceng kecil di atas pintu berdenting lembut saat Lunaris mendorongnya terbuka.

Di balik meja kasir yang penuh dengan pita warna-warni dan gunting tanaman, Nyonya Lyn sedang sibuk memotong tangkai bunga bunga mawar hitam.

Ketika suara lonceng terdengar, wanita tua itu mendongak sambil tersenyum ramah, siap menyapa pelanggan sorenya. Namun, senyum itu lenyap dalam hitungan detik. Keranjang rotan di tangannya terlepas, jatuh menggelinding di lantai kayu.

"Ya Tuhan... Lunaris?"

Suara Nyonya Lyn bergetar samar. Ia bergegas keluar dari balik meja, langkahnya cepat menghampiri gadis yang berdiri rapuh di ambang pintu itu.

Lunaris mencoba tersenyum, mencoba terlihat baik-baik saja, tapi tubuhnya mengkhianatinya. Lututnya goyah. "Selamat sore, Nyonya... Maaf aku terlambat..."

"Lupakan soal terlambat! Lihat dirimu!" Nyonya Lyn meraih bahu Lunaris dengan lembut, matanya menyapu noda darah di pelipis, lebam di pipi, dan seragam olahraga yang kotor.

Tatapan wanita tua itu tidak histeris, melainkan penuh dengan kepedihan yang dalam. Ini bukan kali pertama Lunaris datang dengan luka, tapi ini jelas yang terparah.

"Kamu seperti orang yang habis diterjang badai." Nyonya Lyn berkata lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Lunaris hanya mengangguk lemah, tenggorokannya tercekat oleh gumpalan emosi yang sejak tadi ia tahan. "Ya memang benar, badai yang terasa gak ada ujungnya."

"Ayo, duduk di belakang dulu. Jangan berdiri di situ," Nyonya Lyn menuntun Lunaris masuk lebih dalam ke toko, melewati deretan ember berisi mawar dan lili yang seharusnya mereka rangkai, menuju sebuah ruangan kecil di bagian belakang toko yang berfungsi sebagai dapur sekaligus tempat istirahat.

Ruangan itu hangat dan berbau teh herbal. Nyonya Lyn mendudukkan Lunaris di sebuah kursi kayu tua yang dilapisi bantal empuk.

"Tunggu di sini. Jangan bergerak," perintah Nyonya Lyn tegas namun penuh kasih sayang.

Lunaris hanya bisa menurut, lagipula mau bergerak pun rasanya seluruh tubuhnya terasa ngilu dan nyeri, apalagi kaki kanannya.

Wanita tua itu menghilang sejenak, lalu kembali dengan baskom berisi air hangat, handuk bersih, dan kotak P3K tua yang selalu ia simpan. Tanpa banyak bicara, ia mulai bekerja. Tangan keriputnya yang biasanya memegang tangkai berduri kini bergerak telaten membersihkan wajah Lunaris.

Saat handuk hangat menyentuh luka sobek di pelipisnya, Lunaris mendesis pelan. "Sshh..."

"Tahan sedikit. Ini harus dibersihkan biar tidak infeksi," Bisik Nyonya Lyn. Ia menyeka darah kering dan debu dengan kelembutan seorang nenek yang sedang merawat cucu kesayangannya.

Air di baskom perlahan berubah warna menjadi keruh kemerahan. Lunaris menatap pantulan dirinya di permukaan air itu. Wajah yang hancur. Wajah yang lemah.

"Aku penasaran, kapan badai ini akan berakhir?" Tanya Lunaris tiba-tiba. Suaranya pecah di tengah keheningan ruangan. "Apa salahku sampai mereka sangat membenciku?"

Tangan Nyonya Lyn berhenti sejenak di udara. Ia menatap mata hijau Lunaris yang redup. "Orang jahat tidak butuh alasan untuk menjadi jahat, Nak. Terkadang, mereka membenci cahaya karena mereka terlalu terbiasa hidup dalam kegelapan. Dan kau... kau memiliki cahaya itu, meskipun kau sendiri tidak menyadarinya."

Nyonya Lyn mengoleskan salep dingin pada lebam di pipi Lunaris, lalu beralih ke pergelangan kaki yang bengkak. Ia memijatnya sebentar sebelum membalutnya dengan perban elastis dengan cekatan.

"Kau tahu, nak? Bunga yang tumbuh di tengah badai biasanya memiliki akar yang paling kuat," lanjut Nyonya Lyn sambil mengikat simpul perban. "Mungkin sekarang rasanya sakit, rasanya ingin mati. Tapi percayalah pada wanita tua ini... suatu hari nanti, semua rasa sakit ini akan menjadi baju zirahmu."

Setelah selesai mengobati luka fisik, Nyonya Lyn meletakkan semangkuk sup krim jagung hangat di depan Lunaris.

Uapnya mengepul, membawa aroma manis dan gurih yang membuat perut Lunaris berbunyi nyaring. Sejak pagi, perutnya belum diisi apa pun selain hinaan.

"Makanlah. Kau butuh tenaga setelah menghadapi badai," Ujar Nyonya Lyn, duduk di kursi seberang sambil menatap Lunaris lekat-lekat.

Lunaris ingin menolak, merasa tidak enak karena selalu merepotkan, tapi tatapan Nyonya Lyn tidak menerima penolakan. Dengan tangan gemetar, ia menyendok sup itu.

Suapan pertama terasa seperti pelukan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tanpa sadar, air mata Lunaris menetes lagi, jatuh ke dalam mangkuk sup.

"Terima kasih, Nyonya... Terima kasih..." Isaknya pelan.

Nyonya Lyn menghela napas panjang. Dalam hati, ia mengutuk dunia yang begitu kejam pada gadis malang itu.

"Habiskan makanannya. Setelah itu, kalau kau masih bersikeras mau membantu, kau boleh merangkai mawar hitam yang baru datang tadi pagi. Tapi hanya duduk saja, jangan berdiri-berdiri," Kata Nyonya Lyn, mencoba mengalihkan suasana agar tidak terlalu melankolis.

Kemudian wanita tua itu lebih dulu kembali ke depan untuk melanjutkan pekerjaannya yang sedang memotong bunga yang akan dia rangkai.

Setelah Lunaris menghabiskan makanannya, Lunaris membereskan peralatan bekas makannya. Tak lama, Lunaris pun pergi ke depan menghampiri nyonya Lyn dan melihat wanita itu sudah mulai merangkai rangkaian bunga.

Nyonya Lyn tanpa banyak bicara ataupun melarang, dia membiarkan Lunaris membantunya membersihkan duri dari bunga mawar hitam. Keduanya terlarut dalam kegiatan masing-masing, merangkai beneran rangkaian bunga.

Hingga jam dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Lunaris menyelesaikan rangkaian bunga terakhir.

Toko sudah tutup sejak satu jam yang lalu. Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi jalanan aspal dan menciptakan genangan-genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalan yang suram.

Padahal nyonya Lyn sudah menyuruh Lunaris pulang sejak pukul 7, tapi Lunaris terlalu keras kepala dan bersikeras ingin membantu hingga selesai.

Lunaris sudah membersihkan diri sebaik mungkin. Ia mengenakan cardingan milik Nyonya Lyn yang dipinjamkan wanita itu untuk menutupi seragam olahraganya yang kotor. Meskipun masih terasa nyeri di sekujur tubuh, setidaknya ia tidak lagi terlihat seperti korban perang.

"Kau yakin bisa pulang sendiri? Aku bisa mengantarmu setelah selesai mengantar bunga-bunga ini," Tawar Nyonya Lyn di ambang pintu, wajahnya masih menyiratkan kekhawatiran sedangkan sedangkan wanita tua harus pergi untuk mengantar pesanan bunga-bunga pada pelanggan dengan mobil pick up tua miliknya.

"Tidak perlu, Nyonya. Uangku sayang kalau buat taksi. Lagipula hujan cuma gerimis, dan rumahku tidak jauh dari sini. Biasanya juga aku selalu berjalan kaki." Tolak Lunaris halus. Ia tersenyum tulus, senyum pertamanya hari ini. "Terima kasih untuk semuanya, Nyonya Lyn. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada Nyonya."

"Kalau begitu hati-hati. Langsung pulang, jangan mampir ke mana-mana lagi, ingat pesan ibumu" Nyonya Lyn menepuk pipi Lunaris pelan sebelum membiarkan gadis itu melangkah keluar menuju malam yang dingin.

Setelah berpamitan dengan nyonya Lyn, dan mobil pickup wanita itu sudah melaju, Lunaris berjalan pelan, menikmati udara malam yang menusuk tulang.

Rasa dingin ini entah mengapa terasa menenangkan, seolah membekukan rasa sakit di tubuhnya. Ia merapatkan cardingan, menunduk menatap genangan air.

Namun, langkahnya terhenti mendadak.

Di bawah sorotan lampu jalan yang berkedip-kedip tak jauh dari gang sempit menuju rumahnya, sebuah mobil sedan hitam mengkilap terparkir. Mesinnya menyala halus, mengeluarkan asap tipis dari knalpotnya.

Seorang pemuda itu berdiri bersandar di kap mobil Jeep Rubicon, tidak memedulikan gerimis yang mulai membasahi rambut hitamnya yang tertata rapi. Ia mengenakan jaket denim berwarna navy yang terlihat sangat mahal, kontras dengan latar belakang jalanan kumuh di sekitarnya.

Jantung Lunaris berdetak kencang, bukan karena berdebar senang, melainkan karena rasa lelah yang mendadak menghantamnya lagi. Ia tidak ingin berurusan dengan siapa pun dari sekolahnya sekarang.

Termasuk Aaron, temannya sendiri.

Ia hanya ingin pulang, meringkuk di kasur tipisnya, dan tidur.

Aaron mengangkat wajahnya saat mendengar langkah kaki Lunaris yang menyeret. Mata pemuda itu melebar seketika. Ekspresi di wajah tampannya berubah drastis—dari penantian yang gelisah menjadi keterkejutan yang menyakitkan.

Ia melihat semuanya. Perban di kaki Lunaris, plester di pelipis, wajah yang lebam.

"Lunaris..." Bisik Aaron. Suaranya terdengar parau, tertelan suara hujan dan suara deru angin yang berhembus.

Lunaris hendak berbalik arah, mencari jalan memutar, tapi Aaron bergerak cepat. Pemuda itu berlari kecil menghampirinya, menghalangi jalannya.

"Minggir, Aaron," Ucap Lunaris datar, tidak berani menatap mata pemuda itu.

"Apa Bracia yang ngelakuin ini semua sama lo?" Aaron mengulurkan tangan, hendak menyentuh wajah Lunaris, tapi jarinya berhenti di udara, takut sentuhannya justru akan menyakiti gadis itu.

Matanya menyapu seluruh luka di tubuh Lunaris dengan tatapan nanar. Ada kemarahan, tapi lebih banyak rasa bersalah yang begitu besar hingga membuat bahunya merosot.

"Bukan urusa lo. Sekarang minggir, gue capek mau pulang," Lunaris mencoba melangkah ke samping, tapi kakinya yang sakit membuatnya terhuyung.

Aaron dengan sigap menangkap lengan Lunaris, menahannya agar tidak jatuh. "Lepas, Aaron!" Sentak Lunaris, meski tenaganya tak seberapa.

"Gak, sebelum lo bilang yang sebenarnya," Aaron menatapnya tajam, namun lembut.

"Lepas, lo bikin tangan gue makin sakit."

"Okay, sorry,"

Aaron melepaskan pegangannya perlahan, lalu berbalik menuju mobilnya. Ia mengambil sebuah paper bag besar berlogo butik sekolah Sevit dari kursi penumpang. Ia kembali ke hadapan Lunaris dan menyodorkan tas itu.

"Kalo lo gak mau bilang apa yang udah terjadi sama lo, gakpapa. Tapi ambil ini," Kata Aaron.

Lunaris menatap tas itu dengan curiga. "Apa ini?"

"Seragam baru. Lengkap dengan sepatu dan tas," jawab Aaron cepat. "Buat ganti seragam lo yang kotor. Gue tahu seragam lo rusak. Lo juga gak mungkin pulang dengan seragam penuh darah. Lo gak mau kan bibi Nova sampe tau lo dibully lagi di sekolah."

Lunaris menatap tas itu, lalu menatap wajah Aaron. Pemuda itu basah kuyup terkena hujan, rambutnya lepek, dan matanya memancarkan permohonan yang tulus.

Bagi Aaron, ini adalah solusi. Uang bisa membeli seragam baru, uang bisa mengganti barang yang rusak.

Tapi bagi Lunaris, tas itu adalah simbol dari segalanya yang salah di antara mereka.

"Lo gak perlu mengasihani gue kaya gini, Ron. Gue gak butuh." Lunaris mendorong pelan tas itu menjauh.

"Gue sama sekali gak mengasihani lo. Gue cuma mau bantu temen gue!" seru Aaron, suaranya meninggi menyaingi suara hujan. "Lo temen gue. Gimana mungkin gue diem ngeliat lo kaya gini."

Napas Aaron memburu. Ia terlihat frustrasi, seolah ingin merobek dadanya sendiri untuk mengeluarkan rasa sesak di sana. "Maaf... Sungguh, maafin gue. Gue selalu berpikir kalo gue bisa melindungi lo, tapi ternyata gue cuma bisa bantu Lo saat semua udah kelewat."

Air hujan bercampur dengan air mata di pipi Aaron. Pangeran sekolah itu, Raja SMA Sevit yang diagungkan, kini berdiri menangis di pinggir jalan kumuh di hadapan seorang gadis pelayan.

Hati Lunaris bergetar. Ia melihat ketulusan itu. Bahkan setelah semua orang terlalu tega dan kejam pada Lunaris, hanya Aaron yang berdiri tegak untuk membelanya, meski Lunaris selalu mencoba mendorong Aaron menjauh.

"Lo gak perlu minta maaf, lo gak salah apa-apa, Aaron," Suara Lunaris melembut, namun tetap berjarak. "Semua yang terjadi sama gue bukan tanggungjawab lo."

"Tapi tetap saja..." Aaron mendesak, menyodorkan tas itu lagi. Tangannya gemetar. "Tolong terima ini. Seenggaknya biarkan gue melakukan satu hal yang benar hari ini."

Lunaris menatap tas itu lagi. Ia memikirkan ibunya. Sang sudah bekerja keras menjahit hingga larut malam setelah selesai bekerja di rumah Aaron untuk membeli seragam sekolahnya yang mahal itu. Jika ibunya tahu seragam itu rusak parah, ibunya pasti akan sedih memikirkan biaya gantinya.

Ego Lunaris berteriak untuk menolak, untuk melemparkan tas itu ke wajah Aaron dan lari. Tapi realitasnya yang miskin memaksanya untuk berpikir logis. Ia butuh seragam itu. Demi ibunya.

Dengan tangan gemetar, Lunaris perlahan mengulurkan tangan, mengambil tas kertas itu dari tangan Aaron. Tas itu terasa berat, namun tidak seberat rasa malu yang ia rasakan.

"Terima kasih," Ucap Lunaris lirih, nyaris tak terdengar.

Aaron menghela napas panjang, bahunya turun lega seolah beban ribuan ton baru saja diangkat darinya. "Sekarang biar gue ngantar lo pulang."

"Gak perlu, gue bisa sendiri. Lagian rumah gue udah gak jauh, jadi mending lo juga cepet pulang." Tolak Lunaris tegas. Kali ini matanya menatap Aaron lurus. "Makasih buat seragam ini."

"Lun, hujan semakin deras—"

"Dengar, Aaron," potong Lunaris. Hujan kini turun semakin lebat, membasahi mereka berdua sepenuhnya. "Lo minta maaf, dan gue maafin. Tapi itu tidak mengubah kenyataan. lo dan gue... kita hidup di dunia yang berbeda. Setiap kali lo mendekat, setiap kali lo mencoba menjadi pahlawan, gue yang berdarah. Jadi gue mohon, setelah ini tolong jauhin gue aja."

Lunaris melangkah mundur, mendekap tas kertas itu di dadanya agar isinya tidak basah.

"Kalau lo benar-benar peduli sama gue, Aaron... Kalau lo benar-benar menganggap gue teman..." Lunaris menelan ludah, menahan isak tangisnya sendiri. "Tolong, berhentilah peduli. Berhentilah menatap gue, berhentilah menyapa gue, dan berhentilah melindungi gue. Biarkan gue menjadi bayangan. Itu satu-satunya cara agar gue bisa selamat sampai lulus."

"Lunaris, lo gak bisa minta gue untuk berent—"

"Cuma itu yang gue minta. Jangan buat keadaan gue dan ibu gue makin sulit karena Bracia masih ngeliat kita masih deket."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Lunaris berbalik. Ia memaksakan kakinya yang sakit untuk melangkah secepat mungkin menuju ke dalam gang, meninggalkan Aaron yang mematung di bawah hujan deras.

Aaron tidak mengejarnya lagi. Ia berdiri diam di samping mobil mewahnya, tangannya mengepal di sisi tubuh, membiarkan hujan memukulnya. Ia menatap punggung rapuh Lunaris yang perlahan menghilang ditelan kegelapan malam dan tirai air.

Di kejauhan, di atas kabel listrik yang membentang di atas jalan, seekor burung gagak bertengger diam. Matanya yang hitam pekat menatap adegan itu, lalu menoleh ke arah Lunaris yang berjalan menjauh.

Gagak itu tidak bersuara, hanya mengawasi, seolah menjadi mata bagi seseorang yang sedang menunggu di kegelapan lain.

Lunaris berjalan di bawah guyuran hujan gerimis yang dingin, memeluk tas pemberian Aaron erat-erat. Air matanya sudah habis, digantikan oleh rasa dingin yang membekukan hati.

Di dalam benaknya, kata-kata Nyonya Lyn terngiang kembali: Akar yang kuat tumbuh di tengah badai.

Tapi malam ini, Lunaris tidak merasa kuat. Ia merasa akarnya sudah tercabut, dan ia hanya tinggal menunggu waktu sebelum layu sepenuhnya.

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!