NovelToon NovelToon
Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Spiritual
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .

bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Nisa berjalan memasuki koridor kantor milik Rain, ia memasuki ruangan Rain tanpa harus ke resepsionis atau sekertaris Rain, semua karyawan di perusahaan mengenal wanita itu,dia adalah wanita satu-satunya yang dekat dengan Rain. Bahkan mereka mengira Nisa adalah kekasih Rain .

" Selamat pagi nona ." Sapa Seorang wanita dengan pakaian formal berwarna hitam ,wanita itu membungkuk kan sedikit tubuhnya sebagai penghormatan kepada Nisa.

Nisa menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah wanita tadi , " Pagi juga,Nov." Balas Nisa lembut dan ramah .

" Boleh aku masuk?" Lanjut Nisa lagi dengan senyum indah di bibir nya.

" Tentu saja,tapi pak Rain masih di ruang meeting." Ujar Novi yang tak lain adalah sekertaris Rain.

" Baiklah,aku tunggu di dalam saja."

Novi hanya mengangguk kecil sembari menatap tubuh Nisa yang perlahan berjalan menuju ruangan Rain yang tak jauh dari tempatnya kini .

Setelah memasuki ruangan, Nisa melihat meja kerja Rain yang teratur dengan berbagai dokumen dan peralatan kantor. Dia berjalan menuju salah satu sofa di sudut ruangan, meletakkan tas tangan berwarna cream nya di atas meja samping, lalu duduk dengan tenang.

Sambil menunggu, matanya mengelilingi ruangan yang sudah sangat ia kenal. Dari dekorasi dinding hingga posisi setiap barang di atas meja, hampir tidak ada yang berubah sejak terakhir kali dia datang. Namun, ada sesuatu yang membuatnya merasa sedikit berbeda , seolah ada aura baru yang mengelilingi ruangan ini.

Tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada laci meja kerja Rain yang sedikit terbuka. Dia hampir tidak bisa melihat apa yang ada di dalamnya, tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya , ujung sebuah foto kecil yang terlihat sedikit keluar. Niatnya hanya ingin menutup laci agar tidak terkena debu, tapi saat dia mendekat dan hendak menutupnya, wajah seorang gadis di foto itu terlihat jelas.

Hati Nisa sedikit terkejut dan terasa sesak sejenak. Dia mengenali wajah gadis itu dari mana saja , seorang gadis, yang pernah dia lihat bersama Rain di taman kota beberapa waktu lalu. Tanpa sadar, tangannya terpaksa mengambil foto itu dan menatapnya dengan tatapan yang semakin dalam.

"Kenapa foto dia ada di sini?" gumamnya pelan, sambil melihat betapa cantik nya gadis yang ada di foto itu, dengan senyum indah tanpa beban pada saat foto itu diambil. Nisa ingat Rain pernah menceritakan seorang seorang gadis asing yang memikat hatinya ,apakah gadis di foto ini adalah wanita itu ? Tapi Nisa tidak pernah berpikir bahwa Rain ternyata serius dengan ucapannya beberapa tahun lalu saat mereka masih di Dubai.

Saat Nisa masih menatap foto itu, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Rain yang baru saja selesai dari ruang meeting masuk ke dalam, langsung melihat Nisa yang sedang memegang foto Aisyah di tangannya.

Ekspresi wajah Rain sedikit berubah sebelum dia bisa menenangkannya. "Nisa? Kapan kamu datang?" tanyanya dengan suara yang coba tetap tenang.

Nisa menoleh ke arahnya, kemudian perlahan-lahan meletakkan foto itu kembali ke laci dan menutupnya dengan hati-hati. "Baru saja datang beberapa menit yang lalu. Novi bilang kamu masih meeting, jadi aku tunggu di sini," jawabnya dengan nada yang tenang meskipun jantungnya terdengar deg-degan.

Rain mendekat dan duduk di kursi belakang mejanya. "Maaf ya membuatmu menunggu. Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"

Nisa mengangguk, kemudian duduk lagi di sofa dan menghadapinya. "Aku datang karena ingin memberi tahu mu,Minggu depan aku akan kembali ke Dubai. Ada pekerjaan di sana sudah yang sudah siap untuk dilanjutkan dan mereka membutuhkanku untuk jadi model nya."

Rain sedikit terkejut mendengarnya. "Kamu akan pergi lagi? Berapa lama kali ini?"

"Mungkin sekitar enam bulan atau lebih, tergantung pada perkembangan proyeknya," jawab Nisa sambil menatap Rain dengan mata yang penuh perhatian. "Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaanmu di sini, terutama dengan kerja sama baru dengan Pak Firdaus. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa... aku selalu ada untukmu, Rain."

Nisa berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, "Aku juga melihat foto gadis itu. Apakah dia orangnya? Apakah dia adalah alasan kamu memilih untuk menetap di Indonesia dan tidak mau kembali ke Dubai bersama aku?"

Rain terdiam sejenak, tidak bisa menyembunyikan bahwa pertanyaan itu mengenai inti hati nya. Dia menghela napas perlahan sebelum berbicara, " Ya, namanya Aisyah, Nisa. Ada banyak hal yang belum aku bisa jelaskan dengan jelas, tapi aku bisa jamin bahwa aku tidak pernah bermaksud menyembunyikan sesuatu darimu."

Nisa mengangguk perlahan, memahami bahwa Rain memang sedang menghadapi sesuatu yang kompleks. "Aku tidak akan memaksamu untuk menjelaskan segalanya sekarang," katanya dengan senyum yang sedikit terpaksa. "Cukup ingat saja bahwa kamu tidak sendirian dalam menghadapi apapun. Dan jika kamu membutuhkan seseorang untuk berbicara nanti, aku selalu siap mendengarkan mu , bahkan dari Dubai sekali pun."

Rain merasa lega mendengarnya. Dia berdiri dan mendekat ke arah Nisa, kemudian menepuk bahunya dengan lembut. "Terima kasih, Nisa. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kudapatkan."

Nisa tersenyum lagi, kali ini lebih tulus. "Baiklah, sekarang aku harus pergi dulu ya. Aku punya janji dengan timku di kantor . Jangan lupa untuk makan dengan teratur ya, kamu selalu melupakan kesehatan mu saat sibuk kerja," ujarnya sambil mengambil tasnya dan berdiri.

Sebelum keluar, Nisa berbalik sekali lagi. "Dan Rain... jangan biarkan diri kamu terluka lagi seperti dulu ya. Semoga gadis itu bisa memberi kamu kebahagiaan yang kamu cari."

Setelah Nisa pergi, Rain kembali mengambil foto Aisyah dari laci mejanya. Matanya penuh dengan keraguan dan tekad yang saling bersilangan. Dia tahu bahwa jalan yang akan ditempuhnya tidak akan mudah, terutama dengan semua rahasia dan masa lalu yang menyelimuti Aisyah, serta hubungan lama yang ia miliki dengan Nisa.

"Semua ini memang tidak mudah," gumamnya sambil menatap wajah Aisyah di foto itu. "Tetapi aku akan melakukan yang terbaik untuk menemukan jawaban dan mungkin... memberikan kebahagiaan yang layak bagi mu dan Nisa."

Saat itu pula, Bobby masuk ke ruangan dengan beberapa berkas baru. "Pak Rain, sudah waktunya kita bertemu dengan klien selanjutnya di restoran jepang."

" Hehhmmm, siapkan dokumennya." Ujar Rain lalu beranjak dari duduknya, namun sebelumnya ia kembali menyimpan foto Aisyah di laci mejanya.

Kedua pria muda itu pun berjalan keluar, meninggalkan kantor untuk bertemu dengan klien lainnya . Tak lama mereka pun tiba , lalu berjalan memasuki restoran mewah dengan nuansa jepang . Namun Rain tak menyadari saat melewati sebuah meja yang berada di pojok ruangan ada seorang gadis yang sedang menikmati hidangan favoritnya itu bersama dengan sahabat nya yang baru saja kembali dari Eropa.

1
maya
makasih sudah mampir kk😍
Isabela Devi
waduh ada mata mata yg melapor tiap gerak gerik mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!