Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Udara pagi terasa menyejukkan. Angin berhembus pelan. Burung-burung berkicau riang. Lampu jalan beberapa sudah mati, beberapa masih menyala. Memberikan kehangatan lewat sinarnya yang temaram.
Jalanan komplek terasa ramai pagi ini. Orang-orang keluar satu persatu dari dalam rumah, memadati. Beberapa saling bercengkrama dan yang lainnya memilih berolahraga. Berlari, bersepeda, berbondong-bondong menuju ke satu arah.
Sepatu terpasang rapi. Topi juga telah terpakai di kepala Lily. Semua orang siap berbaur dengan yang lain menikmati indahnya minggu pagi. Di depan, Andra berjalan bersama Rama. Terlihat asik bercerita. Sementara di belakang mereka, Jeffrey berjalan bersama Lily, saling bergandeng tangan. Dengan suara nyanyian gadis itu sebagai pengiring yang terdengar begitu riang.
Jarak taman komplek dengan rumah mereka bagi orang dewasa mungkin dianggap cukup dekat, tapi bagi anak-anak seperti Lily yang langkahnya pendek, itu akan sangat menguras tenaga. Tubuhnya berkeringat, tapi tak menyurutkan semangatnya.
Rama sesekali akan melihat ke belakang, memastikan gadis kecil itu tak tertinggal. Kemudian kembali menghadap ke depan ketika kekhawatirannya tak cukup beralasan. Nyatanya, Lily lebih kuat dari yang ia pikirkan. Tak perlu diragukan genetik dari seorang perwira yang diturunkan.
Saat itu, seorang pria datang dari arah belakang. Secara tiba-tiba, secara tak terduga. Pria itu memelankan larinya. Menyamai langkah mereka. Suaranya begitu dalam saat menyapa. Seolah kedalamannya dapat menenggelamkan orang-orang disekitarnya. Perawakannya tidak terlalu tinggi. Hanya sebatas telinga Rama. Tubuhnya sedikit berisi dengan kumis yang menghiasi wajah. Tampak sangat tegas dan sedikit menyeramkan. Apalagi bagi si kecil Lily.
Rama menyambut dengan baik orang itu, ikut menyapa balik. Keduanya berjabat tangan sebentar, lalu asik bercengkrama. Seolah mereka sudah tak bertemu lama. Terkadang tawa tercipta, terkadang keseriusan yang nyata.
Andra mundur perlahan, merasa kehadirannya tak lagi diperlukan. Kemudian menempatkan dirinya di samping Lily. Mengapit gadis kecil itu diantara tubuhnya dan Jeffrey. Sementara tangannya berusaha menggenggam tangan sang adik. Takut hilang.
Dua orang dewasa di depannya terlihat sangat serius. Juga tampak akrab. Membuat Andra merasa penasaran. Meski terhalang, ia berusaha memiringkan kepalanya supaya lebih dekat dengan Jeffrey, lalu berbisik pelan. "Jeff, itu temennya om yah?"
Jeffrey menyipitkan mata, lalu menggeleng. "Nggak tahu." Balasnya.
Saat itu angin kembali berhembus. Kali ini sedikit lebih kencang sehingga dapat menerbangkan topi Lily dan dedaunan kering yang ikut tersapu bersamanya.
"Ehg, topinya layi..."
Gadis kecil itu mencoba melepaskan genggaman, menarik-narik tangannya perlahan. Namun dengan tekanan yang kuat.
Rambutnya berterbangan tertiup angin. Roknya bergelombang, memantul setiap kali ia mengambil langkah. Lily sedikit berjongkok untuk mengambil topinya. Sayang, topi itu kembali menggelinding.
Jeffrey dengan sigap menahan tubuhnya yang akan membungkuk lagi. Kemudian berkata dengan tenang. "Biar aku yang ambil."
Lily mengangguk. Lalu menarik diri. Menunggu dengan sabar di samping sang kakak. Saat topi itu berhasil tertangkap, ia sangat gembira. Senyumnya tertarik lebar.
Jeffrey kembali menegakkan tubuh. Memakaikan kembali topi itu pada Lily untuk melindungi kepala kecilnya dari panas matahari yang semakin lama semakin naik.
Untuk sesaat tidak ada yang bersuara. Ketiganya hanya terus berjalan sembari mendengarkan apa yang orang dewasa di depannya bicarakan. Tapi bagaimanapun otak mereka berpikir, tak ada satupun kalimat yang dapat mereka pahami.
Fokus Lily beralih pada hal menarik disekitarnya. Sejak ia mulai bisa berjalan, tepatnya satu minggu yang lalu, ibunya selalu mengurungnya dirumah. Dengan pagar yang tertutup sempurna. Tak ada yang bisa ia jumpai, kecuali kakaknya Andra dan Jeffrey, ibunya dan dua orang dewasa lainnya yang biasa ia sebut om dan tante. Orangtua Jeffrey.
Ketika tatapnya tertuju ke suatu arah, mata Lily berbinar. Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Jeffrey, lalu menggoyang-goyangkan tangannya untuk mencari perhatian. Setelah anak laki-laki itu menatapnya, ia menunjuk sepasang lansia yang sedang mengendarai sepeda, sembari berboncengan. Dan itu terlihat sangat menyenangkan.
"Peda... Mas, peda...aik ily au."
"Kamu mau naik sepeda?" Tanya Jeffrey. Mencoba menebak apa yang dimaksud.
"Ya ya mas... Peda-peda." Nada suaranya begitu imut, begitu lembut, begitu antusias. Membuat orang-orang ingin selalu mendengarnya.
Jeffrey berhenti berjalan. Lalu berjongkok. Berusaha menyamakan tingga badannya dengan Lily.
"Kita nggak bawa sepeda hari ini. Besok-besok aja yah?" Bujuknya. Berharap Lily mau menuruti.
Jarak yang telah mereka tempuh sudah terlalu jauh. Akan sangat melelahkan bila putar balik. Kaki yang sudah lelah dibuat berjalan, akan digunakan untuk mengayuh sepeda juga rasanya ia tidak sanggup. Bagusnya, Lily mengangguk. Begitu penurut. Tak merajuk seperti biasa.
Saat mereka sampai di taman, keadaan disana sudah sangat ramai. Dari orang dewasa, remaja bahkan anak-anak, seolah tumpah menjadi satu dalam satu tempat itu. Pedagang makanan, minuman, jajanan bahkan orang yang menjual mainan pun tersedia.
Tawa anak-anak bergemuruh disetiap penjuru. Ada yang bermain jungkat-jungkit, ada yang bermain ayunan. Ada juga yang bermain kejar-kejaran. Sementara orang tua mereka sibuk mengawasi dari samping, sembari duduk di kursi panjang dari besi yang disediakan.
Di sekeliling taman, pohon-pohon berjejer, membentuk barisan. Membuat teduh suasana. Hijau dan rindang. Sementara tepat di bawah pohon itu, beberapa orang berusaha mencari nafkah, membuka lapak-lapak mereka sembari menikmati suasana.
Melihat itu Lily sangat senang. Ia menarik-narik tangannya minta dilepaskan. Dirinya sudah tak sabar untuk bergabung bersama anak-anak seusianya. Bermain, bermain dan bermain. Namun hal itu ternyata tak semudah yang dibayangkan. Tangannya tak kunjung dilepaskan. Bahkan genggaman itu semakin erat ia rasakan. Lily sedikit meronta, menatap Jeffrey penuh permohonan.
"Mas epasin ni, mo ain tu."
"Nanti dulu, disini sangat ramai. Kamu bisa hilang nanti."
Orang yang sebelumnya tengah bercengkrama dengan Rama, telah menghilangkan entah kemana. Mungkin telah berbaur, atau bahkan telah balik arah untuk pulang. Tidak ada yang tahu kecuali orang yang berada di sampingnya.
Rama berjalan mendekati anak-anak. "Papa mau lari dulu beberapa putaran. Kalian duduk lah disini." Titahnya.
"Aku mau main sama mereka om." Andra menunjuk sisi lain taman yang penuh dengan anak seusianya. Tengah bermain bola.
Rama mengangguk. Menandai titik itu agar ia dapat menemukannya dengan mudah.
"Lily mau disini?" Tanya Rama.
Jelas gadis kecil itu menggeleng. Tak jauh darinya ada anak yang sedang bergelantungan di monkey bar. Sebuah permainan panjatan yang terdiri dari palang-palang besi/kayu berjejer yang dirancang untuk bergelantungan dan berpindah dari satu bar ke bar lainnya. Yang cukup menarik perhatiannya sejak awal ia datang.
Jeffrey menolak. "Nggak boleh yang itu. Kamu bukan monyet. Cari mainan yang lain aja. Itu ada ayunan, kamu bisa naik itu."
Rama pun menyetujui. Permainan itu terlihat berbahaya untuk anak usia satu tahun. Juga terlalu tinggi. Ia tidak mau mengambil resiko.
"Iya sayang. Jangan yang itu ya, bahaya."
Lily cemberut. Bibirnya perlahan-lahan turun. Terkadang ia masih tidak paham apa yang orang dewasa bicarakan, tapi arti dari gelengan kepala jelas mengatakan tidak.
Jeffrey menemukan satu permainan yang menurutnya sangat aman untuk Lily. Tidak ada ketinggian, tidak ada tantangan yang membahayakan.
"Kita mau main disana pa." Tunjuknya pada kolam pasir yang telah dipadati anak-anak seusia Lily.
Anggukan kepala Jeffrey dapatkan sebagai jawaban. "Okeh, papa tenang sekarang. Jagain adeknya yah."
"Iya."
Panas matahari semakin terasa menyentuh kulit. Orang-orang mulai ke pinggir untuk mencari tempat berteduh. Beberapa memilih duduk di bawah pohon, sementara lainnya memilih masuk ke dalam tenda sembari menikmati semangkuk bubur ayam dan teh hangat untuk mengganjal perut.
Jeffrey duduk pada pembatas kolam pasir yang hanya sejengkal dari tanah. Ikut bermain bersama Lily. Membangunkannya istana pasir yang tinggi.
Sementara gadis kecil itu kini tak lagi cemberut. Tangan kecilnya ikut menumpuk, ikut menepuk pasir agar lebih padat, agar lebih mudah di bentuk. Tak jarang mulutnya berceloteh sendiri, terkadang dengan anak di sampingnya dengan bahasa yang aneh. Yang tidak di mengerti orang dewasa. Tapi anehnya mereka tertawa, mereka saling mengangguk dan mereka paham apa yang di maksud.
Saat itu, suara ribut-ribut datang dari arah yang berbeda. Awalnya Jeffrey tidak peduli. Ia terlalu asik bermain bersama Lily. Baru saat suara Andra terdengar karena kesakitan, ia langsung berlari untuk melihat. Menyingkirkan orang-orang yang menghalanginya supaya sampai disana sesegera mungkin.
Andra tengah terduduk di tanah, dengan ringisan kesakitan. Ada luka di telapak tangannya, jejak goresan atau gesekan dengan benda tajam. Sementara anak di depan Andra sedang menunjuk sambil memaki. Jeffrey segera mendekat saat anak itu berusaha memukul, lalu mendorongnya keras. "Apa yang kamu lakukan?!" Marahnya.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur." Kata anak itu.
"Aku temennya." Balas Jeffrey. Dengan suara yang begitu datar. Sarat akan emosi.
"Ohh jadi kamu temennya? Pantes sama-sama b*go. Tuh bilangin temen kamu, kalau nggak bisa main bola, jangan ikut main, nyusahin."
Kedua tangan Jeffrey terkepal disisi tubuh. Begitu kuat, begitu erat. Seolah siap meninju kapan saja. Genggaman lembut dapat ia rasakan setelahnya. Datang dari bawah, dimana Andra masih terduduk di tanah. Sebuah gelengan kepala dapat Jeffrey lihat dari anak itu.
"Udah nggak bisa, tapi sok jago lagi!!"
"Kamu itu cocoknya main sama anak perempuan, lemah!"
Orang-orang mulai berkumpul mengelilingi. Untuk melihat keributan yang terjadi. Bisik-bisik juga mulai terdengar menyapa telinga. Tidak begitu jelas karena jarak. Tetapi dari gerak bibir, kebanyakan dari mereka merasa penasaran tentang apa yang terjadi dan penyebabnya.
Ketika itu, mata Jeffrey tertuju pada ayahnya yang masih berlari di kejauhan. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Satu tangganya terulur untuk membantu Andra berdiri, lalu membawanya pergi.
Anak-anak itu masih terus memaki, menghina. Tapi Jeffrey tidak peduli. Ia terus berjalan, membelah kerumunan. Bersama Andra yang terseok mengikutinya.
Namun saat sampai di tempat tadi ia bermain, tempat itu telah kosong.