NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Kehidupan di Kantor / Romansa / Konflik etika / Slice of Life / Office Romance
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 01 Harga dari Sebuah Diam

Nama itu muncul di layar sebelum rapat akan dimulai. Raka Pradipta. Aruna menatapnya terlalu lama. Laporan keuangan Proyek Eastbay terpampang di layar besar ruang rapat di lantai dua puluh. Angka-angka rapi. Grafik stabil. Tanda tangan digital lengkap. Semuanya terlihat sah.

Padahal semalam ia menemukan satu hal yang tidak seharusnya ada.

Timestamp yang berubah. Akses sistem dari akun level eksekutif. Dan satu tanda tangan yang dipindahkan dari dokumen lain. Manipulasi itu kelihatan bersih. Hampir sempurna.

Hampir.

Pintu ruangan rapat tertutup. Bunyi kliknya terdengar seperti kunci yang diputar dari arah luar.

Calvin Aryasatya berdiri di ujung meja. Jas gelap, ekspresi wajahnya tak terbaca. Usianya belum genap tiga puluh lima, tapi cara ia memegang ruangan membuat semua orang otomatis diam.

“Proyek Eastbay resmi dihentikan,” ucapnya tenang.

“Ditemukan ketidaksesuaian laporan. Penanggung jawab akan diproses sesuai prosedur.” Kalimat itu formal. Dampaknya tidak.

Beberapa direksi saling bertukar pandang. Ada yang langsung mengalihkan mata ke layar. Ada yang mencatat sesuatu yang tidak perlu dicatat. Aruna bisa merasakan hawa di ruangan kini berubah. Bukan kaget lebih seperti lega karena bukan mereka yang disebut.

“Divisi legal sudah meninjau?” tanya salah satu komisaris.

Semua kepala berputar.

Mengarah padanya.

Jari Aruna terasa dingin di atas meja kaca. Pendingin ruangan terlalu rendah, atau mungkin nadinya yang terlalu cepat. Ia tahu jawabannya. Ia tahu siapa yang seharusnya berdiri di posisi tertuduh. Dan ia juga tahu satu kalimat darinya bisa menghentikan keputusan ini.

Calvin menoleh.

Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Tidak ada kode. Tidak ada isyarat. Hanya jarak profesional yang terlalu rapi untuk bisa ditembus. Aruna membuka map di depannya. Kertas-kertas legal itu berat tapi bukan karena jumlahnya, tapi karena isinya. Ia teringat tentang ibunya yang baru saja memulai terapi rutin bulan lalu. Terbayang notifikasi cicilan apartemen yang jatuh tempo minggu depan. Terlintas pasal kerahasiaan dalam kontraknya, pelanggaran berarti pemecatan tanpa kompensasi dan tuntutan hukum.

Satu kalimat.

Hanya satu kalimat.

“Divisi legal?” ulang komisaris itu.

Aruna mengangkat wajahnya.

Semua orang menunggu.

“Dokumen yang kami terima,” katanya akhirnya, suaranya stabil, “sesuai dengan keputusan manajemen.”

Sunyi.

Bukan sunyi dramatis.

Sunyi lega.

Keputusan diketuk. Proses disipliner pun akhirnya disetujui. Nama Raka Pradipta resmi tercatat sebagai seorang penanggung jawab. Aruna tidak melihat layar lagi. Ia tidak perlu. Karena ia tahu baru saja membiarkan sesuatu yang salah menjadi resmi.

Rapat berakhir dengan cepat. Kursi berderit bergeser. Suara sepatu menyentuh lantai marmer. Orang-orang keluar dengan wajah netral, seperti baru saja menyelesaikan agenda rutin. Aruna tetap duduk. Pantulan dirinya di meja kaca terlihat asing.

Profesional.

Terkendali.

Pengecut.

“Aruna.” Suara Calvin menghentikan pikirannya.

Ruangan sudah hampir kosong. Ia berdiri di dekat ujung meja, memandangnya tanpa ekspresi yang bisa dibaca. “Ke ruanganku,” katanya singkat.

Bukan perintah keras. Bukan juga permintaan.

Aruna pun mengangguk dan segera ke ruangan.

Ruang kerja CEO lebih hangat dari ruang rapat. Jendela besar menghadap ke kota. Langit mendung menggantung rendah, seperti menahan hujan.

Calvin tidak langsung duduk. Ia berdiri di dekat meja, membuka tablet, menampilkan sesuatu. Log akses sistem. Tanggal. Waktu. ID pengguna. Aruna mengenal data itu. Karena ia melihatnya semalam.

“Kamu teliti,” kata Calvin tanpa menatapnya. Bukan pertanyaan.

Aruna menahan napas. “Itu tugas saya.”

Calvin akhirnya menoleh. “Kamu menemukan apa?”

Detak jantungnya terdengar berdetak lebih keras. Ia bisa berbohong sekarang. Atau ia bisa jujur dan menghancurkan dirinya sendiri. “Ada kejanggalan,” jawabnya hati-hati.

“Dan kamu tidak menyebutkannya di rapat.” Itu bukan tuduhan. Lebih seperti observasi.

Aruna mengangkat dagu sedikit. “Saya berbicara berdasarkan dokumen resmi yang masuk ke divisi legal.”

Hening.

Tatapan Calvin berubah tipis. Bukan karena marah. Bukan kecewa. Lebih seperti sedang menghitung.

“Kamu tahu siapa yang benar-benar mengakses sistem itu, bukan?” tanyanya pelan.

Udara terasa lebih padat. Aruna tidak menjawab.

Itu sudah cukup. Calvin mendekat satu langkah. Tidak mengintimidasi, tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa sempit. “Kalau kamu memilih diam,” katanya rendah, “pastikan kamu siap dengan akibatnya.” Kata akibatnya tidak terdengar seperti ancaman. Lebih seperti peringatan.

Aruna menatapnya lurus. Kini seperti ada sesuatu yang retak di balik ketenangannya. “Semua pilihan ada akibatnya, Pak.”

Tatapan mereka bertahan beberapa detik lebih lama dari seharusnya untuk hubungan profesional. Di luar, kilat menyambar jauh di balik gedung-gedung.

Calvin mematikan layar tabletnya. “Kamu boleh kembali bekerja.”

Aruna berbalik. Tangannya hampir menyentuh gagang pintu.

“Aruna.”

Ia berhenti.

“Orang yang bersalah biasanya gelisah,” kata Calvin pelan. “Orang yang tidak bersalah biasanya mencari keadilan.” Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak perlu.

Aruna keluar dari ruangan itu dengan langkah terkontrol. Di lorong, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari nomor yang tak dikenal:

“Saya tidak melakukannya. Tolong.”

Aruna berhenti berjalan.

Nama pengirimnya muncul beberapa detik kemudian.

Raka Pradipta.

Dadanya terasa mengencang. Permainan belum dimulai. Tapi ia sudah berada di dalamnya. Hari ini Aruna memilih diam. Dan seseorang mulai membayar harganya.

Lift berhenti di lantai eksekutif dengan bunyi lembut yang terasa terlalu sopan untuk situasi sekeras ini.

Koridor menuju ruang CEO lebih sepi dari biasanya. Karpet abu-abu meredam suara derap langkahnya, tapi tidak bisa meredam detak jantungnya sendiri. Di ujung lorong, pintu kayu gelap itu tertutup rapat, dengan pelat nama perak: Calvin Aryasatya – Chief Executive Officer.

Aruna mengetuk dua kali.

“Masuk.”

Suara itu tenang. Terlalu tenang.

Ruangan Calvin sangat luas, dindingnya kaca penuh menghadap ke kota. Langit Jakarta kelabu, awan menggantung rendah seperti ancaman yang belum jatuh. Calvin berdiri membelakanginya, kedua tangan di taruh ke dalam saku celana, bahunya tegak. Ia tidak langsung menoleh.

“Kau membaca ulang laporan itu tadi malam, bukan?” tanyanya akhirnya.

Jantung Aruna tersentak. Ia tidak pernah memberi tahu siapa pun. “Saya membaca semua laporan yang masuk ke divisi legal,” jawabnya hati-hati.

Calvin berbalik. Tatapannya tidak dingin seperti di ruang rapat tadi. Lebih tajam. Lebih personal.

“Dan kau tahu ada yang salah.” Itu bukan pertanyaan. Sunyi merambat pelan di antara mereka, menekan seperti udara sebelum badai.

Aruna menelan ludah. “Tugas saya memastikan dokumen yang masuk lengkap secara administratif.”

Calvin melangkah mendekat. Tidak tergesa. Setiap langkahnya terukur, membuat jarak di antara mereka menyusut tanpa terasa. “Administratif?” ulangnya pelan. “Atau kau sedang melindungi seseorang?” Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada tuduhan terbuka.

Aruna menegakkan bahunya. “Saya hanya menjalankan keputusan manajemen.” Kalimat itu terdengar formal. Aman. Tapi di matanya, sesuatu bergetar, sesuatu yang tak berhasil ia sembunyikan.

Calvin berhenti tepat di depannya. Aroma kayu dan parfum maskulin yang tipis bercampur dengan udara dingin di ruangan. Terlalu dekat untuk sekedar profesional, terlalu jauh untuk disebut pribadi. “Kalau kau memilih diam karena takut,” katanya pelan, “itu bisa dimengerti.” Ia berhenti sejenak, menatapnya lurus. “Tapi kalau kau memilih diam karena kau pikir aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kau salah.”

Udara terasa menipis.

Aruna tidak tahu mana yang lebih berbahaya jika Calvin benar-benar tidak tahu atau jika ia tahu dan tetap membiarkan keputusan itu berjalan. “Kenapa Anda menghentikan proyek itu?” tanyanya akhirnya, suara lebih rendah dari biasanya.

Calvin tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Lebih seperti seseorang yang baru saja memindahkan papan bidak catur. “Karena kadang,” katanya, “untuk menangkap pelaku yang sebenarnya kita harus membiarkan umpan terlihat seperti korban.”

Dunia Aruna seperti bergeser setengah inci.

Jadi ini bukan sekadar kesalahan laporan.

Ini jebakan. Dan ia tanpa sadar—sudah berdiri tepat di tengah papan permainan.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!