NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 9

Mereka terus berjalan menyusuri jalur setapak yang menanjak, perlahan meninggalkan hotel dan kafe yang semakin mengecil di balik pepohonan. Matahari siang menyinari Pulau Jeju dengan hangat, meneteskan cahaya ke bebatuan kecil dan tanah kering di sepanjang jalur pendakian. Angin sepoi-sepoi membawa aroma dedaunan segar bercampur tanah, sementara kicau burung dan dengung serangga mengisi udara, membuat langkah mereka terasa ringan.

Tak lama kemudian, mereka tiba di salah satu puncak yang populer di pulau itu. Dari sana, Hallasan terlihat berdiri megah—lereng hijaunya membentang luas, diselimuti kabut tipis yang bergerak perlahan. Di kejauhan, siluet Seongsan Ilchulbong tampak tegas, kontras dengan laut biru yang berkilau di bawah matahari yang kini telah tinggi.

Jalur pendakian di sekitar puncak dipenuhi bebatuan kecil dan semak rendah, cukup aman untuk berdiri santai. Angin bertiup lebih sejuk di ketinggian ini, menyapu wajah mereka dan membuat rambut Karin melayang lembut.

Karin dan James berdiri berdampingan, menatap panorama hijau dan biru yang terbentang luas di hadapan mereka. Meski pendakian tadi cukup melelahkan, kini tubuh mereka terasa ringan. Hanya suara angin, tawa kecil yang sesekali muncul, dan alam yang menemani siang itu—tenang, hangat, dan memuaskan.

Mata Karin melebar. Senyum lebarnya muncul tanpa disadari, membuat wajahnya tampak berseri. Cahaya matahari memantul di pipinya, sementara angin mengibaskan rambutnya perlahan.

“Wow, it’s beautiful!”

(Wah, indah banget!)

James menatapnya dari samping, menangkap kekaguman tulus di wajah Karin. “You’ve never been here before, have you?”

(Kamu belum pernah ke sini, kan?)

Karin menoleh dan mengangguk, tertawa kecil. “No, I haven’t. I’ve been in Jeju for almost two weeks, but I never came here.”

Ia tersenyum padanya.

“Luckily I met you, so I can come now.”

(Iya, aku belum pernah ke sini. Aku sudah hampir dua minggu di Jeju, tapi belum pernah datang ke sini. Untung aku bertemu denganmu.)

James tersenyum lembut. “So, I guess I’m your lucky charm.”

(Kalau begitu, sepertinya aku adalah keberuntunganmu.)

Karin tertawa ringan lalu memukul pelan lengan James. Mereka kembali menatap pemandangan di depan—hijau perbukitan dan biru laut yang seolah tak berujung. Suara angin, kicau burung, dan deburan ombak yang samar menjadi musik latar bagi momen sederhana namun istimewa itu.

Karin menundukkan kepala sejenak, menarik napas panjang. Saat ia kembali menatap James, senyumnya masih bertahan—hangat, nyata, seakan mengisi ruang kosong yang selama ini tak ia sadari ada.

James kemudian duduk di atas sebuah batu besar. Angin siang menyapu rambutnya, membawa udara segar. Karin ikut duduk di sampingnya, bahu mereka hampir bersentuhan, memandang pemandangan yang sama.

Beberapa saat mereka terdiam, hingga James akhirnya berbicara dengan suara pelan. “When I was about twelve, I came here with my grandfather.”

(Waktu aku sekitar dua belas tahun, aku pernah datang ke sini bersama kakekku.)

Karin menoleh, mendengarkan dengan penuh perhatian. James menarik napas, pandangannya menerawang ke arah laut dan bukit di kejauhan. “My grandfather was a soldier. He was a very kind man.”

(Kakekku seorang tentara. Dia pria yang sangat baik.)

Nada suaranya mengeras sedikit saat ia melanjutkan. “He passed away here while on a mission.”

(Kakekku meninggal di sini saat menjalankan misi.)

Karin menelan rasa sesak di dadanya, lalu menepuk bahu James dengan lembut. “I’m sorry for making you tell that story.”

(Maaf membuatmu menceritakan itu.)

James menoleh padanya dan tersenyum tipis. “No, you didn’t ask. I just wanted to tell it.”

(Tidak, kamu tidak bertanya. Aku sendiri yang ingin bercerita.)

Karin tersenyum kecil. “Yes.”

(Iya.)

Mereka kembali terdiam. Udara segar, laut biru di kejauhan, dan hamparan bukit hijau seakan menjadi saksi keheningan yang menenangkan.

Karin akhirnya memecah kesunyian. “That means you’re a good kid. You must have really loved your grandfather.”

(Itu artinya kamu anak yang baik. Kamu pasti sangat menyayangi kakekmu.)

James tersenyum, matanya berbinar hangat. “Yes. I was my grandfather’s favorite… I mean, his favorite grandchild.”

(Iya. Aku anak kesayangan kakek… maksudku, cucu kesayangannya.)

Angin kembali bertiup, mengisi jeda di antara kata-kata.

“Karin.”

(Karin.)

Karin menoleh, wajahnya tenang. “Yes?”

(Iya?)

James tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju pada jajaran gunung di depan mereka—berlapis, biru keabu-abuan, diam seperti kenangan yang disusun oleh waktu.

“I once heard that Indonesian people are very religious. That faith is deeply rooted in their lives.”

(Aku pernah mendengar bahwa orang Indonesia sangat religius. Bahwa iman tertanam kuat dalam kehidupan mereka.)

Karin mengangguk pelan. “Yes. In Indonesia, faith is close to everyday life. Many people grow up holding onto it.”

(Iya. Di Indonesia, iman dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang tumbuh dengan menggenggamnya sejak kecil.)

James tersenyum kecil—senyum yang seolah menyimpan banyak hal. “Since I met you, I’ve wanted to learn more about Indonesia.”

(Sejak bertemu denganmu, aku ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia.)

“Oh, really? Do you want to go there someday?”

(Oh ya? Kamu ingin pergi ke sana suatu hari nanti?)

James menarik napas. “Maybe. One day.”

(Mungkin. Suatu hari nanti.)

Hening singkat menyela.

“I’m Catholic.”

(Aku Katolik.)

“I’m Christian.”

(Aku Kristen.)

Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil—tawa ringan yang meluruhkan sisa canggung.

Angin berembus lebih kencang. Udara terasa berubah.

“Today is the anniversary of my grandfather’s death.”

(Hari ini adalah hari peringatan meninggalnya kakekku.)

Karin terdiam, menatap sisi wajah James yang berusaha tetap tenang.

“Would you pray with me for my grandfather?”

(Bolehkah kamu berdoa bersamaku untuk kakekku?)

Suaranya melemah. “This is the place where he took his last breath.”

(Tempat ini adalah tempat kakekku mengembuskan napas terakhirnya.)

Kata-kata itu menggantung di udara. Karin merasakan dadanya mengencang. Kini ia mengerti—puncak ini bukan sekadar tempat indah, melainkan ruang kenangan.

Ia menyatukan kedua tangannya. “Okay.”

(Oke.)

Karin melipat kedua tangannya di pangkuannya. Ia memejamkan mata, menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya dengan pelan—seolah ingin menenangkan hatinya sebelum memulai doa.

Di sampingnya, James ikut menutup mata. Namun sebelum itu, ia sempat melirik Karin. Ia melihat wajah perempuan itu yang tenang, bibirnya tak bergerak, tapi ada kesungguhan yang terasa jelas. Karin benar-benar mendoakan kakeknya.

Di dalam hatinya, Karin berdoa.

Tuhan,

aku tidak pernah bertemu dengan kakek James.

Namun dari caranya bercerita, aku tahu ia sangat mencintainya.

James bilang kakeknya adalah seorang tentara.

Pasti hidupnya penuh perjuangan dan pengorbanan.

Pasti banyak hal yang harus ia lepaskan demi tugas dan tanggung jawabnya.

Karena itu, Tuhan,

aku mohon, berilah kakek James ketenangan di tempat-Mu.

Semoga jiwanya damai.

Amin.

Doa itu berakhir pelan di dadanya. Karin tetap memejamkan mata sejenak, merasakan angin yang menyentuh wajahnya, lalu perlahan membukanya.

James masih menutup mata.

Wajahnya terlihat lebih serius, alisnya sedikit mengernyit. Tangannya terlipat erat, seakan takut doa itu terlepas sebelum selesai. Karin menatapnya diam-diam. Ia bisa merasakan ketulusan yang mengalir dari sosok di sampingnya—sebuah kerinduan yang dalam dan lama tersimpan.

Di dalam hati, James berdoa.

Grandpa… how are you?

(Kakek… apa kabarmu?)

I miss you.

(Aku merindukanmu.)

Grandpa, look who’s sitting next to me right now.

(Kakek, lihat siapa yang duduk di sampingku sekarang.)

She’s not Korean. She’s not British either.

(Dia bukan orang Korea. Juga bukan orang Inggris.)

She’s Indonesian.

(Dia orang Indonesia.)

She’s the first person I brought here to meet you.

(Dia orang pertama yang kubawa ke sini untuk bertemu denganmu.)

On the day you left this world.

(Di hari peringatan kepergianmu.)

I hope you’re happy wherever you are.

(Aku harap kakek bahagia di mana pun kakek berada.)

Doanya berakhir dengan napas panjang. James perlahan membuka matanya.

Tatapannya jatuh ke depan—ke gunung, ke laut, ke langit yang luas—seolah masih ada perasaan yang tertinggal di sana. Karin tetap diam, tidak berkata apa pun. Ia tahu, dalam momen seperti ini, keheningan adalah bentuk penghormatan terbaik.

Angin kembali berembus lembut di puncak itu, membawa doa-doa yang baru saja terucap—yang tak terdengar, namun terasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!