Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. SUGAR DADY
Siang itu, matahari Jakarta bersinar terik, namun suasana di dalam penthouse terasa sejuk dan hening. Dipta menyesap kopi terakhirnya sambil memperhatikan Keyla yang duduk di seberangnya dengan wajah lesu. Keyla baru saja menyelesaikan makan siangnya—sesuatu yang dipaksakan Dipta agar ia punya energi setelah "pertempuran" semalam.
"Bersiaplah. Kita pergi sekarang," ujar Dipta sambil meletakkan cangkirnya.
Keyla mendongak, matanya yang masih sedikit sembab menatap Dipta dengan dahi berkerut. "Ke mana? Aku ingin istirahat. Tubuhku rasanya mau rontok."
"Membeli kebutuhan kampusmu. Laptop, tablet, buku, dan beberapa pakaian yang lebih... pantas untuk Nyonya Mahendra," jawab Dipta santai.
"Aku bisa pergi sendiri besok, atau lusa. Aku punya kaki, Dipta. Aku tidak butuh kau mengekoriku ke mal seolah aku anak kecil yang tidak bisa belanja sendiri," tolak Keyla tegas. Ia benar-benar ingin lepas dari pengawasan pria ini, meski hanya untuk beberapa jam.
Dipta berdiri, melangkah mendekat hingga bayangannya menelan tubuh kecil Keyla. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi Keyla, mengurung gadis itu. "Kau lupa satu hal, Keyla. Di kota ini, kau adalah asetku yang paling berharga. Dan aku tidak membiarkan asetku berkeliaran tanpa pengawasan. Pilihannya hanya dua: kau pergi denganku sekarang, atau kita kembali ke kamar dan kau tidak perlu kuliah sama sekali."
Keyla mengepalkan tangannya di bawah meja. Ancaman itu selalu sama, namun selalu efektif. "Kau gila kontrol," desisnya.
"Aku hanya memastikan milikku tetap aman," sahut Dipta dengan senyum tipis yang mematikan. "Sepuluh menit. Jika kau belum siap, aku yang akan memakaikan bajumu."
***
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil menuju salah satu mal paling mewah di Jakarta Pusat. Di mal, Dipta benar-benar menunjukkan dominasinya. Ia membawa Keyla ke gerai elektronik premium, memilihkan laptop spesifikasi tertinggi yang bahkan Keyla sendiri merasa terlalu berlebihan untuk sekadar mengerjakan tugas kuliah.
"Ini terlalu mahal, Dipta. Aku hanya mahasiswa Hubungan Internasional, bukan editor film Hollywood," protes Keyla saat Dipta menunjuk sebuah perangkat terbaru.
"Kualitas mencerminkan siapa pemiliknya. Ambil ini, dan jangan membantah," potong Dipta tanpa menoleh pada label harga.
Setelah urusan elektronik selesai, Dipta menyeretnya ke butik-butik pakaian ternama. Keyla hanya bisa pasrah saat pelayan butik membawakannya belasan pasang pakaian yang harganya setara dengan biaya hidup orang biasa selama setahun. Di mata Dipta, Keyla harus terlihat sempurna. Bukan karena ia peduli pada selera mode Keyla, tapi karena Keyla adalah cerminan dari kekuasaannya.
*
Langkah Dipta berhenti di depan sebuah toko perhiasan berlian ternama. "Masuklah. Aku belum memberimu kado pernikahan yang layak."
"Dipta, tidak perlu. Pernikahan ini saja sudah cukup memuakkan bagiku, jangan ditambah dengan beban berlian," bisik Keyla tajam agar tidak terdengar pelayan.
"Anggap saja ini tanda bahwa kau sudah 'terjual' secara resmi. Dan aku ingin kau memakai tanda itu di tubuhmu," jawab Dipta dingin, menarik tangan Keyla masuk ke dalam toko yang berkilauan tersebut.
Saat mereka sedang melihat-lihat seuntai kalung berlian di etalase kaca, sebuah suara melengking yang sangat dikenal Keyla memecah keheningan.
"Keyla? Lho, Keyla Atmadja?"
Keyla menoleh dan jantungnya seolah berhenti. Ayana. Teman sekolahnya yang selalu bersaing dengannya dalam segala hal, dari nilai ujian hingga popularitas. Hubungan mereka selalu dingin, penuh sindiran dan kecemburuan.
Ayana berjalan mendekat dengan tatapan menyelidik, matanya menyapu penampilan Keyla dari ujung kepala hingga kaki, lalu beralih pada sosok Dipta yang berdiri tegak di sampingnya dengan aura yang sangat berwibawa namun terlihat jauh lebih dewasa.
"Wah, Key... aku kaget lihat kamu di sini. Apalagi di toko berlian," ujar Ayana dengan nada sinis yang kental. Ia menatap Dipta, lalu tersenyum merendahkan pada Keyla. "Oh, jadi ini alasan kamu menghilang setelah wisuda? Ternyata kamu sudah dapat 'dompet berjalan' ya? Hebat juga selera kamu, pilih yang sudah... matang."
Wajah Keyla memucat. "Ayana, diam. Jangan bicara sembarangan."
Ayana tertawa, suaranya terdengar mengejek. "Kenapa? Malu? Jadi benar tebakan anak-anak di grup chat? Keyla si juara kelas ternyata cuma cari Sugar Daddy buat biaya hidup mewahnya? Sayang banget ya, pinter-pinter ternyata cuma jadi simpanan om-om."
Rahang Dipta mengeras seketika. Matanya yang tadinya acuh kini berubah menjadi tajam seperti belati. Ia melangkah satu tindak ke depan, aura mematikannya memenuhi ruangan. Sebagai pria yang memiliki separuh gedung di Jakarta, dihina sebagai sekadar "sugar daddy" adalah penghinaan terhadap martabatnya, apalagi mendengar istrinya disebut sebagai wanita simpanan.
Dipta hendak membuka mulutnya, mungkin untuk memerintahkan pengawalnya menyeret gadis itu keluar atau menghancurkan reputasi keluarga Ayana dalam satu panggilan telepon, namun tangan Keyla segera mencengkeram lengannya dengan kuat.
"Jangan, Dipta. Tolong," bisik Keyla, matanya memohon. "Jangan lakukan apa pun. Aku tidak ingin siapa pun tahu soal pernikahan ini. Tolong, biarkan saja."
Dipta menatap Keyla, melihat ketakutan yang nyata di mata istrinya—bukan takut pada Ayana, tapi takut rahasia kelam pernikahan paksa ini terbongkar ke publik. Keyla ingin menjaga sisa harga dirinya di kampus nanti sebagai mahasiswi biasa, bukan sebagai "pembelian" seorang taipan.
Dipta menarik napas dalam, meredam amarahnya yang meluap. Ia menatap Ayana dengan tatapan meremehkan, seolah gadis itu hanyalah serangga pengganggu yang tidak layak ia ladeni.
"Kau beruntung istriku sedang dalam suasana hati yang baik," ucap Dipta dengan suara bariton yang berat dan penuh tekanan.
Ayana tertegun. "Istri? Kamu bilang apa barusan?"
Keyla segera memotong sebelum Dipta bicara lebih jauh. "Ayana, pergi dari sini. Aku tidak punya urusan denganmu."
Dipta kembali bersikap acuh tak acuh. Baginya, ocehan Ayana hanyalah gurauan anak remaja yang tidak berlevel dengannya. Ia kembali menatap pelayan toko. "Bungkus kalung yang tadi. Dan tambahkan anting-anting yang serasi."
Ayana hanya bisa berdiri mematung, bingung dan sedikit gemetar melihat tatapan dingin Dipta. Tanpa kata lagi, Ayana berbalik dan pergi dengan terburu-buru, meski di otaknya masih berputar ribuan pertanyaan tentang siapa pria yang bersama Keyla itu.
*
Setelah Ayana pergi, Keyla melepaskan cengkeramannya dari lengan Dipta. Ia merasa lemas.
"Terima kasih sudah tidak bertindak gila," gumam Keyla lirih.
Dipta menatapnya, lalu menyentuh dagu Keyla, memaksanya mendongak. "Aku tidak peduli apa yang dikatakan bocah itu tentangku. Tapi jangan pernah berpikir aku akan terus diam jika kau dihina. Di dunia ini, hanya aku yang boleh membuatmu menangis atau merasa kecil. Mengerti?"
Keyla hanya bisa mengangguk pelan. Di balik rasa kesalnya pada dominasi Dipta, ada sepercik perasaan aneh—sebuah rasa aman yang terdistorsi. Dipta adalah monsternya, tapi semesta seolah memberi tahu bahwa sang monster juga bisa menjadi pelindung yang paling mengerikan bagi siapapun yang berani menyentuh miliknya.
"Ayo pulang. Kau harus istirahat agar besok pagi kau punya tenaga untuk kuliah... dan untukku," ujar Dipta sambil membawa tas belanjaan mereka, berjalan keluar dari mal dengan gaya yang sangat arogan, meninggalkan Keyla yang mengikuti di belakangnya dalam diam yang penuh pemikiran.
***
Bersambung ...