“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PEMBALASAN DINGIN DAN HUJAN MILYARAN
Di dalam Dimensi Independen, waktu mengalir dengan hukum yang berbeda. Bagi dunia luar, Rimba mungkin hanya menghilang beberapa jam, namun di dalam sana, ia telah menghabiskan waktu yang cukup untuk melatih otot dan memperdalam cadangan Qi-nya. Di sela-sela latihan fisiknya yang brutal—yang kini melibatkan manipulasi gravitasi hingga ribuan kali lipat di bawah bimbingan Aether—Rimba melangkah ke ruang kontrol pusat yang dikelola oleh Aether.
Tatapannya dingin, setajam mata elang yang sedang mengincar mangsa. Rimba tidak pernah melupakan kawan. Ia tahu bahwa meskipun ia sudah berada di kota, bayang-bayang masa lalunya di desa masih menghantui orang-orang yang ia pedulikan.
"Aether," panggil Rimba, suaranya menggema di ruangan futuristik itu. "Gunakan seluruh kemampuanmu untuk menyisir dunia maya. Aku ingin kau mencari setiap jejak digital, video, rekaman rahasia, atau dokumen apa pun yang berkaitan dengan kelakuan negatif Julian Sukha. Ayah dari Miki itu harus diberi pelajaran."
Rimba tahu bahwa intimidasi yang diterima oleh Ilham dan Dian beberapa hari terakhir pasti merupakan ulah Julian. Pejabat kabupaten itu pasti tidak terima melihat putra mahkotanya menjadi cacat permanen.
Aether bekerja secepat kilat. Layar-layar besar di depan Rimba mulai berkedip, menampilkan aliran data yang masif. Hanya dalam hitungan menit (waktu dimensi), sebuah folder baru berjudul "Dosa Julian" muncul. Rimba mulai memeriksa isinya satu per satu. Isinya lebih dari sekadar korupsi; ada rekaman penyuapan proyek, intimidasi terhadap warga sipil, hingga rekaman perselingkuhan yang sangat vulgar dengan istri seorang perwira tinggi kepolisian.
Rimba mendengus muak. "Pantas saja Miki tumbuh menjadi sampah masyarakat. Ternyata akarnya jauh lebih busuk dari yang aku bayangkan," gumamnya.
Rimba memutuskan untuk bergerak saat itu juga. Ia meminta Aether melakukan panggilan telepon kepada Julian. Melalui protokol keamanan tingkat tinggi Aether, panggilan itu tidak akan bisa dilacak dan nomor yang muncul akan selalu berubah.
Di dunia nyata, Julian Sukha sedang duduk dengan wajah tegang di sebuah ruang rapat besar. Ia sedang mengikuti rapat koordinasi penting yang dipimpin langsung oleh Bupati. Sebagai pejabat tinggi, Julian harus menjaga citranya tetap bersih. Namun, tiba-tiba saku jasnya bergetar hebat.
Julian mencoba menolak panggilan itu, tetapi anehnya, tombol "tolak" di layar ponselnya tidak berfungsi. Malahan, volume nada deringnya melonjak drastis hingga ke tingkat maksimal secara otomatis. Suara musik dering ponselnya yang keras memecah keheningan pengarahan Bupati.
Bupati berhenti bicara dan melotot tajam ke arah Julian. "Julian! Matikan benda itu!" bentaknya.
Julian kelabakan. Ia mencoba mematikan ponselnya, menekan tombol power berulang kali, namun ponsel itu seolah memiliki nyawa sendiri. Terpaksa, dengan wajah merah padam menanggung malu, ia berdiri dan meminta izin keluar ruangan.
Begitu sampai di koridor yang sepi, Julian menekan tombol terima dengan gusar. "Halo! Siapa ini?! Kau tahu aku sedang rapat penting!"
"Dengar baik-baik, Julian," suara Rimba terdengar sangat tenang, dingin, dan memiliki nada otoritas yang membuat nyali Julian seketika menciut. "Aku Rimba. Orang yang selama ini kau cari-cari dengan cara mengintimidasi teman-temanku."
Julian terbelalak. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. "Heh, keparat! Jadi kau yang berani muncul? Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada anakku! Dia cacat karena kau!"
"Kau tidak sedang dalam posisi untuk menuntut, Julian," potong Rimba, suaranya datar namun menusuk. "Dengar ini baik-baik. Berhenti mengintimidasi Ilham, Dian, keluarga mereka, atau siapa pun yang kukenal. Jika sekali saja aku mendengar ada anak buahmu yang mendekati mereka mulai saat ini, maka video perselingkuhanmu dengan istri perwira polisi itu akan mendarat di meja suaminya dan di akun sosial media seluruh warga kabupaten besok pagi."
Julian terdiam. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Kau... dari mana kau..."
"Aku tahu segalanya tentangmu, Julian. Jangan mencoba bermain api denganku. Aku memantau setiap langkahmu. Jika kau ingin kariermu dan nyawamu selamat dari amukan suami selingkuhanmu, tarik semua orangmu sekarang juga. Selamat siang."
Klik. Sambungan terputus.
Julian bersandar di dinding koridor, napasnya memburu. Ia merasa seolah baru saja berbicara dengan iblis yang bisa melihat menembus kulitnya. Ia tidak peduli lagi dengan rapat Bupati. Ia segera menghubungi kepala preman bayarannya. "Tarik semua orang! Batalkan semua rencana terhadap teman-teman si Rimba! Jangan pernah sentuh mereka lagi! Masalah ini selesai!"
---
Di sisi lain, Rimba menghubungi Ilham menggunakan ponsel pribadinya. "Ham, jika mulai sekarang masih ada yang mengganggumu atau Dian, segera hubungi aku. Tapi menurutku, setelah ini tidak akan ada lagi gangguan dari pihak Miki."
Ilham terdengar lega di seberang sana, meskipun ia bingung bagaimana Rimba melakukannya. Setelah urusan itu selesai, Rimba kembali ke rutinitas latihannya. Ia ingin menembus Tingkat 4: Gejolak Elemen (Tinggi) sebelum keluar dari dimensi. Energi Qi di dalam tubuhnya berputar seperti badai, menghancurkan sekat-sekat penghalang hingga akhirnya sebuah ledakan energi murni terjadi di dalam meridiannya. Rimba telah naik tingkat.
Pukul 08.00 pagi waktu dunia nyata, Rimba keluar dari Dimensi Independen. Ia muncul di kamar tidur mansion Jayadi. Ia membersihkan diri dan mengenakan pakaian andalannya: celana jeans potong sedengkul, kemeja flanel yang tak dikancing, dan sepatu bot gurun.
Begitu melangkah keluar kamar, Pak Atmo sudah menyambutnya dengan senyum lebar yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Nak Rimba, Tuan Jayadi dan Tuan Toni sudah menunggu di taman belakang untuk sarapan. Mereka sudah bangun sejak subuh."
Rimba mengikuti Pak Atmo menuju taman belakang yang luas. Dari kejauhan, ia melihat pemandangan yang luar biasa. Kakek Jayadi, yang kemarin hanya bisa terduduk lemah di kursi roda, kini sedang berjalan mondar-mandir di atas rumput hijau dengan langkah mantap. Ia bahkan sesekali berputar dan menggerakkan tubuhnya seperti orang yang sedang berdansa kecil.
"Rimba! Kemari kau anak muda!" teriak Kakek Jayadi sambil tertawa terbahak-bahak. Matanya merah, tanda ia baru saja menangis karena bahagia. "Lihat aku! Aku bisa berjalan lagi! Rasanya aku seperti kembali ke usia tiga puluh tahun!"
Rimba tertawa melihat antusiasme kakek itu. "Wah, kalau begitu Kakek sudah siap untuk mencari pacar baru di kampus-kampus nanti?" canda Rimba, yang langsung disambut tawa pecah dari semua orang di sana.
Kakek Jayadi memeluk Rimba dengan sangat erat, pelukan seorang kakek kepada cucunya. "Terima kasih, Nak. Kau telah memberikan kembali hidupku yang hilang."
Om Toni juga mendekat dan memeluk Rimba. Ia menunjukkan bahunya yang kini sudah simetris dan bisa digerakkan dengan bebas. "Terima kasih, Rimba. Ini adalah keajaiban." Om Toni kemudian memperkenalkan istrinya, seorang wanita paruh baya yang sangat anggun dan cantik. "Ini istriku, ibu dari Rendi. Dia sangat ingin bertemu dengan pahlawan keluarga kami."
Ibu Rendi menjabat tangan Rimba dengan penuh haru. Mereka pun duduk bersama untuk memulai sarapan. Suasana di meja makan sangat ceria, penuh dengan gelak tawa, hingga tiba-tiba Rendi datang dengan wajah yang tampak lelah namun matanya berbinar gila.
Ia langsung duduk di samping Rimba, mengatur napasnya yang tersengal. "Pa... Eyang... orang ini," Rendi menunjuk Rimba, "dia ini benar-benar monster!"
Semua orang tertegun. Om Toni meletakkan sendoknya. "Rendi, apa yang kau bicarakan? Jaga bicaramu."
Rendi menggelengkan kepala, lalu ia mulai bercerita dengan menggebu-gebu tentang apa yang terjadi semalam di pelelangan judi batu giok. Ia menceritakan bagaimana Rimba memilihkan batu seharga 20 ribu rupiah yang ternyata berisi Giok Buddha Hidup senilai 14 miliar. Ia juga bercerita tentang 1.800 batu mentah yang mereka borong dengan harga murah.
"Aku menyuruh staf gudang memotong lima puluh batu pertama pagi ini secara acak, Papa," ujar Rendi dengan suara bergetar. "Dan hasilnya... dari lima puluh batu itu, semuanya berisi giok kualitas tertinggi! Nilai pasarnya untuk lima puluh batu itu saja sudah mencapai delapan puluh miliar rupiah! Dan kita punya seribu tujuh ratus lima puluh batu lagi yang belum dipotong!"
Kakek Jayadi dan Om Toni terdiam seribu bahasa. Mereka menatap Rimba yang seolah tidak peduli dan tetap asyik mengunyah rotinya.
"Rimba, bagaimana kau bisa tahu isi batu-batu itu?" tanya Kakek Jayadi dengan nada tidak percaya.
Rimba mengangkat bahu, berpura-pura polos. "Hanya keberuntungan saja, Kek. Dan mungkin sedikit insting dari kakek saya di desa."
---
Ting!
Ponsel Rimba berbunyi. Ada notifikasi saldo masuk. Rimba membukanya dan terkejut melihat angka 13 Miliar Rupiah masuk ke rekeningnya dari Rendi Pratama.
"Bang, uang apa ini? Kenapa dikirim ke aku?" tanya Rimba heran.
"Itu sisa penjualan Giok Buddha semalam setelah dipotong biaya transaksi. Dan itu juga komisi awal dari giok-giok yang baru kita potong pagi ini," jawab Rendi tegas. Rimba mencoba menolak, namun Rendi menahannya. "Jangan membantah! Jika tidak ada kau, Tulip Jewelry hanya akan membawa pulang sampah semalam."
Belum sempat Rimba menjawab, ponselnya bergetar lagi. Kali ini matanya benar-benar hampir keluar dari tempatnya. Saldo masuk: 100 Miliar Rupiah. Pengirim: Toni Pratama.
"Om Toni... ini... ini gila! Untuk apa uang sebanyak ini?" seru Rimba.
Om Toni tersenyum tenang sambil menepuk bahu Rimba. "Itu adalah tanda syukur kami, Rimba. Selama sepuluh tahun terakhir, kami sudah membuang lebih dari dua puluh triliun untuk dokter-dokter terbaik di dunia tanpa hasil. Seratus miliar ini tidak ada apa-apanya dibanding kesehatan ayahku dan kesehatan diriku sendiri. Terimalah, ini adalah wasiat dari Eyang Jayadi juga."
Kakek Jayadi tertawa keras, suaranya menggelegar di taman itu. "Terimalah, Rimba! Jangan membuat orang tua ini marah! Jika kau menolak, artinya kau tidak menganggap kami keluarga!"
Rimba tertegun. Ia memandang wajah-wajah tulus di depannya. Sebagai seorang yatim piatu yang terbiasa hidup keras, ia merasa sangat tersentuh dengan kehangatan keluarga ini.
"Sepertinya keluarga Pratama ini benar-benar kelebihan uang sampai dibagikan sebanyak ini padaku," canda Rimba sambil menggelengkan kepala.
"Tutup mulutmu, anak nakal!" sahut Kakek Jayadi sambil tertawa. "Mana ada orang di dunia ini yang tidak butuh uang? Tapi kami tahu siapa yang pantas mendapatkan apresiasi tertinggi."
Suasana sarapan itu berakhir dengan tawa yang memenuhi seisi taman. Rimba menyandarkan tubuhnya di kursi, menyesap teh hangatnya, dan menatap langit biru Kota Provinsi. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia telah menghancurkan musuh-musuhnya dari kejauhan, menyembuhkan orang-orang yang berjasa pada orang tuanya, dan kini memiliki kekayaan yang cukup untuk membeli sebuah distrik. Langkahnya menuju kampus besok pagi kini terasa jauh lebih menarik.