"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_32
Rayna baru saja tiba di depan penthouse ketika matanya menangkap sosok seorang wanita yang berdiri santai di depan pintu. Rambut panjangnya tergerai, kacamata hitam bertengger di kepala, dan senyum kecil itu—Rayna hafal betul.
“Maya!” pekik Rayna spontan.
Ia langsung berlari kecil, Wanita yang dipanggil refleks merentangkan kedua tangannya. Detik berikutnya, dua sahabat karib itu sudah berpelukan erat, seperti tak bertemu sejak zaman penjajahan
"Kapan balik ke Indonesia? Kok nggak ngabarin sih?” cicit Dayna heboh
“Baru kemarin nyampe,” jawab Maya dengan senyum sumringah. “Sengaja nggak ngabarin. Mau ngasih lo surprise.”
“Astaga… dan lo sukses besar,” Rayna menghela napas sambil tersenyum. “Masuk, masuk. Lo utang banyak cerita sama gue!”
Rayna membuka pintu lebar-lebar. Begitu masuk, Maya langsung menyodorkan sekitar lima paper bag yang sejak tadi ia tenteng.
“Nih, oleh-oleh buat lo.”
Rayna melotot. “May… ya ampun. Nggak perlu repot-repot gini kali.”
“Tapi lo suka, kan?”
“Ya iyalah,” jawab Rayna cepat. Mereka berdua pun tergelak bersamaan.
Maya melangkah lebih dalam, matanya sibuk menjelajahi setiap sudut ruangan. “Asli sih, penthouse lo keren banget. Ini vibes-nya kayak ala ala mafia yang sangar tapi keluarganya hangat gitu. sangar diluar, lembut di dalam.”
Rayna tersenyum bangga sambil meletakkan paper bag di atas meja. “Selera laki gue emang bagus. Apalagi soal desain interior, jagonya dia. Tapi yang paling gila itu interior rumah utama Atmawijaya sih. Kamarnya Naren… sumpah, kayak negeri dongeng.”
Maya berhenti melangkah. Menoleh pelan dengan tatapan penuh arti.
“Wait. Kamarnya Naren… di rumah Atmawijaya?”
Rayna mengangguk santai, sama sekali tak curiga.
“Oke,” Maya menyeringai. “Kayaknya bukan gue deh yang punya utang cerita banyak sama lo. Tapi justru lo yang punya utang cerita besar sama gue.”
Rayna terkekeh gugup. “Duduk dulu. Mau gue buatin minum apa?”
“Gue nggak butuh minum,” Maya menarik tangan Rayna dan duduk di sampingnya. “Gue butuh cerita lo, ”
“Cerita apaan sih, May?” Rayna mengelak. “Lo kan yang habis pulang Honeymoon. Harusnya lo dong yang cerita.”
“Honeymoon sama suami mah ceritanya gitu-gitu doang,” Maya mendengus. “Tapi lo? Gimana ceritanya bisa masuk kamar Narendra di rumah Wijaya? Lo ngapain di kamar Narendra, Rayn? Jangan bohong. Pasti banyak part yang gue lewatkan selama gue nggak di Indonesia.”
Rayna menghela napas, menyerah. “Sehari setelah lo berangkat, Papah mertua gue pulang. Terus minta gue sama Naren nginep di rumah utama. Ya udah, akhirnya kita nginep. Otomatis tidurnya di kamar Narendra dong.”
“Terus?” Maya mendekat, mata menyipit penuh selidik. “Kalian ngapain di kamar?”
Klik.
Suara monitor fingerprint memecah keheningan. Pintu utama terbuka.
“Assalamualaikum.”
Rayna refleks menoleh. “Waalaikumsalam. Loh, Mas? Kok sudah pulang jam segini? tumben. "
“Di kantor lagi gak banyak kerjaan. tadi cuma beresin beberapa berkas aja,” jawab Narendra santai. Matanya kemudian melirik Maya. “Ada tamu?”
“Oh iya,” Rayna tersadar. “Mas, kenalin. Ini Maya, best soulmate aku. Udah aku anggap kayak saudara sendiri. May, ini Mas Narendra, suami aku.”
“Halo, Mas. Maya,” sapa Maya sambil mengulurkan tangan.
“Narendra,” jawab Naren singkat, menyambut jabatan tangan itu.
“Maaf ya, Mas,” lanjut Maya. “Waktu kalian nikah saya nggak bisa hadir. Harus take over semua kerjaan mbak manten di tiga kota soalnya. Kalian nikahnya mendadak banget, jadi nyonya baru ini gak sempet atur jadwal," mata Maya melirik ke arah Rayna kesal
Rayna langsung nyelutuk dengan nada menggoda. “Masih diinget aja. Kan abis itu bonusnya langsung bisa dipakai buat bulan madu.” balas Rayna dengan senyum lebar
“Iya gak papa,” Narendra tersenyum kecil. “Yang penting doanya. trimakasih juga sudah menghandle pekerjaan Rayna, "
Rayna menoleh ke dapur. “Mas udah makan siang belum? Aku nggak sempat masak. Mau aku pesenin aja?”
“Nggak usah. Nanti aja makannya,” jawab Naren. “Kalian lanjutin aja ngobrol. Aku mau bersih-bersih dulu.”
Ia menoleh ke Maya. “Saya ke dalam dulu ya, Mbak.”
Begitu pintu kamar menutup, Maya langsung menepuk lengan Rayna dengan mata berbinar.
“MasyaAllah tabarakallah,” bisiknya heboh. “Suami lo ganteng banget, Rayn. Sumpah. Seratus kali lipat lebih ganteng dari foto yang lo tunjukin ke gue. Jangan-jangan fotonya sengaja lo edit biar keliatan jelek ya?” Maya bercicit heboh
Rayna terkekeh. “Astaghfirullah. Jaga pandangan, ukhti. Itu suami orang.”
“Bukannya lo bilang suami lo kasar, judes, mukanya kayak mau makan orang?” Maya menggeleng-geleng. “Tadi suaranya alus banget, senyumnya sempurna. Wajahnya teduh kayak pohon beringin umur seabad.”
“Nah itu,” Rayna menyeringai. “Ganteng sih, tapi angker. Lo nggak bakal pernah nebak kodam apa yang lagi nyusup di badan dia. Yang barusan itu kodam tepung terigu. Makanya alus.”
Maya tertawa lebar sampai bahunya bergetar.
“Terus kalau pas kasar?”
“Kodam Chef Juna pas lihat peserta MCI masak rice with water and salt.”
“Yaaah… tajin dong,” balas Maya. Tawa mereka menggelegar memenuhi ruangan.
“Oke, balik ke topik,” Maya menepuk tangan. “Buruan cerita. Ada info apa aja?”
“Nggak bisa sekarang,” Rayna menggeleng. “Orangnya ada di dalam. Pasti dengar. Next time aja. Atau besok gue ke klinik sekalian kita hangout. Udah lama banget kita nggak hangout bareng.”
Maya terdiam. Matanya berkaca-kaca.
“Lo serius ngajakin gue hangout, Rayn?”
“May,” Rayna mengernyit, “gue ngajakin lo hangout, bukan ngajakin lo nyebur jurang. Kenapa jadi nangis sih?”
“Lo sadar nggak,” suara Maya bergetar, “semenjak kejadian empat tahun lalu, kita nggak pernah lagi keluar bareng buat nongkrong. Dulu tiap hari kita barengan. Terus sekarang lo tiba-tiba ngajak gue hangout… rasanya kayak mimpi.”
Ia memeluk Rayna erat. “Gue kangen lo yang dulu, Rayn.”
Rayna membalas pelukan itu, mengelus punggung sahabatnya. “Makasih ya, May. Lo sabar banget nemenin gue sampai titik ini. Mulai sekarang, pelan-pelan gue bakal balik jadi Rayna yang dulu. Tapi versi upgrade. Hangout-nya lebih syar’i.”
“Kok gitu?” Maya manyun.
“Sekarang gue bukan cuma Putri Rusdianto,” Rayna terkekeh. “Tapi juga menantu Atmawijaya. Salah dikit, bisa di-ulti se-Indonesia.”
“Iya, iya,” Maya mencibir. “Combo sultan.”
“Bukan sombong,” Rayna senyum lebar. “Tapi udah keburu tahu, sayang dong kalau nggak dimaksimalin pamernya.”
Mereka tertawa lagi. Dari dalam kamar, Narendra yang tanpa sengaja menguping ikut tersenyum kecil.
“Receh banget ternyata istri gue,” gumamnya pelan.
Maya berdiri. “Ya udah, gue pamit dulu. laki gue nyuruh pulang cepet.”
“Baru ditinggal beberapa jam udah disuruh pulang?” Rayna meledek. “Masih kurang honeymoon-nya?”
“Kalau soal itu mah nggak pernah cukup, darling,” Maya mendesah dramatis. “Apalagi abis energi keisi penuh.”
“Idih.”
“Percuma gue jelasin ke lo,” Maya terkekeh. “Nanti juga lo ngerti sendiri.”
“Dasar mesum,” umpat Rayna.
“Koreksi,” Maya mengangkat jari. “Ahli ibadah.”
Rayna melempar bantal sofa. “Pulang sana!”
Maya sudah berlari ke pintu. “Kalau butuh link, kabarin. Tapi inget, googling-nya pahala melayani suami, bukan video tutorialnya.” ucapnya setengah berteriak dengan tawa menggelegar
“Assalamu’alaikum!”
Pintu tertutup. Rayna menghela napas. “Emang kadang-kadang tuh orang…”
“Udah pulang temennya?” suara Narendra muncul dari belakang.
Rayna kaget setengah mati. “Eh, Mas. Iya, barusan.”
“Suka juga lihat video-video kayak gitu?” tanya Naren santai sambil duduk di sampingnya.
“Hah? Video apaan?” Rayna refleks. “Nggak ya. Itu Maya aja yang sableng.”
“Oh…” Narendra menyipitkan mata. “Percaya kok.” sambil tetap memberikan ekspresi wajah yang sulit di tebak
“Tumben cepet nemuin Ajengnya?” tanya Rayna sinis
“aku ke kantor Rayna." Naren menekankan setiap ucapnya seolah jengah terus di tuduh
Rayna terdiam.
“Ya udah,” lanjut Naren. “Bersih-bersih dulu, terus sholat Zuhur. Aku orderin makan. Kamu mau apa?”
Rayna mematung. Ini pertama kalinya Narendra selembut ini.
‘si Kodam tepung terigu betah banget,’ batinnya.
“Heh,” Naren menepuk tangannya. “Mau makan apa?”
“Terserah Mas,” jawab Rayna gugup. “Yang penting pedes.”
Ia beranjak ke kamar, jantungnya berdebar tak karuan. sedetik lebih lama lagi ia tetap berdiri di depan Naren bisa-bisa jantung nya meledak.
plisss dong kk author tambah 1 lagi