NovelToon NovelToon
Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.

Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.

Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insiden Salah Kirim dan Bau Gosong di Tengah Malam

Setelah kejadian "sarapan bareng" yang bikin jantung Nara hampir lepas dari tempatnya itu, Nara memutuskan untuk mengurung diri di unit 401 selama tiga hari. Bukan apa-apa, dia cuma malu. Setiap kali dia melihat ke arah pintu, bayangan tangan Rian yang mengusap sudut bibirnya selalu terputar otomatis kayak kaset rusak.

"Aduh, Nara! Sadar! Dia itu robot, dia itu kaku, dia itu nggak punya perasaan!" Nara menepuk-nepuk pipinya sendiri sambil menatap layar monitor yang menampilkan desain banner promo diskon akhir tahun.

Nara sudah bekerja hampir sepuluh jam tanpa henti. Kepalanya terasa berat, dan perutnya mulai menyuarakan aksi protes yang sangat berisik. Sesuai dengan poin nomor lima di kontrak damai mereka—bahwa Rian harus memastikan Nara makan sehat kalau dia kepepet deadline—Nara sebenarnya punya hak untuk menagih.

Tapi gengsi Nara masih setinggi monas.

"Nggak, gue nggak mau minta tolong Pak Robot. Gue bisa masak sendiri," tekad Nara bulat.

Nara berjalan ke dapur kecilnya. Dia membuka lemari kabinet. Isinya? Kosong melompong. Hanya ada satu bungkus tepung bumbu serbaguna yang masa berlakunya tinggal dua minggu lagi. Di dalam kulkas pun cuma ada dua butir telur dan seikat daun seledri yang sudah mulai layu.

"Oke, mari kita buat... omelet seledri ala Nara Anindita," gumamnya pasrah.

Nara mulai menyalakan kompor. Sambil menunggu wajan panas, dia kembali ke meja kerjanya sebentar karena ada notifikasi revisi masuk dari klien. Cuma bentar kok, pikirnya. Namun, dasar Nara, kalau sudah liat desain, dia lupa segalanya. Dia asyik menggeser-geser elemen di layar, sampai-sampai dia lupa kalau dia sedang menyalakan api di dapur.

Sepuluh menit kemudian...

TET! TET! TET! TET!

Alarm asap di langit-langit unit 401 berbunyi nyaring. Nara terlonjak sampai kursinya terjungkal. Dia melihat asap putih mulai memenuhi ruang tamunya yang mungil.

"ASTAGA! API!" Nara panik. Dia lari ke dapur dan melihat wajannya sudah mengeluarkan asap hitam pekat. Telurnya sudah berubah jadi arang.

Nara buru-buru mematikan kompor, tapi alarmnya nggak mau berhenti bunyi. Dia panik setengah mati, mengambil bantal sofa lalu mengibas-ngibaskannya ke arah detektor asap sambil batuk-batuk.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Nara! Buka pintunya! Nara!" suara bariton yang sangat familiar terdengar menggelegar dari balik pintu.

Nara terbatuk lagi, dia berlari membuka pintu dengan wajah yang sedikit coreng-moreng kena jelaga. Begitu pintu terbuka, Rian sudah berdiri di sana dengan wajah yang luar biasa tegang. Dia memegang tabung pemadam api kecil di tangannya.

Rian langsung menerobos masuk, melihat ke arah dapur, lalu mendesah sangat panjang saat menyadari tidak ada api besar yang berkobar, melainkan hanya wajan yang gosong parah. Rian mematikan alarm asap secara manual, lalu membuka jendela balkon lebar-lebar agar asapnya keluar.

Setelah suasana sedikit tenang, Rian berbalik. Dia menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan—antara marah, khawatir, dan ingin tertawa melihat muka Nara yang belepotan.

"Kamu mau bakar apartemen ini atau mau bikin pengorbanan buat dewa dapur?" tanya Rian. Suaranya dingin, tapi napasnya masih agak tersengal karena panik tadi.

Nara menunduk, memainkan ujung dasternya (kali ini motif semangka, bukan buah naga). "Saya... saya tadi cuma mau bikin omelet, terus ada revisi dari klien, terus..."

"Terus kamu lupa kalau kamu punya otak yang harus dipakai buat ngingat kalau kompor lagi nyala?" potong Rian tajam.

Nara mendongak, matanya berkaca-kaca. "Ya kan saya capek, Mas! Saya belum makan dari pagi, klien saya rewel, terus saya mau minta tolong Mas tapi saya takut dikatain lagi. Saya cuma laper!"

Melihat Nara yang mau menangis, benteng pertahanan Rian sedikit runtuh. Dia meletakkan tabung pemadam api di lantai, lalu mendekati Nara. Dia tidak mengatain Nara lagi. Sebaliknya, dia mengambil selembar tisu dari meja dan—lagi-lagi—mengusap noda hitam di dahi Nara.

"Duduk," perintah Rian.

"Mau ngapain?"

"Duduk di sofa. Jangan sentuh apapun di dapur. Biar saya yang urus," ucap Rian sambil mulai menyingsingkan lengan kemejanya sampai ke siku.

Nara menurut. Dia duduk di sofa sambil memperhatikan punggung Rian yang sibuk membersihkan wajan gosongnya dan mulai mengecek isi kulkas Nara yang menyedihkan itu.

"Isi kulkasmu ini lebih mirip tempat sampah daripada tempat penyimpanan makanan," kritik Rian sambil membuang seledri layu ke tempat sampah.

Rian lalu keluar sebentar ke unitnya sendiri, dan kembali membawa sebuah kantong berisi bahan makanan. Ternyata, dia baru saja pulang dari supermarket.

Nara hanya bisa diam terpaku saat melihat Rian mulai memotong bawang bombay, mengocok telur, dan menumis sayuran dengan sangat ahli. Gerakannya begitu efisien. Tidak ada satu pun gerakan yang terbuang sia-sia. Benar-benar seperti robot, tapi robot yang sangat... tampan.

Wangi masakan mulai memenuhi ruangan, menggantikan bau gosong yang tadi menyengat. Kali ini wanginya sangat menggugah selera—aroma mentega dan lada hitam.

"Nih, makan," Rian meletakkan sepiring nasi goreng selimut (omurice) yang tampilannya sangat rapi di depan Nara. "Dan ini, minumnya susu hangat. Biar otak kamu nggak konslet lagi."

Nara menyuap satu sendok. Rasanya... enak banget. Hangat dan nyaman di perut. "Mas Rian... makasih ya. Maaf udah bikin panik."

Rian duduk di kursi meja kerja Nara, sedikit menjauh agar tidak terlalu dekat. "Ingat poin nomor lima di kontrak kita? Saya wajib memastikan kamu makan kalau kepepet. Jangan coba-coba masak sendiri kalau fokusmu lagi nggak ada di situ. Kamu itu bahaya bagi lingkungan sekitar."

Nara terkekeh kecil sambil mengunyah. "Iya, Pak Boss. Tapi Mas Rian tadi beneran panik ya? Sampai bawa tabung pemadam segala?"

Rian membuang muka ke arah jendela. "Saya cuma nggak mau unit saya ikut terbakar karena kecerobohan tetangga. Itu kerugian finansial yang besar."

"Masa sih? Bukan karena khawatir sama saya?" goda Nara dengan sisa keberaniannya.

Rian terdiam cukup lama. Dia menoleh kembali ke arah Nara. Cahaya lampu apartemen yang kekuningan jatuh di wajahnya, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.

"Mungkin keduanya," jawab Rian pelan, hampir berbisik.

Nara hampir tersedak nasinya. Dia tidak menyangka Rian bakal menjawab jujur. Suasana mendadak jadi canggung yang "manis". Mereka berdua terdiam, hanya suara sendok Nara yang beradu dengan piring yang terdengar.

Tiba-tiba, ponsel Rian berbunyi. Dia melihat layarnya dan ekspresinya langsung berubah jadi kaku lagi. "Saya harus balik. Besok pagi, jangan lupa tugasmu di unit saya. Ada paket besar yang akan datang, saya butuh bantuanmu buat bongkar."

"Paket apa?" tanya Nara penasaran.

"Barang-barang baru. Dan jangan pakai daster buah naga itu lagi, karena besok akan ada kurir interior yang datang. Saya nggak mau mereka mikir saya tinggal di sebelah toko buah," ucap Rian sambil berjalan menuju pintu.

Nara menjulurkan lidahnya. "Dasar Robot! Padahal tadi udah agak manis dikit, sekarang balik lagi jadi es kutub!"

Begitu Rian keluar dan pintu tertutup, Rian bersandar di tembok koridor. Dia memegang dadanya yang berdetak tidak karuan. Dia ingat saat dia mendobrak pintu tadi dan melihat wajah Nara yang penuh asap, jantungnya rasanya mau copot.

"Apa-apaan sih, Rian... dia cuma tetangga yang ceroboh," gumamnya pada diri sendiri.

Di dalam, Nara menghabiskan makanannya sampai butir nasi terakhir. Dia melihat piring kosong itu dan tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nara merasa bahwa memiliki tetangga yang cerewet dan kaku ternyata nggak buruk-buruk amat. Malah, mungkin... dia mulai suka dengan aturan-aturan aneh yang dibuat oleh Rian.

Karena di balik kontrak yang dingin itu, ada perhatian yang hangatnya melebihi nasi goreng buatan siapa pun.

1
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!