"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - Upacara
"Harus banget ya ikut upacara?"
Giselle menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan. Ia merasa sangat-sangat malas untuk mengikuti kegiatan Senin pagi. Rasanya ia ingin pura-pura sakit saja, agar bisa izin tidak mengikuti upacara.
"Kalau gak mau, gak usah sekolah sekalian."
Giselle semakin mengerucutkan bibirnya ketika mendengar balasan dari Libra. Pemuda itu sama sekali tidak membantu. Malah membuatnya semakin malas.
"Kita itu disuruh upacara karena untuk menumbuhkan rasa nasionalisme anak bangsa. Lo anak bangsa, bukan?" jelas Libra dengan santai. Memang susah berbicara pada orang rajin seperti dia. Apa-apa dikaitkan dengan pelajaran. Meskipun itu benar adanya, tetapi Giselle tetap saja malas mendengarnya.
"Nggak ngerti, ah. Pusing."
Libra menggelengkan kepalanya. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum upacara dimulai. Beberapa murid masih tinggal di dalam kelas. Sama seperti mereka.
Beberapa saat kemudian, Nando sang ketua kelas, berteriak nyaring memerintahkan murid-murid kelas XI IPS 2 untuk segera menuju lapangan.
"Ke lapangan sekarang, woy! Buruan sebelum Pak Bimo keliling."
Pak Bimo adalah guru BK. Beliau seringkali berkeliling ke kelas-kelas untuk mengecek anak-anak yang membolos upacara. Bertampang garang, membuat hampir semua murid takut padanya.
"Ba, gak bawa topi," ujar Giselle dengan panik ketika tidak mendapati topi miliknya di dalam tas.
"Duh, gimana ini? Gimana kalau dihukum Pak Bimo?" Giselle hampir menangis ketika dengan santai Libra menyodorkan sebuah topi.
"Dasar pikun. Topi lo kan ada di gue, Pen."
Libra sengaja menyimpan topi milik Giselle karena tahu gadis itu sangat ceroboh. Ia bahkan sering lupa menaruh barang-barangnya.
"Ish, bilang dong, Liba! Bikin panik aja," ujar Giselle dengan kesal.
"Iya, Pendek. Ini juga bilang."
...***...
"Pit, kapan selesainya, sih?"
Giselle berbisik pada Pipit yang berdiri di sebelahnya. Matahari sepertinya sedang bersemangat sampai-sampai bersinar begitu terang. Membuat kepala Giselle terasa sangat panas meskipun sudah mengenakan topi.
"Bentar lagi, Gi."
Giselle mengangguk dengan lesu. Kakinya sudah pegal. Rasanya ia ingin duduk manis di dalam kelas saja.
"Kebersihan lingkungan itu sangat penting. Di depan kelas kalian masing-masing sudah disediakan tempat sampah, lalu kenapa masih banyak murid-murid yang membuang sampah sembarangan? Sebagai murid teladan...."
Giselle mendengus kesal mendengar amanat dari kepala sekolah yang setiap upacara selalu sama. Itu-itu saja yang dibahas. Semakin membuatnya mati kebosanan.
"Pit, panas," rengek Giselle dengan berbisik.
"Iya, Gi. Kalau mau dingin, ke kutub utara sana," balas Pipit dengan santai. Gadis itu sedang fokus menatap kepala sekolah yang berdiri di tengah-tengah lapangan.
"Ish, lo mah gitu," gerutunya.
Setelah beberapa menit mendengarkan pidato panjang pak kepala sekolah, akhirnya Giselle bisa bernapas lega ketika pria paruh baya itu mengakhirinya.
"Sebagai pengumuman tambahan, Minggu depan akan ada pensi yang diselenggarakan oleh OSIS. Untuk lebih lengkapnya, akan diumumkan kepada ketua kelas masing-masing. Sekian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Pengumuman dari kepala sekolah membuat keadaan di lapangan sedikit heboh. Pasalnya, sekolah sangat jarang mengadakan pentas seni. Mungkin bisa dihitung jari dalam satu tahun.
"Hah? Apaan, Pit? Gak denger," ujar Giselle dengan bingung. Dia memang tidak terlalu memperhatikan perkataan kepala sekolah. Ia justru sibuk mengipasi dirinya sendiri menggunakan tangan. Meskipun itu tidak berguna sama sekali untuk mengurangi rasa gerahnya.
"Minggu depan ada pensi, Gigi!" balas Pipit dengan semangat.
Mendengar kata pensi, seketika mata Giselle berbinar.
"Itu artinya, Minggu depan kita gak ada pelajaran, kan?" Giselle senang bukan karena sekolah akan mengadakan pentas seni, tetapi karena saat acara tersebut berlangsung, tidak akan ada kegiatan belajar mengajar. Ia suka itu.
"Iyalah."
"YES."
Tanpa sadar, Giselle berteriak di tengah keheningan para siswa yang sibuk menundukkan pandangan karena pembacaan doa berlangsung.
"Itu yang berisik, tolong diam," tegur salah satu guru yang berdiri tak jauh dari barisan kelas XI IPS 2.
Giselle meringis kecil, merasa malu. Ia terlalu senang sampai tidak memperhatikan sekitarnya.
Upacara selesai beberapa saat kemudian. Beberapa murid bukannya kembali ke kelas, justru melipir ke kantin. Giselle sendiri lebih memilih kembali ke kelas. Tenaganya sudah habis. Ia ingin cepat-cepat berada di dalam kelas yang sejuk karena ada AC.
Ketika sampai di kelas, Giselle mengernyit heran melihat Libra yang sudah lebih dulu duduk manis ditempatnya.
"Kok cepet?"
"Kan vampir, jadi bisa melesat," jawab Libra asal. Giselle langsung memukul lengan pemuda itu pelan.
"Halu, ihh."
"Sendirinya juga sering halu, tapi gak sadar diri," gumam Libra yang masih bisa terdengar oleh Giselle. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal. Sabar, ini masih pagi.
Plak plak plak
Suasana yang sebelumnya gaduh, kini menjadi hening. Setiap pasang mata yang berada di kelas XI IPS 2, kini tertuju pada seorang pemuda yang berdiri di depan papan tulis sembari memegang penggaris panjang. Ia baru saja memukulkan penggaris itu pada papan tulis untuk menarik perhatian teman sekelasnya.
"Ekhem, selamat pagi para rakyatku," sapanya dengan santai.
"HUUUUU!"
"Anjir, sok iye, lo!"
"Apaan woy rakyat-rakyat!"
Seruan itu terdengar begitu sang ketua kelas selesai menyapa. Pemuda itu justru tertawa terbahak-bahak mendengar gerutuan teman-temannya.
Plak plak plak
Si ketua kembali memukulkan penggaris ke papan tulis agar suasana kembali tenang.
"Diem, oy. Gue mau kasih pengumuman!" teriak Nando. Seketika hening. Murid-murid mulai serius menatap pemuda yang masih berdiri di depan kelas.
"Nah, jadi gini rakyat-rakyatku--"
"Gue lempar sepatu lama-lama nih," teriak Laskar yang duduk di barisan ketiga.
"Iye-iye, ah. Sabar napa! Jadi gini, Minggu depan ada pensi, lo pada udah tau kan. Yang gak tau, kupingnya budek berarti. Udah di umumin kenceng banget tadi pas upacara--"
"Ya gak usah ngatain juga kali!" Gadis bernama Tia itu melayangkan protes pada sang ketua. Mungkin karena merasa tersindir. Ia memang tidak mendengarkan pengumuman tadi.
"Tersindir ya Mbak? HAHAHA, lanjut. OSIS minta setiap kelas ngirim perwakilan buat tampil. Jadi, apakah ada yang mau menjadi perwakilan kelas XI IPS 2, wahai rakyatku?"
Keadaan hening. Mendadak, semua murid menunduk. Ada yang sibuk membuka buku, ada juga yang memainkan ponselnya. Berpura-pura seolah tidak mendengarkan perkataan Nando.
"TAI. JAWAB WOY!" Karena merasa diabaikan, Nando berteriak kesal.
"Sorry, kita bukan tai."
...***...
18 Januari 2026