Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi penyelamtan Wanita Asing
Freen dan Nam meninggalkan reruntuhan, menyusuri kembali jalur setapak yang mereka lalui. Energi yang kini tenang di hutan sangat membantu Freen, memungkinkannya menghemat sisa tenaganya. Mereka kembali ke tempat Profesor Jirapat terbaring.
Nam segera menghubungi tim SAR yang nomornya ia dapat dari kantor polisi, melaporkan bahwa mereka telah menemukan Profesor Jirapat di lokasi yang sudah mereka tandai.
Tidak lama kemudian, Freen dan Nam mendengar suara helikopter di kejauhan, disusul suara tim penyelamat yang memanggil-manggil.
Tim SAR segera tiba di lokasi. Mereka terkejut melihat Profesor Jirapat yang terkenal itu tergeletak, tetapi lega karena ia masih hidup.
"Kami menemukan Profesor di sini. Dia sangat kelelahan dan mungkin mengalami dehidrasi berat," jelas Freen dengan wajah serius, masih dalam peran sebagai asisten peneliti.
"Dia memegang ini," Freen menunjukkan Kunci Emas yang kini ia simpan di dalam kantung beludru Mustika Merah Delima.
"Ini adalah artefak yang dia cari. Kami menduga dia pingsan karena terlalu gembira."
Freen tidak menceritakan tentang pertempuran spiritual atau Kunci Emas sebagai segel iblis. Itu akan membuat mereka terlihat gila.
Profesor Jirapat segera dievakuasi. Freen dan Nam memutuskan untuk ikut turun gunung bersama tim SAR, untuk memastikan mereka mendapatkan kesempatan berbicara dengan Profesor sebelum ia kembali ke Ibu Kota.
****
Beberapa jam kemudian, di rumah sakit kecil di kota pegunungan, Profesor Jirapat sudah sadar dan menerima perawatan. Freen dan Nam, setelah memberikan kesaksian singkat kepada polisi dan tim SAR, meminta waktu pribadi untuk berbicara dengan Profesor.
Profesor Jirapat tampak kebingungan dan lemah. "Apa... apa yang terjadi? Aku ingat mencapai reruntuhan, dan kemudian... ada dingin yang menusuk..."
Freen mendekat, tatapannya tegas. Ia mengeluarkan Kunci Emas dari kantung beludru.
"Profesor," kata Freen, suaranya pelan dan mengancam. "Ini adalah Kunci Emas yang Anda cari. Anda menemukan reruntuhan itu, dan Anda nyaris menghancurkan seluruh kota ini."
Profesor Jirapat menatap Kunci itu dengan mata berbinar-binar penuh obsesi.
"Aku tahu itu! Ini akan membuka pengetahuan tersembunyi! Aku harus membawanya kembali ke laboratorium!"
"Tidak," Freen menyela tajam. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik agar hanya Profesor yang bisa mendengar.
"Kunci ini bukan pembuka, Profesor. Ini adalah segel. Segel yang mengurung Iblis Hutan Kuno yang haus darah di bawah reruntuhan. Saat Anda mengambilnya, entitas itu merasuki tubuh Anda. Saya dan Nam berhasil mengeluarkannya dan mengembalikan segel itu, tepat pada waktunya."
Profesor Jirapat terdiam, wajahnya pucat pasi. Ketakutan yang ia rasakan saat dirasuki kembali menghantuinya.
"Anda harus menghentikan penelitian Anda tentang kuil itu, Profesor," tegas Freen.
"Jika Anda mengganggu segel itu lagi, Iblis Hutan akan bebas. Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghentikannya. Biarkan misteri ini terkubur. Itu adalah tugas Anda sebagai seorang cendekiawan, untuk menjaga apa yang tidak seharusnya dibangkitkan."
Nam, yang berdiri di samping Freen, mengangguk membenarkan.
Profesor Jirapat, yang baru saja mengalami kengerian yang sesungguhnya di luar nalar, akhirnya menyerah.
"Aku... aku mengerti. Aku tidak akan mengganggu reruntuhan itu lagi. Aku tidak akan membahayakan siapa pun lagi."
Freen menghela napas lega. Misi selesai. Segel kembali, bahaya dihentikan, dan Kunci Emas tetap di tempatnya.
"Baiklah, Profesor," kata Freen, tersenyum kecil. "Pikirkan ini sebagai pengalaman di luar kurikulum. Kami akan mengurus laporan agar Anda mendapat cuti panjang. Sekarang, istirahatlah. Dan lupakan Kunci Emas."
Freen dan Nam meninggalkan rumah sakit. Mereka kembali ke mobil sewaan mereka.
"Kasus hutan ditutup," kata Nam, menyalakan mesin. "Sekarang, kita bisa pulang ke Nonthaburi, membayar Bibi Som, dan berlibur sebentar di rumah kita sendiri."
Freen menyandarkan kepala di kursi. Ia memejamkan mata. Tidak ada pesan baru di handphone-nya. Tidak ada aura dingin. Tidak ada bisikan Mae Nakha.
"Ya, Nam," bisik Freen. "Akhirnya, kita bisa pulang. Dan tidur selama seminggu penuh."
Misi Paranormal Gadungan Freen Sarocha, untuk saat ini, telah mencapai jeda yang sangat pantas.
...****...
Freen dan Nam tiba kembali di Nonthaburi menjelang larut malam. Kelegaan terasa begitu kuat saat mereka membuka pintu rumah Nam yang sederhana. Aura rumah itu, yang kini telah disucikan dari kehadiran Chanya, terasa hangat dan damai.
"Surga," desah Freen, langsung menjatuhkan ranselnya dan ambruk di sofa ruang tamu yang familier.
Nam tersenyum lebar. "Aku akan membersihkan semua peralatan dan menghubungi Bibi Som besok. Malam ini, yang kita lakukan hanya ini," kata Nam, menunjuk ke sofa, lalu ke kamar mandi.
"Mandi air panas, makan mie instan, dan tidur di kasur, bukan di tenda, bukan di rumah sakit, bukan di sofa klien kaya, dan bukan di samping hantu."
Freen tertawa pelan. "Setuju. Dan pastikan Mustika Merah Delima ini disimpan di tempat yang aman. Aku tidak mau melihat, mendengar, atau merasakan apapun selama 48 jam ke depan."
Freen melepas liontin Mustika itu dari lehernya dan menyerahkannya kepada Nam. Nam menyimpannya di dalam brankas kecil bersama uang hasil pembayaran Tuan Vongrak yang sudah dicairkan.
...***...
Malam itu, mereka menikmati momen pemulihan yang sesungguhnya. Mandi air panas menghilangkan debu hutan dan energi spiritual yang melekat. Mie instan terasa seperti makanan paling mewah di dunia.
Freen tidur di kamar Nam, sendirian, tanpa perlu mengawasi laptop atau takut diganggu arwah. Tidur Freen kali ini benar-benar tanpa celah. Mata batinnya seolah beristirahat sepenuhnya, dan energi Mustika yang disimpan Nam tampaknya membantu melindungi tidurnya dari sisa-sisa gangguan spiritual.
...***...
Dua hari berlalu dalam kebahagiaan yang membosankan. Freen hanya bangun untuk makan, menonton televisi, dan kembali tidur. Nam sibuk membersihkan rumah, berbelanja bahan makanan, dan yang paling penting, membayar sewa rumah kepada Bibi Som untuk beberapa bulan ke depan.
Pada hari ketiga, Freen dan Nam duduk santai di teras rumah, menikmati kopi pagi. Udara terasa segar, dan Freen akhirnya merasa dirinya kembali normal, Freen Sarocha si tukang tidur, bukan Freen Sarocha si alat Mae Nakha.
"Aku sudah membayar Bibi Som, Freen. Dia sangat senang dan memuji kita sebagai penyewa teladan," lapor Nam, bangga. "Aku juga sudah mentransfer sebagian besar uang ke rekening tabunganmu. Kau sudah aman secara finansial untuk waktu yang sangat lama."
Freen tersenyum, menyandarkan kepalanya ke dinding. "Ini baru namanya istirahat yang sesungguhnya. Aku mulai berpikir, menjadi paranormal gadungan yang didanai oleh dewi arwah itu tidak seburuk yang kubayangkan."
Tiba-tiba, Freen menyentuh lehernya. Ia menyadari sesuatu yang aneh.
"Nam, bisakah kau ambilkan Mustika Merah Delima? Aku ingin memakainya lagi. Rasanya aneh tanpa perlindungan spiritual," pinta Freen.
Nam segera masuk ke kamar dan kembali dengan kantung beludru emas. Ia menyerahkannya pada Freen.
Freen mengeluarkan Mustika itu dan memegangnya. Batu itu terasa hangat dan memancarkan energi yang lembut—tanda bahwa ia sudah siap digunakan.
Saat Freen hendak memasangnya kembali di lehernya, handphone-nya bergetar.
Freen dan Nam saling pandang. Mereka sama-sama tahu apa artinya itu. Liburan selesai.
Pesan masuk, lagi-lagi dari nomor tak dikenal. Kali ini, pesan itu sangat spesifik:
"Bandara Internasional. Penerbangan ke Chiang Mai. Sekarang."
"Nama: Jane. Misi: Terikat."
Freen menghela napas panjang, tersenyum pasrah. "Baik, Manajer Dewi. Setidaknya kali ini kau mengirim kami ke Chiang Mai. Semoga di sana udaranya lebih sejuk daripada di hutan."
Nam segera bangkit, antusiasme petualangan kembali memenuhi matanya.
"Chiang Mai! Misi 'Terikat'! Kedengarannya misterius dan pasti melibatkan kuil kuno lagi! Aku akan memesan taksi. Freen, siapkan dompet tebal kita!"
Freen mengangguk, memasang kembali Mustika Merah Delima di lehernya. Liburan berakhir. Freen Sarocha, paranormal yang didanai, siap untuk tugas berikutnya di Utara Thailand.