Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32🩷 Perdebatan pertama
Awalnya Dea merasa canggung, ia bahkan hanya duduk di samping Rifal yang terus menggodanya demi mencairkan suasana, dengan mencolek-colek hidung Dea dan Dea risih. Lalu merebut benda yang sedang Dea pegang, ataupun memaksanya makan cemilan berujung dengan ia yang mengobrol asik dengan Vian sementara Dea menyimak sambil sesekali bicara dengan Nara atau Tama tentang acara sekolah.
Namun ujung-ujungnya ia bisa berbaur dengan tim cewek MIPA 3, bahkan kini Dea sudah membuat gerakan menari tok-tok'an dengan Tasya dan Muti. Dea memang seasik itu, sebenarnya. Ia pandai bergaul dan menciptakan suasana nyaman apalagi jika berhubungan dengan sesuatu hal yang---cewek banget.
"Eh gini--gini!" Muti memberikan saran gerakan, namun kembali gerakan centil dan terlatih Dea yang menjadi row model pembuatan video berdurasi singkat para gadis itu.
Sesekali Yusuf atau Rio mengganggu bersama Rama, entah itu masuk frame dengan gaya bebek atau justru menghalangi kamera dan mendapat serangan para gadis.
Rifal jadi tim tertawa renyah saja melihat candaan mereka di pinggir sambil sesekali ia mengeluarkan alat vape untuk menyesapnya diam-diam. Namun terakhir ia juga gatal jika tak ikut usil.
Dan kini para gadis itu dalam formasi lengkap, semua gadis masuk frame, dan mulai menyamakan gerakan, "ih engga, pas garam apa madunya tuh langsung nunjuk Vina sama Tasya."
Dan mereka tertawa saat Vina tak terima.
"Si Vina mah bukan garam, cabe bubuk." seru Andi memancing tawa, "pedes anjiirr." tawa Tasya tergelak.
Mereka bersiap melakukan gerakan, dan memasang posisi masing-masing. Musik terputar membuat para gadis ini fokus pada gerakan yang telah dilatih beberapa kali tadi. Namun tiba-tiba Rifal beranjak dan mengambil posisi duduk di belakang Dea memiringkan wajahnya ke arah Dea menatapnya tepat disaat lirik, kubayangkan jika kau tidur di sampingku.
OM FALLLLL! Jerit mereka sudah tertawa karena gagal take kesekian kalinya.
Wkwkwkwk, si an jing giliran gerak bikin ambyar. Seru Yusuf dan Vian bahkan sudah bergulingan di rumput. Terakhir Rifal, Rama dan seseorang bernama no name itu memesan makan dari resto online untuk mereka.
Willy kembali menjadi yang paling pagi menjemput yang lain, apalagi hari ini Senin. Dea berdehem mengusir rasa deg-degan pagi ini, untungnya diantara mereka tidak tau nomor Muti dan Tasya yang memposting acara mereka kemarin. Jika tidak, mungkin Inggrid sudah marah-marah melihat dirinya cosplay jadi murid baru di MIPA 3.
/
"Dea-Will !" Sharena langsung menyapa mereka ketika keempatnya berusaha menuju kantin.
"Sha? Kenapa?"
"Gue cuma mau ngasih ini....jangan lupa pada datang ya, Lo semua loh..." gadis itu tersenyum dan pergi dengan memberikan satu kartu untuk mereka diantara beberapa kartu berplastik yang dipegangnya.
"Thanks Sha!" jawab Inggrid menerima kartu persegi panjang pemberian Sharena yang bermotif dan berwarna jeans itu.
Sambil terus berjalan menuju kantin, mereka membaca....
"Apa sih? Kartu undangan?" tanya Gibran digelengi Dea, "ultah ya, Ing?"
*You are invited* !!!
Sebuah kartu undangan ulang tahun Sharena datang pada Dea dan kawan-kawan.
Bukan di rumah atau resto junkfood, melainkan di sebuah cafe malam.
"Eighty-eight bar..." eja Inggrid, "Sharena sweet seventeen."
Dan mereka ber-oh ria. Tak begitu notice dengan orang-orang di sekitar saking khusyuknya membaca termasuk saat tak sengaja Rifal dan Vian tepat berada di belakang mereka demi membeli cemilan dan minuman.
"Wewwww, datang yuk!" namun kemudian Inggrid menyadari sesuatu, "eh ngga usah deh, ngga aman buat Dea. Ya ampun gue nyesel banget sering ngajak clubing."
Namun Dea justru menggeleng melihat wajah excited Inggrid. Belakangan ini kejadian buruk beruntun menerpanya, Inggrid butuh hiburan.
"Ngga apa-apa datang aja yuk! Toh ngga enak juga kalo udah diundang tapi ngga datang. Ini Sharena loh, kalo acaranya anak-anak mungkin ngga akan se-club itu. Ngga banyak yang rokok juga kan? Aman, Sharena juga sediainnya ngga mungkin alkohol, kan?"
Gibran sudah menggeleng, "gue jamin, pada rokok-an. Yang belum coba aja pasti coba-coba, justru karena acara bebas kan?" Willy mengangguk, "udara malam, De..."
Lagi--lagi Dea menggeleng, "biasanya juga kita keluar malam buat clubing. Gue baik-baik aja, anggap aja di detik-detik terakhir menuju kelulusan kita bener-bener diisi seneng-seneng bareng." Dea menarik turunkan alisnya namun seolah menyiratkan kata perpisahan, "ngga enak loh udah diundang."
"Sharena suka sama ajojing, apa ngga bakal bikin suasana jadi kaya konser mininya dia? Ajojing undang DJ..."
Mereka berempat saling melirik dan menatap, namun sejurus kemudian menepis udara secara kompak, "alahhh cuma ajojing doang! Hahahah!"
Bahkan saking kuatnya chemistry antara keempatnya, pikiran mereka sama di waktu yang sama.
"Gassss! Kita ajep-ajep!"
Vian melirik Rifal, khawatir wajahnya berubah keruh. Namun justru aman-aman saja, wajahnya nampak anteng, saking antengnya justru Vian merasa ada yang salah dengan itu, "Fal. Dea mau clubing..."
"Denger." Jawabnya, sorot mata itu tak pernah beralih dari Dea.
"Lo duluan ke kelas ntar, gue mau ngomong dulu sama si gadis K-Pop satu itu." Mau tak mau Vian kembali ke kelas sendirian, membiarkan Rifal yang masih di kantin.
Dari posisinya yang berada tak jauh dari Dea cs, Rifal memperhatikan Dea sambil duduk dan menikmati minuman kaleng.
**Rifaldi**
*Bisa ketemu sebentar ngga? Di Deket UKS*.
Dea yang semula tengah mengobrol sambil menikmati siomay bersama ketiganya lantas notice dengan getaran ponsel, belum sadar jika Rifal tengah memperhatikannya.
Gerakan Dea mengotak-atik ponsel terekam jelas oleh Rifal, bahkan gadis itu terlihat celingukan singkat, kemudian ijin pada ketiganya, meskipun Inggrid dan Gibran sempat menahan dan mempersulit perginya Dea.
Bukan Gibran namanya jika tak curiga, ia bahkan sudah mengedarkan pandangan mencari seseorang, namun Rifal sudah beranjak dari tadi demi menunggu Dea di dekat UKS.
Ayunan langkah Dea cukup cepat ke arah UKS. Dan benar, Rifal sedang menunggunya bersandar di tembok dengan kedua tangan yang bersidekap.
"Kenapa?" tanya Dea.
"Ngga usah ikut pergi." ucap Rifal to the point.
Dea mengernyit dan terkekeh geli, "pergi kemana?"
"Clubing. Dea, kamu ngga mikir punya asma? Kalo nanti tiba-tiba disana kambuh..."
"Bukan clubing, Fal...itu cuma acara ultahnya Sharena." Jelas Dea, lagipula kenapa juga Rifal bisa tau.
"Aku tau Sharena. Aku tau orang-orang yang dapat undangan di acaranya, aku tau mereka, seenggaknya itu acara bebas, siapa yang tau apa yang bakal dibawa mereka, rokok, alkohol. Apa yang dicari? Kenapa harus di bar begitu, ngga mikir sampai sana?"
Dea menatap Rifal nyalang, "Rifal aku ngga enak, Sharena temen aku, masa iyaaa udah diundang ngga datang. Minimalnya kasih kado, jadi saksi di moment sweet seventeennya dia. Semua temen-temen satu circle kita datang, masa aku engga. Alesan aku apa coba buat nolak."
"Ya bilang aja kamu punya sakit, asma. Ngapain mesti boong. Toh kalo emang mau kasih kado ya tinggal kasih aja di sekolah, ngga perlu ribet."
Dea semakin mengernyit, "kamu aneh. Ngga akan ngerti...aku mesti umumin kalo aku punya asma, ya ngga mau lah! Apa-apaan sih kamu...udah deh Fal, aku oke, aku bakal oke, aku ngga akan pulang kemaleman, kalo aku cuma kasih kado di sekolah ngga berkesan." Dea sudah memalingkan wajahnya. Yang benar saja Rifal ini! Sudah susah-susah ia menjaga imagenya di depan orang-orang, image beauty...freaky to beauty.
"Asma bukan aib, De. Buktinya aku, oke-oke aja. Aku tetep suka kamu."
Dea langsung terhenyak mendengarnya, menoleh pada Rifal.
"Aku bilang jangan pergi, ya jangan."
Alis Dea menukik, "aku ngga suka diatur-atur, apalagi sama orang yang bukan siapa-siapa aku. Aku tetep pergi. Aku bisa berbaur sama MIPA 3 bukan berarti aku ninggalin temen-temenku."
Rifal menatap Dea tajam, ia menyeringai, "jangan salahin aku, De. Silahkan kamu memilih pergi kalau bisa." Rifal melengos meninggalkan Dea.
.
.
.
.
.
Dea ikut kalian aman, Dea kalian tahan, kalian gk selamat.
itu ketua Genk cuma lagi tatrum aja, bukan Maslah Gedhe kog
bukan Kirana kalian di halangi Genk motor tapi karena dea
jari nya di tahan, belum tau kenyataan nya kenapa Kirana memanfaatkan willy😁
aku yg nonton sambil nyemilin kacang
perlu kayak pernyataan.
kamu kan belum secara tega bilang Dea aku suka sama kamu, mau nggak kamu jadi pacarku.
cuma Hts, moro² cium paksa, tiba² ngajak jalan², tanpa diminta jadi donatur...
jangan salahkan Dea ,klo Dea nganggep kalian bukan siapa²
dari sini dea-rifal mulai landing 😁😁