NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penawaran Luka Sang Penguasa

Lampu di ruang kerja Arya masih menyala terang, meski jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Arya duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak tertuju pada dokumen di meja. Ia hanya menatap kosong ke arah layar monitor yang kini benar-benar gelap—simbol dari kendali yang baru saja ia lepaskan.

Ada rasa hampa yang aneh. Baginya, harga diri adalah segalanya, dan malam ini ia baru saja menundukkan harga diri itu serendah-rendahnya di hadapan wanita yang ia cintai. Ia merasa gagal menjadi pelindung, namun di sisi lain, ia tahu ia sedang belajar menjadi suami yang lebih baik.

Pintu ruang kerja terbuka perlahan, hampir tanpa suara. Ria melangkah masuk, masih mengenakan piyama satinnya. Ia melihat punggung tegap suaminya yang tampak kaku dan penuh beban. Ada rasa sesal yang menyelinap di hati Ria; ia tahu ucapannya di mobil tadi sangat tajam, meskipun itu perlu.

Ria berjalan mendekat, lalu melingkarkan lengannya di leher Arya dari belakang kursi. Ia menyandarkan dagunya di bahu Arya, menghirup aroma maskulin yang selalu menenangkannya.

"Mas..." bisik Ria lembut.

Arya tersentak kecil, namun tidak melepaskan pelukan itu. "Kenapa belum tidur, Ria? Aku hanya sedang menyelesaikan beberapa pikiran di sini."

"Pikiranmu atau egomu yang sedang terluka?" tanya Ria dengan nada menggoda yang halus. Ia mempererat pelukannya. "Maafkan aku jika tadi aku terlalu keras padamu. Aku tahu kau melakukannya karena kau sangat mencintaiku. Terima kasih sudah mengalah demi aku."

Ria mengecup telinga Arya, lalu membisikkan kata-kata yang membuat aliran darah Arya mendesir hebat.

"Kau tahu, Mas? Di mataku, kau jauh lebih gagah saat kau melepaskan kendalimu untuk menghormati ku, daripada saat kau mendikte seluruh duniaku. Kau adalah satu-satunya pria yang punya kunci hatiku, bukan karena hartamu, tapi karena kau mau belajar untuk mengerti aku."

Arya memejamkan mata, merasakan ketulusan dalam suara Ria. Rasa percaya dirinya yang sempat merosot kini kembali tegak, namun dengan cara yang berbeda. Ia merasa dihargai bukan sebagai atasan, melainkan sebagai seorang lelaki.

Ria melepaskan pelukannya, lalu berjalan ke samping Arya dan mengulurkan tangannya. Matanya berkilat penuh makna, mengingatkan Arya pada momen berani di ranjang semalam yang terhenti karena kelelahan.

"Sudah cukup bekerja untuk hari ini, Tuan Arya," ucap Ria sambil tersenyum manis. "Permainan kita kemarin malam sepertinya belum benar-benar selesai. Bukankah kau bilang ingin menagih sisa waktumu dariku? Mari kita tuntaskan malam ini."

Arya menatap tangan Ria, lalu menatap wajah istrinya yang kini tampak begitu menggoda di bawah cahaya lampu kerja. Rasa kaku yang tadi menyelimutinya seketika menguap, digantikan oleh gairah yang sudah lama ia pendam.

Arya berdiri, meraih pinggang Ria dan menariknya mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka. "Kau benar-benar pandai memancing emosiku, Ria. Dari kemarahan hingga... hasrat."

"Itu karena aku istrimu," jawab Ria manja.

Tanpa menunggu lama, Arya menggendong Ria keluar dari ruang kerja menuju kamar mereka. Malam itu, di balik pintu yang terkunci, mereka tidak lagi bicara tentang perusahaan atau sabotase. Mereka hanya fokus pada satu sama lain, menyelesaikan babak baru dalam pernikahan mereka yang kini tidak lagi terasa hambar, melainkan penuh dengan api yang membara.

"Lakukan dengan pelan, karena ini yang pertama bagiku," pinta Ria di bawah kungkung Arya.

"Tentu saja, sayang." Arya kembali mencium bibir Ria dengan lembut namun penuh tuntutan.

Permainan yang penuh gairah dan luapan cinta yang tertahan di antara mereka berdua selama dua tahun pernikahan.

Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra, jatuh tepat di atas ranjang yang kini terlihat berantakan. Ria menggeliat pelan, merasakan kehangatan yang tidak biasa di balik punggungnya. Sebuah lengan kekar melingkar erat di pinggangnya, seolah enggan membiarkan ada celah udara yang memisahkan mereka.

Ria membuka mata dan mendapati wajah Arya yang hanya berjarak beberapa sentimeter. Pria yang biasanya bangun paling awal untuk segera mengenakan setelan jas kaku itu, kini masih terpejam dengan napas teratur. Tanpa ekspresi dinginnya, Arya terlihat jauh lebih muda dan... manusiawi.

Ria tidak tahan untuk tidak usil. Dengan ujung jemarinya, ia menelusuri garis rahang Arya yang tegas, lalu turun ke arah hidungnya yang mancung. Ia kemudian memilin pelan ujung rambut Arya yang mulai tumbuh panjang dan sedikit berantakan.

"Bangun, Tuan Arya... busway-ku tidak akan menunggu," bisik Ria tepat di depan telinga Arya.

Arya mengerang pelan, bukannya melepaskan, ia justru menarik Ria lebih rapat ke pelukannya. Mata Arya terbuka sedikit, tampak berat namun penuh dengan binar yang belum pernah dilihat Ria sebelumnya.

"Biarkan bus itu lewat," gumam Arya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur—suara yang mendadak membuat jantung Ria berdesir. "Aku bisa membeli perusahaan busnya jika kau mau, asalkan kau tetap di sini sepuluh menit lagi."

Ria tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di dada Arya. "Lihat, sifat diktator mu keluar lagi. Tidak ada beli-membeli perusahaan hari ini, Mas. Aku harus bekerja."

Arya menghela napas, lalu dengan gerakan cepat yang mengejutkan, ia membalik posisi hingga kini ia berada di atas Ria, menumpu tubuhnya dengan kedua sikut agar tidak memberatkan istrinya.

"Kau yang memulainya semalam, Ria," ucap Arya dengan nada rendah yang menggoda. "Dan sekarang kau ingin pergi begitu saja setelah membuat suamimu ini kehilangan akal sehat?"

Wajah Ria memerah seketika. "Mas Arya... kau belajar merayu dari mana? Ini bukan gayamu yang biasanya kaku seperti papan tulis."

Arya tersenyum tipis—senyum miring yang sangat tampan. Ia merapikan beberapa helai rambut yang menutupi dahi Ria dengan sangat lembut. "Aku hanya sedang mempraktikkan teori manajemen baru. Customer satisfaction adalah prioritas utama, bukan?"

Ria terbahak, "Kau menyamakan aku dengan nasabah?"

"Bukan," bisik Arya, wajahnya semakin mendekat. "Kau adalah pemegang saham tunggal atas seluruh hidupku."

Sebelum Ria sempat membalas dengan kalimat usil lainnya, Arya membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman manis. Bukan ciuman yang menuntut seperti semalam, melainkan ciuman yang lambat, lembut, dan penuh dengan janji-janji baru.

Ria melingkarkan tangannya di leher Arya, membalas ciuman itu dengan penuh perasaan. Dalam ciuman itu, mereka seolah saling bertukar kekuatan; Arya memberikan rasa aman, dan Ria memberikan warna pada hidup Arya yang selama ini hanya hitam dan putih.

"Manis sekali..." bisik Arya setelah melepaskan tautan mereka, ibu jarinya mengusap bibir Ria yang sedikit basah. "Sepertinya sarapan di bawah tidak akan semenarik ini."

Ria mencubit pinggang Arya dengan manja. "Sudah, cukup! Aku benar-benar bisa terlambat jika terus mendengarkan rayuan mautmu. Ayo bangun!"

"Mari kita bermain sekali lagi?" Goda Arya kembali.

"Tidak ada permainan apa pun! Cepat bangun dan berangkat kerja!"

Ria berhasil meloloskan diri dari dekapan Arya dan berlari menuju kamar mandi sambil tertawa. Arya duduk di tepi ranjang, memerhatikan punggung istrinya dengan senyuman yang tak kunjung hilang. Ia merasa seperti baru saja menemukan harta karun yang selama ini terkubur di dalam rumahnya sendiri.

Namun, di balik kehangatan itu, jam dinding terus berdetak, membawa mereka semakin dekat pada realita di luar sana yang sedang menunggu untuk menguji kebahagiaan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!