Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 : Mendadak Diam
Lima hari berlalu sejak insiden di Hutan Scotra, namun sisa-sisa ketegangan di atmosfer mansion Grozen belum sepenuhnya menguap.
Pagi itu, kesibukan yang berbeda menyelimuti aula utama. Roland mengirimkan pesan darurat melalui burung sihir, kediaman pesisir selatan mengalami krisis pengamanan.
Beberapa penjaga dari kaum supranatural memutuskan untuk berhenti secara mendadak, ldan Roland membutuhkan pedang yang paling ia percayai, yaitu Jover dan Calix, untuk segera merapat ke sana.
Calix berdiri di depan cermin besar, merapikan jubahnya dengan gerakan yang kaku. Pikirannya tidak berada pada misi di selatan, melainkan pada sosok kecil yang sedang duduk di kursi makan sembari mengayunkan kaki dengan santai.
Pergi selama beberapa minggu berarti membiarkan Cloudet tanpa pengawasan langsung darinya. Meski mansion ini dipenuhi oleh pelayan yang juga makhluk supranatural, mulai dari wraith yang menyamar hingga fae pekerja, Calix tahu betul bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki otoritas atau ketangkasan untuk mengendalikan keliaran Cloudet jika gadis itu memutuskan untuk “bermain" lagi.
"Ayah, apakah ini benar-benar keputusan yang bijak?"
tanya Calix rendah, suaranya sarat akan keraguan saat Jover masuk ke ruangan dengan jubah perjalanannya yang berat.
"Meninggalkannya di sini, setelah apa yang terjadi di hutan Scotra? Dia bisa saja meruntuhkan mansion ini."
Jover berhenti sejenak, memeriksa ketajaman belati di pinggangnya. Matanya yang dingin melirik ke arah luar jendela, lalu kembali pada putra sulungnya.
Wajah Jover tetap sedatar dinding batu, tidak menunjukkan kecemasan sedikit pun yang selama ini menghantui Calix.
"Kau terlalu sering menganggapnya sebagai beban, Calix,"
ucap Jover dengan nada bariton yang mantap.
“Dia adalah darah dagingku. Instingnya sudah bangun. Membiarkannya sendirian adalah ujian baginya untuk belajar mengendalikan ruang geraknya sendiri. Dia akan baik-baik saja."
Calix terdiam. Ia mengepalkan tangannya, mencoba mencerna logika ayahnya yang selalu terasa keras namun sering kali benar.
Di kaum mereka, perlindungan yang berlebihan dianggap sebagai penghambat pertumbuhan. Menjaga Cloudet dalam sangkar emas hanya akan membuat taringnya tumpul. Dengan helaan napas berat, Calix akhirnya mengangguk, memutuskan untuk menaruh kepercayaan pada garis darah mereka yang liar.
Saat kereta kuda hitam bersiap di halaman, Calix menghampiri Cloudet. Ia berlutut di depan adiknya, menatap mata kuning keemasan itu dengan intensitas yang dalam.
"Dengar, Nakal," bisik Calix, tangannya mengacak rambut hitam Cloudet satu terakhir kalinya.
“Jangan hancurkan rumah ini dan demi apa pun, jangan mencoba datang ke hutan itu lagi. Jika aku pulang dan menemukan mansion ini hilang, aku akan benar-benar berubah menjadi goblin jelek untuk menghantuimu."
Cloudet hanya menyeringai, sebuah ekspresi yang sulit diartikan, antara patuh dan merencanakan sesuatu.
“Cepatlah pergi, Kakak.”
jawabnya polos namun menyebalkan.
Jover memberi isyarat bahwa waktu mereka sudah habis. Keduanya naik ke atas kuda, memacu hewan-hewan perkasa itu keluar dari gerbang besi mansion.
Calix sempat menoleh ke belakang, melihat siluet kecil Cloudet yang berdiri sendirian di tangga besar, melambaikan tangan dengan riang di bawah bayang-bayang bangunan megah yang kini sepenuhnya menjadi taman bermain pribadinya.
Gerbang tertutup dengan dentuman berat. Suara tapak kuda menjauh, menyisakan kesunyian yang ganjil. Cloudet menurunkan tangannya, senyum riangnya perlahan memudar menjadi sebuah ekspresi ketenangan yang dewasa.
Ia berbalik masuk ke dalam mansion yang kini terasa begitu luas dan sunyi. Bagi para pelayan, ini adalah hari kerja biasa, namun bagi Cloudet, ini adalah pertama kalinya ia memegang kunci kebebasannya sendiri tanpa ada sepasang mata kuning yang mengawasinya dari balik bayang-bayang.
...----------------...
Kesunyian di mansion Grozen ternyata jauh lebih menyesakkan daripada yang Cloudet bayangkan. Tanpa suara bariton Calix yang terus-menerus mengomelinya, atau langkah kaki berat Jover yang berwibawa, bangunan megah itu terasa seperti makam batu yang dingin. Para pelayan supranatural bergerak seperti bayangan, tanpa suara, melakukan tugas mereka dengan presisi yang membosankan. Bagi seorang hellhound kecil yang baru saja mencicipi adrenalin, kesunyian ini adalah siksaan.
"Kakak tidak ada, Ayah tidak ada dan Edeline juga tidak ada," gumam Cloudet sambil menatap pantulan dirinya di cermin besar aula.
“Mansion ini terlalu besar."
Sebuah pemikiran berani atau mungkin sembrono merayap di benaknya. Dengan Calix yang berada bermil-mil jauhnya di pesisir selatan, tidak ada yang akan mencengkeram pergelangan kakinya saat ia memanjat, atau menariknya saat ia melompat ke area terlarang.
Cloudet tersenyum miring, sebuah seringai yang sangat mirip dengan Calix.
Tanpa berpamitan pada siapa pun, ia melesat keluar. Langkah kakinya seringan angin, melewati gerbang tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun, dan langsung menuju satu-satunya tempat yang menjanjikan hiburan: Hutan Scotra.
Sesampainya di sana, Cloudet berhenti sejenak di perbatasan. Ia mengira akan ada penyergapan kilat atau lilitan sisik dingin yang menyambutnya seperti lima hari lalu.
Namun, hutan itu justru tampak begitu tenang, hampir seperti sedang menyambut tamu kehormatan. Cahaya matahari menembus celah dedaunan dalam pendaran hijau yang magis.
Saat ia berjalan semakin dalam, indra pendengarannya yang tajam menangkap suara yang sangat kontras dengan aura mistis Scotra: suara tawa. Renyah, ringan, dan penuh keceriaan.
Cloudet merangkak di balik semak belukar, rasa penasarannya memuncak. Ia menyibak dedaunan dan menemukan sebuah pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal.
Di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi bunga liar, ia melihat Kael.
Pria ular itu tidak sedang dalam wujud ular raksasanya yang mengancam. Ia tampil dalam wujud manusia, namun tampak jauh lebih santai. Rambut hitam sebahu, gaya potongan butterfly cut dengan ujung kehijauan itu dibiarkan terurai, menutupi sebagian wajahnya yang biasanya menatap sinis. Ia bertelanjang dada, memamerkan tato-tato kuno berpola meliuk yang tampak seperti aliran sungai di kulitnya.
Kael sedang duduk bersandar pada akar pohon besar, dikelilingi oleh belasan peri hutan kecil bersayap transparan yang terbang berputar-putar di sekitarnya.
"Hahaha! Berhenti, itu menggelitik!" seru Kael sambil tertawa, jari-jarinya yang panjang mencoba menghalau peri-peri kecil yang menjatuhkan serbuk bunga ke kepalanya.
Srek!
Cloudet tak sengaja menginjak ranting kering di bawah kakinya.
Seketika, tawa itu lenyap. Para peri kecil langsung membeku di udara, sementara Kael menoleh dengan kecepatan kilat.
Begitu mata hitam kehijauannya menangkap sosok Cloudet yang berdiri di balik semak, seluruh warna di wajah Kael seolah tersedot habis.
Ia memucat pasi. Bayangan saat dirinya ditindih oleh cakar raksasa hellhound hitam beberapa hari lalu mendadak terputar kembali di otaknya seperti mimpi buruk.
"J-Jangan! Berhenti di sana!" teriak Kael, suaranya naik beberapa oktav karena panik. Ia mencoba mundur, namun punggungnya tertahan akar pohon.
“Jangan mendekat! Pergi kau, monster kecil! Pergi!"
Para peri kecil yang ketakutan ikut berterbangan menjauh, bersembunyi di balik dedaunan sembari mengintip dengan mata bulat mereka yang mungil.
Cloudet, dengan kepolosan yang mematikan, justru berjalan mendekat. Ia tidak merasa marah atau ingin menyerang; ia hanya penasaran melihat tato di tubuh Kael yang tampak bergerak. Ia berdiri tepat di depan Kael yang sudah gemetar hebat.
"Paman Ular, tatomu bagus," ucap Cloudet pelan.
Kael semakin merapatkan tubuhnya ke pohon.
"Jangan... kumohon, jangan gigit aku lagi. Aku masih dalam masa pemulihan!"
Tanpa memedulikan peringatan itu, Cloudet menjulurkan jari telunjuknya yang mungil.
Dengan wajah tanpa dosa, ia menyentuh atau lebih tepatnya mencolek salah satu titik tato di dada Kael, tepat di area putingnya yang juga dihiasi pola tinta kuno.
Detik itu juga, waktu seolah berhenti.
Kael membeku. Matanya membelalak, mulutnya menganga tanpa suara. Sentuhan kecil itu seolah menjadi saklar yang memutus aliran energinya.
Mungkin karena trauma psikologis yang mendalam, atau mungkin karena rasa malu yang melampaui batas, sirkuit kesadaran sang ular penguasa itu mendadak mati total.
Bruk.
Kepala Kael terkulai ke samping, dan tubuhnya merosot pingsan di atas akar pohon.
Suasana hening sejenak, sebelum puluhan peri Scotra muncul dari balik pepohonan. Mereka membawa tombak-tombak kayu yang ukurannya tidak lebih besar dari tusuk gigi, mengarahkannya ke arah Cloudet dengan wajah yang dibuat garang.
"Yang Mulia! Yang Mulia!" teriak salah satu peri dengan suara cempreng.
“Tangkap raksasa hitam ini! Dia telah membunuh tuan kita!"
Cloudet mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat Kael yang sudah tidak sadarkan diri dengan mulut sedikit terbuka. Ia menarik kembali jarinya, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan bingung.
"Eh? Dia mati?" tanya Cloudet polos.
Para peri mulai mengerumuni tubuh Kael yang pingsan, berusaha membangunkannya dengan cara menarik-narik rambutnya, sementara Cloudet hanya berdiri di sana, bertanya-tanya apakah ia harus menyeret "mainannya" ini kembali ke mansion atau membiarkannya mati menggenaskan.
Bersambung