Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Pintu terbuka, dan di sana sudah duduk Umi Sarah (ibunda Hilman) bersama Abah Kiai. Pemandangan Hilman yang menggendong Nayla sukses membuat Umi Sarah membelalakkan matanya, sementara Abah Kiai hanya menaikkan satu alisnya sambil tersenyum penuh arti.
"Lho... Hilman? Itu kenapa istrimu? Kamu apakan sampai tidak bisa jalan begitu?" tanya Umi Sarah refleks, nada bicaranya antara khawatir dan ingin menggoda..
Hilman buru-buru menurunkan Nayla ke kursi panjang dengan sangat hati-hati, seolah-olah Nayla adalah barang pecah belah. Wajah Hilman sudah memerah sampai ke telinga. "Maaf Umi, Abah... Tadi Nayla jatuh di depan asrama. Jalannya... sedikit tidak stabil."
Nayla meringis saat pantatnya menyentuh kursi kayu yang keras itu. "Aduh... sakit banget, Umi," keluh Nayla manja, mencoba mencari simpati ibu mertuanya.
Umi Sarah mendekat, mengusap kepala Nayla. "Nduk,
kalau sudah sah jadi istri Gus Hilman, panggilnya jangan 'Gus' lagi kalau di depan keluarga. Panggil 'Mas Hilman' saja, biar lebih dekat. Ya kan, Abah?"
Abah Kiai terkekeh pelan. "Iya, panggil Mas saja. Biar dia sadar kalau dia itu suami, bukan cuma guru ngajimu.".
Nayla melirik Hilman dengan kerlingan nakal yang mulai kembali muncul. "Denger kan, Mas Hilman? Umi sama Abah yang nyuruh lho."
Hilman hanya bisa berdehem, mencoba membuang muka. Namun, ia tidak bisa menutupi senyum tipis di sudut bibirnya saat mendengar panggilan "Mas" dari bibir Nayla.
"Hilman," panggil Abah Kiai tiba-tiba dengan nada serius namun teduh. "Nduk Nayla ini amanah. Memang jalannya mungkin masih 'terseok-seok' sekarang, baik secara fisik karena kamu terlalu bersemangat semalam, maupun secara batin karena dia masih belajar. Tugasmu membimbingnya, bukan cuma menghabisinya di kamar."
Uhuk!
Hilman langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar sindiran halus namun telak dari kakeknya. Nayla justru tertawa kecil, ia merasa sangat menang. Ia menarik lengan baju koko Hilman agar suaminya itu duduk di sampingnya.
"Iya Abah, tadi malam Mas Hilman lupa kalau aku ini pemula. Mainnya kayak lagi balapan," celetuk Nayla tanpa dosa.
"Nayla! Jaga bicaramu," bisik Hilman tegas, meski wajahnya kini sudah panas seperti direbus.
Umi Sarah tertawa renyah melihat kepolosan (dan kenekatan) menantunya itu. "Ya sudah, Umi buatkan teh hangat dulu. Setelah ini, kalian istirahat di kamar lama Hilman saja kalau Nayla masih perih jalannya. Jangan dipaksa pulang sekarang."
Umi Sarah pun beranjak ke dapur, meninggalkan pasangan pengantin baru itu bersama Abah Kiai yang masih sibuk dengan tasbihnya. Namun tak lama kemudian, Abah Kiai pun pamit untuk masuk ke ruang kerjanya, memberikan privasi bagi cucunya.
"Ayo, Mas bantu ke kamar. Kamu istirahat di sana dulu," ajak Hilman pelan.
Dengan sabar, Hilman kembali membimbing Nayla menuju kamar lamanya yang terletak di sayap kanan bangunan utama. Kamar itu terasa sangat maskulin dan menenangkan; aroma buku lama bercampur dengan wangi parfum kayu cendana yang khas. Di dindingnya berjajar rapi kitab-kitab kuning yang tebal.
Begitu pintu tertutup, Nayla langsung merebahkan dirinya di atas kasur. "Hah... akhirnya. Kasur Mas Hilman wangi banget, persis kayak orangnya," gumam Nayla sambil menghirup aroma bantal.
Hilman duduk di tepi ranjang, tangannya terulur memijat pelan kaki Nayla yang tampak tegang. "Masih perih?"
"Masih lah, Mas... emang Mas nggak kerasa apa semalam itu tenaganya kayak apa? Aku berasa mau pingsan tahu," keluh Nayla, tapi matanya tetap melirik nakal ke arah Hilman.