Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAMIT PULANG
Risa (Gilang) yang mendengar ucapan Dayang Putri tanpa kehadiran sosoknya itu, langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Napasnya tersengal-sengal. Tampak ketakutan. Dan aku hanya duduk di depannya.
Setelah beberapa detik, perlahan suasana kamar kembali normal. Selendang kuning keemasan yang ada dileherku juga memudar, lalu menghilang dari pandangan mataku. Dan perlahan juga Risa membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya.
"M-Mbak Nisa...? Aku... Kenapa?" ucapnya saat kembali menatapku.
Dan tiba-tiba ia memelukku. Kemudian menangis pelan di pundakku.
"Mbak... Hiks hiks... Aku takut..."
"Su-sudah Risa... Sudah... Gilang sudah pergi sepertinya." sahutku sambil membalas pelukannya itu.
Kemudian ia melepas pelukannya, dan memegang kedua tanganku. Masih terisak pelan. Kami berdua saling menatap sesaat.
Dalam hatiku, aku kini menyadari sesuatu. Bahwa bangsa lelembut bisa melemahkan keteguhan batin seseorang hanya dengan kata-kata atau bisikannya. Dan bangsa lelembut bisa menguatkan batin seseorang juga hanya dengan kata-kata atau bisikannya.
"Mbak... Terima kasih..." ucap Risa.
"Sama-sama Ris... Mulai sekarang, kamu harus lebih waspada dan jangan mudah dijebak atau dihasut sama bangsa lelembut yang bisa kamu lihat."
"Iya Mbak... Maafin aku... Cuma karena aku kasihan, terus aku ketakutan, aku jadi sembrono."
"Sudah-sudah, gak apa-apa... Kamu tenang ya sekarang..."
Tiba-tiba, Bu Rahayu membuka pintu kamar anaknya ini.
"Risa? Kamu kenapa?" ucapnya sambil berjalan mendekat.
"Ibu... Hiks hiks..." jawab Risa sambil memeluk Ibunya itu.
"Kamu kenapa sayang? Ada apa? Tadi Ibu denger suara nangis dari dalam kamarmu..." tanya Bu Rahayu sambil memeluk juga anaknya itu dan mengusap kepalanya.
Lantas, ia menatapku, "Risa kenapa Nis?"
"Em... Gak apa-apa Bu... Cuma, barusan---" belum sempat aku menjawab, Risa menyela dengan segera sambil melepas pelukan ke Ibunya...
"Aku... Barusan cuma curhat aja Bu ke Mbak Nisa. Aku juga ngerasa seneng karena dijengukin..."
"Bener Ris?"
"Iya Bu. Aku seneng, makanya aku sampe nangis..."
Kemudian aku menengok ke arah pintu, ternyata Dinda dan Ningrum juga akhirnya ikut melihat ke sini bersama Bu Rahayu. Mereka berdua menatapku. Namun aku merasa lega, tatapan dua sahabatku itu tidak ada tanda curiga atau aneh. Hanya tatapan penuh simpati saat melihat Risa menangis di pelukan ibunya tadi.
"Bu... Risa kayaknya butuh istirahat lagi." ucapku.
"Oh, iya Nis." jawab Bu Rahayu singkat sambil tersenyum.
"Risa, kamu harus tenang ya. Insyaa Alloh, kamu juga bakalan cepet sehat habis ini..." aku berucap sambil mengusap lembut lengan kanan Risa.
"Iya Mbak..." jawabnya sambil mengangguk dan mengusap air matanya.
Sejenak aku dan Risa saling menatap. Tatapan kami memiliki arti bahwa jangan sampai apa yang terjadi barusan diketahui oleh sang ibu dan juga dua sahabatku. Kemudian Risa menggenggam tanganku. Sambil mengangguk, tanda bahwa kami berdua saja yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Aku yang tampak sedikit agak bingung ingin berkata apa kepada Bu Rahayu, langsung dibantu oleh inisiatifnya Risa...
"Bu, Mbak Nisa tadi izin mau pamit pulang..."
"Loh... Masa mau langsung pulang Nis? Gak lebih lama di sini dulu?" spontan Bu Rahayu jadi bertanya seperti itu sambil menatapku.
"E-em... Anu... Eee... Saya..." jawabanku jadi terbata-bata.
"Mbak Nisa tadi gak enak mau bilang sama Ibu kalo udah mau pamit pulang..." ucap Risa lagi mencoba membantuku mencari jawaban.
"Oh gitu... Ya kenapa ngerasa gak enak toh Nis. Anggap aja Ibu dan Risa ini keluargamu. Emang di rumah lagi banyak kerjaan ya?" ucap Bu Rahayu sambil memegang tanganku dan tersenyum.
"Em... I-iya Bu..." aku akhirnya hanya menjawab singkat sambil mengangguk.
"Ya udah, terima kasih ya udah jengukin anak Ibu. Bantu do'a supaya Risa cepet sehat."
"Aamiin... Insyaa Alloh saya, Dinda, sama Ningrum, bantu do'a terus buat Risa kok Bu." jawabku.
Aku menatap sebentar dua sahabatku yang masih berdiri di depan pintu kamar. Lalu meminta izin saja sekalian untuk pulang. Dalam hatiku, aku merasa Risa memang bisa memahami bagaimana caranya mencari alasan supaya hal-hal yang hanya bisa disaksikan dan dirasakan oleh kami berdua tadi, tak sampai diketahui orang lain. Bahkan keluarganya sekalipun.
Tanpa banyak kata lagi, akhirnya kami bertiga diantarkan oleh Bu Rahayu dan juga anaknya, Risa, menuju ke teras rumah.
"Bu, kami izin pamit dulu ya... Terima kasih udah dijamu tadi. Es tehnya seger banget Bu." ucapku.
"Ah, bisa aja. Padahal es tehnya biasa aja kok. Tapi, Ibu ucapin terima kasih sekali lagi ya, udah dateng ke sini buat jengukin Risa."
"Hehe... Iya Bu... Sama-sama." jawabku.
Aku mendekat selangkah ke Risa, memegang kedua tangannya dengan dua tanganku. Ku tatap wajahnya dengan penuh perasaan kasih sayang kali ini.
"Risa, Mbak pamit dulu ya. Kamu juga harus kuat. Harus ingat pesan Mbak tadi. Insyaa Alloh kamu juga pasti cepet sehat habis ini."
"Em... Iya Mbak... Terima kasih ya..."
"Iya... Sama-sama..."
"Oh iya Mbak, terima kasih juga buat Dayang---"
Belum sempat Risa ucap nama lengkap Dayang Putri, aku menepuk bibirnya pelan.
"Aduh! ada nyamuk barusan Ris..." sambil aku sedikit melebarkan kedua mataku menatapnya. Sebagai sebuah kode, jangan sampai sembrono lagi. Walau hanya sekedar menyebut nama Dayang Putri untuk berterima kasih.
Dan untungnya Risa pun langsung paham dengan kode itu, "Aduh, iya nih, rumahku di tengah kebun. Jadinya banyak nyamuk kalo udah mau sore begini..."
Dia hanya tersenyum. Menatapku dengan maksud meminta maaf karena hampir keceplosan lagi barusan di depan ibunya dan dua sahabatku.
"Ya udah, Mbak pamit ya. Bu, kami pamit dulu..."
"Iya... Hati-hati ya... Kapan-kapan main lagi ke sini." jawab Bu Rahayu.
"Iya Bu, Insyaa Alloh..."
Aku pun mencium tangan Bu Rahayu, disusul oleh Ningrum dan Dinda juga yang ikut berpamitan.
"Pamit ya Bu..." ucap Dinda.
"Bu, izin pulang dulu..." ucap Ningrum.
Kami bertiga segera menaiki motor. Dan hampir bersamaan mengucap salam. Disusul jawaban salam dari Bu Rahayu dan Risa. Langsung diputar pelan gas motor milik Dinda dan Ningrum. Meninggalkan rumah Risa.
🦀🦞🦐🐙🦑🐟🦀🦞🦐🐙🦑🐟
Ketika di pertengahan jalan pulang, kami bertiga memutuskan untuk berhenti dulu di sebuah tempat makan yang khusus menyajikan menu makanan seafood. Berniat untuk membeli beberapa menu untuk dibawa pulang ke rumah.
Dinda dan Ningrum tampak sangat sumringah saat melihat etalase yang penuh berisi aneka ragam seafood yang siap untuk diolah sesuai pesanan. Ada beragam jenis kerang laut, udang lobster, udang tambak, beragam jenis kepiting, dan juga ikan.
Mereka sibuk memilih menu apa yang akan disukai oleh keluarga mereka masing-masing di rumah.
Sedangkan aku... Masih berdiri saja di belakang Dinda dan Ningrum.
"Eh, Nis, kamu gak beli?" tanya Ningrum sambil melihat ke kanan dan ke kiri isi etalase di depannya.
"Em... Enggak ah Rum..."
"Loh, kenapa? Mumpung ini semua menunya ada loh. Biasanya gak lengkap begini."
"Em... Iya sih, tapi..."
"Tapi kenapa sih?" tanya Dinda yang sudah selesai memesan.
"Bapakku kurang suka sama menu seafood. Aku juga kurang selera Din..."
"Alaaah... Bisa aja kamu Nis. Bilang aja gak ada duit, iya kan?"
"Sembarangan kamu. Aku ada duit kok. Cuma ya namanya juga aku kurang selera, Bapakku juga gak terlalu suka sama menu-menu seafood gini."
"Ya udah, jangan pilih kerang sama kepiting, itu ikan-ikan ada. Bapakmu kan suka sama ikan. Tinggal bilang aja sama si pelayannya buat dimasak apa. Mau dibakar atau digoreng. Beres..." jelas Dinda.
"Iya sih..." jawabku yang memang tak berniat buat beli.
"Ah kamu mah, gitu mulu!" ledek Dinda padaku. Dan tiba-tiba dia memanggil pelayan yang barusan menerima pesanannya.
"Bang...! Abang...!"
Si pelayan itu segera menghampirinya lagi.
"Yang itu ikan apa namanya?"
"Oh, itu ikan gurame Mbak."
"Pesen satu ya..."
"Oke siap, mau yang berapa kilo ukurannya?"
"Yang satu kilo isi dua ekor ya Bang..."
"Oke... Mau dimasak apa?"
"Em... Sebentar..."
Dinda langsung menoleh ke arahku. Dan bertanya dengan entengnya, "Mau dibakar atau digoreng Nis?"
Aku jadi kaget dan heran, melihat Dinda memesan ikan gurame satu kilo lagi, malah bertanya padaku.
"Kok tanya aku Din? Kan kamu yang pesen lagi..."
"Aduuuhhh... Itu buat kamu aku pesenin..."
"Loh?! Kok?! Buat aku?"
"Iya... Udah tenang, aku yang bayarin."
"Loooh... Kok gituuu?"
"Ah kelamaan kamu!" responnya, padahal aku belum mengiyakan atau menolak, Dinda segera berbicara lagi dengan pelayan itu...
"Udah Bang, dibakar aja ya guramenya..."
"Oke siap Mbak! Ditunggu ya..."
Akhirnya aku sedikit berdebat dengan Dinda, sambil kami bertiga menuju ke kursi tunggu untuk pembeli yang sudah memesan.
Memang, Dinda atau Ningrum, terkadang suka melakukan sesuatu atau memberikan sesuatu padaku yang tanpa bisa kutebak sebelumnya.
Aku bersyukur memiliki dua sahabat seperti mereka. Meskipun terkadang aku juga merasa tidak enak hati karena kebaikan mereka padaku. Sedangkan aku tak sering melakukan hal yang sama untuk mereka berdua...