"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Rahasia Mantel Abu-Abu dan Ego yang Menua
Operasi besar yang dipimpin oleh Dokter Gabriella Rachel berlangsung selama hampir enam jam. Di luar ruang operasi, atmosfer terasa begitu mencekam. Jake De Alfa duduk dengan tenang, sementara Victor Louis Edward tidak bisa diam. Pria setinggi 190 cm itu terus berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit yang sunyi, membuat para perawat segan untuk melintas. Sosoknya yang makin gagah dengan berewok maskulin dan setelan jas desainer yang melekat sempurna di tubuh kekarnya justru memancarkan aura kegelisahan yang amat sangat.
Setelah dipastikan pasien dalam kondisi stabil, Jake mengajak Victor menepi ke area balkon rumah sakit yang lebih privat. Di sana, di bawah langit London yang mulai meredup, Victor tidak bisa lagi menahan rasa penasaran yang membuncah sejak pertemuannya dengan Achell di lorong tadi.
"Jake," panggil Victor dengan nada rendah dan berat. "Waktu dia wisuda di Zurich empat tahun lalu... kau di mana? Kau bilang kau hadir sebagai walinya, tapi aku tidak melihatmu saat aku berada di sana."
Jake menyandarkan punggungnya di pagar balkon, menatap Victor dengan senyum miring yang provokatif. "Aku hadir, Vic. Aku ada di barisan depan, tepat saat dia menerima medali penghargaannya. Dan bukan hanya itu, aku juga melihatmu saat itu, Victor."
Victor tersentak. Langkah kakinya terhenti. "Kau melihatku? Lalu kenapa kau tidak menemuiku? Kenapa kau tidak menyapa atau setidaknya memberi isyarat?"
"Aku baru saja keluar dari kamar mandi waktu itu," jawab Jake santai sambil mengedikkan bahu. "Tidak perlu kubilang aku sedang apa di dalam sana, kan? Dan ya, saat aku berjalan kembali ke lapangan, aku sempat melirik ke arah mata Achell. Dia sempat mengedarkan pandangannya ke barisan belakang, ke arah pilar-pilar gedung. Dia seperti sedang mencari seseorang, tapi sepertinya orang yang dia cari sudah pergi... ya, itu kau, Victor."
Wajah Victor menegang. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghujam ulu hatinya. "Dia mencariku? Achell mencariku saat itu?"
"Mungkin," sahut Jake pendek. "Tapi kau pengecut. Kau pergi sebelum acara selesai."
Victor mengepalkan tangannya di pagar besi, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. "Lalu kenapa kau tidak menahanku, sialan?! Kau bisa berpura-pura memanggilku atau menabrakku, atau apa saja supaya aku tidak pergi begitu saja!"
Jake tertawa remeh, sebuah tawa yang meledak di tengah kesunyian malam. "Hey! Untuk apa aku memanggilmu? Aku tidak mau mengacaukan kebahagiaan princess kecilku hanya karena kehadiran pria yang dulu menghancurkan hatinya. Lagipula, Vic, kau lihat sendiri kan penampilanmu hari itu? Dengan mantel panjang abu-abu yang menutupi wajahmu dan topi konyol itu... cih, kau terlihat seperti monster aneh yang sedang mengintai mangsa. Kau merusak pemandangan di kampus Zurich yang indah itu."
"Mantel itu tidak jelek! Itu merek ternama!" protes Victor, suaranya naik satu oktav karena tersinggung.
"Tetap saja jelek kalau dipakai untuk bersembunyi seperti pencuri," balas Jake tak mau kalah.
"Sudahlah, tak perlu dibahas. Itu sudah lewat empat tahun yang lalu. Sekarang lihat dia, dia sudah jadi dokter hebat. Dia tidak butuh monster tua sepertimu lagi."
"Kau menyebalkan, Jake! Aku benar-benar membencimu!" bentak Victor. Pria dewasa dengan penampilan luar biasa maskulin itu kini justru terlihat seperti remaja yang sedang merajuk karena mainannya direbut. Gengsinya yang setinggi langit seolah rontok setiap kali ia berhadapan dengan Jake yang lidahnya sangat tajam.
"Biarkan saja, bodoh! Aku tak peduli dengan kata-katamu," ujar Jake sambil melenggang pergi meninggalkan Victor sendirian. "Aku lebih baik pergi menemui Achell dan mengajaknya makan malam mewah daripada meladeni orang tua yang galau sepertimu."
Victor berdiri mematung, menatap punggung Jake dengan amarah yang tertahan. Mereka berdua memang sudah masuk ke usia matang, namun jika menyangkut Achell, ego dan sifat kekanak-kanakan mereka sering kali muncul ke permukaan. Victor mengusap wajahnya yang kasar karena berewok, merasa frustrasi karena ia baru tahu bahwa Achell mungkin sempat mencarinya di hari kelulusan itu.
Di Area Parkir Rumah Sakit.
Achell keluar dari gedung rumah sakit dengan langkah yang sedikit lelah namun tetap terlihat sangat anggun. Jubah putihnya sudah ia lepas, menyisakan blus sutra berwarna hitam yang dipadukan dengan celana kulot yang membuat kakinya yang jenjang (tinggi 170 cm) terlihat semakin memesona. Rambut panjangnya yang curly sedikit berantakan karena keringat di ruang operasi, namun itu justru menambah kesan sensual yang alami.
"Achell!" sebuah suara bariton yang dalam menghentikan langkahnya tepat di samping mobil SUV hitam miliknya.
Achell menoleh. Victor berdiri di sana, hanya beberapa meter darinya. Cahaya lampu parkir yang temaram membuat bayangan Victor terlihat sangat besar dan dominan. Ia tidak mengenakan jasnya lagi, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku, menampakkan lengan bawah yang berurat dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tuan Edward," sapa Achell dingin. "Saya pikir Anda sudah pulang."
Victor melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Achell harus sedikit mendongak untuk menatap matanya yang abu-abu. "Berhenti memanggilku begitu, Achell. Aku bukan orang asing."
"Bagi saya, Anda adalah orang asing yang kebetulan memiliki nama keluarga yang sama dengan teman paman saya," balas Achell tanpa ekspresi.
Victor merasakan dadanya seolah dihantam palu godam. "Achell, aku... aku hanya ingin bicara. Tentang Zurich, tentang masa lalu, dan tentang... betapa bangganya aku melihatmu hari ini."
Achell tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Terima kasih atas rasa bangganya, Tuan Edward. Tapi saya melakukan ini untuk diri saya sendiri, bukan untuk membuat siapa pun bangga. Jika Anda ingin bicara tentang masa lalu, maaf, saya sudah menghapus folder itu dari memori saya. Itu sudah hangus terbakar bersama mobil yang menabrak saya lima tahun lalu."
"Achell, kumohon" Victor mencoba meraih tangan Achell, namun dengan cekatan Achell menghindar.
"Jangan sentuh saya," desis Achell. Matanya yang cokelat kini berkilat tajam. "Tangan itu dulu digunakan untuk menunjuk saya sebagai pencuri. Tangan itu juga yang dulu mengabaikan saya saat saya membutuhkan pelukan. Sekarang, tangan ini sudah bisa menyembuhkan orang, dan saya tidak ingin tangan kotor Anda menodainya."
Victor terdiam. Lidahnya benar-benar kelu. Ia melihat wanita di depannya—tinggi, kuat, dan mandiri. Achell yang sekarang tidak lagi membutuhkan perlindungannya. Justru dialah yang sekarang merasa lemah di hadapan Achell.
"Sekarang permisi, saya harus kembali ke hotel. Teman-teman saya sudah menunggu," kata Achell sambil membuka pintu mobilnya.
"Julian dan Sophie?" tanya Victor pelan.
"Ya. Mereka adalah keluarga sejati saya sekarang. Sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan di mansion megah Anda," jawab Achell sebelum menutup pintu mobil dengan keras.
Mobil SUV itu meluncur pergi, meninggalkan Victor yang berdiri sendirian di tengah parkiran yang dingin. Ia menatap lampu belakang mobil Achell yang semakin menjauh, menyadari bahwa sanksi yang ia jalani belum berakhir. Achell bukan hanya menjauh secara fisik, tapi ia telah membangun tembok raksasa yang tidak bisa ditembus oleh kekuasaan atau uang milik Victor.
Victor menghela napas panjang, menatap langit malam London. Ia teringat kata-kata Jake tadi. Monster aneh dengan mantel jelek. Mungkin Jake benar. Ia adalah monster yang terlambat menyadari bahwa bidadari yang ia kurung selama sepuluh tahun itu sebenarnya punya sayap yang sangat indah untuk terbang tanpa dirinya.
"Aku akan mengejarmu, Achell," gumam Victor dengan suara rendah yang penuh tekad. "Meski aku harus menjadi monster yang paling hina di matamu, aku tidak akan membiarkanmu menghilang lagi."
Di dalam mobil, Achell mencengkeram kemudi dengan kuat. Air mata hampir jatuh, namun ia segera menghapusnya. "Jangan lemah, Gabriella. Kau bukan gadis kecil itu lagi," bisiknya pada dirinya sendiri.