NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Romansa
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35.Pertanyaan tegas.

Pagi di Perbatasan Timur terasa lebih bising dari biasanya.

Bukan karena teriakan komando.

Bukan karena suara tombak menghantam perisai.

Tapi karena satu hal yang ganjil.

Yun Lan tidak terlihat sejak semalam.

Di barak barisan ketiga, ranjangnya kosong. Selimutnya terlipat rapi seperti belum pernah disentuh. Pedangnya masih tergantung di dinding. Sepatu militernya masih di tempat.

Ia tidak mungkin pergi patroli.

Tidak ada perintah.

Tidak ada catatan.

Tidak ada yang tahu.

Dan Yun berdiri di tengah barak dengan rahang mengeras.

Tangannya mengepal.

Semakin lama, firasat buruk di dadanya semakin kuat.

Yun mengenal Yun Lan lebih dari siapa pun di barak ini. Ia tahu kebiasaan kecilnya. Ia tahu caranya berjalan, caranya tidur, bahkan caranya bernapas ketika lelah.

Dan Yun Lan bukan tipe orang yang pergi tanpa berkata apa-apa padanya.

Tidak pernah.

Yun berkeliling menanyakan semua prajurit di tempat itu, tapi jawabannya sama mereka tidak melihat prajurit Li.

Lalu salah satu prajurit jaga tadi malam yang melihat Yun lan masuk kedalam barak panglima mengatakannya.

“Kalau tidak salah kemarin malam aku melihatnya berjalan kearah barak panglima,” ucap prajurit itu.

Yun menoleh cepat.

“Kemarin malam?”

“Iya. Kami lihat dia berjalan kearah tempat panglima,kami tidak sempat menegurnya karena saat itu kami sedang menjalankan tugas jaga.”

Dada Yun langsung terasa sesak.

Panglima.

Nama itu langsung membuat aliran darahnya terasa panas, Yun lan pernah cemas jika identitasnya sebagai perempuan terbongkar.

Ia tidak menunggu lagi.

Yun melangkah keluar barak dengan langkah cepat, hampir berlari.

Lapangan latihan terbentang luas di hadapannya. Ratusan prajurit sedang berlatih formasi tombak. Teriakan komando memecah udara.

Dan di ujung lapangan—

Ia melihat sosok yang dicarinya.

Hong Lin berjalan memasuki kamp dengan langkah tenang, wajah datar seperti biasa, seolah dunia di sekelilingnya tidak pernah benar-benar berarti.

Sendirian.

Tanpa Yun Lan.

Langkah Yun berhenti mendadak.

Matanya menajam.

Napasnya berubah berat.

Ia berjalan lurus ke arah panglima itu.

Prajurit di sekitar mulai menyadari ada sesuatu yang tidak biasa dari cara Yun melangkah. Tidak hormat. Tidak menunduk. Tidak menjaga jarak.

Ia berjalan seperti seseorang yang siap berkelahi, untuk pertama kali rekannya melihat Yun dengan ekspresi ingin menghabisi mangsanya.

Biasanya Yun selalu lembut dan ramah, mereka menyebutnya sebagai pangeran perbatasan timur.

Karena wajahnya yang mempesona, dan keahliannya seperti dewa banyak rekan mereka yang mengidolakannya.

Tapi hari itu tidak biasa, Yun seperti iblis yang miliknya diambil begitu saja.

Hong Lin melihatnya.

Tapi tidak berhenti.

Tidak melambat.

Tidak memberi reaksi.

Yun berdiri tepat di hadapannya.

Menghalangi jalan.

“Di mana prajurit Li?”

Suara Yun rendah tapi tegas.

Dingin.

Langsung.

Tidak ada salam militer.

Tidak ada sapaan hormat.

Seluruh lapangan latihan perlahan-lahan mulai sunyi.

Prajurit yang sedang berlatih mulai melambat. Tombak berhenti bergerak. Kepala-kepala menoleh.

Tidak ada yang berani bicara.

Tidak ada yang berani mendekat.

Hong Lin berhenti.

Tatapannya turun sedikit ke arah Yun.

Mengamatinya.

Lama.

Tenang.

Terlalu tenang.

“Apa urusanmu?” ucapnya datar.

Kalimat itu seperti percikan minyak ke api.

Rahang Yun mengeras.

“Prajurit Li menghilang dari semalam,dan prajurit jaga malam itu melihatnya sedang berjalan kearah barak panglima.Jadi katakan dimana Li yun lan sekarang?.”

Hong Lin tidak menjawab.

Ia berusaha mengabaikan nya.

Ia melangkah ke samping.

Berniat melewati Yun.

Mengabaikannya.

Sikap itu.

Cara berjalan itu.

Cara Hong Lin memperlakukannya seperti udara kosong—

Membuat kesabaran Yun benar-benar putus.

Sret.

Suara pedang keluar dari sarung terdengar jelas.

Dan dalam satu gerakan cepat—

Ujung pedang Yun sudah berada tepat di leher Hong Lin.

Sunyi.

Total.

Semua suara latihan berhenti.

Ratusan pasang mata membeku.

Tidak ada yang percaya apa yang mereka lihat.

Seorang prajurit biasa…

Mengancam panglima tertinggi di depan umum.

Beberapa prajurit refleks menggenggam gagang pedang mereka.

Tapi tidak ada yang berani bergerak.

Karena Hong Lin…

Masih berdiri.

Tidak menghindar.

Tidak marah.

Tidak kaget.

Ujung pedang itu menyentuh kulit lehernya.

Sedikit saja bergerak—

Darah akan keluar.

“Jawab aku,” suara Yun bergetar oleh amarah yang ditahan, “di mana Yun Lan?”

Tatapan Hong Lin turun sedikit ke arah pedang itu.

Lalu naik kembali ke wajah Yun.

Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

“Menarik,” gumamnya pelan.“jadi kamu adalah Yun. ”

Beberapa prajurit menelan ludah.

Yun mengeratkan cengkeraman pedangnya.

“Benar,katakan dimana tuanku sekarang?.”

Hong Lin memiringkan kepala sedikit.

Mengamati Yun seperti seseorang yang baru menemukan sesuatu yang tidak terduga.

“Apa komandanmu mengajarkan mu bersikap seperti ini pada atasan?,” ucapnya pelan.

Nada suaranya bukan nada marah.

Bukan nada terancam.

Tapi nada… menilai.

“Jangan bawa komandan Zhou, dia tidak pernah mengajarkan aku bersikap kasar dengan atasan. Tapi jika menyangkut Yun lan itu berbeda, baik didepan ku itu iblis atau dewa sekalipun aku tidak akan takut. ”

Hong Lin tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang berubah di matanya—ketertarikan yang tajam, seperti pemburu yang akhirnya melihat taring mangsanya.

Seluruh lapangan latihan di Perbatasan Timur membeku.

Tidak ada yang berani bersuara.

Angin yang biasanya berdesir di antara tombak dan bendera pun terasa seolah berhenti.

Pedang Yun masih menempel di leher panglima.

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah kamp itu—

Tidak ada yang tahu harus berpihak ke siapa.

“Komandan Zhou tidak mengajarkanmu,” ulang Hong Lin pelan, “tapi Yun Lan mengajarkanmu bersikap seberani itu.”

Kalimat itu membuat genggaman Yun makin mengeras.

“Jangan sebut nama tuan ku seakan kalian berdua akrab.”

Hong Lin mengamati perubahan kecil di wajah Yun. Otot rahangnya. Cara napasnya naik turun. Cara matanya tidak berkedip sedikit pun.

Kesetiaan.

Bukan kesetiaan prajurit pada rekan.

Ini jauh lebih dalam.

Lebih personal.

Lebih berbahaya.

“Dia aman,” ucap Hong Lin akhirnya.

Yun tidak menurunkan pedangnya.

“Di mana?”

“Di tempat yang tidak bisa kau datangi.”

Jawaban itu seperti menampar.

“Kalau begitu kau yang akan membawaku ke sana.”

Beberapa prajurit di barisan belakang mulai berkeringat dingin. Situasi ini sudah melewati batas yang bisa ditoleransi sebagai pelanggaran disiplin.

Ini bukan lagi pembangkangan.

Ini duel terbuka yang belum dimulai.

Hong Lin perlahan mengangkat tangannya lagi. Bukan untuk menangkis. Bukan untuk menyerang.

Tapi menyentuh sisi pedang Yun dengan dua jari.

Gerakan kecil.

Tenang.

Namun penuh tekanan.

“Kau sadar,” ucapnya pelan, “jika pedangmu bergerak sedikit saja, kau akan mati di tempat?”

Yun tidak bergeming.

“Selama aku tahu di mana dia, aku tidak peduli.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Hong Lin terangkat tipis.

Bukan senyum ramah.

Bukan senyum mengejek.

Tapi senyum seseorang yang menemukan sesuatu yang langka.

“Yun lan pun ingin kamu ikut dengan nya,” gumamnya.

Yun mengernyit.

“Apa maksudmu?”

“Awalnya aku ragu dengan penilaian Yun lan, tapi setelah aku lihat sendiri dia benar.”

Jantung Yun berdetak lebih keras.

“Dia…tidak kamu celakai atau kamu usirkan?”

“Tentu saja tidak.”

Hening sejenak.

Dan di keheningan itu, sesuatu yang aneh terjadi.

Para prajurit yang menonton mulai menyadari—

Ini bukan sekadar konflik.

Ini seperti dua orang yang sedang saling menguji tanpa benar-benar menyerang.

Hong Lin menurunkan tangannya.

Tapi tatapannya tetap menusuk.

“Jika kau ingin tahu di mana dia… kau harus membuktikan sesuatu padaku.”

“Apa?”

“Bahwa kau tidak mengecewakan dirinya,yang menilaimu dengan tinggi sebagai prajurit yang berbakat.”

Mata Yun menyipit.

“Aku tidak butuh izinmu untuk itu.”

“Semua orang yang berdiri di sisinya sekarang,” lanjut Hong Lin, suaranya makin rendah, “sudah melewati ambang kematian berkali-kali.”

Kalimat itu membuat beberapa prajurit merinding.

Mereka tahu rumor tentang unit bayangan panglima.

Tempat prajurit menghilang.

Dan jarang kembali.

“Kau pikir aku akan membiarkan orang biasa mendekatinya?”

Darah Yun mendidih.

“Orang biasa?”

Hong Lin menatapnya lurus.

“Buktikan dengan lawan aku, jika kau menang akan aku bawa dirimu kesana.Jika kalah pergi dari sini karena aku tidak butuh prajurit pembangkang seperti mu.”

Tangan Yun sedikit bergetar.

Bukan karena takut.

Karena marah.

Karena merasa diremehkan.

Dan karena satu hal—

Ia tahu Yun Lan benar-benar ada di tempat berbahaya.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Yun menarik pedangnya menjauh dari leher Hong Lin.

Tapi tidak memasukkannya kembali ke sarung.

Ia memegangnya di samping tubuh.

Siap.

Seluruh prajurit di lapangan menahan napas.

Hong Lin menatap pedang itu.

Lalu menatap Yun.

“Bagus,” ucapnya pelan.

Tiba-tiba—

Hong Lin melepaskan jubah luarnya.

Kain tebal itu jatuh ke tanah berdebu.

Memperlihatkan pakaian tempur hitam di dalamnya.

Beberapa prajurit langsung mundur refleks.

Mereka tahu apa artinya ini.

Panglima…

Akan bertarung.

Dengan prajurit biasa.

Di depan umum.

Hong Lin melangkah mundur dua langkah.

Memberi jarak.

Tangannya bergerak pelan ke gagang pedangnya.

Tatapannya tidak pernah lepas dari Yun.

1
Nurhasanah
ko sekarang up mya dikit thor biasanya 2 bab tiap hari skarang cuma 1 bab 😁😁😁 ... tambah lagi dong thor bab tiap hari masih kurang 😄😄😄
Pa Muhsid
tong lama teuing tor honglin gak tau yunlan cewek
nanti bisa berubah tor dari geregetan jadi bosen
Nurhasanah
ko blum update thor .. di tunggu loh
Pa Muhsid
semoga honglin datang dan melihat langsung bahwa li cewek tulen 😁😁😁😁
Nurhasanah
semoga segera ketahuan 😁😁😁
Nurhasanah
jujur thor kelamaan jdi mulai agak bosen... nunggu honglin tau klu yun lan cwek tapi ceritanya masih muter2 di sini ajj nggak ada peningkatan
Nurhasanah
tuh kan cemburu 🤣🤣🤣 ... siap2 ajj makin gencar haosen mendekat makin kebakaran dah si honglin 😁😁😁
Nurhasanah
siap2 perang dingin antara honglin sama haosen 😁😁
Nurhasanah
🤣🤣🤣 bahaya honglin ketemu hao sen .. di pastikan honglin akan terbakar cemburu nanti 😁😁😁😁
Nurhasanah
honglin siap2 berebut yun lan sama hao sen 🤣🤣🤣 makin seru nanti 😁😁😁
Pa Muhsid
keluarkan kekuatan dewamu Yun! tapi yun kan dewa kadaluwarsa 🤔🤔🤔😱
Nurhasanah
lanjut thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
semoga ceritanya nggak muter2 ya thor .. 😁😁😁😁
Pa Muhsid
jangan tunggu lama lama nanti di rubah otor kata teh cici juga
Pa Muhsid
haduhh kelok 9 honglin tau 😌😌😌
Yunita Widiastuti
hadewwww💪💪💪💪
Nurhasanah
thor jangan lama2 lah ... nunggu bangett ini ..hong lin tau klu yun lan itu cwek dan jodohnya dri kecil 😁😁😁 pasti lebih seru 👍👍👍
Pa Muhsid
tuh kan belum apa apa dah basah aja dia apalagi kalo dah tau, cowok aja basah💦 palagi dah jadi cewek Auto banjir honglin
Nurhasanah
kasihan honglin jdi ngerasa jdi belok 🤣🤣🤣 ... padahal yun lan emang cwek 😁 semoga ajj honglin segera tau klu yun lan itu beda jenis sama dia biar nggak dilema truss 😄😄
Nurhasanah
honglin kecewa karena blom tau yun lan cwek 😁😁😁 ... segerakan thor biar hong lin tau klu yun lan tuh cwek 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!