"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMAN LAMA
Norma duduk melamun di ruang tamu. Dia masih merasa sesak, putra kesayangannya batal kembali tinggal ke rumah setelah perdebatan mereka lalu.
Ia juga didesak bu Hani soal janjinya akan membujuk Bara menikahi Rasti.
"Ini sudah berapa bulan Bu Norma? Janjinya Ibu hanya dua bulan membujuk Bara. Saya sudah kasih pinjaman uang buat bu Norma bayar hutang ke rentenir, janjikan perusahaan untuk Bara. Saya kurang apalagi berusaha, Bu? "
Perkataan Puspa juga terus terulang di kepalanya.
"Kalau ibu memperlakukan anak orang lain seperti binatang, jangan salahkan Tuhan kalau suatu saat anak perempuan ibu sendiri yang diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Apa ibu mau melihatku hancur seperti kak Aira? "
Dada Norma terasa sesak. Cerahnya hari tak membuatnya ceria. Justru kepalanya makin pusing
Ia mengambil ponsel dimeja, menekan tombol panggil pada nomer Bara.
TUUUT...TUUUT..
"Assalamu'alaikum, " jawab Bara dingin.
"Wa'alaikumsalam, Bara. Apa ibu mengganggumu? "
"Nggak, Bu. Bicaralah, Bara mendengarnya. "
"Bara, Ibu sebenarnya berbicara berlebihan soal warisan perusahaan dari Pak Salim. Pak Salim tak menjanjikan itu, Ibu pikir kalau melebih-lebihkan ceritanya supaya kamu jadi tertarik."
Norma menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.
"Bara, ibu sebenarnya terjerat pinjaman dengan rentenir."
"Astaghfirullah, Ibu. Jadi karena ini ibu akhirnya punya hutang budi dengan keluarga pak Salim jadi ibu berjanji membujuk Bara menikahi Rasti? "
"Iya, Bara."
"Memangnya Ibu pinjam berapa dan untuk apa? "
"Pinjaman pokoknya tiga puluh juta, Bara. Tapi bunga rentenir tinggi akhirnya jadi lima puluh juta. "
Bara tercekat, pinjaman Bara ke bank untuk pengobatan Aira saja hanya dua puluh lima juta karena berjanji pada ibunya tidak akan memberatkan cicilannya.
" Ya Allah, Ibu. Kenapa pinjam ke rentenir? "
"Ibu bingung mau pinjam kemana lagi, kamu meninggalkan Ibu begitu saja, " rengek Norma.
"Memangnya untuk apa Bu oinjaman sebesar itu? " tanya Bara kesal.
"Ada tawaran pasif income di MLM, tinggal masukin modal tiga puluh juta nanti uangnya diputar dan pengembaliannya lebih besar. Ibu terpengaruh dengan tawaran itu, akhirnya ibu memberanikan diri pinjam ke rentenir, karena prosesnya cepat."
"Lalu? "
"Ibu ditipu, Bara. Yang menawarkan itu kabur, menghilang entah kemana. Korbannya nggak hanya ibu, beberapa ibu disini juga juga jadi korban. Tapi memang, ibu yang paling banyak investasi."
"Laa Hawla wa laa quwwata illah billah. Ini jadi pengalaman ya Bu. Tolong hati-hati. Jangan terpengaruh dengan pengembalian instan dan banyak. Ya sudah, nanti Bara usahakan cari uangnya untuk kembalikan uang Bu Hani."
"Tapi, Bara. Kamu kan sudah bercerai dengan Aira, apa kamu sama sekali tak mau mencoba hubungan baru dengan Rasti? "
"Bu, tak semudah itu Bara beralih hati. Kami bercerai juga dengan kondisi masih saling cinta. Hanya karena perlakuan ibu, Bara terpaksa menceraikan Aira. Bara masih mencintai Aira bu. Sangat mencintai Aira."
Norma menghela nafas berat. Peluangnya menjadi orang kaya baru akhirnya pupus di depan mata.
"Baiklah, Ibu tak memaksa lagi. Ibu akan sampaikan pada bu Hani segera setelah kamu berhasil mendapatkan uangnya ya Bara. Ibu sangat berharap bantuanmu."
"Ya, Bu. Akan Bara usahakan."
"Kapan kamu pulang, Nak? "
" Selama Ibu setuju Bara menikah lagi dengan Aira, Bara akan segera pulang ke rumah. Bagaimana menurut Ibu?"
Norma menelan salivanya kasar. Pilihan yang sulit bagi Norma setelah apa yang telah ia lakukan pada Aira.
***
Dua minggu berlalu, beberapa teman seangkatan Aira di panti dulu datang berkunjung untuk membahas persiapan perayaan ulang tahun panti.
Reina, Rega, Bowo, Hasbi, Adi, Candra, Mita, Alan dan Nani. Mereka duduk melingkar mengelilingi meja tamu di ruang kerja bu Siska. Ada rapat sederhana siang itu.
"Wah, selamat calon ibu panti. Dari dulu kamu memang punya jiwa kepemimpinan, Aira, " goda Reina saat Aira datang membawa beberapa gelas es melon.
"Kamu bisa aja, Reina. Aku juga baru benar-benar belajar setelah menemani bu Siska mengurus anak-anak panti, " sahut Aira sungkan.
"Jangan sungkan begitu, Aira. Aku suka perhatikan kamu memang paling sayang dan peduli sama adik-adik. Makanya kamu cocok jadi pengganti Bu Siska. Nggak kayak Reina, sibuk dandan aja, " ujar Bowo disambut tawa yang lain.
Rega tersenyum mendengar percakapan mereka. Sesekali ia melirik ke arah Aira. Perasaan yang hangat masih bertahan di hatinya.
"Ga, senyam senyum. Ngomong kek, nggak berubah dari dulu kamu itu, " ejek Alan yang sejak tadi memperhatikan Rega yang duduk di seberangnya.
"Oh, aku bingung mau ngomong apa. Tapi yang disampaikan teman-teman memang betul, Aira. Aku juga suka memperhatikan kamu. Nggak hanya peduli sama anak-anak, kamu juga punya inisiatif lebih bagus daripada kami."
"Ecieeee..selama ini Rega perhatikan Aira rupanya.. Kiw.. kiw.., " ejek Bowo sambil menaikturunkan alisnya sambil tersenyum.
"Tapi kamu juga---"
"Ah sudahlah, Rega. Dari dulu kami tahu kamu suka curi-curi pandang ke Aira. Kan... kan? " Alan ikut memanaskan suasana.
Rega akhirnya hanya diam, tak ingin membuatnya makin malu. Ia menyenggol lutut Bowo karena kesal.
Yang lain hanya tersenyum geli melihat Rega salah tingkah dan mendadak keki. Mereka memang tahu Rega punya perasaan sejak dulu pada Aira. Tapi karena ia pemalu, akhirnya hanya bisa memendam perasaan itu.
"Waaah, ramai sekali. Sudah mulai bahas persiapannya? " tanya Siska yang baru datang.
"Bukan Bu, I---"
Rega buru-buru menutup mulut Bowo dengan tangannya.
"Cuma cerita waktu masih kumpul di panti aja , Bu. Kami masih tunggu Ibu untuk bahas persiapannya, " sahut Aira cepat.
Ia juga merasa tak nyaman di goda seperti itu oleh teman-temannya. Meski ia juga tak menampikkan cerita soal perasaan Rega padanya. Aira tahu dan menyadari sikap Rega yang selalu berbeda dengannya dibanding dengan teman perempuan lain di angkatan mereka.
"Oke, kalau begitu kita coba bahas dari konsep acaranya ya. Baru kita lanjut pembagian tugas dan kebutuhan anggaran acara."
Siska memulai membahas satu persatu. Mereka mendengarkan dengan seksama. Rega masih sesekali melirik ke arah Aira, seolah ingin membayar kerinduannya pada wanita itu.
Sejak ia tahu Aira punya pacar dan akhirnya menikah, Rega berusaha mengobati luka hatinya perlahan. Ia tak pernah mau mencari tahu lagi soal Aira. Bahkan, ia tak tahu kalau Aira terkena infeksi otak bahkan sampai Amnesia. Hingga akhirnya Reina menghubunginya, dan membujuknya untuk terlibat dalam kepanitiaan ulang tahun panti. Saat inilah baru dia mendapat semua kabar itu dari Reina.
Reina memang sangat akrab dengan Aira sejak dulu. Reina yang lincah, tengil dan sedikit tomboy paling cocok saat bersama Aira yang feminim, tenang dan dewasa.
Rapat selesai setelah berdiskusi panjang hampir empat jam. Bagaimana tidak, dalam pembahasan Bowo dan Alan masih sesekali menggoda temannya yang lain hingga pembahasan berlarut-larut. Tapi mereka merasa senang dengan keakraban itu.
Kerinduan mereka selama meninggalkan panti, perlahan terobati. Bowo dan Alan memang paling lihai bercanda, ada saja bahan candaan mereka.
Mereka kemudian menikmati makan siang bersama di ruang kerja Siska. Dharma dibantu anak panti yang lebih besar memasak makan siang untuk para alumni dan juga anak panti yang lain.
"Senang melihat kalian sudah sukses bekerja bahkan Rega sambil kuliah ya? "
Rega mengangguk sungkan. "Alhamdulillah, Bu. Dapat beasiswa full. Meski capek juga, tapi tetap semangat dijalani."
"Bagus, Rega. Pertahankan semangat mu ya. Yang lain juga tetap bersemangat, apapun profesi kalian sekarang harus di syukuri. Selama itu pekerjaan halal, in syaa Allah hidup kalian makin berkah ke depannya."
"Aaammiiiiin, " seru mereka kompak.
Setelah makan siang dan sholat dzuhur berjamaah, mereka mengajak anak-anak panti bermain sambil duduk di bawah pohon besar di pekarangan.
"Aira, " panggil Rega.
Aira menoleh, melihat Rega yang menghampirinya.
"Bagaimana kondisimu sekarang? Aku dengar sakitmu sudah sembuh total? "
Aira mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah. Infeksi otakku sudah dinyatakan bersih oleh dokter. Tinggal Ingatanku belum sepenuhnya kembali. Tapi aku tetap semangat menjalaninya."
"Alhamdulillah, baguslah kalau begitu."
"Emmm.. soal pernikahan mu, aku dengar akhirnya kamu juga bercerai? "
Aira mengangguk, senyuman getir menghias bibirnya.
"Mungkin belum jodoh."
"Apa karena sakitmu, laki-laki itu akhirnya menceraikan mu?"
Aira menggeleng cepat. " Tidak sepenuhnya karena itu. Suamiku merawatku dengan baik, dia bahkan tak pernah bersikap kasar dan selalu sabar menemaniku berobat."
"Lalu? "
Aira menatap Rega. Ia sebenarnya tak ingin membuka luka lama, tapi ia tak ingin Bara dipahami salah seperti itu. Akhirnya dengan berat, Aira memberitahu Rega.
"Ibu mertuaku yang tidak merestui kami."
Rega menarik nafas panjang, seolah ada beban yang ikut menariknya. Ya, bagi anak yatim seperti mereka, status keluarga adalah privilege.
"Bagaimana kalau kita menikah? "
Aira tercengang. Matanya lekat menatap Rega yang menunggu jawabannya.