Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Art For Luna
Kafe di lantai dasar gedung perkantoran Kuningan bergaya industrial chic. Suara mesin kopi dan musik lo-fi menciptakan gelembung privasi di antara meja-meja. Rafa duduk di sudut, memutar gelas americano-nya yang sudah setengah habis.
Dia mengenakan kemeja linen biru muda yang rapi, tapi kerutan di dahinya tidak bisa disembunyikan. Di seberangnya, Val, dengan blazer cream dan celana tailored hitam, terlihat sempurna seperti model majalah.
Tapi ekspresinya tidak lagi percaya diri seperti di pesta ulang tahun Luna.
"Maaf tentang hari itu, Raf," ucap Val, memecah keheningan. Matanya, yang biasanya penuh dengan rencana bisnis, sekarang terlihat jujur.
"Aku… aku terlalu memaksakan. Aku tahu itu tidak tepat."
Rafa mengangguk, tidak bersemangat. "Itu memang… tidak tepat waktu."
"Aku hanya ingin membantu. Benar-benar." Val menarik napas.
"Aku melihatmu, berjuang sendirian, dan… aku kagum. Dan kasihan. Tapi jelas, itu bukan alasan untuk muncul di pesta ulang tahun putrimu." Dia tersenyum getir.
"Aku bisa membaca situasi diruangan itu. Dan aku melihat ibunya—Amara—dia kuat. Dan teman-teman mereka… solid."
"Dia memang kuat," gumam Rafa, dengan rasa hormat yang terdengar jelas. "Dan mereka punya komunitas yang baik."
"Komunitas yang datang dengan ide bagus. #ArtForLuna." Val mengeluarkan tabletnya, menunjukkan halaman Instagram yang sudah terbuka. Akun @artforluna_official sudah memiliki 20 ribu pengikut dalam seminggu.
"Pre-order untuk koleksi terbatas syal dan tas itu meledak. Mereka bahkan sudah sold out untuk batch pertama."
Rafa terkejut. Dia sengaja tidak terlalu memantau, mencoba memberi ruang pada Amara. "Sungguh?"
"Ya. Dan inilah yang ingin kubicarakan." Val mencondongkan badan.
"Aku tidak mau jadi wanita kaya yang memberi belas kasihan. Itu menjijikkan untukku juga. Tapi aku adalah seorang pebisnis. Dan aku melihat potensi di sini."
"Aku ingin jadi buyer pertama untuk batch produksi kedua—dengan order besar. Tapi dengan syarat: margin keuntungan yang adil untuk Amara, dan sebagian dari keuntunganku akan kukembalikan sebagai donasi tetap ke dana Luna."
"Ini bukan amal. Ini investasi sosial dan bisnis yang cerdas. Bagiku, brand yang memiliki cerita kuat seperti ini adalah emas."
Rafa memandanginya, kali ini dengan perhatian baru. Val tidak hanya melihatnya sebagai pria yang perlu diselamatkan, tapi melihat peluang dalam upaya mereka. Itu jauh lebih bisa dihormati.
"Kenapa tidak langsung menghubungi Amara? Atau tim mereka?"
"Karena aku ingin menghormati batas. Dan aku ingin memastikan ini tidak akan membuatmu tidak nyaman. Hubungan kita… atau apa pun ini," Val melambaikan tangannya, "seharusnya tidak mengacaukan dinamika yang sudah kalian bangun untuk Luna. Jika kau merasa ini akan menciptakan masalah, aku akan mundur. Aku akan tetap donor diam-diam."
Rafa mempertimbangkan. Val serius. Dan tawarannya masuk akal. Modal besar untuk batch kedua akan memungkinkan produksi lebih efisien, keuntungan lebih besar, dan stabilitas dana untuk waktu yang lebih lama.
"Hubungi Sari," kata Rafa akhirnya. "Dia yang handle PR dan pemasaran untuk proyek ini. Katakan aku yang menyuruhmu. Dan… terima kasih. Dengan cara yang lebih baik ini."
Val tersenyum, lega. "Baik. Aku akan lakukan." Dia berdiri. "Dan Rafa… jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kau ayah yang baik. Itu yang menarik perhatianku pertama kali." Dia meletakkan selembar cek di atas meja.
"Ini untuk Luna. Tidak ada strings attached. Belikan sesuatu yang membuatnya senang."
Sebelum Rafa bisa menolak, Val sudah berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan aroma parfum mahal dan sebuah solusi yang tidak disangka.
Sementara itu, di sebuah ruang komunitas yang disewakan di daerah Cipete, cahaya sore menyinari ruangan yang dipenuhi warna, kertas, kain, dan tawa anak-anak. Inilah lokakarya pertama "The Unseen Battle: A Collaborative Art Project".
Amara, dengan rambut diikat kucir tinggi, mengenakan overall denim penuh noda cat, berdiri di tengah ruangan. Di sekelilingnya, ada delapan anak-anak berusia 8 hingga 15 tahun, masing-masing dengan kondisi kronis yang berbeda: ada yang menggunakan kursi roda, ada yang botak karena kemoterapi, ada yang seperti Luna dengan wajah bengkak steroid. Orang tua mereka duduk di pinggir, ada yang cemas, ada yang penuh harap.
Di samping Amara, Edo dengan sabar membantu seorang anak laki-laki menggenggam kuas. Sari dengan lincah memotret setiap momen dengan kamera profesionalnya.
"Selamat datang, para pejuang!" sapa Amara, suaranya bersemangat. "Hari ini, kita tidak akan membicarakan penyakit. Hari ini, kita akan menciptakan peta pertempuran kita sendiri. Tapi peta ini bukan tentang rasa sakit. Ini tentang kekuatan!"
Di dinding, tergantung kanvas putih raksasa, 3x5 meter. Di atasnya sudah tergambar garis-garis besar berupa "pulau-pulau" dengan nama-nama seperti Pulau Keberanian, Gunung Harapan, Lembah Istirahat, Lautan Mimpi.
"Setiap orang akan memilih satu area," lanjut Amara. "Dan kalian akan mengisinya dengan apa pun yang mewakili pertempuran kalian yang tidak terlihat. Bisa dengan cat, kain, kertas robek, bahkan benda-benda kecil yang kalian bawa. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang jelek. Ini adalah cerita kalian."
Luna, dengan bangga menjadi 'asisten ibunya', membantu membagikan palet cat dan kuas. Dia mendekati seorang gadis kecil bernama Maya yang menderita kanker, sedang duduk di kursi roda dengan selimut di pangkuannya.
"Aku suka warna biru," bisik Maya.
"Birunya langit atau birunya laut?" tanya Luna.
"Birunya es krim raspberry."
Luna tertawa. "Wah, itu biru yang enak! Ayo, kita cari."
Proses kreatif itu sendiri adalah sebuah terapi. Seorang anak bernama Bima, dengan penyakit jantung bawaan, menciptakan
"Gunung Harapan" dari potongan-potongan foil obat yang dia kumpulkan, membentuknya seperti permata yang berkilauan.
"Karena obat ini yang bikin aku tetap kuat untuk naik gunung," katanya.
Maya melukis "Lautan Mimpi" dengan warna biru raspberry, menambahkan gambar ikan-ikan yang bisa bernapas di darat.
"Karena aku mimpi ikan-ikan itu bebas, kayak aku pengen bebas dari rumah sakit."
Luna sendiri memilih area "Hutan Kenangan". Dia tidak menggambar penyakitnya. Dia menggambar momen-momen bahagia: dirinya dan Amara di Malioboro, dirinya dan Rafa sedang membuat kue yang gosong, dirinya dengan Sari sedang tertawa.
Dia menambahkan tekstur dengan menempelkan potongan kain dari baju lama Amara dan dasi lama Rafa. "Karena kenangan baik itu kayak akar pohon," jelasnya pada Edo yang memperhatikannya. "Bikin aku kuat."
Edo tersentuh. Dia melihat Amara, yang sedang membantu seorang anak menggunting kain, wajahnya bersinar dengan cahaya yang belum pernah dia lihat sebelumnya—cahaya tujuan yang mendalam, di luar kesuksesan pribadi.
"Saya tidak pernah melihatnya seperti ini," bisik Sari pada Edo, sambil mengangkat kamera untuk mengabadikan ekspresi Amara.
"Dia… utuh."
"Ini panggilannya," jawab Edo, pelan. "Bukan di galeri mewah. Tapi di sini."
Setelah tiga jam, kanvas raksasa itu telah berubah menjadi sebuah permadani naratif yang hidup, berwarna-warni, penuh dengan metafora yang polos namun mendalam tentang penderitaan, harapan, dan ketangguhan. Itu indah dengan cara yang mentah dan menghancurkan hati.
Saat lokakarya berakhir, orang tua-anak berpelukan, beberapa menangis. Seorang ibu mendekati Amara, menggenggam tangannya.
"Terima kasih, Bu. Anak saya, Bima, belum pernah mau bicara tentang penyakitnya. Hari ini… dia bilang foil obat itu adalah baju besinya. Terima kasih."
Amara menahan air mata. "Terima kasih telah mempercayai kami."
Malam harinya, setelah semua beres dan Luna sudah tidur di apartemen Amara (giliran malam ini), Edo menawarkan untuk mengantarkan Amara pulang. Mereka berjalan perlahan di bawah lampu jalan yang temaram, udara Jakarta yang sedikit lebih sejuk setelah hujan sore.
"Proyek hari ini… luar biasa, Amara," puji Edo.
"Kau memberi mereka suara."
"Mereka yang memberi saya suara," jawab Amara, tersenyum lelah namun puas. "Saya hanya memberikan kanvas."
"Kau terlalu merendah. Ini adalah seni partisipatif yang paling murni. Dan kau tahu, beberapa galeri akan membunuh untuk bisa memamerkan karya seperti itu."
"Itu bukan untuk dipamerkan di galeri," tegas Amara. "Ini untuk mereka. Mungkin akan kita pamerkan di rumah sakit atau pusat komunitas, agar lebih banyak orang mengerti pertempuran yang tidak terlihat ini."
"Bagus. Itu lebih tepat." Edo berhenti di depan apartemen Amara. "Apa kau baik-baik saja? Secara finansial, dengan proyek #ArtForLuna?"
"Pre-order batch pertama sold out. Dan hari ini Sari bilang, ada buyer besar bernama Val—teman Rafa—yang mau order batch kedua dengan quantity besar. Sepertinya… kita akan baik-baik saja untuk beberapa waktu ke depan."
"Val?" Edo mengangkat alis. "Wanita dari pesta ulang tahun itu?"
"Ya. Ternyata dia serius ingin membantu, dengan cara yang lebih profesional. Rafa yang mengarahkannya ke Sari." Amara menghela napas. "Aneh ya, hidup. Sumber bantuan datang dari tempat yang tidak terduga."
"Hidup memang penuh kejutan," ucap Edo, menatapnya. Sorotan lampu jalan membuat wajahnya terlihat lembut. "Dan kau, Amara, adalah salah satu kejutan terbaik dalam hidup saya."
Kalimat itu menggantung di antara mereka, lebih hangat dari sekadar pujian profesional. Amara merasa dadanya berdebar. Dia melihat Edo, pria yang selalu ada, yang mengerti tanpa banyak bicara, yang mendukung tanpa menuntut.
"Edo, aku—"
"Diam dulu," bisik Edo, tersenyum. "Aku tahu. Luna adalah prioritasmu. Dan hubungan kita, apa pun itu, harus pelan dan hati-hati. Aku tidak terburu-buru. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku ada. Sebagai teman, sebagai kolega, dan… sebagai seseorang yang sangat mengagumimu."
Dia tidak mencoba menciumnya atau menyentuhnya. Dia hanya berdiri di sana, memberikan ruang dan kehadiran yang aman.
"Terima kasih, Edo," jawab Amara, suaranya tulus. "Untuk semuanya. Untuk tidak pergi saat semuanya berantakan."
"Karya terbaik selalu lahir dari reruntuhan," balas Edo. "Dan kau, Amara S. Dewanto, adalah buktinya." Dia mengangguk. "Tidurlah. Besok ada pertempuran lain yang menunggu untuk diubah menjadi seni."
Amara masuk ke apartemennya, punggungnya bersandar di pintu yang tertutup. Dia merasa lelah, namun jiwa terasa penuh. Dia melihat tangan tangannya yang masih ada noda cat biru raspberry. Dia tersenyum.
Di satu sisi, ada rasa sakit yang dalam dari perjalanan Luna. Di sisi lain, ada komunitas yang bangkit, proyek yang memberi makna, dan sebuah dukungan emosional yang dewasa dari Edo. Dan entah bagaimana, di tengah semua kekacauan ini, dia merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri daripada saat dia berdiri di puncak kesuksesan pameran "Renewal" dulu.
Perjalanan mereka masih panjang. Tapi malam ini, dia tidak merasa sendirian di medan perang. Dia memiliki sekutu. Dan yang terpenting, dia akhirnya menemukan senjatanya yang paling ampuh: bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk mengubah luka menjadi karya, dan mengubah pertempuran yang tidak terlihat menjadi sebuah mahakarya kolektif yang bersuara lantang.
karena kan jarak umur mereka jauh..
nanya aja koq 🫰
air mata aku ngalir nih...jadi bikin hidung mampet...😭😭....
cerita kamu bener2 bagus ka...
semangat nulisnya ya..semoga makin banyak yg baca karya kamu...
banyak sisi positif yg bisa diambil...
hncur ber keping"...
knapa sblm brtindak tak kaubfikirkn akibatnya rafa....
km org brpndidikn... punya karir cemerlang n tentunya bnyak dwit....
knapa km tak merangkul istrimu n mncari solusi yg trbaik n masuk akal....
eeeee mlah lbh milih lari ke pembantu...
yg bner aja rafa... msa iya km banting mental istrimu dgn brsaing sm pambantumu...🙄🙄
aku sampe ngga bisa berkata2
cerita kamu bener2 lhoo Kak.....
bikin hati aku mleyot2...
sedihnya dapat banget...
kadang.... keluarga tidak harus ada hubungan darah...😭😭
rafa.... km mnggali kuburanmu sndiri....
brmain api pasti akn trbakar...
selingkuh = khilangan istrimu....
dasar suami tak tau diri🙄🙄
Terimakasih author untuk rangkaian kisah Amara ini
beneran bagus lho ceritanya.. penggunaan kata2nya...😍😍...