Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Resonansi
Kota tidak lagi berisik.
Itu yang pertama kali kusadari setelah tiga hari tanpa laporan gangguan besar.
Tidak ada lift berhenti di lantai tak terdaftar.
Tidak ada genangan misterius di basement.
Tidak ada video viral baru.
Semua kembali seperti sebelum cerita ini dimulai.
Dan justru itu yang membuatku tidak bisa bernapas dengan normal.
Karena keheningan ini terasa… dipindahkan.
Bukan hilang.
Dipindahkan.
⸻
Hari pertama kota tenang, aku hanya merasa lelah.
Hari kedua, kepalaku mulai berat menjelang malam.
Hari ketiga, aku mulai mendengar sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sebagai suara luar.
Bukan bisikan jelas.
Bukan kata-kata.
Lebih seperti desakan kolektif.
Seperti ketika kamu berada di ruangan penuh orang yang berbicara pelan sekaligus — tapi tidak ada satu suara pun yang bisa kamu tangkap utuh.
Aku mencoba mengabaikannya.
Aku pergi ke sekolah seperti biasa.
Aku ikut Dini ke minimarket.
Aku duduk bersama Arga membahas peta yang kini mulai kosong dari tanda merah.
“Secara data, gangguan turun 80%,” kata Arga serius.
“Harusnya itu kabar baik,” jawabku.
Dia menatapku.
“Tapi kamu kelihatan makin drop.”
Aku tersenyum kecil.
“Aku cuma kurang tidur.”
Bohong lagi.
⸻
Malam itu aku sengaja mematikan lampu lebih awal.
Aku ingin memastikan apakah suara itu hanya efek sugesti.
Pukul 01.43.
Aku masih terjaga.
Tidak ada suara langkah. Tidak ada bunyi air. Tidak ada embun aneh di cermin.
Hanya detak jam dan napasku sendiri.
Pukul 02.11.
Dadaku mulai terasa sesak, bukan seperti diserang, tapi seperti dipenuhi.
Dan tepat pukul 02.17, aku tidak terbangun karena suara.
Aku terbangun karena tekanan.
Seperti seluruh kota sedang menarik napas panjang bersamaan — dan aku berdiri tepat di tengah paru-parunya.
Aku duduk perlahan.
Tidak ada bayangan asing.
Tidak ada gerakan di luar jendela.
Tapi sensasinya jelas:
Suara-suara itu tidak lagi di luar diriku.
Mereka di dalam.
⸻
Keesokan paginya aku mencoba eksperimen kecil.
Aku tidak pergi ke apartemen.
Aku tidak mendekati lokasi mana pun yang pernah menjadi titik gangguan.
Aku duduk di rumah saja, membaca catatan Ibu.
Pukul 14.32, pesan masuk.
Dari Maya.
“Kak, lift tadi error lagi.”
Pukul 15.05, Arga menelepon.
“Basement lembap. Tidak parah, tapi muncul lagi.”
Pukul 16.10, Riko mengirim foto CCTV.
Bayangan samar di koridor.
Aku memejamkan mata.
Menarik napas.
Dan perlahan, tanpa sadar, aku membayangkan lorong apartemen itu terang dan kering.
Sepuluh menit kemudian, Maya mengirim pesan lagi.
“Sudah normal lagi.”
Aku membeku.
Aku tidak pergi ke sana.
Aku tidak membunyikan lonceng.
Aku hanya… memusatkan perhatian.
⸻
Hari berikutnya aku menguji lebih jauh.
Aku pergi ke kota kecamatan, ke rumah Mbah, dan sengaja menginap dua malam.
Malam pertama, pukul 01.50, teleponku bergetar tanpa henti.
Gangguan kecil muncul di tiga lokasi berbeda.
Malam kedua, aku mencoba sesuatu yang berbeda.
Aku duduk di tepi sumur kecil rumah Mbah.
Menutup mata.
Tidak memanggil.
Tidak menolak.
Hanya membiarkan.
Aku merasakan kota seperti jaringan listrik luas.
Ada titik-titik yang berkedip.
Ada arus yang tidak stabil.
Dan entah bagaimana, aku bisa merasakannya seperti sentuhan di kulit.
Aku menarik napas perlahan.
Dan seperti aliran listrik yang menemukan grounding, denyut itu stabil.
Teleponku berhenti bergetar.
Mbah berdiri di belakangku tanpa suara.
“Kamu sudah merasakannya, ya,” katanya pelan.
Aku tidak menjawab.
Karena aku takut jika mengakuinya dengan kata-kata, itu akan menjadi permanen.
⸻
Tubuhku mulai menunjukkan tanda yang tidak bisa kusembunyikan lagi.
Sering pusing tiba-tiba.
Telinga berdenging.
Jantung berdebar tidak teratur saat terlalu banyak orang berkumpul.
Suatu sore di pasar, aku hampir pingsan.
Bukan karena panas.
Tapi karena terlalu banyak emosi di satu tempat.
Seorang ibu menawar harga dengan kesal.
Seorang pedagang khawatir dagangannya tidak laku.
Seorang anak menangis karena kehilangan balon.
Semua terasa seperti gelombang kecil yang menghantamku bersamaan.
Aku duduk di trotoar, memegangi kepala.
Dini panik.
“Sa! Lo kenapa?!”
Aku tidak bisa menjelaskan.
Bagaimana menjelaskan bahwa rasa takut orang lain kini terasa seperti milikku?
⸻
Arga mulai mengumpulkan data lebih sistematis.
Dia mencatat:
• Saat Raisa berada di pusat kota → gangguan minimal
• Saat Raisa keluar kota → gangguan meningkat
• Saat Raisa kelelahan → fenomena kecil muncul
Dia menatapku malam itu dengan wajah yang lebih takut daripada saat menghadapi sumur dulu.
“Ini bukan cuma kebetulan.”
Aku mengangguk pelan.
“Kota menggunakan aku.”
“Bukan menggunakan.”
“Lalu apa?”
Dia terdiam lama sebelum menjawab.
“Mungkin kamu jadi resonansi terkuat.”
Kata itu membuatku merinding.
Resonansi.
Bukan penghalang.
Bukan penjaga.
Tapi frekuensi.
⸻
Malam berikutnya, mimpi itu datang lagi.
Aku berdiri di ruang kosong seperti sebelumnya.
Tapi kali ini, bukan hanya satu cekungan cahaya.
Ada banyak titik kecil di sekelilingku.
Seperti lampu kota dilihat dari atas.
Dan satu per satu titik itu mulai meredup — lalu cahayanya bergerak ke arahku.
Masuk.
Tidak menyakitkan.
Tapi berat.
Suara yang sama berbicara lagi.
“Alamat bukan tempat. Alamat adalah pusat tarikan.”
Aku mencoba mundur.
Tidak bisa.
“Kenapa aku?”
“Karena kamu tidak melawan. Kamu menyerap.”
Aku terbangun dengan napas tercekat.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar takut.
Bukan pada makhluk.
Pada kemungkinan bahwa aku tidak akan bisa kembali seperti dulu.
⸻
Beberapa hari kemudian, kejadian kecil membuktikan sesuatu yang lebih besar.
Di apartemen, terjadi pertengkaran hebat antara dua penghuni.
Biasanya konflik seperti itu diikuti gangguan kecil: lampu kedip, air bocor.
Tapi kali ini tidak ada apa-apa.
Karena aku berada di lantai yang sama saat itu.
Aku merasakan kemarahan mereka seperti gelombang panas.
Dan tanpa sadar, aku menahannya.
Menyerapnya.
Ketika aku pulang malam itu, tubuhku gemetar tanpa sebab.
Dini menyentuh dahiku.
“Lo demam.”
Aku hanya tersenyum lemah.
Karena aku tahu ini bukan virus.
⸻
Perubahan paling halus terjadi pada bayanganku.
Kini ia selalu sinkron.
Terlalu sinkron.
Tidak pernah tertinggal lagi.
Suatu malam aku berdiri lama di depan cermin.
“Apa yang akan terjadi padaku?” tanyaku pelan.
Bayangan itu tidak menjawab.
Tapi matanya terlihat… lebih dalam.
Seolah ruang kosong di belakangnya semakin luas.
⸻
Kota memang lebih tenang sekarang.
Media kehilangan bahan.
Investor berhenti mengganggu.
Fadil tidak pernah muncul lagi.
Tapi ketenangan itu terasa seperti permukaan air yang rata karena semua arusnya ditarik ke satu pusat.
Dan pusat itu adalah aku.
Aku duduk sendirian di balkon lantai dua belas suatu malam.
Angin kota menyentuh wajahku.
Aku tidak lagi hanya mendengar kecemasan.
Aku mulai merasakan harapan juga.
Seorang ibu yang akhirnya bisa tidur tanpa takut.
Seorang anak yang naik lift tanpa menoleh ke belakang.
Seorang satpam yang tidak lagi curiga pada bayangan sendiri.
Semua itu terasa… masuk ke dalam diriku juga.
Bukan hanya yang gelap.
Yang terang juga.
Dan di situlah aku mulai memahami sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada hantu mana pun:
Aku tidak sedang diserang.
Aku sedang menjadi tempat.
Dan tempat tidak pernah benar-benar punya pilihan untuk menolak siapa yang masuk.
Aku menggenggam lonceng kecil di tangan.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai,
aku tidak membunyikannya.
Karena aku sadar—
yang berbunyi sekarang bukan lagi logam kecil itu.
Tapi aku sendiri.