NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEMBATAN DARI DARAH DAN DAGING

Pertahanan yang dibangun Bagas sejak semalam akhirnya runtuh. Di depan orang asing yang baru saja memberinya segelas teh, tangis yang sedari tadi ia tahan di hulu kerongkongan pecah begitu saja. Bahunya berguncang hebat, dan napasnya tersengal-sengal di sela isak tangis yang terdengar menyakitkan. Ia tidak lagi peduli pada harga diri sebagai laki-laki atau tatapan orang-orang di sekitar halte. Rasa sesak karena dikhianati, rasa bersalah pada orang tua, dan ketakutan akan masa depan Kanaya tumpah menjadi satu.

"Istri saya kabur, Pak... bukan meninggal," ucap Bagas di sela tangisnya, suaranya parau dan bergetar hebat. "Dia pergi bawa emas anak saya, bawa hutang yang dia buat sendiri. Anak saya sendirian sekarang... dia masih kecil, belum tahu apa-apa. Saya juga tidak punya siapa-siapa lagi. Orang tua saya benci saya karena dulu saya keras kepala, saya menikah tanpa restu mereka dan meninggalkan semuanya demi perempuan itu." Bagas menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar, membiarkan air matanya membasahi sisa-sisa debu jalanan di kulitnya. "Saya benar-benar buntu, Pak. Mau pulang tapi malu, mau bertahan tapi dunia seolah menutup pintu untuk orang seperti saya."

Bapak tua itu terdiam sejenak, membiarkan Bagas menuntaskan sesaknya. Ia mengulurkan tangannya yang keriput, mengelus pundak Bagas dengan gerakan perlahan dan menenangkan, persis seperti seorang ayah yang sedang menenangkan anaknya yang sedang terluka. "Dengarkan saya, Mas," ucap bapak itu dengan suara rendah yang penuh wibawa. "Kakek dan nenek itu mungkin bisa benci sama anaknya karena merasa dikhianati, tapi mereka tidak akan pernah bisa benci dengan cucunya sendiri. Darah yang mengalir di tubuh anakmu itu juga darah mereka."

Bapak itu menatap mata Bagas yang sembab, mencoba menyalurkan sedikit kekuatan. "Pulanglah sebentar. Bukan untuk menyerah atau minta uang, tapi untuk mengetuk pintu mereka sebagai seorang ayah yang sedang memperjuangkan anaknya. Titipkan cucu mereka di sana untuk sementara. Bilang sejujurnya, kalau kamu butuh waktu untuk mencari kerja agar bisa memberi makan anakmu. Kalau nanti kamu sudah dapat kerja, sudah punya pegangan, kamu bisa bawa anakmu pergi lagi. Jangan biarkan egomu membunuh masa depan anak itu, Mas. Dia tidak punya dosa apa-apa dalam masalahmu dengan istrimu atau orang tuamu."

Bagas tertegun, kata-kata bapak itu menghantam ulu hatinya. Benar, selama ini ia hanya memikirkan rasa malunya sendiri, egonya sebagai laki-laki yang takut dicap gagal oleh ayahnya yang pensiunan polisi itu. Namun, ia lupa bahwa Kanaya butuh keamanan dan kasih sayang yang tidak bisa ia berikan sepenuhnya saat ia harus luntang-lantung mencari kerja di bawah terik matahari. "Apa mereka mau terima saya, Pak? Papa saya orangnya keras sekali," bisik Bagas ragu.

"Hati sekeras batu pun bisa terkikis oleh air, apalagi hati orang tua yang melihat cucunya sendiri," jawab bapak itu sambil tersenyum tipis. "Percayalah, Mas. Anakmu itu adalah jembatan paling kuat untuk memperbaiki apa yang sudah rusak. Kamu mungkin gagal jadi suami bagi istrimu, tapi jangan sampai gagal jadi ayah bagi putrimu. Pulanglah, mumpung masih ada pintu yang bisa diketuk."

Bagas menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung kemeja yang kasar. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali serpihan harga diri yang sempat tercecer di halte itu. "Terima kasih banyak, Pak. Maaf, saya jadi memalukan begini, sampai tidak tahan dan menangis di depan Bapak," ucap Bagas dengan suara yang masih sedikit sengau.

Bapak tua itu tersenyum teduh, menepuk bahu Bagas sekali lagi dengan mantap. "Jangan minta maaf, Mas. Menangis itu bukan tanda lemah, itu tandanya Mas masih punya hati. Semangat, Mas. Ingat, Allah punya banyak jalan di setiap sudut bumi ini. Kadang kita cuma harus belok sedikit untuk menemukannya," ucap bapak itu memberi semangat sebelum mereka berpisah.

Bagas pun melangkah pergi. Ia memutuskan untuk berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilometer menuju rumah petaknya. Uang di sakunya sudah sangat menipis, hanya cukup untuk membeli beberapa butir telur atau setengah liter beras untuk makan malam. Sepatu lusuhnya terus bergesek dengan aspal panas, namun pikirannya jauh lebih panas memikirkan saran bapak tadi. Pulang ke rumah Papa? Pikiran itu terus berputar seperti kaset lama yang macet.

Saat kakinya mulai memasuki gang sempit dan kumuh tempat ia tinggal, pemandangan yang menyambutnya membuat langkah Bagas terhenti seketika. Di depan rumah petaknya yang pengap, ia melihat Rini, adik iparnya, sedang duduk di kursi plastik yang kusam. Kanaya tertidur lelap di pangkuannya dengan posisi yang tampak tidak nyaman.

Namun, yang membuat dada Bagas berdenyut nyeri adalah melihat Rini yang dengan santainya menghisap rokok dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya begitu saja ke udara, tepat di atas kepala Kanaya yang sedang bernapas pelan. Rini tampak asyik tertawa lebar sambil bergosip dengan seorang wanita tetangga sebelah, mengabaikan jelaga rokok yang terbang tertiup angin ke arah wajah putrinya.

"Iya, Jeng, katanya kakaknya kabur bawa semua simpanan si Bagas. Kasihan sih, tapi ya mau gimana lagi, laki kalau nggak punya duit ya ditinggal," suara Rini melengking, disusul tawa renyah yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Bagas.

Bagas terpaku di sudut tembok gang. Ia melihat lingkungan di sekelilingnya dengan cara yang berbeda sore itu. Bau selokan yang mampet, tumpukan sampah di pojok gang, kepulan asap rokok yang menyelimuti tidur putrinya, dan mulut-mulut yang sibuk mengunyah aib keluarganya. Seketika, ucapan bapak tua di halte tadi bergema kuat di kepalanya: Ini bukan tempat yang baik untuk Kanaya.

"Rin," panggil Bagas dengan suara berat saat ia akhirnya melangkah mendekat.

Rini terperanjat, buru-buru menyembunyikan rokoknya di balik punggung, meski asapnya masih mengepul jelas. "Eh, Mas Bagas... sudah pulang? Gimana, dapat kerja?" tanyanya dengan nada yang dipaksakan ramah, namun matanya jelas menunjukkan rasa ingin tahu sekaligus meremehkan.

Bagas tidak menjawab pertanyaan itu. Ia langsung mengulurkan tangan untuk mengambil Kanaya dari pangkuan Rini. "Terima kasih sudah jaga Kanaya. Mas masuk dulu," ucapnya singkat tanpa ingin berbasa-basi lebih jauh.

Sambil mendekap Kanaya erat di dadanya, Bagas masuk ke dalam rumah yang hanya seukuran kotak sabun itu. Ia menatap wajah polos putrinya yang sedikit berkeringat dan berbau asap rokok. Sebuah tekad bulat akhirnya terbentuk di hatinya. Rasa malu pada ayahnya memang besar, tapi rasa sayangnya pada Kanaya jauh lebih raksasa.

"Maafin Ayah, Kanaya," bisik Bagas sambil menciumi kening putrinya. "Kamu nggak pantas tumbuh di sini. Kita harus pergi. Ayah akan telan semua rasa malu ini, asal kamu bisa tidur di tempat yang lebih layak."

Sore itu juga, Bagas mulai memasukkan beberapa helai pakaian Kanaya dan ijazah sarjananya ke dalam tas ransel tua. Ia sudah mengambil keputusan. Malam ini, ia akan pulang ke rumah yang pernah ia tinggalkan dengan sombong lima tahun lalu.

Bagas masih bersimpuh di atas aspal dingin itu, kepalanya tertunduk dalam-dalam. "Pa... Bagas mau ikut tinggal beberapa hari di sini, sampai Bagas dapat kerja lagi," ucapnya dengan suara yang bergetar hebat, nyaris seperti sebuah bisikan yang memohon nyawa. Ia sudah tidak punya tempat lain. Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain orang-orang yang pernah ia lukai hatinya.

Mendengar suara tangisan bayi yang sedari tadi merengek karena kelelahan, ibu Bagas tidak tahan lagi. Dengan gerakan cepat dan penuh kerinduan, ia mengambil Kanaya dari dekapan Bagas. "Ya Allah, cucu Nenek... kamu sampai gemetar begini, Nak," isak ibunya sambil menimang Kanaya, mencoba menenangkan tangis bayi itu yang pecah di tengah malam yang sepi.

Ayah Bagas, sang pensiunan polisi, masih berdiri dengan punggung tegak. Matanya menatap tajam ke arah Bagas yang tampak lusuh dan tak berdaya. Tidak ada pelukan hangat. Tidak ada kata selamat datang. Ia berdehem pelan, mencoba menutupi getaran di suaranya sendiri.

"Hanya sampai besok, terus kalian pergi," ucap ayahnya dingin, setiap katanya seperti palu yang menghantam dada Bagas.

Namun, Bagas yang sudah hafal tabiat ayahnya melihat sesuatu yang berbeda malam itu. Meski suaranya terdengar tidak punya belas kasihan, sorot mata pria tua itu sempat tertuju lama pada kaki mungil Kanaya yang tidak memakai kaus kaki, lalu beralih ke jemari cucu mungilnya yang bergerak-gerak di pelukan ibunya. Ada rasa kasihan yang berusaha ia sembunyikan di balik topeng disiplinnya. Rasa rindu pada anak laki-lakinya yang telah hilang lima tahun itu beradu dengan rasa sakit hati karena pengkhianatan masa lalu.

"Masuk," perintah ayahnya singkat sambil memutar badan, berjalan kembali ke dalam rumah tanpa menoleh lagi.

Ibu Bagas segera membimbing anaknya masuk. "Ayo, Gas. Masuk, Le. Kamu pucat sekali," bisiknya sambil mengusap punggung Bagas.

Bagas melangkah melewati ambang pintu rumah itu dengan perasaan campur aduk. Rumah yang dulu ia tinggalkan dengan penuh kesombongan, kini menyambutnya kembali dengan aroma parfum ruangan yang familiar dan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia duduk di kursi ruang tamu yang dulu sering ia gunakan untuk berdebat dengan ayahnya.

"Makan dulu, Gas. Ibu tadi baru masak," ujar ibunya sambil meletakkan Kanaya di sofa empuk agar bayi itu bisa berbaring nyaman.

Bagas menatap ayahnya yang kini duduk di kursi goyang di sudut ruangan, berpura-pura membaca koran lama, namun korannya terbalik. Bagas tahu, ini adalah kesempatan terakhirnya.

"Terima kasih, Pa, sudah izinkan kami berteduh semalam ini," kata Bagas pelan sambil menatap punggung ayahnya. "Besok... besok saya akan pergi cari kerja pakai ijazah perhotelan saya. Saya janji tidak akan memalukan Papa lagi."

Ayahnya hanya terdiam, namun perlahan ia meletakkan korannya. Dari sudut matanya, ia melihat Kanaya yang mulai tenang di pelukan istrinya. "Ijazah itu sudah berdebu. Apa masih laku untuk orang yang sudah memilih jadi tukang bakso?" sindir ayahnya tajam, namun kali ini nadanya lebih menyerupai tantangan daripada hinaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!