Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Arkan rapuh
Beberapa jam telah berlalu sejak mereka meninggalkan bioskop. Di dalam kabin mobil, suasana terasa begitu berat dan sunyi. Arkan tidak seperti biasanya, ia hanya diam dengan pandangan kosong, seolah raganya ada di sana namun pikirannya tertinggal jauh di tempat lain.
“Sejak kembali dari pertemuan penting tadi, Kak Arkan tampak sangat murung. Bahkan saat menonton film pun, wajahnya datar tanpa ekspresi. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?” batin Maya gelisah, sesekali melirik diam-diam ke arah pria di sampingnya.
Sementara itu, Arkan masih memikirkan pertemuannya mengenai perjodohan tadi.
“Setelah penolakan telak malam ini, Papa pasti tidak akan tinggal diam. Besok, kejutan pahit apa lagi yang akan mereka berikan untuk menjatuhkanku?” pikir Arkan. Ia tahu benar watak Papanya yang tidak akan membiarkan siapa pun membangkang, termasuk putranya sendiri.
Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, Maya akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.
“Kak!”
Arkan tersentak kecil, lalu perlahan menoleh. “Iya, ada apa, May?”
“Apakah… Kakak baik-baik saja?” tanya Maya dengan nada suara terdengar cemas.
Arkan tidak langsung menjawab. Ia kembali memandang lurus ke arah jalanan kota yang mulai sunyi dan lengang. Cahaya lampu jalanan silih berganti menyinari wajahnya yang tegas namun tampak lelah. Maya masih diam, menatap Arkan dengan sabar menanti jawaban.
“May,” ucap Arkan lirih, memecah keheningan. “Bagaimana jika suatu saat aku tidak lagi menjadi seorang dokter? Bagaimana jika suatu hari nanti… aku jatuh miskin dan tidak punya apa-apa lagi?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, membuat Maya tersentak diam di kursinya. “Apa maksud ucapan Kakak? Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?”
Arkan melepaskan tawa singkat, sebuah tawa paksa yang terdengar getir di telinga. “Tidak apa-apa, May. Aku hanya…berandai-andai.”
Maya menghela napas panjang, mencoba mengusir sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. “Kita memang hanya manusia biasa yang tidak punya kendali penuh atas nasib, Kak. Tapi, kita adalah manusia yang diberi kekuatan untuk mengubah arah tujuan hidup kita sendiri selama kita mau berusaha.”
Mendengar itu, Arkan perlahan memutar setir dan menepikan mobilnya di bawah bayangan pohon besar yang sepi. Ia mematikan mesin, membuat keheningan malam terasa semakin mencekam. Arkan menggenggam erat setir kemudinya hingga buku-buku jarinya memutih, kepalanya sedikit tertunduk, menyembunyikan gurat luka di wajahnya.
“May,” suaranya terdengar serak dan rendah. “Sebenarnya… tadi aku menemui orang tuaku. Mereka menjodohkanku dengan putri rekan bisnis mereka secara paksa.”
Arkan menarik napas berat, seolah kata-kata selanjutnya sangat sulit untuk dikeluarkan. “Aku menolaknya dengan keras demi Leon. Dan aku tahu persis bagaimana watak Papaku. Aku yakin, malam ini adalah takdir akhir dari karierku sebagai seorang dokter di rumah sakit itu.”
Keheningan di dalam mobil itu terasa begitu pekat, hingga suara napas Arkan yang berat terdengar jelas. Maya perlahan mencondongkan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka. dengan gerakan lembut yang ragu-ragu, ia meletakkan tangannya di atas punggung tangan besar Arkan yang masih mencengkeram setir dengan kaku.
“Apa pun yang terjadi, aku akan tetap bersama Kakak,” ucap Maya, suaranya lembut. “Jika kekuasaan orang tua Kakak mampu menyingkirkan Kakak dari rumah sakit itu, berarti memang rezeki Kakak bukan lagi di sana. Percayalah, Tuhan tidak akan menutup satu pintu tanpa membukakan pintu lain yang lebih baik.”
Maya kembali bersandar, jemarinya kini meremas pinggiran tas sandang kecil di pangkuannya, mencoba mengumpulkan serpihan ingatan masa lalu yang pahit.
“Dulu, aku sempat berada di titik paling gelap. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa Tuhan tidak mengirimkan malaikat untuk menjemputku dari neraka yang aku lalui? Aku ingin menyerah,” bisik Maya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke depan seolah melihat kilasan masa lalunya di balik kaca mobil. “Tapi, setelah aku hamil, aku menyadari bahwa ini adalah takdir baru yang harus aku perjuangkan. Sepahit apa pun jalannya, aku mencoba ikhlas. Sampai suatu hari, di saat aku merasa nyawaku sudah di ujung tanduk, aku berpikir Tuhan benar-benar akan memanggilku dan bayiku.”
Maya menoleh ke arah Arkan, setitik air mata jatuh membasahi pipinya. “Namun, saat aku membuka mata kembali, Tuhan ternyata masih meninggalkanku di sini. Di bumi yang menurutku sangat kejam ini, Dia memberiku kesempatan kedua. Dan akhirnya aku sadar, kesempatan kedua itu adalah…bertemu dengan Kakak.”
Arkan tersentak hebat. Matanya membesar, menatap Maya dengan binar keterkejutan yang bercampur dengan rasa haru yang luar biasa. Kalimat Maya barusan bukan sekadar penghibur, melainkan Arkan adalah alasan bagi Maya untuk tetap bertahan hidup.
Tanpa aba-aba, Arkan menarik tubuh Maya ke dalam dekapannya. Ia memeluk gadis itu dengan sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya, seluruh dunianya akan hilang.
“May, aku mohon…tetaplah di sisiku,” bisik Arkan dengan suara yang bergetar di ceruk leher Maya. “Bantu aku untuk bangkit kembali. Dan tolong, jaga Leon seperti kau menjaga darah dagingmu sendiri. Hanya kalian yang aku punya sekarang.”
Maya tertegun sejenak, namun kemudian tangannya yang kecil perlahan terangkat. Ia mengelus lembut puncak rambut Arkan yang sedikit kusut karena beban pikiran seharian ini. Sentuhan itu memberikan rasa nyaman yang luar biasa bagi Arkan, rasa hangat yang selama ini ia rindukan setelah sekian lama hidup dalam kesunyian.
“Apa pun yang terjadi pada Kakak, aku akan tetap di sini. Aku tidak akan pergi,” jawab Maya tulus.
Mendengar janji itu, Arkan refleks mengeratkan pelukannya semakin kuat, seakan ingin menyatukan detak jantung mereka. Ia begitu emosional hingga tidak sadar bahwa Maya mulai kesulitan menghirup oksigen.
“Kak… Kak Arkan,” rintih Maya pelan, suaranya teredam di dada bidang Arkan. “A-aku sesak napas.”
Arkan tersentak. Ia segera melepaskan pelukannya dengan wajah yang sedikit memerah karena malu. Bibirnya membentuk garis senyum kecil, lalu ia tertawa kecil melihat ekspresi Maya yang tengah berusaha mengatur napas.
“Maaf, May. Aku terlalu bersemangat,” ucap Arkan canggung. Ia kemudian kembali ke posisi kemudi dan menghidupkan mesin mobilnya. “Kalau begitu, ayo kita pulang.”
Pajeronya kembali membelah kesunyian malam. Maya masih memandangi wajah Arkan dari samping, wajah itu kini tampak jauh lebih segar, seolah beban berat yang tadi menghimpit pundaknya telah lepas.
“Aku mungkin tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi pada Kak Arkan,” batin Maya sambil tersenyum tipis. “Tapi satu hal yang pasti, aku akan selalu ada untuk mendukungmu.”
*****
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah dengan pemadangan lampu kota yang gemerlap, suasana terasa panas oleh ambisi dan dendam. Anggun duduk di sofa beludru yang empuk, jemarinya yang lentik terus menuangkan Macallan 25 Years Old ke dalam gelas kristal mahal di genggamannya. Suara denting es batu beradu dengan kaca terdengar nyaring di tengah kesunyian.
“Tampak sangat kesal, huh?” tanya Rendi yang duduk santai di sebelahnya sambil mengunyah kacang almond dengan gaya acuh tak acuh.
“Kau tahu, Honey? Malam ini aku benar-benar dipermalukan di depan umum oleh dokter kandungan sombong itu!” geram Anggun. Matanya penuh amarah saat membayangkan wajah dingin Arkan.
Rendi justru tertawa lebar, suara tawanya menggema di ruangan itu seolah menganggap penghinaan yang diterima Anggun adalah sebuah lelucon. Namun, tawa itu langsung terhenti ketika Anggun memberikan tatapan tajam yang mematikan.
Rendi segera mengatupkan mulutnya, lalu menenggak sisa minuman di gelasnya untuk menetralkan suasana. “Lalu, apa rencana besarmu, Honey?”
“Rasanya aku ingin menghancurkannya sampai ke akar-akarnya. Aku ingn melihat Arkan Pradipa berlutut di hadapanku, memohon ampun atas kesombongannya malam ini,” desis Anggun dengan nada suara yang rendah namun penuh kebencian.
Rendi menyeringai, ia menyandarkan tubuhnya dan menatap langit-langit apartemen. “Bukankah itu hal yang mudah bagimu? Buat dia dipecat secara tidak hormat dari rumah sakit tempatnya bekerja. Setelah itu, berikan ancaman atau peringatan halus kepada semua jaringan rumah sakit di negeri ini agar tidak ada satu pun yang berani mempekerjakannya.”
Anggun terdiam sejenak, membayangkan kehancuran karier Arkan yang sudah dibangun bertahun-tahun, lalu tawa puasnya pecah.
“Kau benar, Honey. Itu ide yang brilian,” ucap Anggun sambil mengangkat gelas kristalnya seolah sedang merayakan kemenangan sebelum terjadi.
...❌ Bersambung ❌...