Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu itu membuat Ariel tersentak. Dengan gerakan cepat namun sedikit kikuk karena gangguan keseimbangannya, ia langsung memasukkan map cokelat berisi dokumen aset Markus ke dalam laci meja dan menguncinya rapat-rapat.
"Mas? Kamu di dalam?" Suara Relia terdengar lembut dari balik pintu.
Ariel menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu.
Ia membetulkan letak penutup mata hitamnya agar terlihat rapi, lalu memberi kode kepada Satrio untuk membukakan pintu.
"Iya, Sayang. Mas di sini," jawab Ariel dengan nada suara yang sengaja dibuat setenang mungkin.
Relia melangkah masuk dengan tangan yang masih memegang toples manisan mangga.
Wajahnya yang tadi ceria kini tampak sedikit curiga saat melihat sisa ketegangan di wajah Ariel dan keberadaan Satrio yang berdiri kaku di sudut ruangan.
"Mas ada apa? Kok pintunya ditutup rapat sekali? Satrio juga mukanya serius begitu," tanya Relia sambil mendekat ke arah suaminya.
Matanya melirik ke arah meja kerja yang kini tampak kosong.
Ariel tersenyum, lalu meraih tangan Relia dan menuntunnya untuk duduk di pangkuannya—meski ia harus berhati-hati dengan posisi kursi rodanya.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Mas cuma sedang membahas jadwal terapi mata dan saraf dengan Satrio. Mas tidak mau kamu kepikiran soal proses pengobatan Mas yang membosankan."
Relia menatap mata sehat Ariel dalam-dalam, seolah mencari kejujuran di sana.
"Benar? Mas tidak sedang menyembunyikan sesuatu soal Markus atau proses hukumnya, kan?"
"Fokus Mas sekarang cuma dua," Ariel mengecup kening Relia dengan lembut.
"Satu, kesembuhan Mas. Dua, kesehatan kamu dan si kecil. Urusan hukum itu biar pengacara dan Satrio yang urus. Kamu jangan stres ya, ingat kata Dokter Sukma."
Relia akhirnya mengembuskan napas lega dan menyandarkan kepalanya di bahu Ariel.
"Syukurlah. Aku tadi cuma mau tanya, Mas mau coba manisan yang ini tidak? Ini tidak terlalu pedas, kok."
Ariel tertawa kecil, meskipun dalam hatinya ia merasa berat harus merahasiakan soal dokumen pencucian uang itu.
Ia melirik sekilas ke arah laci yang terkunci. Ia bersumpah akan menyelesaikan kekacauan ini tanpa membiarkan satu tetes air mata pun jatuh lagi dari mata istrinya.
Suasana hangat di ruang kerja itu seketika berubah menjadi kepanikan yang mencekam.
Baru saja Ariel mengecup kening Relia, tiba-tiba pegangan tangannya melemah.
Napasnya terdengar berat dan tersengal, sebelum akhirnya matanya yang sehat perlahan terpejam dan tubuhnya lunglai jatuh dari kursi roda ke arah pelukan Relia.
"Mas!! Mas Ariel!!" jerit Relia histeris.
Ia berusaha menahan beban tubuh suaminya, namun tenaganya yang masih lemah tak sanggup menopang Ariel.
Satrio yang sejak tadi berjaga di sudut ruangan bergerak secepat kilat.
Sebelum tubuh Ariel menghantam lantai, Satrio sudah lebih dulu menangkap dan membopong tubuh majikannya itu dengan kedua lengan kekarnya.
"Nyonya, tenanglah! Mundur sedikit!" perintah Satrio dengan suara rendah namun tegas.
Ia segera membawa tubuh Ariel yang tak berdayakan itu menuju ranjang besar di kamar bawah tersebut.
Mendengar jeritan Relia, Mama Wahyuni berlari masuk ke dalam ruangan.
Wajahnya pucat pasi melihat putranya terbaring tidak sadarkan diri dengan penutup mata yang sedikit miring.
"Astaga, Ariel!" Mama Wahyuni segera mendekat, tangannya yang gemetar memeriksa denyut nadi di leher putranya.
Sebagai seorang ibu yang juga mengerti sedikit tentang medis, ia tahu bahwa Ariel sedang mengalami kelelahan saraf yang ekstrem.
"Relia, Sayang, ambilkan air hangat dan handuk kecil. Satrio, bantu lepaskan sepatu dan longgarkan pakaiannya agar dia bisa bernapas lebih lega," instruksi Mama Wahyuni dengan sisa ketenangan yang ia miliki.
Relia berlari kecil dengan air mata yang terus mengucur, mengabaikan rasa lemas di kakinya sendiri.
Sementara itu, Mama Wahyuni mengelus kening Ariel yang terasa sangat dingin dan berkeringat.
"Anak ini, dia pasti terlalu banyak berpikir," bisik Mama Wahyuni sedih.
"Dia mencoba terlihat kuat di depanmu, Relia. Dia menyembunyikan rasa sakitnya karena tidak mau membuatmu stres."
Ariel masih terpejam rapat. Luka di kepalanya yang belum pulih total, ditambah beban pikiran menyembunyikan dokumen rahasia tentang aset
Markus, telah mencapai titik jenuh.
Saraf keseimbangannya yang terganggu membuat otaknya dipaksa bekerja dua kali lebih keras, dan kini tubuhnya menuntut istirahat total secara paksa.
Relia kembali dengan handuk basah, ia duduk di pinggir ranjang sambil terus menggenggam tangan suaminya yang lemas.
"Mas, bangun, jangan buat aku takut. Aku tidak butuh pahlawan, aku hanya butuh kamu ada di sini," isaknya lirih.
Dokter keluarga, Dokter Hendra, merapikan stetoskopnya setelah memeriksa kondisi Ariel selama hampir satu jam.
Ia menatap Mama Wahyuni dan Relia dengan raut wajah yang sangat serius, tidak ada lagi ruang untuk kompromi.
"Kondisi saraf kepala Ariel masih sangat rapuh setelah trauma di dermaga itu," jelas Dokter Hendra pelan.
"Pingsan tadi adalah sinyal dari otaknya bahwa ia mengalami mental overload. Jika ini terjadi lagi, risiko kerusakan saraf permanen atau pendarahan ulang sangat besar."
Dokter Hendra kemudian menoleh ke arah meja kerja Ariel.
"Mulai detik ini, Ariel harus benar-benar dijauhkan dari gadget, dokumen pekerjaan, atau berita apa pun yang bisa memicu stres. Dia butuh istirahat total, bukan hanya fisiknya, tapi juga pikirannya."
Relia hanya bisa mengangguk lemah, sementara tangannya terus mengusap jemari Ariel yang mulai terasa sedikit hangat.
"Satrio," panggil Mama Wahyuni dengan nada yang tidak bisa dibantah.
"Saya, Nyonya Besar," jawab Satrio sambil berdiri tegap.
"Kamu dengar sendiri instruksi dokter. Mulai sekarang, kamu yang memegang kunci laci meja itu. Jangan biarkan siapa pun membukanya, termasuk Ariel sendiri, sampai keadaannya benar-benar pulih. Dan jauhkan ponselnya dari ruangan ini," perintah Mama Wahyuni.
Satrio segera mengambil kunci laci dari atas meja kerja dan menyimpannya di dalam saku jasnya yang dalam.
Ia berdiri seperti patung di depan meja tersebut, menjadi penghalang antara Ariel dan rahasia berbahaya yang tersimpan di dalamnya.
Saat dokter dan Mama Wahyuni keluar untuk mengambil obat di apotek, Relia tetap tinggal di sisi Ariel.
Ia menatap meja kerja yang kini dijaga ketat oleh Satrio.
Rasa ingin tahunya sempat muncul, namun setiap kali ia melihat wajah Ariel yang tampak begitu kelelahan dalam tidurnya, Relia menekan ego tersebut.
"Apapun yang kamu sembunyikan, Mas. Aku tidak akan mencarinya sekarang," bisik Relia tepat di telinga Ariel.
"Cepatlah sembuh. Itu adalah dokumen terpenting yang aku butuhkan saat ini."
Ariel sedikit menggerakkan kepalanya, namun ia tetap terlelap dalam tidur panjangnya yang dipicu oleh obat penenang, tidak menyadari bahwa Satrio kini menjadi penjaga rahasianya yang paling setia.
Di dalam keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan napas Ariel yang teratur namun berat,
Relia duduk di kursi kayu tepat di samping ranjang suaminya.
Ia meraih iPad miliknya dari meja nakas, menyalakannya dengan cahaya redup agar tidak mengganggu istirahat Ariel.
Alih-alih berselancar di internet, Relia membuka sebuah aplikasi catatan kosong.
Ia memandangi wajah suaminya yang tertutup sebagian oleh penutup mata hitam itu. Hatinya berdenyut perih.
Ia tahu Ariel sedang bertarung dengan rasa sakitnya sendiri sambil berusaha menjadi perisai baginya.
Jemari Relia mulai bergerak perlahan di atas layar, menuliskan untaian kata yang selama ini tersimpan rapat di lubuk hatinya:
Untuk Mas Ariel, Bajak Lautku yang paling hebat...
Aku tahu di balik laci yang terkunci itu, ada beban yang sedang Mas pikul sendirian. Aku tahu Mas pingsan karena mencoba melindungiku dari kenyataan pahit yang dibawa Markus.
Mas, kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi pahlawanku. Dengan satu mata atau tanpa mata sekalipun, Mas tetaplah cahaya bagi duniamu yang sekarang sedang mengandung buah cinta kita. Jangan takut akan hari esok. Jika badai kembali datang, biarkan aku yang memegang kemudi bersamamu. Jangan pingsan lagi, karena saat matamu terpejam, duniaku seolah kehilangan arah.
Cepat bangun, Mas. Si kecil di dalam perutku ingin mendengar suara Ayahnya yang lucu lagi.
Setelah selesai menulis, Relia meletakkan iPad itu di atas dadanya.
Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan masa depan di mana mereka tidak perlu lagi bersembunyi dari bayang-bayang masa lalu.
Tiba-tiba, ia merasakan jemari Ariel bergerak sedikit.
Tangan pria itu meraba-raba permukaan selimut, seolah sedang mencari sesuatu dalam ketidaksadarannya.
"Relia..." bisik Ariel sangat lirih, hampir seperti desahan angin.
Relia segera meletakkan iPad-nya dan menggenggam tangan Ariel dengan kedua tangannya.
"Aku di sini, Mas. Aku di sini. Jangan takut."
mudah"an relia selamat