Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 (nineteen)
Asap dari ledakan pintu masih memenuhi ruangan. Siska melangkah masuk dengan tenang, moncong peluncur gasnya mengarah tepat ke dada Ratna. Di belakangnya, dua anggota Black Cobra berdiri dengan senjata siap tembak.
"Serahkan liontin itu, Ratna. Dan serahkan ibumu," suara Siska terdengar dingin di balik masker gas. "Dia adalah aset negara yang terlalu berharga untuk dibiarkan membusuk di tangan seorang buronan."
Ratna berdiri perlahan, tubuhnya menutupi kursi roda Sarah. Ia bisa merasakan tangan ibunya gemetar hebat, namun ia juga merasakan genggaman itu menguat sebuah sinyal bahwa kesadaran Sarah telah kembali sepenuhnya.
"Aset negara?" Ratna mendengus sinis. "Kalian menculiknya, memalsukan kematiannya, dan mengurungnya di sini selama sepuluh tahun hanya untuk memeras otaknya. Itu bukan aset, Siska. Itu perbudakan."
"Teguh, sekarang!" teriak Ratna tiba-tiba.
Teguh tidak menembak ke arah Siska. Sebaliknya, ia menembak ke arah tabung oksigen besar di pojok ruangan. Logam itu pecah, melepaskan tekanan oksigen murni yang sangat tinggi. Bersamaan dengan itu, Ratna melemparkan korek api zippo milik Si Buta yang ia kantongi.
BOOM!
Ledakan oksigen menciptakan kilatan api dan gelombang kejut yang mementalkan Siska dan pasukannya. Ratna tidak menunggu asap hilang. Ia segera mendorong kursi roda Sarah menuju balkon.
"Lantai dua terlalu tinggi untuk kursi roda, Bu!" teriak Teguh sambil menahan pintu dari serbuan susulan.
"Kita tidak turun, Teguh! Kita naik!" Ratna menunjuk ke arah tangga darurat eksternal yang menuju ke atap gedung.
(Pertempuran di Atap)
Dengan kekuatan otot yang melampaui tubuh mungilnya, Ratna menggendong Sarah di punggungnya teknik fireman carry yang sering ia lakukan saat masih menjadi jendral di medan perang. Teguh menyusul di belakang, memberikan tembakan perlindungan saat para pengejar mulai muncul di balkon.
Di atap gedung, sebuah helikopter medis bermesin tunggal sedang bersiap untuk lepas landas. Pilotnya tampak panik melihat tiga orang bersimbah lumpur dan darah berlari ke arahnya.
"Keluar dari sini!" perintah Teguh sambil menodongkan senjatanya ke arah pilot.
Ratna mendudukkan Sarah di kursi belakang helikopter. Namun, tepat saat ia akan melompat masuk, sebuah peluru menyambar bahu kirinya.
Argh!
Ratna jatuh terduduk di beton atap. Siska sudah sampai di sana, maskernya terlepas, memperlihatkan luka bakar kecil di pipinya akibat ledakan tadi.
Matanya menyala karena amarah.
"Kau pikir bisa lari dengan kunci biologis itu?" Siska mengarahkan pistolnya ke arah tangki bahan bakar helikopter. "Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak akan ada yang bisa."
"Siska, tunggu!" teriah Sarah dari dalam helikopter. Suaranya kini terdengar sangat kuat dan jernih. "Jika kau meledakkan helikopter ini, kau menghancurkan satu-satunya cara untuk mengaktifkan Project Hydra. Kau tahu Dewan Tujuh akan menghancurkanmu jika itu terjadi."
Siska ragu-ragu sejenak. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ratna. Ia menarik pisau lipat dari sepatunya dan melemparkannya dengan presisi seorang jenderal. Pisau itu tertancap di pergelangan tangan Siska, membuatnya menjatuhkan senjatanya.
Teguh segera menarik Ratna masuk ke dalam kabin.
"Pegangan!"
Helikopter itu terangkat dengan kasar, miring ke kiri saat Teguh memaksa mesin bekerja maksimal. Siska berteriak marah di bawah sana, sosoknya semakin mengecil saat helikopter melesat menembus kabut Gunung Salak.
(Di Udara: Wahyu Terakhir)
Setelah memastikan tidak ada helikopter pengejar, Ratna mencoba menekan luka di bahunya. Sarah mendekat, merobek bagian bawah bajunya untuk membebat luka putrinya.
"Ibu... maafkan aku," bisik Ratna lemas.
Sarah menggeleng pelan. "Kau telah melakukan lebih dari yang bisa diharapkan, Ratna. Tapi perjalanan kita belum selesai. Project Hydra bukan hanya soal senjata."
"Lalu apa?" tanya Teguh yang fokus mengemudikan helikopter.
Sarah mengeluarkan liontin perak yang diberikan pada Ratna tadi. Ia menekan sebuah bagian tersembunyi, dan munculah sebuah jarum mikro di tengahnya.
"Ini adalah alat pemeta genetik. Sangkala ingin menggunakan DNA ku dan DNA mu untuk menciptakan virus selektif," ungkap Sarah. "Virus yang hanya akan membunuh orang-orang dengan ciri genetik tertentu mereka yang dianggap 'lemah' atau 'tidak produktif' oleh Dewan Tujuh. Mereka menyebutnya Global Reset."
Ratna terpaku. Ini bukan lagi soal korupsi kayu atau industri senjata. Ini adalah genosida terstruktur.
"Kita harus ke mana sekarang, Bu?" tanya Teguh.
Ratna menatap ke arah horizon, di mana lampu-lampu kota Jakarta mulai terlihat di kejauhan. "Kita tidak bisa ke Jakarta. Kita akan ke Pulau Seribu. Ada sebuah pangkalan laut tua milik kakekku yang tidak terdaftar di peta militer manapun. Di sana, kita akan melakukan serangan balik terakhir."