"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: DANSA DI ATAS JURANG
Malam sebelum hari yang disebut Adrian sebagai "pernikahan" itu tiba, suasana villa berubah menjadi sangat sunyi sekaligus mencekam. Adrian, dengan segala kegilaannya, ingin merayakan malam terakhir mereka sebagai pasangan yang belum terikat dengan sebuah makan malam romantis di ruang tengah.
Lampu gantung kristal meredup, menyisakan cahaya temaram yang memantul pada lantai marmer yang mengilap. Musik klasik mengalun lembut dari pemutar piringan hitam di sudut ruangan.
"Kau tampak luar biasa malam ini, Ghea," bisik Adrian.
Ghea mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang pas di tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, menutupi kecemasan yang berkecamuk di dadanya. Di balik lipatan kain di pahanya, ia bisa merasakan ujung tajam kunci titanium yang ia asah selama berhari-hari. Tapi malam ini, senjatanya bukan hanya logam itu. Senjatanya adalah kepura-puraan.
"Terima kasih, Adrian," jawab Ghea lembut, memaksakan sebuah senyuman yang terlihat malu-malu.
Adrian mengulurkan tangan. "Boleh aku meminta dansa ini? Sebagai latihan untuk altar lusa nanti?"
Ghea menyambut tangan dingin itu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, melainkan karena ia tahu ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki. Adrian mengenakan jas beludru hitam. Ghea sempat melihat pria itu memasukkan sesuatu ke dalam saku jas dalamnya sebelum mereka makan malam tadi—sebuah kartu perak mengilap. Kartu akses cadangan.
Adrian menarik pinggang Ghea mendekat, merapatkan tubuh mereka hingga Ghea bisa mencium aroma parfum kayu cendana dan sedikit bau tembakau dari napas pria itu. Mereka mulai bergerak mengikuti irama waltz yang lambat.
"Kau tahu, Ghea," bisik Adrian tepat di telinga Ghea, membuat bulu kuduknya berdiri. "Dulu aku selalu membayangkan momen ini. Hanya kau dan aku, jauh dari dunia yang mencoba memisahkan kita. Di sini, tidak ada polisi korup, tidak ada pengkhianat. Hanya ada kebenaran kita sendiri."
Ghea melingkarkan tangannya di leher Adrian, sebuah gerakan yang membuat Adrian tampak terbuai. Ghea bisa merasakan otot punggung Adrian yang keras di bawah kain jasnya. "Aku mulai berpikir... mungkin kau benar. Mungkin dunia luar memang tidak sepadan untuk diperjuangkan."
Adrian tersenyum puas, sebuah senyuman kemenangan yang tampak tulus namun mengerikan. Ia memejamkan mata, membenamkan wajahnya di ceruk leher Ghea, menghirup aroma tubuh wanita itu seolah itu adalah candu.
Inilah saatnya.
Saat Adrian sedang terbuai dalam intimasi palsu itu, tangan kanan Ghea perlahan turun dari pundak Adrian. Gerakannya sangat halus, selembut desiran angin. Jemarinya merayap masuk ke dalam bukaan jas Adrian.
Napas Ghea tertahan. Setiap detak jantungnya terasa seperti dentuman drum di telinganya. Jika Adrian menyadarinya sekarang, semuanya berakhir.
Jari-jarinya menyentuh tepi kartu plastik yang dingin di dalam saku jas dalam Adrian. Dengan kecepatan dan ketepatan seorang detektif yang terbiasa mencopet barang bukti, Ghea menjepit kartu itu di antara jari tengah dan telunjuknya.
Tarik perlahan... sedikit lagi...
Cklek.
Suara piringan hitam yang habis dan jarumnya kembali ke posisi semula membuat Adrian sedikit tersentak. Ghea segera menarik tangannya keluar tepat saat kartu itu masuk ke dalam lipatan gaunnya yang lebar.
"Kenapa, Sayang? Kau gemetar?" tanya Adrian, menatap mata Ghea dengan tatapan yang menyelidik.
Ghea mengatur napasnya, mencoba memberikan tatapan yang paling rapuh yang ia miliki. "Aku hanya... gugup soal lusa. Menikah di tempat seperti ini, hanya denganmu... rasanya seperti mimpi yang tidak nyata."
Adrian tertawa kecil, suara tawa yang tenang namun dalam. Ia mengecup kening Ghea lama sekali. "Ini nyata, Ghea. Dan ini akan abadi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, atau apa pun, merusak hari kita."
Adrian melepaskan pelukannya, namun tangannya masih mengusap pipi Ghea. "Istirahatlah. Kau butuh tenaga untuk lusa. Bi Inah akan membantumu bersiap sejak pagi buta."
"Kau tidak akan ikut ke kamar?" tanya Ghea, sebuah pertanyaan pancingan untuk memastikan Adrian tidak akan menyadari sakunya kosong dalam waktu dekat.
"Aku harus memeriksa persiapan altar di taman sekali lagi. Aku ingin semuanya sempurna untukmu," jawab Adrian penuh pengabdian yang menyesatkan.
Ghea mengangguk patuh. Ia berbalik dan berjalan perlahan menuju kamarnya dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar kartu di balik gaunnya tidak jatuh. Begitu pintu kamarnya tertutup dan bunyi kunci otomatis terdengar dari luar, Ghea langsung merosot di balik pintu.
Ia mengeluarkan kartu perak itu dari balik gaunnya. Di bawah cahaya lampu tidur, kartu itu berkilau.
Kartu akses utama.
Ini bukan sekadar kunci pintu kamar, ini adalah kunci gerbang luar dan sistem keamanan sensor yang selama ini mengurungnya. Ghea mencengkeram kartu itu erat-hal di dadanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, tapi bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata amarah yang kini memiliki jalan keluar.
"Satu langkah lagi, Adrian," desis Ghea dengan tatapan mata yang kembali tajam seperti elang. "Besok malam, sebelum matahari lusa terbit, aku akan meninggalkan sangkar ini. Dan aku akan membawa semua bukti kegilaanmu bersamaku."
Ghea kemudian menyelipkan kartu akses itu di dalam jahitan bantalnya, tepat di samping kunci titanium yang sudah tajam. Dua senjata kini ada di tangannya. Ia kembali ke tempat tidur, menutup matanya, namun pikirannya mulai memetakan rute pelarian paling sunyi yang pernah dilakukan seorang manusia dari neraka bernama villa mewah ini.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....