Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu
Dengan senyum cerah, Anya menghampiri ibunya yang sedang asyik membaca buku di ruang utama, tanpa menyadari kehadiran Anya. "Ibu!" seru Anya dengan gembira sambil memeluk ibunya dari belakang.
Dewi terlonjak kaget dan langsung berbalik, membalas pelukan putrinya yang sangat ia rindukan. "Sayang, kenapa tidak memberi tahu Ibu dulu kalau mau datang?" tanyanya dengan nada lembut.
Anya melepaskan pelukannya dan menatap ibunya dengan ekspresi cemberut. "Kenapa aku harus memberi tahu Ibu? Apa aku sudah dianggap orang asing di rumah sendiri?" godanya.
Dewi tersenyum lebar, merasa gemas dengan tingkah anaknya. "Bukan begitu, Nak. Maksud Ibu, supaya Ibu bisa menyiapkan makanan kesukaanmu. Kalau kau datang tiba-tiba begini, Ibu kan belum sempat memasak apa-apa," jelasnya.
Anya tersenyum senang mendengar perhatian ibunya. "Tidak masalah, Bu. Nanti kita masak bersama saja. Aku juga ingin belajar resep rahasia dari Ibu," ujarnya dengan nada bersemangat.
Dewi merasa terharu melihat putrinya yang kini sudah beranjak dewasa. "Hmm, putri kecil Ibu sudah besar sekarang," ucapnya sambil membelai rambut Anya dengan lembut.
Saat Dewi mengalihkan pandangannya ke arah pintu, ia melihat Arga, menantunya, sedang berdiri ragu di ambang pintu. "Arga, kenapa tidak masuk? Mari sini," ajaknya dengan senyum ramah.
Dengan langkah riang, Arga menghampiri Anya dan Dewi. Ia berdiri di hadapan Dewi dan menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Arga kangen Ibu. Boleh Arga memeluk Ibu seperti Anya tadi?" tanyanya dengan nada polos dan penuh harap.
Dewi tersenyum melihat tingkah kedua orang ini yang lebih mirip anak-anaknya daripada pasangan suami istri. "Tentu saja boleh, Arga. Sini, peluk Ibu," ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya dengan penuh kehangatan.
Arga langsung memeluk Dewi dengan erat, melampiaskan rasa rindunya yang sudah lama terpendam. "Pelukan Ibu hangat sekali, Arga belum pernah merasakan pelukan sehangat ini seumur hidup Arga," ucapnya dengan polos, membuat hati Dewi terasa terenyuh dan sedikit perih.
Dengan penuh kasih sayang, Dewi mengusap punggung Arga dengan lembut, menenangkan hatinya yang terluka. "Sekarang Arga sudah tahu bagaimana rasanya pelukan hangat seorang ibu. Jadi, kapanpun Arga butuh pelukan, Ibu akan selalu siap memeluk Arga dengan sepenuh hati," ucapnya dengan tulus.
Anya hanya bisa mematung melihat keakraban Arga dan ibunya. Ia merasa sedikit iri, tetapi ia juga bersyukur melihat Arga akhirnya menemukan sosok ibu yang ia dambakan selama ini. Ia tahu betul, Arga sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu dalam hidupnya yang penuh dengan kekosongan.
Dewi melepaskan pelukannya dan menatap Arga dengan senyum tulus. "Arga memang anak yang baik dan manis. Tidak seperti Anya yang selalu mementingkan dirinya sendiri," ucap Dewi sambil melirik Anya dengan tatapan penuh makna.
Anya langsung memasang wajah cemberut. "Ibu, jangan membanding-bandingkan aku dengan Arga! Aku itu jarang sekali menangis, Bu. Tapi kalau Arga? Ibu tahu sendiri kan, dia itu cengeng sekali seperti anak kecil," ujarnya sambil menatap Arga dengan tatapan sinis.
Arga menekuk bibirnya, merasa tidak terima dengan ejekan Anya. "Itu semua salah Anya! Anya yang selalu usil dan menjahili Arga," protesnya dengan nada merajuk.
Anya membalas tatapan Arga dengan tatapan menantang. "Apa kau bilang? Kau sendiri yang selalu memancing emosiku! Kalau kau tidak membuatku jengkel, aku juga tidak akan mengganggumu!" balasnya dengan sengit.
Dewi tersenyum tipis melihat pertengkaran kecil itu. Ia merasa lega karena putrinya sepertinya sudah mulai membuka hati untuk pernikahannya. Meskipun ia masih ragu apakah putrinya sudah benar-benar mencintai Arga sebagai suaminya atau belum.
"Sudah, sudah, kalian ini seperti anak kecil saja yang sedang berebut mainan. Anya, kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada suamimu sendiri. Sebagai seorang istri, kamu seharusnya lebih sabar dan mengerti suamimu," ucap Dewi menengahi perdebatan mereka dan memberikan teguran lembut kepada Anya.
"Tapi, Bu—" Anya mencoba memberikan alasan, tetapi Dewi dengan tegas memotongnya. "Tidak ada alasan apapun, Anya. Arga itu adalah suamimu, jadi sudah menjadi kewajibanmu untuk menyayanginya." Kemudian, Dewi menatap Arga dengan senyum lembut dan penuh perhatian. "Arga, maafkan Anya ya, Sayang. Dia itu memang sedikit keras kepala dan susah diatur, tapi hatinya baik kok."
Dengan lembut, Arga meraih tangan Anya dan menggenggamnya erat, "Tidak apa-apa, Ibu. Anya memang sering seperti itu," ucapnya dengan senyum tulus yang mampu meluluhkan hati Dewi. "Tapi Arga yakin, jauh di dalam lubuk hatinya Anya itu sayang sekali sama Arga."
Anya langsung memutar bola matanya, merasa geli dengan ucapan Arga. Ia menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Arga. "Siapa bilang aku sayang sama kamu? Jangan terlalu percaya diri, deh!" sanggahnya dengan nada sinis.
Arga tersenyum lebar, tidak terpancing dengan ucapan Anya. "Arga tahu sendiri, kok. Kalau Anya memang tidak sayang sama Arga, kenapa Anya selalu menuruti semua keinginan Arga?" godanya dengan nada polos.
Anya mendesah kesal, merasa terjebak dengan perkataannya sendiri. "Kalau aku tidak menuruti ucapanmu, nanti yang ada kamu malah menangis meraung-raung seperti anak kecil," balasnya dengan nada sinis.
"Anya," tegur Dewi dengan tatapan tajam yang memperingatkan Anya untuk menjaga ucapannya.
Anya langsung terdiam dan menundukkan kepalanya, memasang wajah menyesal. "Maaf, Ibu," ucapnya dengan nada lirih.
"Sudahlah, sekarang ikut Ibu ke dapur. Kita akan memasak hidangan lezat untuk makan siang nanti," ajak Dewi sambil tersenyum hangat.
"Asyik! Memasak! Arga boleh ikut bantu memasak ya, Ibu?" seru Arga dengan gembira, merasa bersemangat untuk ikut serta.
"Tidak boleh! Kalau kau ikut memasak, nanti yang ada dapur Ibu malah kebakaran," tolak Anya dengan tegas sambil menatap Arga dengan tatapan memperingatkan.
Dewi tersenyum lembut sambil mengusap kepala Arga dengan sayang. "Arga sayang, di dapur itu banyak benda tajam dan berbahaya. Jadi, lebih baik Arga menonton TV saja sambil makan camilan yang enak, ya?" bujuknya dengan nada lembut.
Anya dan Dewi beranjak ke dapur, meninggalkan Arga sendirian di ruang tamu. Suasana di dapur terasa hangat dan nyaman, dipenuhi aroma rempah dan sayuran segar. Anya mulai membantu ibunya menyiapkan bahan-bahan masakan, mengikuti setiap instruksi yang diberikan Dewi dengan seksama. Meskipun awalnya merasa sedikit canggung karena jarang memasak, Anya sangat menikmati momen kebersamaan yang langka ini dengan ibunya.
Sementara itu, Arga dengan patuh menuju ruang tamu dan menyalakan televisi. Ia mencari saluran kartun kesukaannya, lalu duduk dengan nyaman di sofa sambil menikmati cemilan yang tadi dibelinya. Sesekali ia melirik ke arah dapur, merasa sedikit kesepian karena tidak bisa ikut membantu dan berkumpul bersama Anya dan Dewi.
"Anya, Ibu minta maaf sebesar-besarnya karena Ibu tidak bisa membantumu untuk membatalkan pernikahan yang tidak kamu inginkan," ucap Dewi tiba-tiba, memecah keheningan di dapur.
Anya yang sedang asyik memotong sayuran langsung berhenti mendengar ucapan ibunya. Ia menatap ibunya dengan tatapan lembut dan penuh pengertian. "Bukan salah Ibu, mungkin ini semua sudah menjadi takdir buat aku. Aku tidak menyesalinya kok, Bu," ucapnya dengan tulus.
Dewi tersenyum lembut, merasa bangga dengan kedewasaan putrinya. "Jadilah istri yang baik dan bertanggung jawab untuk suamimu, ya, Nak. Jangan pernah menyalahkan Arga atas semua masalah yang menimpa kalian. Dia tidak tahu apa-apa," ucap Dewi sambil membelai lembut pipi Anya dengan penuh sayang.
"Arga itu tidak bersalah, dia hanyalah anak polos yang berhati tulus. Ibu tahu, kamu pasti merasa lelah dan terbebani karena harus berurusan dengan Arga yang berbeda dengan kita. Tapi Ibu percaya, kamu bisa membimbingnya dan menjadi istri yang baik dan pengertian untuknya," lanjut Dewi dengan nada penuh harap.
Anya hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan ibunya, berusaha menyembunyikan kesedihan yang mendalam. "Ibu tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku, ya. Lebih baik Ibu memikirkan kesehatan Ibu sendiri. Lihatlah, tubuh Ibu terlihat sangat kurus sekarang," ucap Anya dengan suara bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mendengar ucapan tulus Anya, Dewi langsung mendekap tubuh putrinya dengan erat, meluapkan semua kerinduan dan penyesalan yang selama ini ia pendam. Seketika itu, air mata Anya tumpah ruah, membasahi bahu ibunya yang ringkih. "Mungkin Ibu memang sudah gagal menjadi seorang ibu yang baik untukmu, Sayang. Ibu sudah merusak masa depanmu, yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan dan kebebasan, tapi malah kamu korbankan demi menyelamatkan keluarga kita," ucap Dewi dengan nada pilu.