Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Pertama
Naura menatap pantulan dirinya di cermin.
Gaun biru navy yang Bi Ijah siapkan tadi pagi menempel sempurna di tubuhnya. Gaun mahal. Naura bisa merasakan dari bahannya yang lembut dan jahitan yang rapi. Tapi dia merasa seperti sedang pakai kostum. Seperti sedang menyamar jadi orang lain.
Makeup sudah di wajah. Tipis tapi cukup untuk menutupi mata bengkak hasil nangis tiga hari berturut turut sejak Naura nemuin foto Nathan dan Mahira. Rambut disanggul rendah. Anting mutiara di telinga. Sepatu hak tinggi yang bikin kakinya sakit tapi harus dipakai.
Malam ini ada makan malam keluarga besar Erlangga.
Richard yang ngundang. Nathan yang dipaksa datang. Dan Naura yang harus ikut sebagai istri.
Naura sudah coba tolak. Bilang dia tidak enak badan. Bilang dia tidak siap. Tapi Richard bersikeras. Bilang keluarga besar harus kenalan sama istri baru Nathan. Bilang ini penting untuk citra perusahaan.
Citra.
Selalu tentang citra.
Bukan tentang Naura yang gugup sampai mau muntah. Bukan tentang Naura yang belum pernah ketemu orang orang kaya seperti keluarga Erlangga. Bukan tentang Naura yang takut dipermalukan.
Ketukan di pintu.
"Naura. Kita berangkat sekarang"
Suara Nathan dari luar. Datar. Seperti biasa.
Naura membuka pintu.
Nathan berdiri di sana dengan tuxedo hitam sempurna. Rambut disisir rapi ke belakang. Wangi parfum mahal yang bikin kepala Naura sedikit pusing. Tampan. Sangat tampan sampai Naura harus mengalihkan pandangan karena dadanya sakit kalau lama lama menatap.
Nathan melirik Naura dari atas ke bawah. Sekilas. Tanpa ekspresi.
"Kita terlambat. Cepat"
Tidak ada pujian. Tidak ada komentar. Bahkan tidak ada reaksi kalau Naura cantik atau tidak.
Tentu saja. Kenapa Naura berharap?
Mereka turun tangga bersama. Jarak di antara mereka satu meter. Seperti orang asing yang kebetulan jalan bareng.
Di mobil, mereka duduk berjauhan. Nathan sibuk dengan ponselnya. Naura menatap jendela. Tidak ada percakapan. Hanya suara mesin mobil dan sesekali bunyi notifikasi ponsel Nathan.
Naura ingin bilang sesuatu. Apa aja. Cuma buat pecahin keheningan yang mencekik ini. Tapi mulutnya kering. Kata kata hilang sebelum sempat keluar.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di sebuah resto mewah. Tempatnya di lantai paling atas gedung pencakar langit. Pemandangan Jakarta dari atas terlihat seperti lautan lampu.
Nathan turun duluan. Bahkan tidak tunggu Naura. Tidak buka pintu buat Naura. Langsung jalan masuk.
Naura turun sendiri dengan hati sakit. Sopir yang buka pintu untuknya sambil tersenyum iba.
"Nyonya hati hati"
"Terima kasih Pak"
Naura masuk ke resto dengan kaki gemetar. Lantainya marmer mengkilap. Lampu kristal besar di langit langit. Meja meja ditata dengan taplak putih bersih dan peralatan makan yang pasti mahal.
Nathan sudah berjalan jauh di depan. Naura harus setengah berlari buat ngejar dengan sepatu hak tinggi yang nyiksa kaki.
Ruang VIP di ujung resto.
Richard sudah di sana berdiri di pintu menyambut. Senyumnya hangat saat melihat Naura. "Naura! Cantik sekali malam ini!"
Setidaknya ada satu orang yang ramah.
"Terima kasih Pak" Naura tersenyum paksa.
Richard merangkul bahunya lembut dan membawa Naura masuk.
Dan di dalam...
Naura hampir berhenti napas.
Meja panjang penuh dengan orang. Pria wanita dengan pakaian mewah. Perhiasan berkilau. Jam tangan branded. Tas branded. Semuanya. Mereka semua terlihat seperti orang orang di majalah fashion.
Dan mereka semua menatap Naura.
Menatap dari atas ke bawah.
Dengan tatapan... menilai.
Naura bisa merasakan tatapan tatapan itu seperti tusukan jarum di seluruh tubuh.
"Perkenalkan, ini Naura. Istri Nathan" Richard memperkenalkan dengan bangga.
Senyum senyum palsu muncul di wajah wajah itu.
"Oh ini istrinya Nathan?"
"Cantik ya"
"Dari mana asalnya?"
"Bekerja di mana sebelumnya?"
Pertanyaan bertubi tubi. Naura belum sempat jawab satu, sudah muncul pertanyaan lain.
Nathan duduk di ujung meja. Tidak membantu. Tidak membela. Bahkan tidak menatap Naura.
Naura duduk di samping Nathan dengan kaku. Punggungnya tegak. Tangan dilipat di pangkuan untuk sembunyikan gemetar.
Makan malam dimulai.
Makanan disajikan. Sup. Salad. Steak. Semuanya kelihatan enak tapi Naura tidak ada selera. Perutnya mual karena nervous.
"Jadi Naura, kamu dari keluarga mana?" seorang wanita paruh baya bertanya. Wajahnya penuh makeup. Bibirnya merah menyala. Matanya tajam seperti elang.
"Saya... saya dari Jakarta Bu. Keluarga biasa aja" Naura menjawab pelan.
"Biasa?" wanita itu tertawa. Tawa yang terdengar meremehkan. "Biasa seperti apa? Ayahmu pengusaha?"
"Ayah saya... sudah meninggal sejak saya kecil Bu"
"Oh. Jadi cuma tinggal dengan ibu? Ibumu kerja apa?"
Kenapa pertanyaannya seperti interogasi?
"Ibu saya ibu rumah tangga"
"Ohhh..." wanita itu mengangguk sambil melirik wanita lain di seberang. Mereka saling pandang dengan senyum tipis yang artinya Naura tidak mengerti tapi pasti tidak baik.
"Jadi Nathan... dari mana kamu ketemu gadis ini?" wanita itu bertanya pada Nathan sekarang. Nada bicaranya berubah. Lebih lembut. Lebih manis.
Nathan meletakkan sendok garpunya. Wajahnya datar. "Dijodohkan keluarga"
"Dijodohkan? Wah romantis sekali!" wanita itu tertawa lagi. "Tapi biasanya perjodohan kan sesama pengusaha. Sesama keluarga terpandang. Ini... agak unik ya?"
Naura menunduk. Pipinya panas. Malu. Sangat malu.
Mereka meremehkannya.
Mereka pikir Naura tidak pantas jadi istri Nathan.
Dan Nathan... Nathan diam saja. Tidak membela. Tidak bilang apa apa.
"Bibi Sarah, Naura istri yang baik. Saya yang menjodohkan mereka" Richard mencoba membantu.
Tapi Bibi Sarah tidak peduli. "Iya iya Richard. Tapi kamu tahu kan masa depan Erlangga Group? Kita butuh menantu yang bisa bantu bisnis keluarga. Yang punya koneksi. Yang punya nama. Bukan..."
Dia melirik Naura dengan pandangan meremehkan.
"Bukan gadis biasa yang tidak tahu apa apa tentang bisnis"
Naura menggigit bibir dalam dalam. Mata sudah mulai panas. Jangan nangis. Jangan nangis di sini.
"Naura pintar kok. Dia desainer berbakat" Richard mencoba lagi.
"Desainer?" Bibi Sarah tertawa. "Oh Tuhan Richard. Desainer pemula dengan gaji pas pasan mau bandingkan dengan pengusaha yang omzetnya miliaran? Ini lucu sekali"
Tawa tawa lain menyusul. Mereka semua tertawa.
Naura merasa seperti badut.
Seperti lelucon.
Seperti orang yang tidak seharusnya ada di sini.
Nathan masih diam.
Masih sibuk dengan steak di piringnya.
Seperti tidak peduli istrinya sedang dipermalukan.
Karena memang Nathan tidak peduli.
Naura bukan istri beneran.
Cuma kontrak.
"Aku dengar ibumu sakit keras ya Naura?" tiba tiba ada suara lain. Seorang wanita muda. Cantik dengan rambut panjang lurus. Senyumnya manis tapi matanya tidak.
"I... iya..."
"Operasi jantung ya? Pasti mahal sekali biayanya" wanita itu melanjutkan. Nadanya pura pura iba tapi Naura tahu itu sindiran.
"Untung Nathan kaya ya? Bisa bantu bantu biaya"
Hening.
Semua orang menatap Naura.
Mereka tahu.
Mereka semua tahu Naura nikah karena butuh uang.
Air mata Naura mulai berkumpul di pelupuk mata.
Jangan jatuh. Kumohon jangan jatuh.
"Sudahlah. Jangan bahas hal hal sedih. Ini makan malam keluarga. Harus senang" Richard mencoba alihkan topik.
Tapi kerusakan sudah terjadi.
Naura sudah dihakimi.
Sudah dicap sebagai penggali emas.
Sebagai gadis miskin yang manfaatin Nathan.
Sisa makan malam berlangsung seperti siksaan. Naura cuma duduk diam. Tidak makan. Tidak bicara. Cuma menunduk sambil sesekali seka air mata yang hampir jatuh.
Nathan tidak pernah lihat ke arahnya.
Bahkan sekali pun.
Seperti Naura tidak ada.
Seperti Naura hanya bayangan.
Jam sepuluh malam makan malam selesai.
Naura langsung berdiri. Permisi dengan suara pelan yang nyaris tidak kedengaran.
Keluar dari ruangan itu secepat mungkin dengan kaki yang udah mau copot karena sepatu hak.
Di parkiran, Naura bersandar di mobil. Napasnya tersengal sengal. Air mata yang ditahan sejak tadi akhirnya pecah.
Jatuh deras.
Sangat deras.
Naura menutup mulut dengan tangan biar tidak teriak. Tapi isakan tetap keluar. Bahunya bergetar keras.
Kenapa harus sesakit ini?
Kenapa mereka harus sejahat itu?
Kenapa Nathan tidak membela?
Kenapa Nathan biarkan Naura dipermalukan seperti itu?
Sepuluh menit kemudian Nathan keluar. Dia berjalan ke mobil dengan santai. Seperti tidak terjadi apa apa.
Melihat Naura menangis, Nathan berhenti sebentar.
Lalu masuk ke mobil tanpa bilang apa apa.
Naura mengusap air matanya kasar. Masuk ke mobil juga.
Mobil melaju dalam keheningan.
Naura masih terisak pelan. Mencoba berhenti tapi tidak bisa. Air mata terus mengalir seperti ada sumbernya sendiri.
"Jangan cengeng"
Suara Nathan tiba tiba.
Dingin.
Datar.
"Kau dibayar mahal untuk ini"
Naura berhenti napas.
Kata kata itu seperti tamparan.
Seperti ditampar keras di pipi.
Dibayar mahal.
Iya.
Naura dibayar satu miliar buat jadi istri kontrak.
Dibayar buat dihina.
Dibayar buat dipermalukan.
Dibayar buat jadi bahan tertawaan.
Tapi tetap saja...
Tetap saja sakit.
Tetap saja menyakitkan.
Naura mengusap air matanya. Kali ini lebih keras. Sampai pipinya merah.
Dia menatap jendela mobil.
Menatap pantulan wajahnya di kaca.
Mata bengkak. Pipi basah. Makeup luntur.
Berantakan.
Seperti hidupnya.
Tapi di situ Naura membuat keputusan.
Keputusan yang dia bisikkan dalam hati.
Tidak akan pernah lagi.
Tidak akan pernah lagi Naura menangis di depan Nathan.
Tidak akan pernah lagi Naura tunjukkan kelemahan di depan pria ini.
Kalau Nathan mau istri kontrak yang profesional, Naura akan jadi itu.
Kalau Nathan mau istri yang tidak punya perasaan, Naura akan jadi itu.
Kalau Nathan mau istri yang cuma boneka, Naura akan jadi itu.
Tidak akan ada lagi air mata.
Tidak akan ada lagi harapan.
Tidak akan ada lagi usaha untuk jadi istri baik.
Naura akan diam.
Akan hidup seperti bayangan.
Seperti yang Nathan mau.
Mobil sampai di mansion.
Naura turun duluan. Masuk ke rumah. Langsung naik ke kamar tanpa lihat Nathan.
Di kamar, Naura melepas gaun itu. Melepas makeup. Melepas semua yang membuat dia terlihat seperti Nyonya Erlangga.
Dan menatap pantulan dirinya di cermin.
Naura Davina.
Gadis biasa.
Gadis miskin.
Gadis yang jual diri untuk uang.
Tapi mulai malam ini...
Mulai malam ini Naura tidak akan menangis lagi.
Tidak akan berharap lagi.
Tidak akan sakit lagi.
Karena hati yang sudah mati rasa tidak bisa disakiti.
Naura berbaring di ranjang dengan mata terbuka menatap langit langit.
Tidak ada air mata.
Tidak ada isakan.
Hanya kekosongan.
Kekosongan yang mengisi dada.
Kekosongan yang mungkin akan bertahan selamanya.
Dan di kamar sebelah, Nathan duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk.
Tangannya mengepal erat.
Dia dengar Naura menangis di mobil tadi.
Dia lihat air mata Naura.
Dia tahu kata katanya menyakiti.
Tapi dia tidak boleh peduli.
Tidak boleh lembek.
Karena kalau Nathan mulai peduli...
Kalau Nathan mulai merasa kasihan...
Kalau Nathan mulai melihat Naura sebagai manusia bukan kontrak...
Semuanya akan berantakan.
Rencana akan hancur.
Mahira akan pergi lagi.
Dan Nathan tidak bisa kehilangan Mahira.
Tidak bisa.
Jadi Nathan harus tetap dingin.
Harus tetap kejam.
Harus tetap membuat jarak.
Meski di dalam dadanya ada sesuatu yang mulai retak.
Sesuatu yang berbisik:
kamu terlalu kejam.
Tapi Nathan bungkam bisikan itu.
Bungkam dengan semua kekuatan yang dia punya.
Karena di dunia Nathan...
Hanya ada satu wanita.
Mahira.
Dan tidak ada tempat untuk wanita lain.
Bahkan untuk Naura yang mulai sakit karena dia.
Bahkan untuk Naura yang menangis karena dia.
Bahkan untuk Naura yang perlahan hancur karena dia.