NovelToon NovelToon
Belenggu Setelah Pernikahan : Terobsesi Kamu Season 2

Belenggu Setelah Pernikahan : Terobsesi Kamu Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Pelakor
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Drezzlle

Terobsesi Kamu Season 2


Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.

Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.

Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.

Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.

"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.

"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.

Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rantai Pernikahan

"Ma-ma ... mau ini," celoteh gemas Anggi seketika memecah lamunan Vira yang sempat berkelana jauh. Balita mungil itu menunjuk sisa spageti yang mulai mendingin di atas meja dengan jari-jari kecilnya yang menggemaskan.

Vira tersentak, lalu menatap wajah tulus putri bungsunya. Perasaan sesak yang tadi menghimpit dadanya perlahan mencair. Ia mengangguk lembut, menyendokkan makanan itu dengan penuh kasih. "Enak, ya? Anggi mau lagi? Punya Kak Chika masih banyak nih," ucap Vira sembari menarik kembali piring yang sebelumnya disingkirkan dengan kasar oleh putri sulungnya.

Melihat Anggi yang makan dengan lahap, raut wajah Vira yang semula mendung kini berubah menjadi cerah. Ada kebahagiaan sederhana yang membuncah saat melihat balita itu menerima masakan tangannya dengan tangan terbuka.

"E-nak, Ma ... mau lagi," oceh Anggi sembari membuka mulutnya lebar-lebar, menanti suapan berikutnya dari sang mama.

William yang duduk di hadapan mereka tak bisa menahan senyum. Ia bangkit dari kursinya, melangkah mendekat, lalu mengusap lembut puncak kepala Anggi dengan bangga. "Pintar anak Papa dan Mama," ucapnya lembut.

Namun, tak berhenti di situ, tangannya beralih mengusap puncak kepala Vira. "Pintarnya istriku ini, jadi makin sayang. Rasanya Papa ingin cium dua-duanya sekarang."

Tanpa peringatan, William mengecup pipi istrinya kilat sebelum mendaratkan pagutan singkat di bibir Vira.

Vira terbelalak, segera menepis tangan suaminya dengan wajah bersemu merah. "Modus!" gerutunya ketus.

William terkekeh keras melihat wajah sang istri yang kesal.

Kehangatan itu perlahan meresap ke dalam jiwa Vira. Senyum manis dan celoteh polos Anggi bagaikan oase yang menyejukkan di tengah gersangnya hati seorang wanita yang sedang tertatih mencoba beradaptasi. Di antara tuntutan mertua yang kaku dan sikap dingin Chika, Vira menemukan alasan untuk terus bertahan.

'Setidaknya, satu malaikat kecil ini, telah membuatku menemukan tempat sebagai seorang ibu' Monolog Vira sambil menatap putri kecilnya.

Setelah selesai menyuapi sang putri, Vira beralih membereskan piring kotor menuju dapur. "Sayang, Chika minta ayam goreng. Apa kita perlu belanja ke supermarket dulu?" tanya Vira meminta saran.

William mendekat, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Vira, mengekor manja seperti anak kecil di belakang punggung istrinya. "Nggak perlu repot, sudah kupesan lewat daring. Sebentar lagi juga sampai," jawabnya santai.

"Lepaskan dulu, aku mau mencuci piring."

William berdecak kesal.

"Kau ini kenapa rajin sekali? Tadi memasak, sekarang mau mencuci piring. Tinggalkan saja, biar Bibi yang mengurusnya nanti saat dia datang," ujar William sembari menepis pelan tangan istrinya agar berhenti sibuk.

Detik berikutnya, ia langsung membopong tubuh Vira dengan sigap.

"Liam! Lepaskan! Malu dilihat Suster dan Anggi!" bisik Vira panik.

Bukannya menuruti, William justru memberikan instruksi pada pengasuh putrinya. "Sus, bawa Anggi ke kamar. Temani dia main agar tidak rewel."

"Baik, Pak," jawab Suster segera menggendong Anggi dan menuju ke kamar.

William menaiki anak tangga satu per satu sembari menatap dalam wajah Vira yang berada di dekapannya.

"Bagaimana kalau Mama lihat?" bisik Vira khawatir, kedua tangannya melingkar erat di leher William sambil matanya waspada melirik ke kanan dan kiri.

"Biarkan saja. Mama juga pasti paham urusan pengantin baru," sahut William mempercepat langkah menuju kamar.

"Papa mau bawa Tante Vira ke mana?" Suara ketus yang hobi mengusik itu kembali menghentikan langkah William sejenak. Chika berdiri di ujung lorong dengan wajah cemberut.

"Aish ... anak itu benar-benar pengganggu," desis William frustrasi. Tanpa menjawab pertanyaan putrinya, ia segera memutar kenop pintu dan menguncinya rapat-rapat.

"Papa!" seru Chika dari luar, diikuti suara derap langkah kaki yang mendekat ke arah pintu.

William merebahkan tubuh Vira di atas ranjang, lalu melompat ke sampingnya dan segera menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua. "Abaikan saja dia, nanti juga bosan sendiri," ujar William sembari menangkup telinga Vira, seolah ingin menyaring kebisingan dari luar.

Vira tak bisa menahan tawa melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya.

"Waktunya menikmati 'permainan' kita yang tertunda," bisik William dengan gerakan kilat melepas kancing blouse istrinya dan melempar kain itu ke sembarang arah.

"Tidaaak!" Vira berseru manja dalam tawa saat suaminya mulai melancarkan serangan kecupan.

"Diam, sayang," bisik William segera meraup bibir istrinya.

Di luar kamar, ketukan pintu dan teriakan Chika yang memanggil Mama dan Papanya terus bersahutan, namun semua itu tenggelam oleh kemesraan sepasang suami-istri yang tengah hanyut dalam asmara di balik selimut.

.

.

Sore itu, Vira segera bersiap untuk pulang ke rumah. Ia mendekati kedua putrinya, mendaratkan kecupan di pipi Anggi dan Chika secara bergantian.

"Mama pergi dulu sebentar, kita bertemu besok di rumah ya, Sayang," ucap Vira lembut.

"Terserah saja," jawab Chika cuek. Wajahnya ditekuk, tersirat rasa kesal yang tak disembunyikan. Gadis belia itu menghentakkan kakinya ke lantai sebelum berlalu masuk ke dalam kamar tanpa menoleh lagi.

Namun, reaksi berbeda datang dari si bungsu. "Ma-ma ... ikut!" rengek Anggi, merentangkan kedua tangan mungilnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Vira menggendongnya sejenak, mencoba menenangkan. "Anggi bersama Suster dulu ya? Besok kita bertemu lagi."

Huaaa!

Tangis Anggi pecah seketika. "Ti-dak mau! Ikut Mama!" Balita itu memeluk leher Vira dengan sangat erat, menolak dilepaskan meski sang pengasuh sudah mencoba membujuknya dengan mainan kesukaan.

"Bagaimana, Sayang? Apa sebaiknya kau pulang hari Minggu saja?" usul William, tampak pasrah dan tak tega melihat putri bungsunya menangis histeris.

Vira terdiam. Pelukan erat Anggi yang gemetar di lehernya membuat hatinya tergetar. Ada rasa kasih yang mulai tumbuh, namun ada juga kerinduan yang mendalam pada ayahnya yang sedang sakit.

"Kau kan sudah jadi ibu mereka. Prioritaskan anak-anak dulu, baru mengurus hal yang lain," sahut Inneke tajam. Wanita itu muncul dari kamar dengan koper di tangan, siap berangkat menuju bandara.

Vira terpaku di tempatnya. Kata-kata mertuanya terasa seperti rantai yang tiba-tiba mengikat kakinya, membuatnya tak berani membuka suara.

"Kalau butuh pakaian, tinggal beli, Vira. Jangan dibuat pusing. Lagi pula, Mama lihat penampilanmu memang butuh banyak perbaikan," cecar Inneke tanpa memedulikan raut wajah menantunya yang mulai kecewa.

"Monic baru saja menelepon, dia bilang malu punya adik ipar yang penampilannya berantakan. Apa Ibu dan Ayahmu terlalu pelit untuk membelikanmu pakaian layak? Kau pernah bekerja, kan? Di kantor, di rumah, di mana pun ... kau harus stylish. Jangan seperti ini, memalukan."

Inneke melangkah menuruni tangga dengan angkuh, lalu segera memerintahkan sopirnya untuk bersiap. Ia pergi begitu saja setelah menghantam hati Vira dengan ucapan yang merendahkan harga diri keluarganya.

Vira menelan pahit di tenggorokannya. Hinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada tangisan putri kecilnya. Ia menatap William yang hanya diam, lalu menghela napas panjang seolah membuang sisa-sisa harapannya untuk pulang.

"Aku ikut ke Jakarta saja sekarang, Sayang," ucap Vira akhirnya. Suaranya terdengar datar, sebuah keputusan pahit demi menjaga martabat dan meredam tangis putri sambungnya.

"Kamu yakin sayang?" tanya William.

Vira mengangguk perlahan, lalu berbalik dengan cepat. Sambil membetulkan posisi Anggi dalam dekapannya, ia menunduk, bertarung dengan sesak di dada demi menyembunyikan genangan air mata yang sudah di ambang batas.

Bersambung...

1
kusuma ningsih
ceritanya sangat menarik sehingga yg membacanya tertawa emosi.. /Angry//Angry//Angry//Angry/
Drezzlle: Terimakasih kak, semoga berujung tertawa bahagia ya 🙏🤣
total 1 replies
Rain
😭😭 Gue ngga bisa bayangin vira bangun dari pingsan diomelin inneke mending kt gua lu hijrah ke arab cari juragan minyak drpd sma si will kgk bsa ngatasin sundel satu itu citya
Drezzlle: sabar buk 😩
total 1 replies
suryani duriah
siular sirubah silampirhadeeh kesal bgt2😡ada cctv ini nenek mudah bgt ditipu udah will suruh david eksekusi eeeh sabar2😁😁😁
suryani duriah: semangat👍👍
total 4 replies
D'Mas0712
astaga.. duh nenek lampir kurang ajar. dasar gila
D'Mas0712
pasti si vira jadi dilema. antara menjadi anak atau seorang istri
Vanilla Ice Creamm
awas aja kl vira mati, ya thor 😏
Drezzlle: paling lumpuh 🤣😒
total 1 replies
Icha sun
bener2 gak waras si cyntia, William bakalan ngamuk nih
Addb_Rh
Dan Vira pun mulai munjukkan tanduknya.. eh taringnya, eh cakarnya..

🤣🤣semuanya aja lah
Addb_Rh: menunjukkan mksdnya😌
total 1 replies
Addb_Rh
mama mertuanya, ih innalillahi bgt. Jadi pen ku jorogin. Ikut campur bgt ngatur-ngatur. heeeey🙄
Adyvi
Setidaknya Chika liat, jadi dia tahu kejadian yang sesungguhnya 🥲
Adyvi
Takutnya kalau punya mertua kek gitu 🙈 jadi berasa berdosa karena gabisa ngurusin ortu dikala sakit, hiks.
Rain
Sundal.. kurang puas thor mending cewe ky gtu diunyeng unyeng dulu minimal beberpa rambut botak lah ya😌 Klo ada apa2 sm vira apa iya William kgk naik darah😌😌 Yg bingung si chika knapa msih seneng aja ama cintiaa dh tau ini manusia stgh hewan😭
Drezzlle: Kan udah berubah sedikit tuh bocah 🤣
total 1 replies
Aruna02
si ineke kenapa sih malah miara si Cintia dah tau anak nya udah nikah 😏
Drezzlle: karena nggak punya piaraan yang bisa menjilat seperti Cyntia 🤣🤣🤣
total 1 replies
suryani duriah
weeeh cintya bakalan masuk hotel prodeo ato pindah alam🤔vira wanita kuat moga nggak apa2 awas yaa thor jgn dibikin patah2😏😁😁👍
Drezzlle: aamiin 🤲

nggak jamin ya kalau tulang nggak patah mungkin kepalanya memar 🤣
total 1 replies
Jun
/Sob//Sob//Sob/ jangan bilang Vira mati dan si uler jadi mama baru thor
Drezzlle: bisa jadi 🤣🤣
total 1 replies
Alessandro
siklus hormonal emg gk bs ditebak sih, kdg bs dtg lbh cpt atau lbh lambat.

mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭
Alessandro
pak will, berhub istrimu newbie.. jgn gaya yg aneh2, konvensional aja dl spy nyaman.. kl ud pro, baru deh side-back, fellatio, 69, cowgirl, cunnilingus, helikoper atau spiderman
Alessandro: insting 😏
total 2 replies
Alfatia🌷
Chintya, lintah darat emang🔪🔪
Alfatia🌷
Arghhh... nikah sama laki-laki banyak duit, tapi lingkungannya rumit.
Drezzlle: enak kan yg penting banyak duit
total 1 replies
Aruna02
lagian si wiliam banyak duit kok masih tinggal sama orang tua sih
Drezzlle: ya kan dia duda ada ada anak 2, apalagi cuma tinggal ada ibu doang. pastilah pengen nglindungin ibunya apa lupa pas Miranda nyulik Anggi.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!