NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pengorbanan Siti Aisyah

Malam semakin pekat di dalam gua rahasia bawah tanah hutan Durian Berduri. Cahaya obor rombongan hanya mampu menerangi dinding berlumut hijau kehitaman dan genangan air hitam yang kini kembali tenang setelah ilusi sungai darah runtuh.

Udara lembab dan dingin menyelimuti tubuh mereka, bercampur bau kemenyan yang kini terasa lebih ringan, seperti hembusan napas seseorang yang mulai kehabisan tenaga.

Di ujung gua, sosok Nenek Gerandong melayang samar—rambut kelabu panjangnya mengapung seperti rumput laut busuk di arus lambat, daster putih kotornya basah menempel di tubuh kurus penuh luka bakar, matanya merah yang tadi menyala ganas kini redup, berkedip pelan seperti bara api yang hampir habis.

Rombongan besar berdiri diam di belakang Daeng Tasi, napas mereka tertahan. Sari Wangi memegang lengan suaminya erat, matanya basah tapi penuh tekad. Kang Mamat dan Bang Jaim memegang botol air suci dan daun lontar berisi mantra doa, siap melantunkan lagi kalau ilusi muncul kembali. Pak Kades, Kang Asep, Kang Ujang, dua hansip, dan warga lain berdiri membentuk setengah lingkaran, obor di tangan mereka bergoyang pelan karena angin bawah tanah yang tak terlihat.

Siti Aisyah maju selangkah, tubuhnya gemetar tapi langkahnya mantap. Kebaya merah tipisnya menempel di kulit kuning langsat karena lembab gua, jarik batik putih motif coklatnya basah di bagian bawah, menonjolkan lekuk pinggul dan payudara montok yang naik turun cepat karena napas berat. Rambut hitam panjangnya disanggul, beberapa helai menempel di leher dan bahu. Ia tak membawa senjata—hanya tasbih kayu jati di tangan kanan, dan hati yang sudah siap membayar harga apa pun.

“Mbah Saroh...” panggilnya pelan, suaranya bergema lembut di gua. “Aku datang lagi. Sendirian, seperti malam itu. Aku tahu kau dengar doa kami di masjid. Aku tahu kau lihat pengorbananku di hutan. Dendammu mulai lunak... tapi aku tahu kau masih ragu. Malam ini... aku tawarkan lagi diriku. Ambil aku. Tukar dengan kedamaian desa. Kembalikan semuanya—jiwa-jiwa yang kau simpan dalam ilusi, bayi-bayi yang kau ambil, dan... hatimu sendiri. Biarkan kau istirahat.”

Nenek Gerandong tak bergerak dulu. Matanya merah berkedip pelan, seperti sedang menimbang. Suaranya akhirnya terdengar—serak, lelah, tapi masih membawa nada dingin yang tersisa. “Kau berani sekali, anakku. Kau sudah bayar dengan tubuhmu malam itu. Kau layani Nyai Biawak demi bayi-bayi. Tapi... itu belum cukup. Dendamku lahir dari luka yang lebih dalam. Dan Raja Biawak... dia masih haus.”

Siti Aisyah menelan ludah, tapi matanya tak berkedip. “Aku tahu. Aku rasakan nafsunya malam itu. Tapi aku siap bayar lagi kalau itu yang dibutuhkan untuk akhiri ini.”

Tiba-tiba angin menderu keras di dalam gua. Air hitam di tengah ruangan bergolak hebat, seperti sungai yang bangkit dari tidur. Dari kedalaman air itu, sosok Nyai Biawak muncul perlahan—tubuhnya setengah manusia setengah biawak air raksasa, sisik hijau kehitaman berkilau licin oleh air sungai purba, mata kuning vertikal menyala ganas, mulut lebar penuh gigi runcing terbuka lebar, ekor panjang bergoyang menciptakan riak besar. Bau amis belerang dan lumpur purba menyengat hidung semua orang.

Nyai Biawak tertawa—tawa gemuruh seperti air terjun yang menghantam batu. “Siti Aisyah... kau datang lagi. Tubuh molekmu masih kuingat. Kulit kuning langsatmu, payudaramu yang montok, pinggulmu yang lebar... aku ingin lagi. Tapi kali ini... aku ingin dua. Sari Wangi juga. Aku lihat dia di sungai sore tadi—tubuhnya lebih subur, lebih hangat. Aku ingin nikmati kalian berdua sampai puas. Di sini... di kedalaman ini... sampai jiwa kalian lelah.”

Sari Wangi tersentak, tangannya memegang lengan Daeng Tasi lebih erat. “Tidak... aku tidak mau...”

Daeng Tasi maju, badik sakti di tangan. “Kau tak akan sentuh mereka.”

Raja Biawak tertawa lagi, ekornya menyambar cepat ke arah Siti Aisyah dan Sari. Sebelum siapa pun bereaksi, ekor itu melingkar di pinggang kedua perempuan itu, menarik mereka ke dalam air hitam. Jeritan Sari dan Siti Aisyah bergema di gua. Air menyambar tubuh mereka, jarik batik basah menempel ketat, kebaya merah Siti Aisyah robek di bahu memperlihatkan kulit kuning langsat yang berkilau air.

***

Tak ada waktu untuk berpikir. Dari kedalaman gua, suara gemuruh naik. Air hitam bergolak lagi, dan ratusan pasukan siluman biawak muncul dari genangan—makhluk-makhluk setengah manusia setengah biawak kecil, tubuh bersisik hijau kehitaman, mata kuning menyala, cakar panjang dan ekor berduri bergerak lincah. Mereka bersenjata cakar tajam dan ekor yang bisa menyambar seperti cambuk, jumlahnya ratusan, memenuhi gua seperti kawanan serangga raksasa yang haus darah.

“Blokade!” teriak Daeng Tasi. “Mereka coba halangi kita! Lindungi diri!”

Pertarungan tak bisa dielakkan. Pasukan siluman menyerbu dari segala arah. Kang Asep menebas golok Ciomasnya ke arah tiga siluman yang menyambar, bilah lebar itu memotong sisik dan ekor, darah hitam menyembur seperti tinta. Bang Jaim menyemprotkan air suci sambil melantunkan mantra keras, membuat beberapa siluman melemah dan memudar seperti asap. Kang Mamat dan hansip menebas dengan golok dan tombak bambu, tapi jumlah musuh terlalu banyak—cakar menyambar lengan salah satu warga, ekor menusuk bahu hansip yang lain.

Daeng Tasi berjuang maju, badik sakti di tangan kanan menebas cepat. Ia melihat Siti Aisyah dan Sari ditarik ke terowongan gelap di ujung gua Raja Biawak yang kini muncul lagi, tubuh raksasanya menyeringai. “Nen! Sari!” jeritnya.

Kang Asep berlari di sampingnya, golok Ciomas berputar seperti angin ribut. “Kita harus kejar! Istri kita!”

Mereka berdua menebas pasukan siluman yang menghalangi—cakar siluman menyambar lengan Daeng Tasi, meninggalkan goresan berdarah, tapi badik sakti memotong ekor yang menyambar balik. Kang Asep menghantam kepala siluman dengan gagang golok, lalu menebas dua ekor yang mencoba melilit kakinya. Darah hitam siluman berceceran di lantai gua, bau amis belerang semakin kuat.

Bang Jaim berteriak dari belakang, “Kak Daeng! Air suci mulai habis! Mantra doa harus lebih kuat!”

Daeng Tasi dan Kang Asep terus maju, badik dan golok Ciomas berputar seperti badai kecil di tengah ratusan siluman. Mereka hampir mencapai terowongan gelap tempat Nyai Biawak menarik Siti Aisyah dan Sari, tapi pasukan siluman semakin banyak—mereka muncul dari dinding gua, dari genangan air, dari celah batu—seperti banjir makhluk gaib yang tak ada habisnya.

Siti Aisyah dan Sari menghilang ke kegelapan terowongan, jeritan mereka samar-samar terdengar. Daeng Tasi menjerit nama istrinya, Kang Asep memanggil Siti Aisyah dengan suara pecah. Pertarungan semakin sengit—darah manusia bercampur darah hitam siluman, obor jatuh dan api kecil menyala di lantai basah.

Di ujung terowongan gelap, tawa gemuruh Raja Biawak bergema lagi: “Kalian terlambat... tubuh molek mereka akan jadi milikku malam ini... sampai puas...”

Rombongan terus bertarung, tapi jalan ke terowongan semakin tertutup oleh gelombang siluman biawak. Daeng Tasi dan Kang Asep berjuang mati-matian, tapi jumlah musuh terlalu banyak. Mereka tahu: pertarungan ini baru permulaan. Dan di kegelapan itu, Siti Aisyah dan Sari sedang menghadapi nasib yang lebih mengerikan dari kematian.

***

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!