NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #18: Naik

Gudang itu telah menjadi neraka.

Debu reruntuhan atap masih mengepul, bercampur dengan bau anyir darah Jiangshi yang membusuk.

"Astaga, Apa-apa semua ini? Dasar pembunuh bayaran tidak berguna. Kegagalan kalian menyebabkan kekacauan yang terjadi sekarang ini."

Jo Chil-sung menggerutu. Dia merasa kesal karena pengiriman Jiangshi ini seharusnya akan menjadi pengiriman terakhirnya sebelum akhirnya cuci tangan dari dunia penyelundupan. "Harus bagaimana aku menjelaskan ke pelanggan?" ujarnya.

Suara Jo Chil-sung rendah, tapi getarannya membuat dada orang lain sesak.

Auranya meledak.

Peak First-Rate.

Ini adalah ranah di mana tubuh manusia dan Qi hampir mencapai kesempurnaan fana. Dinding batu bisa dirobek seperti kertas. Itulah ranah Jo Chil-sung sekarang.

Dihadapannya, Baek Mu-jin, seorang First-Rate jenius dari Wudang, maju menghadang.

"Yun-gyeom! Bawa Saudara Geun dan Min-seok keluar! Orang ini... levelnya berbeda!"

"Terlambat. Kepala kalian akan menjadi bukti untuk menjelaskan situasi ke pelanggan kami."

Jo Chil-sung menghilang.

Bukan dengan sihir, tapi dia bergerak begitu cepat hingga mata biasa tidak bisa menangkapnya.

TRANG!

Baek Mu-jin terlempar mundur. Pedang Jian birunya bergetar hebat.

Sabit kembar Jo Chil-sung telah mengait pedang itu, dan tendangan Jo Chil-sung menghantam dada Mu-jin.

"Ugh!" Mu-jin memuntahkan darah segar. Tulang rusuknya retak.

"Senior!" teriak Min-seok.

Sebelum Mu-jin sempat mengatur napas, Jo Chil-sung sudah ada di depannya lagi. Sabitnya menari seperti baling-baling maut.

Mu-jin menangkis sekuat tenaga, menggunakan teknik Taiji untuk membelokkan serangan.

Tapi ada batasan pada teknik.

Jika sebuah batu seberat satu ton dijatuhkan, teknik selembut kapas pun akan hancur.

BUAGH!

Pertahanan Mu-jin jebol. Siku Jo Chil-sung menghantam pelipis Mu-jin.

Murid muda kebanggaan Wudang itu ambruk ke lantai, tak sadarkan diri.

"Senior Baek!" teriak Geun dari pojokan. Matanya melotot. "Woy! Bangun! Kau jaminan hidupku!"

Jo Chil-sung menoleh perlahan ke arah Geun.

Matanya yang sipit kini dipenuhi urat merah kegilaan.

"Kau..." tunjuk Jo Chil-sung dengan dagunya. "Kalau saja Si Botak tidak berguna itu membunuhmu di awal, semua ini tidak akan terjadi."

Geun mundur, punggungnya menabrak tembok gudang.

"Tunggu, Tuan... Kita bisa bicara. Aku punya uang. 102 tael! Aku balikin tokennya!"

"Aku tidak butuh uangmu. Aku butuh nyawamu untuk menenangkan klienku."

WUSH!

Jo Chil-sung menerjang.

Geun mencoba menghindar dengan refleks menggunakan penglihatan matanya. Dia melihat serangan itu datang. Dia tau kapan dan dimana serangan itu akan meluncur melalui aliran energi yang dilihatnya.

Tapi, melihat dan bereaksi adalah dua hal berbeda. Tubuhnya yang hanya Second-Rate, terlalu lambat untuk bisa bereaksi. Perbedaan ranah mereka sangat jauh.

SREET!

Sabit itu menyabet dada Geun.

Darah muncrat. Untungnya, Geun sempat memundurkan badannya sedikit, jadi jantungnya tidak terbelah. Tapi luka itu panjang dan dalam, memperlihatkan tulang rusuk.

"ARGH!" Geun menjerit, jatuh berguling.

Jo Chil-sung kemudian menendang perut Geun.

DUAGH!

Geun melayang menabrak tumpukan peti kayu. Rasanya seperti ditabrak banteng. Tulang punggungnya berderak ngeri. Dia muntah darah hitam.

Dia tidak bisa bangun. Tubuhnya remuk.

Jo Chil-sung berjalan mendekat, menyeret sabitnya di lantai.

"Kau menghancurkan karirku, Bocah. Sekarang aku akan mengulitimu hidup-hidup."

Geun terbatuk, darah memenuhi mulutnya.

Dunia meredup.

"Mati... Sial. aku beneran akan mati kali ini..." batinnya.

Namun, di ambang kematian itu, penglihatan Geun tidak mau padam. Justru semakin terang.

Geun menatap Jo Chil-sung yang berjalan mendekat. Dia melihat "mesin" di dalam tubuh Jo Chil-sung.

Itu bukan lagi sekadar pompa jantung seperti pemimpin bandit Gang-dol.

Tubuh Peak First-Rate Jo Chil-sung adalah sebuah Pusaran Air Bertekanan Tinggi.

Setiap inci otot, setiap ruas tulang, setiap tetes darahnya dipadatkan oleh energi internal. Energi itu tidak hanya mengalir, tapi juga membanjiri seluruh wadah tubuh sampai ke titik jenuh, membuat kulitnya keras dan tenaganya meledak-ledak.

"Dia kuat karena wadahnya penuh... Mungkin.."bpikir Geun di tengah kesadarannya yang memudar.

"Wadahku... kosong dan bocor."

Otak Geun, yang didorong oleh ketakutan insting purba akan kematian, mengambil kesimpulan gila.

"Karena aku tidak punya waktu untuk menambal wadah... aku harus membanjirinya sekaligus biar penuh,"

Geun menatap udara di sekitarnya.

Gudang itu penuh dengan debu, bubuk mesiu, bau darah, dan Qi Alam yang kotor.

Praktisi ortodoks seperti Wudang hanya menyerap Qi murni dari pegunungan.

Praktisi sesat menyerap Qi dari ritual darah.

Tapi Geun... Geun adalah gelandangan. Gelandangan memakan apa saja yang ada di tong sampah.

"Brengsek, bela diri sialan..." umpat Geun dalam hati. "Aku ambil semuanya."

Geun memejamkan mata.

Dia tidak melakukan meditasi.

Dia melakukan Bunuh Diri Biologis.

Dia mengontraksikan seluruh otot di tubuhnya secara serentak. Mulai dari jantung, paru-paru, lambung, diafragma, kemudian menciptakan vakum raksasa di dalam tubuhnya.

Dia membuka paksa setiap pori-pori kulitnya dengan meregangkan saraf tepi.

"MASUK!!"

VWOOOM!

Bukan hisapan halus. Itu adalah penyedotan paksa

Udara di dalam gudang berputar. Debu, kotoran, hawa kematian Jiangshi, dan Qi alam yang liar tersedot masuk ke dalam tubuh Geun seperti air terjun yang menjebol bendungan.

Tanpa filter, tanpa pemurnian, dan tanpa Dantian yang siap.

Tubuh Geun menjerit. Bukan mulutnya, tapi tubuh Geun itu sendiri. Suaranya bukan lagi suara yang bisa dihasilkan manusia.

Pembuluh darah di seluruh tubuhnya menonjol, berwarna hitam kebiruan.

Matanya yang tadinya merah, kini menjadi Hitam Pekat dengan pupil merah menyala di tengahnya.

Tubuh kurusnya menggelembung sesaat, lalu memadat kembali dengan suara krek tulang yang dipaksa membengkak.

Dia tidak naik ranah dengan cara normal.

Dia memperkaos alam untuk memberinya kekuatan.

Dia masuk ke Ranah Peak First-Rate.

Jo Chil-sung berhenti. Langkahnya tertahan.

Bulu kuduknya berdiri.

"Aura apa ini...? Kotor sekali? Apa-apaan?"

Geun bangkit berdiri.

Linggis berkarat di tangannya bergetar. Aura yang menyelimutinya bukan biru atau hijau.

Warnanya cokelat kehitaman, keruh, berpasir, dan berbau seperti besi terbakar.

Geun merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Dia ingin sekali berlari dan melompat ke air es untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa sangat panas. Namun, dia tidak bisa melakukannya. Prioritasnya saat ini adalah bertahan hidup.

Geun menerjang.

Tanpa teknik langkah. Dia hanya meledakkan otot kakinya sampai tanah di bawahnya amblas.

BLAM!

Dia muncul di depan Jo Chil-sung dalam sekejap mata.

Jo Chil-sung panik, menyilangkan sabit kembarnya untuk menangkis.

Geun mengayunkan linggisnya.

Hantaman itu kasar. Brutal.

KRAAAK!

Sabit baja Jo Chil-sung patah. Hancur berkeping-keping.

Kekuatan Geun bukan memotong, tapi meremukkan. Energi kotornya yang berat menimpa senjata lawan.

"Apa-apaan ini?" teriak Jo Chil-sung, tangannya mati rasa.

Geun tidak berhenti.

Dia membuang linggisnya yang sudah bengkok total.

Dia menerjang tubuh Jo Chil-sung, memeluknya, dan menjatuhkannya ke lantai.

Geun duduk di atas perut Jo Chil-sung.

Dia mengangkat tinjunya yang diselimuti energi hitam-keruh.

"MATI! MATI KAU BRENGSEK! GARA-GARA KAU AKU JADI TERLIBAT DUNIA SIALAN INI!"

BUM! BUM! BUM!

Setiap pukulan menghancurkan tulang wajah Jo Chil-sung. Energi pelindung Peak First-Rate-nya hancur berantakan dihantam energi kasar Geun.

Darah muncrat ke wajah Geun, tapi dia tidak berkedip. Dia terus memukul, memukul, dan memukul sampai wajah Jo Chil-sung tidak lagi berbentuk wajah. Sampai kepalanya menyatu dengan lantai batu.

Jo Chil-sung mati, kepalanya hancur lebur.

Geun mengangkat tangannya untuk pukulan terakhir, tapi tubuhnya terlalu sakit untuk digerakkan. Adrenalin nya sudah habis.

"Uhuk!" Geun memuntahkan segumpal darah hitam kental.

Otot-ototnya yang dipaksa menampung Qi kotor itu mulai robek dari dalam. Kulitnya melepuh.

Dia terguling jatuh dari atas mayat Jo Chil-sung, terkapar di lantai.

Gudang itu sunyi kembali.

Seo Yun-gyeom dan Jang Min-seok, yang terluka di pinggir ruangan, menatap pemandangan itu dengan horor murni.

Mereka melihat energi hitam kotor yang perlahan menguap dari tubuh Geun.

Mereka melihat kebrutalan yang tidak memiliki setitik pun kehormatan bela diri.

"Itu..." bisik Min-seok, bibirnya pucat. "Itu... Itu apa? Aku tidak pernah mendengar ada sesuatu seperti itu..."

Pintu gudang didobrak.

Pasukan penjaga kota dan regu pendukung Wudang akhirnya masuk.

Mereka melihat pemandangan neraka itu. Jiangshi yang dimutilasi, Jo Chil-sung yang kepalanya hancur, dan seorang pemuda kurus berlumuran darah hitam yang tergeletak di tengah-tengahnya.

Seorang Tetua Luar Sekte Wudang yang memimpin pasukan mendekat. Dia memeriksa nadi Geun, alis putihnya berkerut dalam.

"Meridiannya hancur berantakan. Dantiannya retak. Tapi ada energi aneh yang menopang hidupnya..." gumam Tetua itu. "Anak ini... dia memakan Qi alam mentah-mentah dan selamat? Tidak, dari awal, bagaimana bisa Qi alam masuk ke tubuh manusia?"

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!