Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. INTEROGASI DAN KESETIAAN
Udara di ruang tamu utama kediaman Ravens menegang seketika.
Bukan karena ancaman senjata.
Bukan pula karena suara teriakan.
Melainkan karena satu pria, Duke Alaric Ravens yang berdiri tegak dengan bahu kaku, mata setajam bilah pedang, dan aura dingin yang menekan seluruh ruangan.
Cassian Verdan masih berdiri di tempatnya, satu tangan terangkat setengah seolah menyerah, senyum canggung tertahan di wajahnya. Ia terbiasa menghadapi raja bayangan, pemimpin guild, dan para pembunuh bayaran, namun menghadapi Duke Ravens dalam posisi seperti ini, jelas bukan sesuatu yang ia perkirakan.
Alaric melangkah satu langkah maju.
"Siapa kau?" tanya Alaric dingin.
Cassian membuka mulut, namun belum sempat menjawab ....
"Ya, ciapa kau? Dali mana?" sela Rowan dari gendongan Alaric, menunjuk Cassian dengan jari kecilnya. "Mau apa ke cini?"
Alaric tidak menoleh. "Kenapa kau datang ke kediamanku?"
"Namanya ciapa?" Rowan mencondongkan tubuh ke depan. "Datang cama ciapa?"
Gideon yang berdiri tak jauh dari pintu refleks menepuk dahinya.
Astaga, satu Duke saja sudah cukup, kenapa sekarang ditambah bentuk kecil-nya lagi, batin Gideon melihat kelakuan paman dan keponakan itu.
Cassian terkekeh kecil, berusaha tetap tenang. "Aku-"
"Apa hubunganmu dengan istriku?" potong Alaric tajam. "Dari wilayah mana? Siapa yang mengirimmu? Apa tujuanmu datang ke sini?"
"Dan," Rowan menambahkan cepat, "Paman jahat apa tidak?"
Cassian terdiam. Ia menatap Rowan, lalu Alaric, lalu kembali ke Rowan.
"Aku rasa ini interogasi paling intens yang pernah kualami," ucap Cassian.
Alaric tidak tersenyum. "Jawab," perintahnya.
Rowan mengangguk setuju. "Jawab."
Gideon mendekat pelan ke sisi Liora, lalu berbisik dengan suara sangat rendah, "Nyonya, haruskah aku membawa Duke pergi sebentar agar Anda bisa mengobrol dengan tamu Anda?"
Liora melirik Alaric, lalu Rowan,.lalu Cassian yang kini tampak lebih terhibur daripada terancam.
Liora menahan senyum, melihat Cassian yang gelagapan.
"Boleh," jawab Liora lembut. "Aku memang ada perlu dengan tamu ini."
Gideon mengangguk. "Apa yang harus kukatakan pada Duke?"
"Bilang saja," Liora berujar tenang, "Cassian ini kenalan lamaku. Seorang pedagang lintas wilayah. Dia sering membawakan pesananku, obat-obatan dan kain."
Cassian menunduk sopan, seolah mendukung cerita itu sepenuhnya. Jelas ia dapat mendengar bisikan itu dengan baik, karena pendengaran pria itu cukup tajam.
Gideon berbalik pada Alaric. "Yang Mulia, mungkin akan lebih baik bila Anda-"
"Aku tidak pergi," potong Alaric cepat.
"Lowan juga!" Rowan memeluk leher Alaric lebih erat. "Paman ini menculigakan!"
Alaric tersenyum, "Anak pintar."
Cassian mengangkat alis. "Aku ... tersinggung?"
Liora akhirnya angkat bicara. "Alaric. Rowan." Suaranya lembut, tapi cukup untuk membuat keduanya menoleh. "Boleh aku bicara dengan tamuku sebentar?"
Alaric menatap Liora lama.
Wajah Duke itu menunjukkan konflik jelas, antara kepercayaan dan naluri protektif yang sulit dikendalikan.
Rowan mendahului, "Lilola, paman itu menculigakan."
Liora benar-benar harus menahan diri untuk tidak tertawa. Terlebih ketika ia melihat ekspresi Cassian yang tampak bingung, jelas tidak pernah ada dalam rencana hidupnya dikatai 'mencurigakan' oleh bocah cadel.
Liora berdeham pelan. "Dia orang baik. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah khawatir."
Rowan menatap wajah Liora yang tersenyum. Lama. Seolah menilai kejujuran di sana.
Lalu bocah memutar tubuhnya sedikit ke arah Cassian dan menatap pria itu tajam.
"Paman," kata Rowan serius, "kalau nakal sama Lilola, aku culuh Gideon macukan Paman ke kandang kuda."
Ruangan hening.
Cassian mengangkat kedua tangannya. "Baik. Baik. Aku janji tidak akan nakal."
"Bagus," ujar Rowan puas.
Alaric menghela napas, lalu kembali menatap Liora. "Kau yakin akan baik-baik saja?"
"Aku akan baik-baik saja," jawab Liora mantap. "Dia kenalan baikku. Aku juga ingin bertanya soal racun itu."
Alaric mengernyit. "Racun?"
"Yang membuat tubuhku seperti ini," lanjut Liora tenang.
Tatapan Alaric mengeras seketika. Namun setelah beberapa detik, ia mengangguk.
"Panggil aku jika ada apa-apa," kata Alaric.
Liora mengangguk.
Alaric berbalik, membawa Rowan dalam gendongannya, diikuti Gideon dan Sasa yang menunggu di balik pintu.
Begitu pintu tertutup ...
Senyum Liora lenyap.
Ia mengangkat sedikit ujung gaunnya, melangkah cepat, dan ....
BRAKK!
Tendangan Liora menghantam tulang kering Cassian tanpa ampun.
"Aduh!" Cassian meringis. "Ketua! Apa-apaan itu?!"
"Aku yang seharusnya bertanya," Liora melipat tangan di dada, wajahnya kesal. "Kenapa kau datang ke sini tanpa mengabariku?"
Cassian mengusap kakinya, lalu tersenyum lebar. "Aku hanya ingin memastikan keadaan Ketua. Kau selalu diperlakukan buruk di kediaman Count. Aku dan yang lain takut kau diperlakukan sama di sini."
"Aku baik-baik saja," jawab Liora datar. "Seperti yang kau lihat. Mereka semua baik padaku."
Cassian mengangguk. "Aku bisa lihat itu. Aku justru tidak menyangka Duke yang dingin itu sangat protektif terhadapmu."
"Jujur," Liora mendengus pelan, "aku juga terkejut. Mereka tidak melihatku buruk sama sekali di sini."
"Sudah kukatakan," Cassian menyeringai tipis, "Count dan orang-orang di dalamnya memang bermasalah."
Liora menghela napas. "Jadi. Katakan padaku tujuanmu datang ke sini. Aku yakin kau tidak sebodoh itu mendatangi kediaman Ravens tanpa alasan."
Wajah Cassian berubah serius.
"Count Montclair melakukan transaksi dengan Kerajaan Viremont," kata Cassian.
Liora terkejut. "Kau yakin?"
"Aku sangat yakin," jawab Cassian mantap. "Informan terbaik kita melihat pergerakan mencurigakan dari Count. Dan saat diikuti ternyata Count bertemu seseorang di penginapan di pinggiran wilayahnya. Saat ditelusuri, orang itu tangan kanan Raja Viremont."
Liora mengepalkan jarinya. "Ini gila, Tidak hanya menggelapkan pajak, dia juga berkomplot dengan negara musuh.”
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Cassian.
"Aku harus memberitahu Kaisar," jawab Liora cepat. "Tapi sebelum itu, carikan bukti valid kerja sama Count dengan Viremont."
Cassian mengangguk. "Baik. Akan kulakukan. Tapi bukankah akan lebih baik jika kau memberitahu Duke juga? Jika perang tercetus, dia akan berada di garis depan."
Liora terdiam.
"Aku tidak yakin dia akan percaya," ucap Liora lirih. "Jika aku memberitahu ... maka aku harus membuka siapa diriku. Dan kelompok kita."
Cassian mengangguk paham. "Itu keputusanmu. Tapi ingat, kesetiaan kami hanya untuk Aurelion, untukmu seorang. Apa pun yang kau putuskan kami akan selalu mengikutimu."
Liora menatapnya, lalu mengangguk. "Terima kasih.”
"Dan satu lagi," lanjut Liora. "Tubuhku jadi seperti ini karena racun dari wilayah timur. Digunakan untuk menggemukkan ternak. Aku ingin kau cari tahu penawarnya, dan bagaimana Countess bisa mendapatkannya.”
Cassian menunduk hormat. "Apa?! Racun?"
Liora mengangguk. "Aku juga terkejut soal ini. Aku mungkin terlalu meremehkan Countess."
"Akan aku cari tahu sesegera mungkin. Countess seperti memang mengincarmu dari awal," kata Cassian.
Liora menghela napas lega. "Benar. Dan Sampaikan pada yang lain aku baik-baik saja. Dan jangan datang seenaknya ke sini lagi."
Cassian tertawa kecil. "Baiklah. Tapi kau harus berkunjung ke markas. Kami ingin merayakan Duchess baru kami."
Liora tersenyum. "Jika ada waktu yang tepat."
Mereka berdua masih bercengkerama untuk banyak hal.
Namun mereka tidak tahu ....
Di balik pintu, Gideon berdiri diam.
Tatapannya tajam.
Dan pikirannya sudah bergerak lebih cepat dari siapa pun di ruangan itu.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣
semoga Alaric baik² saja, othor membuyku menangis lagi 😭
ommoooo