Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Langkah Pertama Dunia
Nama itu tidak menyebar lewat teriakan.
Ia berpindah dari mulut ke mulut dalam suara rendah, di sela napas, di balik tenda, di sudut penginapan yang bau arak basi dan keringat tua.
“He Zhan mati.”
Kalimat itu pertama kali terdengar di sebuah pos peristirahatan kecil di tepi tanah tandus. Angin membawa debu halus yang menggesek kulit seperti pasir tajam. Seorang kultivator bebas menghentikan langkahnya saat mendengar nama itu. Tangannya yang tengah menuang air ke mulut berhenti di udara.
“Siapa yang membunuhnya?” tanya seseorang.
“Hah,” jawab yang lain, pendek. “Katanya… seorang pendiri sekte kecil.”
Tawa pendek terdengar, cepat dan tanpa beban. Seseorang menyemburkan air dari mulutnya. “He Zhan? Pemimpin kelompok itu? Dibunuh sekte kecil?”
Tidak ada yang langsung membantah. Tapi tawa itu tidak bertahan lama.
Nama berikutnya disebut lebih pelan.
“Xu Tian.”
Suara angin kembali mengambil alih. Beberapa orang saling pandang. Ada yang mengerutkan kening, mencoba mengingat. Ada yang menggeleng, tidak peduli. Tapi satu orang, seorang pria berambut kusam dengan bekas luka tipis di leher, menunduk sedikit.
“Nama itu,” katanya pelan. “Aku pernah dengar.”
“Di mana?”
“Beberapa tahun lalu. Sekte Awan Giok.”
Percakapan itu berhenti di sana. Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Nama Sekte Awan Giok bukan sesuatu yang diucapkan sembarangan di wilayah ini.
—
Di jalur perdagangan yang lebih ramai, seorang pedagang artefak menutup kotak kayunya setelah mendengar cerita yang sama. Tangannya berhenti sejenak di pengait logam. Dinginnya merambat ke telapak.
“He Zhan mati?” gumamnya, lebih ke diri sendiri.
Pembelinya mengangkat bahu. “Katanya begitu. Mayatnya bahkan tidak sempat dibawa pulang.”
Pedagang itu tidak tersenyum. Ia memutar kunci kotak dengan lebih hati-hati dari biasanya. “Kalau itu benar,” katanya pelan, “berarti ada yang berubah.”
“Berubah apa?”
“Batas,” jawabnya singkat.
—
Di tempat lain, di sebuah ruangan tanpa jendela yang hanya diterangi lampu batu roh, seorang wanita duduk dengan punggung lurus. Rambutnya hitam dan diikat rapi. Di depannya, sebuah meja rendah penuh dengan gulungan tipis dan token informasi.
Yu Shuang menyentuh salah satu gulungan dengan ujung jarinya.
“He Zhan,” bacanya tanpa suara. “Tewas. Lokasi: perimeter sekte baru. Nama sekte… Langit Abadi.”
Ia menarik gulungan lain. “Pendiri: Xu Tian.”
Lampu batu roh berdenyut pelan, memantulkan cahaya dingin di matanya. Yu Shuang tidak menunjukkan perubahan di wajahnya. Tapi jarinya berhenti sejenak sebelum meletakkan gulungan itu ke sisi lain meja.
“Ancaman?” tanya seseorang dari balik bayangan.
“Belum,” jawab Yu Shuang. Suaranya datar. “Tapi aktifkan pencatatan.”
Seseorang bergerak. Bunyi kuas menyentuh kertas terdengar pelan, ritmis.
“Nilai hadiah?”
Yu Shuang berpikir sejenak. Ia mengingat laporan singkat itu. Pertempuran cepat. Pembunuhan efisien. Tidak ada saksi berlebihan. Tidak ada pesan yang ditinggalkan.
“Rendah,” katanya akhirnya. “Untuk sekarang.”
Lampu berdenyut lagi. Nama itu ditulis. Xu Tian. Sekte Langit Abadi.
Tidak ada cap merah. Belum.
—
Di wilayah lain, sekelompok kultivator bebas duduk mengelilingi api kecil. Kayu kering berderak, baunya tipis tapi tajam. Salah satu dari mereka memutar tombaknya, ujungnya memantulkan cahaya api.
“Kalau benar He Zhan mati,” katanya, “berarti sekte itu berani.”
“Berani atau bodoh,” sahut yang lain.
Seorang wanita dengan jubah abu-abu menatap api tanpa berkedip. “Hadiah akan muncul.”
“Dan kau tertarik?”
Ia mengangkat bahu. “Aku tertarik pada informasi.”
Api menyala lebih tinggi sesaat sebelum angin meredamnya.
—
Nama itu bergerak lebih jauh.
Ia mencapai telinga orang-orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di tanah tandus. Ia sampai ke meja-meja batu yang permukaannya dingin dan bersih.
Di Sekte Awan Giok, pagi masih muda. Kabut tipis menggantung di antara pilar-pilar giok. Gao Chengyun berdiri di depan jendela terbuka, tangannya di belakang punggung. Udara pagi membawa aroma pinus dan batu basah.
Seorang murid masuk dan berlutut. Nafasnya teratur, tapi langkah sebelumnya sedikit terlalu cepat.
“Ketua Sekte,” katanya. “Laporan dari luar.”
Gao Chengyun tidak berbalik. “Bicara.”
“He Zhan telah tewas.”
Kabut bergerak perlahan di luar jendela. Gao Chengyun tetap diam.
“Pelakunya,” lanjut murid itu, “adalah pendiri Sekte Langit Abadi. Namanya Xu Tian.”
Ada jeda singkat. Gao Chengyun menutup matanya, hanya sesaat.
“Pergi,” katanya.
Murid itu menunduk dan mundur.
Langkah berikutnya terdengar lebih berat. Mo Jian masuk tanpa perlu diumumkan. Tetua Disiplin itu berdiri di sisi ruangan, tangannya tersembunyi di lengan jubah.
“Nama itu muncul lagi,” kata Mo Jian.
“Ya,” jawab Gao Chengyun. Ia membuka mata. “Lebih cepat dari yang kita perkirakan.”
Mo Jian tidak langsung bicara. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti. “Sekte kecil,” katanya. “Fondasinya rapuh.”
“Namun berani,” balas Gao Chengyun.
Keheningan jatuh. Kabut di luar jendela mulai menipis, memperlihatkan puncak-puncak batu yang tajam.
“Tekanan simbolis tidak cukup,” kata Mo Jian akhirnya.
Gao Chengyun mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Tidak ada perintah yang diucapkan keras. Tapi arah pembicaraan sudah jelas.
—
Jauh dari sana, di Sekte Langit Abadi, Xu Tian berdiri di tepi formasi. Tanah masih menyimpan bekas retakan lama. Udara terasa berbeda. Lebih padat. Seolah ada lapisan tipis yang menekan dari atas.
Xu Tian menghela napas perlahan. Qi bergerak mengikuti, tapi tidak sepenuhnya patuh. Ada gangguan kecil. Seperti riak di air tenang.
Ia membuka mata.
Chen Yu sedang melatih gerakan dasar beberapa langkah di belakang. Gerakannya kaku, tapi fokus. Xu Tian memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.
Tekanan itu tidak datang dari satu arah. Bukan niat membunuh yang jelas. Lebih seperti pandangan jauh, samar, tapi menetap.
Panel sistem muncul singkat di tepi kesadaran.
[Perhatian Eksternal: Meningkat]
Xu Tian tidak menutupnya segera. Ia berdiri diam sampai panel itu memudar sendiri.
Angin bertiup melewati formasi. Cahaya qi bergetar lemah.
Xu Tian tahu, tanpa perlu diberi tahu, bahwa sesuatu telah bergerak di luar jangkauan pandangannya. Tidak cepat. Tidak tergesa. Tapi pasti.
Ia melangkah mundur dari formasi dan berbalik ke arah bangunan inti sekte.
Langkah Sekte Langit Abadi telah keluar dari bayangan.
...
Meja batu itu dingin.
Mo Jian meletakkan gulungan terakhir dengan rapi di sisi kiri, sejajar dengan yang lain. Tidak ada cap merah, tidak ada tanda peringatan mencolok. Hanya nama, lokasi, dan satu baris keterangan singkat. Gao Chengyun berdiri di seberang meja, memandangi susunan itu tanpa menyentuh apa pun.
“He Zhan,” ucap Gao Chengyun. Suaranya rendah. “Bukan orang yang ceroboh.”
Mo Jian mengangguk. “Dia tidak mati karena kecerobohan.”
“Lalu?”
“Dia mati karena salah menilai,” jawab Mo Jian. “Dan karena kita membiarkan celah.”
Gao Chengyun memalingkan pandangannya ke jendela. Kabut pagi telah terangkat sepenuhnya. Puncak giok berdiri jelas, garisnya tegas di bawah cahaya matahari awal.
“Xu Tian seharusnya berhenti di sana,” kata Gao Chengyun. “Atau hancur perlahan.”
Mo Jian tidak menyela. Ia menunggu.
“Namun sekarang,” lanjut Gao Chengyun, “namanya beredar tanpa kita menggerakkannya.”
Mo Jian menggeser satu gulungan sedikit ke tengah. “Balai Bayangan Hitam sudah mencatat.”
Gao Chengyun berbalik. “Nilai?”
“Rendah,” jawab Mo Jian. “Tapi aktif.”
Gao Chengyun menutup matanya sesaat. Ketika membukanya kembali, sorot matanya datar. “Tekanan simbolis tidak lagi relevan.”
Mo Jian mengangkat kepala sedikit. “Utusan tingkat bawah hanya akan menjadi pengorbanan.”
“Dan kebisingan,” tambah Gao Chengyun.
Keheningan menyelimuti ruangan. Dari luar, terdengar langkah murid yang lewat, teratur dan jauh.
“Kita kirim yang lebih tinggi,” kata Gao Chengyun akhirnya. “Tanpa pengumuman.”
Mo Jian mengangguk. “Nama?”
Gao Chengyun menyebut satu nama. Pendek. Tidak diikuti gelar. Nama itu cukup.
Mo Jian menerima keputusan itu tanpa komentar. Ia berbalik dan melangkah keluar. Pintu batu menutup dengan suara tumpul.
Di dalam ruangan, Gao Chengyun tetap berdiri. Tangannya mengepal perlahan di balik lengan jubah, lalu mengendur.
—
Di tempat lain, jauh dari pilar giok dan kabut teratur, sebuah ruangan bawah tanah diterangi cahaya redup. Dindingnya kasar. Udara berbau besi dan tinta tua.
Yu Shuang berdiri di depan rak kayu berisi token. Tangannya berhenti di satu keping kecil tanpa ukiran rumit.
“Pergerakan dari Awan Giok,” kata seseorang dari balik bayangan.
“Tidak diumumkan,” jawab Yu Shuang. “Berarti serius.”
“Hadiah dinaikkan?”
“Belum.”
Yu Shuang mengembalikan token ke tempatnya. “Tunggu.”
Seseorang tertawa pendek. “Kau yakin?”
Yu Shuang menoleh. “Nama itu belum cukup mahal,” katanya. “Tapi jalurnya jelas.”
Lampu berdenyut. Bayangan bergerak.
—
Di jalur berbatu yang jarang dilalui, seorang pria berjalan sendirian. Jubahnya sederhana, warnanya pudar. Tidak ada simbol sekte di mana pun. Langkahnya ringan, nyaris tidak meninggalkan jejak.
Ia berhenti sejenak di atas bukit rendah. Dari sana, hamparan tanah tandus terbentang. Di kejauhan, formasi samar terlihat seperti kilau tipis di udara.
Pria itu menatap lama. Angin menyibakkan ujung jubahnya.
“Langit Abadi,” gumamnya.
Ia melangkah turun tanpa tergesa.
—
Kembali di Sekte Langit Abadi, sore merayap pelan. Cahaya matahari memantul di batu-batu formasi, memberi kilau hangat yang tidak sepenuhnya menenangkan.
Xu Tian berdiri di halaman inti. Tangannya menyentuh batu formasi terluar. Permukaannya dingin, sedikit bergetar.
Getaran itu bukan dari dalam.
Xu Tian menarik tangannya. Ia memandang sekeliling. Murid-murid bergerak dalam jarak pandang. Chen Yu sedang membersihkan senjata latihan, keringat tipis membasahi pelipisnya. Gerakannya berhenti ketika Xu Tian melangkah mendekat.
“Guru,” sapa Chen Yu. Suaranya rendah.
Xu Tian mengangguk. “Perkuat jadwal penjagaan.”
Chen Yu tidak bertanya. “Baik.”
Xu Tian berbalik menuju bangunan inti. Setiap langkahnya mantap. Di dalam dadanya, qi bergerak lebih lambat dari biasanya. Bukan karena lelah. Karena tekanan halus yang belum menemukan bentuk.
Panel sistem muncul sekilas.
[Status: Konflik Eksternal Aktif]
Xu Tian menatap ke depan, tidak mengubah langkah. Panel itu memudar tanpa suara.
Di dalam ruangan, Xu Tian duduk bersila. Ia menutup mata, merentangkan kesadaran ke batas formasi. Ada riak kecil di tepi. Seperti sesuatu yang lewat, terlalu jauh untuk disentuh, terlalu dekat untuk diabaikan.
Xu Tian membuka mata.
Ia berdiri dan berjalan ke pintu. Dari ambang, ia memandang langit yang mulai memerah. Burung-burung terbang rendah, jalurnya tidak teratur.
“Sudah dimulai,” gumamnya.
—
Di Sekte Awan Giok, malam turun dengan rapi. Lentera dinyalakan satu per satu. Mo Jian berdiri di balkon batu, memandang ke arah yang sama seperti pagi tadi, kini gelap.
Utusan itu telah berangkat.
Mo Jian menutup jubahnya lebih rapat. Tidak ada rasa lega. Hanya kesinambungan.
—
Di jalur yang sama, pria berjubah sederhana berhenti lagi. Kali ini lebih dekat. Formasi Langit Abadi tampak jelas, garisnya kasar, belum matang.
Ia tersenyum tipis. Senyum itu tidak hangat.
“Menarik,” katanya pelan.
Ia melangkah maju.
—
Di Sekte Langit Abadi, malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Xu Tian berdiri di puncak tembok rendah, memandang keluar. Angin membawa aroma tanah kering dan sesuatu yang lain—tipis, asing.
Ia tidak bergerak ketika Chen Yu mendekat dan berhenti beberapa langkah di belakang.
“Guru,” kata Chen Yu. “Ada sesuatu?”
Xu Tian tidak menoleh. “Perintahkan murid lain untuk tetap di dalam batas formasi malam ini.”
Chen Yu mengangguk. “Baik.”
Ketika Chen Yu pergi, Xu Tian tetap berdiri. Tangannya menggenggam tepi batu. Teksturnya kasar, nyata.
Di kejauhan, sesuatu bergerak. Tidak cepat. Tidak tersembunyi. Seolah dunia sengaja membiarkannya terlihat, samar.
Xu Tian menghembuskan napas pelan.
Sekte Langit Abadi telah melangkah ke dunia.
Dan dunia—tanpa suara, tanpa peringatan—mulai menutup jarak.