NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Di dalam kamar rawat inap, Kenan terbaring dengan tubuh setengah miring. Perban putih membalut punggung dan bahunya, selang infus terpasang di tangan kiri. Monitor di samping tempat tidur berbunyi pelan, menandakan detak jantungnya stabil meski belum sepenuhnya normal.

Mami Amara berdiri di samping ranjang, menatap wajah putranya yang pucat. Tangannya gemetar saat merapikan rambut Kenan yang sedikit berantakan.

“Ken…,” bisiknya lirih. “Kamu ini… bikin Mami hampir nggak bisa napas.”ucap Mami Amara sendu.

Papi Bas berdiri di belakangnya, meletakkan tangan di bahu sang istri, berusaha memberi kekuatan meski wajahnya sendiri terlihat

tegang.

“Yang penting sekarang dia stabil, Mi,” ucap papi Bas pelan. “Kita doain aja biar pemulihannya cepat.”

Tak lama kemudian, Bisma masuk ke kamar dengan membawa map medis. Ia menatap Kenan sejenak sebelum beralih ke kedua orang tua Kenan.

“Om, Tante,” sapa Bisma sopan.

“Bagaimana hasilnya, Bis?” tanya Mami Amara, suaranya penuh harap.

Bisma membuka map tersebut. “Untuk sementara, kondisi Kenan sudah aman. Tidak ada cedera tulang belakang atau organ vital. Tapi ada robekan cukup dalam di punggung dan bahu, jadi dia harus benar-benar istirahat. Minimal beberapa minggu kedepan.” Jelasnya.

“Beberapa Minggu?” Mami Amara menghela napas berat. “Dia itu orangnya nggak bisa diam,Bis. Kamu tau sendiri gimana sahabat kamu ini,Nak.”ucap Mami Amara.

Bisma tersenyum tipis. Ia sangat mengenali sahabat nya ini. “Iya tante. Makanya nanti harus ada yang ngawasin ketat. Kalau dia nekat, lukanya bisa terbuka lagi.”

Papi Bas mengangguk mantap. “Soal itu serahkan sama,Om. Om tau siapa yang bisa buat duda ini patuh. "ucap papi Bas.

Bisma menutup map. “Satu lagi, Om. Kenan mengalami syok cukup berat. Trauma soal darahnya kambuh. Kalau nanti dia sadar dan terlihat gelisah, tolong segera panggil Alvaro. Nanti dia yang akan memantau kondisi Kenan. ”

“Baik, Nak. Terima kasih banyak,” ucap Mami Amara tulus.

"Sama-sama tante, lagian kita keluarga tante. " ucap Bisma membuat papi Bas dan Mami Amara mengangguk. Setelah berpamitan Bisma pun segera keluar.

Menjelang Magrib, suasana kamar masih tenang. Lampu temaram menyinari wajah Kenan yang perlahan mulai bergerak. Alisnya mengernyit, napasnya sedikit memburu.

“Ken?” Mami Amara langsung mendekat.

“Sayang, kamu dengar Mami, Nak.?”

Kelopak mata Kenan bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pandangannya kosong beberapa detik, lalu beralih ke sekitar ruangan.

“Mi…?” suaranya serak, nyaris tak terdengar.

“Iya, Mamj di sini,” jawab Amara cepat, menggenggam tangan Kenan. “Papi juga ada.”

Kenan menelan ludah, napasnya naik turun.

“Aru…?”

Mami Amara dan papi Bas saling berpandangan.

“Aru pulang sebentar, Ken. Bajunya kotor kena darah kamu,” jawab Mami Amara lembut. “Nanti dia balik lagi.”

Kenan mengangguk pelan, matanya terpejam sebentar. “Joe…?”

“Joe juga pulang dulu. Nanti mereka semua ke sini lagi,” sahut papi Bas.

Kenan terdiam, lalu tiba-tiba menggenggam tangan Mami Amara lebih erat.

“Mi… darahnya banyak ya…?” tanyanya lirih, suaranya bergetar.

Mami Amara langsung mengusap pipi Kenan. “Udah, jangan dipikirin. Sekarang kamu aman.”

Napas Kenan kembali tak beraturan. Monitor sempat berbunyi sedikit lebih cepat. Mami Amara panik kecil, namun papi Bas segera memanggil Alvaro yang kebetulan berjaga.

“Tenang, Om,Tante.” ujar Alvaro setelah memeriksa. “Bang Kenan hanya cemas. Varo akan tambahkan obat penenang ringan,agar dia tidak gelisah lagi.”

"Lakukan yang terbaik ya, Nak Varo."ucap Mami Amara.

"Pasti, tante. "

Alvaro segera menyunting obat penenang pada infus Kenan. Setelah selesai, Alvaro segera keluar.

Beberapa menit kemudian, Kenan kembali terlelap.

Malam hari, Aru datang kembali bersama Ayah Dika dan Mama Yasmin. Begitu masuk kamar, Aru langsung berdiri terpaku di dekat pintu, menatap Kenan yang terbaring lemah.

Mami Amara menoleh dan tersenyum kecil. “Masuk, Ru.”

Aru melangkah pelan, mendekat ke sisi ranjang. Tangannya gemetar saat menyentuh jari Kenan.

“Mas…,” bisiknya pelan.

Seolah mendengar suara itu, Kenan kembali membuka mata. Kali ini pandangannya langsung tertuju pada Aru.

“Aru…,” ucapnya lirih, namun jelas.

Aru tersenyum sambil menahan air mata. “Aku di sini, Mas. Gimana keadaan kamu?Apa masih ada yang sakit?.”

Kenan menggeleng lemah. Ia berusaha mengangkat tangannya, meski lemah. Aru segera menggenggamnya.

“Maaf… bikin kamu takut,” kata Kenan pelan.

Aru menggeleng cepat. “Yang penting kamu baik-baik aja.”

Mami Amara, papi Bas, ayah Dika dan mama Karina memilih mundur sedikit, memberi ruang untuk mereka berdua.

Dari kejauhan, Mami Amara menghela napas panjang—lega, namun juga sadar, perjalanan pemulihan Kenan masih panjang.

Di luar kamar, azan Magrib berkumandang lirih dari kejauhan.

Malam itu, di kamar rawat yang sunyi, doa-doa terus dipanjatkan—untuk kesembuhan, untuk ketenangan, dan untuk hari-hari yang semoga tak lagi dipenuhi kecelakaan.

Malam semakin larut. Lampu kamar rawat diredupkan, menyisakan cahaya lembut yang menenangkan. Kenan kembali tertidur setelah obat penenang bekerja, napasnya kini lebih teratur.

Aru masih duduk di sisi ranjang, tak melepaskan genggaman tangan Kenan. Tatapannya tak lepas dari wajah pria itu, seakan takut jika ia berpaling, Kenan akan menghilang.

Aru mengangguk kecil. “Iya, Ma.”

Tak lama kemudian, Bisma kembali masuk ke kamar, kali ini tanpa map tebal. Ia melirik jam tangannya.

“Kenan harus benar-benar istirahat malam ini. Besok pagi kita lakukan observasi lanjutan,” ucapnya pelan agar tak membangunkan pasien.

“Bolehkah Aru menemani di sini?” tanya Aru hati-hati. Ia merasa sangat bertanggungjawab atas luka yang dialami oleh Kenan.

Bisma menatap para orang tua terlebih dahulu sebelum menjawab. Setelah mendapat persetujuan dari yang lainnya. Akhirnya Bisma mengangguk. “Boleh satu orang. Tapi kalau terlihat lemas atau panik, segera panggil perawat. Tapi Nanti katanya Varo yang akan berjaga disini.”

“Terima kasih, Phi,” jawab Aru tulus.

Mama Yasmin dan Ayah Dika berpamitan lebih dulu. Joe juga datang sebentar bersama Kai, namun hanya sampai depan kamar. Kai tertidur di gendongan Joe, pipinya masih sembap bekas menangis.

“Kai…,” bisik Kenan pelan ketika melihat putranya sekilas.

Joe mendekat, menahan emosi. “Dia aman, Ken. Semua aman.”

Kenan mengangguk lemah, lalu kembali terpejam.

Dini hari, Kenan terbangun dengan napas sedikit tersengal. Tangannya bergerak gelisah, keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Aru…,” panggilnya lirih.

“Aku di sini,” jawab Aru cepat, bangkit dan mendekat. “Kenapa, Mas?”

Kenan menelan ludah. “Aku mimpi… aku ketimpa lagi… gelap…”

Aru mengelus lengan Kenan perlahan. “Itu cuma mimpi. Sekarang kamu di rumah sakit, aman. Dengar, itu suara alat, tandanya kamu masih di sini.”

Kenan memejamkan mata, mencoba mengatur napas mengikuti arahan Aru. Perlahan, detak jantung di monitor kembali stabil.

“Jangan tinggalin aku,” ucap Kenan pelan, hampir seperti permintaan anak kecil.

Aru tersenyum getir. “Aku nggak ke mana-mana.”

Aru menggenggam erat tangan Kenan. Memastikan laki-laki itu tidur dengan nyaman.

Bersambung...................

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!