NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedua

Bram mengajak Anya masuk ke ruang kerjanya, lalu menutup pintu dengan rapat. Mereka duduk berhadapan di meja besar yang dipenuhi dokumen. Bram menatap Anya dengan tatapan yang tidak terbantahkan. "Ayah sudah memutuskan. Kamu akan dijodohkan," ucap Bram dengan suara yang dingin dan datar.

Anya terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang. "Ayah, ini pasti lelucon, kan?" tanya Anya dengan nada yang bergetar.

"Ini bukan lelucon, Anya," jawab Bram tegas. "Ayah serius. Kamu akan dijodohkan dengan anak rekan bisnis Ayah."

Anya menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Tapi, Ayah... Anya tidak mau! Anya punya pilihan sendiri dalam hidup!"

"Pilihanmu tidak penting," balas Bram dingin. "Pernikahan ini adalah untuk kepentingan keluarga. Ini akan memperkuat posisi bisnis kita."

"Tapi, Ayah... Anya bahkan tidak mengenal orang itu!" protes Anya dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Itu bukan masalah," sahut Bram acuh tak acuh. "Kalian akan saling mengenal setelah menikah. Yang penting adalah dia berasal dari keluarga yang terpandang dan memiliki bisnis yang sukses."

Anya merasa seperti disambar petir. Ia tidak percaya ayahnya bisa sekejam ini. Apakah ia benar-benar hanya dianggap sebagai alat untuk memperkuat bisnis keluarga?

"Ayah tidak bisa melakukan ini pada Anya!" teriak Anya dengan suara yang bergetar. "Anya bukan barang yang bisa diperjualbelikan!"

"Jaga bicaramu, Anya!" bentak Bram dengan nada tinggi. "Ayah melakukan ini demi kebaikanmu juga. Kau akan hidup nyaman dan bahagia setelah menikah nanti."

"Bahagia?" Anya tertawa sinis. "Bahagia dengan orang yang tidak Anya cintai? Bahagia hidup dalam pernikahan tanpa cinta? Itu bukan kebahagiaan, Ayah! Itu neraka!"

"Cinta itu urusan nanti, Anya! Yang penting adalah pernikahanmu dengan anak dari rekan bisnis Ayah akan menyelamatkan keluarga kita!" balas Bram dengan nada frustrasi.

Anya menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. "Ayah berbohong!" serunya, berusaha menyangkal kenyataan. "Ini cuma akal-akalan Ayah supaya Anya mau dijodohkan!"

Bram menggelengkan kepalanya dengan lelah. "Ayah tidak berbohong, Anya. Ini kenyataan yang pahit. Perusahaan kita terlilit hutang yang sangat besar. Satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan pernikahanmu."

"Menikah dengan orang yang tidak Anya cintai tidak akan menyelesaikan masalah!" balas Anya dengan nada tinggi. "Itu hanya akan membuat Anya semakin menderita!"

"Kau tidak mengerti, Anya!" bentak Bram dengan frustrasi. "Ini bukan hanya tentangmu! Ini tentang seluruh keluarga kita! Tentang semua karyawan yang akan kehilangan pekerjaan jika perusahaan ini bangkrut!"

Anya terdiam. Ia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Ia selalu hidup dalam kemewahan dan tidak pernah tahu bagaimana sulitnya mencari uang. Apakah ia benar-benar harus mengorbankan kebahagiaannya demi menyelamatkan perusahaan keluarganya?

"Anya... Ayah mohon," ucap Bram dengan suara yang nyaris berbisik. "Bantulah Ayah. Selamatkan keluarga kita."

Anya menatap ayahnya dengan tatapan penuh keraguan. Ia melihat kesedihan dan keputusasaan di mata ayahnya. Ia tahu bahwa ayahnya sedang berada dalam situasi yang sulit. Tapi, apakah itu berarti ia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri?

Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang pucat. "Maaf, Ayah... Anya tidak bisa," bisiknya lirih, menundukkan kepala dalam-dalam.

Bram menghela napas berat, raut frustrasi terpancar jelas di wajahnya. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut, merasa putus asa melihat penolakan putrinya.

Bram meraih lengan Anya, menggenggamnya erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Dengarkan Ayah, Anya," ucapnya dengan suara rendah namun penuh tekanan.

"Ayah tahu ini berat untukmu, Nak. Tapi, apa kau tega melihat Ayah dan Ibu hidup dalam kemiskinan? Apa kau rela melihat Ibumu yang selama ini memanjakanmu menderita hanya karena kau menolak perjodohan ini? Apa kau benar-benar ingin melihat semua itu terjadi, Anya?!" ucapnya dengan nada memohon namun penuh tekanan.

Anya mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan air mata yang terus mengalir. Ia melihat kesedihan dan keputusasaan yang mendalam di mata ayahnya. Hatinya terasa tercabik-cabik.

"Tapi... tapi Anya tidak cinta sama orang itu, Ayah," ucap Anya dengan suara bergetar. "Bagaimana Anya bisa bahagia kalau Anya tidak cinta?"

"Cinta bisa tumbuh seiring waktu, Anya," jawab Bram dengan nada yang lebih lembut. "Yang penting adalah pernikahan ini bisa menyelamatkan keluarga kita. Tolonglah, Anya. Ayah mohon."

Anya terdiam. Ia tahu bahwa ayahnya sedang memohon padanya. Ia tahu bahwa ayahnya sedang berada dalam situasi yang sangat sulit. Tapi, apakah itu berarti ia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri?

Anya memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri. Ia membayangkan ibunya yang selalu menyayanginya, hidup dalam kemiskinan. Ia membayangkan para karyawan perusahaan ayahnya yang kehilangan pekerjaan. Ia membayangkan keluarganya yang hancur berantakan.

Anya membuka mata, meski wajahnya masih basah oleh air mata, tatapannya kini menunjukkan keteguhan. Sambil menyeka pipinya, ia bertanya dengan suara pelan, "Siapa namanya, Ayah?"

Mendengar itu, senyum lega langsung menghiasi wajah Bram. "Arga Angkasa, Anya! Dia putra tunggal Bapak Pramudya Angkasa, pengusaha sukses dengan kekayaan yang jauh di atas kita. Dia akan menjadi penyelamat keluarga kita!" jelas Bram dengan penuh harapan.

Anya terdiam sejenak, mencerna nama itu. Arga Angkasa. Nama yang asing baginya, namun terdengar begitu familiar di telinganya. Ia tahu, hidupnya akan berubah drastis setelah ini.

"Kapan Anya harus bertemu dengannya?" tanya Anya, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

"Besok malam," jawab Bram dengan cepat. "Ayah sudah mengatur makan malam keluarga di restoran mewah. Ini kesempatan bagus untuk kalian saling mengenal."

Anya menghela napas dalam-dalam. Besok malam? Secepat itu? Ia merasa belum siap untuk bertemu dengan orang yang akan dijodohkan dengannya.

"Anya butuh waktu untuk memikirkannya, Ayah," ucap Anya, berharap ayahnya bisa mengerti.

"Tidak ada waktu lagi, Anya!" bentak Bram dengan nada yang meninggi. "Perusahaan kita sedang di ambang kebangkrutan. Kita tidak punya pilihan lain!"

Anya terkejut mendengar bentakan ayahnya. Ia tahu ayahnya sedang berada di bawah tekanan, tapi ia tidak menyangka ayahnya akan membentaknya seperti itu.

"Baiklah," ucap Anya akhirnya, dengan suara yang nyaris berbisik. "Anya akan bertemu dengannya besok malam."

Bram tersenyum lega dan memeluk Anya erat. "Terima kasih, Anya," bisiknya. "Kau sudah membuat keputusan yang tepat.

Dengan langkah berat, Anya meninggalkan ruang kerja ayahnya. Bayangan tentang perjodohan yang akan datang menghantui pikirannya, membuat hatinya terasa sesak.

Penyesalan mencengkeram hatinya. Ia tahu, semua ini terjadi karena keegoisannya selama ini.

Seandainya dulu ia tidak hanya memikirkan kesenangan pribadi, mungkin ia bisa meringankan beban ayahnya dan menghindari pernikahan yang tidak diinginkannya ini.

Anya berjalan menuju kamarnya dengan lesu. Ia merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Air mata kembali mengalir membasahi pipinya.

Ia merasa terjebak. Terjebak dalam situasi yang tidak ia inginkan. Ia merasa tidak punya pilihan. Ia merasa seperti boneka yang dikendalikan oleh orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!