NovelToon NovelToon
Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Cerai / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: VISEL

Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Setelah mengantar Hana pulang ke rumahnya, Peter kembali melaju dengan mobilnya menuju ke rumahnya. Tante Laras menghampiri Hana yang sedang bermalas-malasan di atas kursi.

  Tante Laras: "Siapa yang mengantarmu pulang, nak? Ke mana mobilmu?" tanyanya dengan rasa penasaran. Hana mengatakan pada mamanya tentang peristiwa yang dialaminya, Hana juga mengatakan tentang Peter yang telah menolongnya.

  Hana: "Aku akan mengambil mobilku seminggu lagi, ma." ucapnya pelan.

  Tante Laras: "Untunglah saat ini Kenzo masih libur, Hana." ucapnya.

  Hana: "Iya, ma. Aku ke kamar dulu, ya, ma. Aku mau mandi." ucapnya dengan wajah yang lelah.

  Tante Laras: "Iya, Hana. Kamu kelihatan lelah." ucapnya sambil menatap wajah putrinya dengan seksama. Hana beranjak dari duduknya, ia berjalan dengan santai menuju ke kamarnya. Hana langsung melangkah ke dalam kamar mandinya yang terletak di sudut ruangan kamarnya. Sekitar 20 menit, Hana selesai mandi. Wajah Hana tampak kembali segar dan bercahaya, ia mengeringkan rambut panjangnya yang basah dengan menggunakan handuk kecil.

  Hana: "Rasanya segar sekali. Lelahku seketika hilang, tubuhku menjadi segar kembali." ucapnya lirih. Setelah mandi dan berganti pakaian, Hana kembali mencoba menghubungi suaminya. Ponsel Aldo tetap tak bisa dihubungi, Hana semakin gelisah.

  Hana: "Ada apa denganmu, mas? Apakah terjadi sesuatu denganmu di sana?" batinnya bertanya-tanya. "Haruskah aku mengunjungimu di Bandung?" Hana berniat mencari Aldo di kota Bandung, walaupun Hana tidak tahu alamat Aldo. "Besok pagi aku akan ke kantor mas Aldo. Aku akan menanyakan kepada salah satu staf di kantor tentang alamat cabang itu di Bandung. Pasti staf mas Aldo tahu." ucapnya lirih. Malam itu Hana semakin gelisah, suaminya telah berhari-hari pergi ke Bandung, namun Aldo tidak pernah menghubungi dirinya atau sekedar menanyakan kabar Kenzo. Hana cemas, gelisah, dan takut jika sesuatu telah menimpa Aldo di Bandung. Malam berganti pagi, setelah mandi dan berganti pakaian, Hana keluar dari dalam kamarnya untuk sekedar sarapan sekaligus membicarakan tentang niatnya yang untuk ke kantor Aldo.

  Hana: "Aku akan ke kantor mas Aldo, pa." ucapnya pelan. Om Heri menatap dingin pada Hana.

  Om Heri: "Untuk apa kamu ke sana?" tanyanya dengan rasa penasaran.

  Hana: "Aku ingin menanyakan tentang cabang kantor mas Aldo, pa." sahutnya dengan penuh keraguan. Om Heri menatap wajah putrinya dalam-dalam, ia mencoba memahami perkataan Hana.

  Om Heri: "Apakah kamu tidak percaya pada suamimu, nak?" tanyanya. "Sepertinya kamu sedang gelisah, Hana." ucapnya lagi. "Ada apa, Hana?" tanyanya lagi. Hana menghela nafas berat, ia menundukkan kepalanya.

  Hana: "Entahlah, pa. Ponsel mas Aldo tidak bisa dihubungi." ucapnya pelan.

  Om Heri: "Apakah Aldo belum menghubungimu sejak kepergiannya?" tanyanya.

  Hana: "Iya, pa. Ponselnya tidak aktif." ucapnya dengan wajah cemas. "Aku takut terjadi sesuatu padanya, pa." ucapnya lagi. Om Heri terdiam, bayangan masa lalunya kembali melintas di pikirannya. Om Heri pernah melakukan hal yang sama, yaitu tidak memberi kabar pada tante Laras saat om Heri menikahi wanita lain di Semarang. Om Heri ikut cemas memikirkan rumah tangga Hana.

  Om Heri: "Papa akan menemanimu, Hana." ucapnya dengan lembut.

  Hana: "Tidak usah, pa. Biar aku sendiri saja." sahutnya dengan penuh keyakinan. "Di mana mama?" tanyanya sambil menatap ke sekeliling ruang dapur itu.

  Om Heri: "Mamamu ke minimarket bersama Kenzo." ucapnya dengan wajah datar.

  Hana: "Aku pergi dulu, ya, pa." ucapnya sambil beranjak dari duduknya.

  Om Heri: "Hati-hati, Hana. Semoga kamu mendapatkan informasi yang benar." sahutnya dengan penuh harap. Hana hanya tersenyum tipis, lalu melangkah pelan meninggalkan om Heri yang masih duduk di kursinya. Om Heri menghela nafas berat, ia menatap langkah putrinya dengan iba. Di depan rumah saat Hana membuka pintu mobilnya, tante Laras dan Kenzo telah kembali dari minimarket. Kenzo berlari kecil menghampiri Hana.

  Kenzo: "Apakah mama mau pulang ke rumah?" tanyanya dengan polos.

  Hana: "Tidak, sayang. Mama mau ke kantor papa dulu." sahutnya sambil membelai rambut putranya.

  Kenzo: "Apakah papa berada di kantor, ma? Papa sedang kerja di luar kota, kan?" tanyanya lagi dengan heran.

  Hana: "Mama ada urusan di kantor papa, sayang. Mama tidak akan lama." sahutnya sambil tersenyum tipis. Hana menoleh ke arah mamanya, lalu berkata: "Aku pergi ke kantor mas Aldo dulu, ya, ma." ucapnya.

  Tante Laras: "Ada apa, Hana? Aldo masih di Bandung, kan?" tanyanya dengan penuh keheranan.

  Hana: "Aku akan mencari informasi, ma. Sampai hari ini mas Aldo tidak bisa dihubungi." ucapnya dengan gelisah. "Aku takut terjadi apa-apa dengan mas Aldo, ma. Aku hanya ingin meminta alamat mas Aldo di Bandung." ucapnya lagi.

  Tante Laras: "Apakah Aldo tidak memberitahukanmu alamatnya di Bandung?" tanyanya dengan heran.

  Hana: "Tidak, ma. Aku harus ke kantornya untuk menanyakan alamat cabangnya di Bandung. Para staf pasti tahu." ucapnya dengan yakin.

  Tante Laras: "Baiklah, nak. Hati-hati, ya." ucapnya.

  Hana: "Iya, ma." ucapnya. Hana menatap putranya, lalu berkata: "Jangan nakal, ya, Kenzo." ucapnya. Hana masuk ke dalam mobilnya dan mulai melaju dengan mobilnya. Tante Laras memegang tangan Kenzo dan masuk ke dalam rumah dan menyuruh Kenzo masuk ke dalam kamarnya. Tante Laras menghampiri om Heri yang sedang duduk di ruang keluarga.

  Tante Laras: "Apakah terjadi sesuatu dengan Aldo, pa?" tanyanya dengan ekspresi wajah yang cemas. Om Heri terdiam, dan menatap wajah istrinya dalam-dalam.

  Om Heri: "Aku juga tidak tahu, bu. Kita tunggu saja informasi dari Hana." ucapnya dengan pasrah. "Semoga Aldo baik-baik saja." ucapnya lagi.

  Tante Laras: "Aku juga ikut cemas memikirkan Aldo, pa." ucapnya dengan pelan. "Kasihan Hana. Dia pasti tidak bisa tidur memikirkan kabar suaminya." ucapnya lagi dengan ekspresi wajah yang sedih. Sikap om Heri berbeda dengan sikap tante Laras, hati dan logikanya mengatakan hal yang berbeda. Om Heri diam-diam ingin menyelidiki Aldo di Bandung.

  Om Heri: "Kita tunggu saja sampai Hana kembali, ma." ucapnya dengan tenang. Tante Laras menatap wajah om Heri, wajah om Heri tampak tenang.

Tante Laras: "Semoga saja Hana mendapatkan informasi, pa." ucapnya dengan penuh harap. "Sudah seminggu Aldo ke Bandung." ucapnya lagi.

Om Heri: "Jika sampai besok Aldo tidak memberi kabar, aku sendiri yang akan mencarinya di Bandung." ucapnya dengan tegas.

Tante Laras: "Papa tidak tahu alamatnya, kan?" tanyanya.

Om Heri: "Aku juga pebisnis, ma. Aku tahu kota-kota di Indonesia." ucapnya dengan rasa percaya diri. "Aku punya teman di kota-kota yang berbeda." ucaonya lagi dengan rasa bangga. Tante Laras hanya terdiam mendengar perkataan suaminya.

************************************

1
tia
dunia nyata dunia novel sama istri pertama pasti ada ruang khusus 😁😁
tia
tambah lg updatenya thor
tia
karma di bayar lunas ,, kehilangan bayi kakiny lumpuh ,,, syukurin
tia
kasihan hana 😭😭,,moga kenzo cepat sembuh.
tia
lanjut Thor,,buktikan hana bahwa qmu hebat
tia
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!