Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.
Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.18. The Ledger Token
Gerbang kerajaan Morvain kembali dari kejauhan, dan kali ini perjalanan Theo berakhir tanpa satu pun insiden. Kelompok Theo memasuki gerbang dengan lancar, karena penjaga gerbang mengenali Tavin. Melaju ke distrik barat.
Theo, Calder dan Oren telah menyelesaikan kontrak. Mengharuskan mereka kembali ke Mercenary Hall tempat mereka mengambil kontrak.
“Hei, Ash, kita harus berkumpul sesekali kalau kau masih di Morvain!!” ucap Calder.
“Yah, meski kau tak bisa minum. Setidaknya kau bisa menemani kami.” tambah Oren.
Kedekatan mereka terjalin saat perjalanan enam hari ke desa Lowridge.
Theo hanya tersenyum lalu melangka pergi—melambaikan tangan singkat.
Calder dan Oren melihat punggung Theo hanya bisa tersenyum.
.
Theo sudah berada Waystone Hall lagi.
Saat di dalam Theo merasakan ketegangan di antara obrolan para prajurit bayaran di sana.
“Aku ingin mengambil bayaran atas kontrak ini,” ucap Theo berdiri di depan meja administras, menyerahkan Token dan gulungan kontraknya.
Wanita di sana masih melihat Theo dengan sinis.
“Kau bisa menunggu,” ucap wanita itu mengambil token dan gulungan kontrak lalu masuk ke dalam ruangan yang ada di belakangnya.
Theo menaikkan alisnya.
Karena bingung harus melakukan apa dia berjalan ke papan kontrak untuk melihat-lihat apa yang ada di sana.
Dan saat sedang melihat-lihat Theo juga menguping pembicaraan dari orang-orang di meja dekatnya.
“Apa memang tak ada yang bisa melawan mereka?”
“Bagaimana bisa sepuluh prajurit bayaran dengan tiga orang di tingkat perak bisa di bantai seperti itu?”
“Yah, bahkan pengawal wanita di habisi dengan sangat brutal.”
“Apa mereka masih tak membawa apa pun sebagai jarahan?”
“Itu yang kudengar, semua dihancurkan.”
“Haaa, dulu jalur barat memang berbahaya tapi masih bisa di lewati. Tapi dengan kejadian berulang seperti ini, bukankah akan sulit melakukan perjalanan?”
“Kau benar, semua pedagang sangat frustasi.”
“Seharusnya...”
Theo mendengarkan mereka dengan tenang.
‘Lily, bukankah pengawalan ke jalur timur lebih baik sekarang?’ tanya Theo.
[TING]
“Apa ada kontrak yang tersedia?”
‘Tidak, kebanyakan di sini hanya ke jalur barat. Kurasa aku harus bertanya pada wanita itu’ jawab Theo, melangkah lagi ke meja administrasi.
Terlihat wanita itu sudah duduk di kursi, menatap sebentar ke arah Theo.
“Itu token dan bayaranmu, setelah di potong biaya pengambilan kontrak, kau mendapat dua belas koin perak.” ucap wanita memalingkan wajahnya.
Theo mengambil token dan kantong uang di meja, dia melihat tokennya—lingkaran kecil di token terlihar lebih besar sekarang.
‘Lily, sebenarnya bagaimana cara kerja dari token ini?' tanya Theo kebingungan.
Tak ada jawaban dari Lily.
Lalu Theo melihat wanita itu lagi.
“Aku ingin bertanya, apa ada kontrak untuk pengawalan ke jalur timur?” mengeluarkan dua koin perak dari kantong lalu menaruhnya di atas meja.
Wanita itu melihat koin yang di letakkan Theo, lalu dengan ramah tersenyum padanya.
“Ah, tentu saja.” wanita itu mengeluarkan gulungan kontrak. “Ini baru saja terdaftar, keberangkatan dua hari lagi. Kau bisa membaca informasi lanjutan di dalamnya.”
Wanita itu menyerahkan kontrak dan mengambil kon perak itu dengan cepat.
Theo mengambil gulungan kontrak lalu melangkah keluar dari Mercenary Hall.
.
.
Dan beberapa minggu berlalu, Theo sudah menyelesaikan tiga kontrak pengawalan jalur timur tanpa kejadian yang berarti.
Theo sedang berada di kedai makan, menatap tokennya dengan lekat, lingkaran kecil itu sedikit membesar sekarang dan warna perak samar terlihat dari takennya.
“Aku benar-benar tak paham dengan cara kerja token ini,” gumam Theo memasukkan token itu pada cincinnya. Lalu mengamati suasana kedai yang tak terlalu ramai. Terlihat wajah beberapa orang tampak frustasi.
Beberapa hari lalu Theo mendengar ada insiden lagi yang terjadi, dan sekarang lebih banyak prajurit bayaran yang menghindari pengawalan atau pekerjaan lain ke jalur barat.
Theo menatap beberapa orang dengan mata tenang.
“Oh, jadi benar kau, Ash,” ucap seseorang dari samping, suaranya tampak familiar.
Theo menoleh suara itu, terlihat Calder dan Oren berdiri dan tersenyum menatap Theo.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Theo.
Calder dan Oren duduk behadapan di depan Theo.
“Kau masih saja dingin” ucap Calder. “Boleh aku pesan makan dan bir!!!” teriak Calder pada pemilik kedai.
“Sudah lama tak bertemu, Ash. Kukira kau sudah meninggalkan Morvain.” ucap Oren.
“Tidak, aku masih belum menentukan tujuanku selanjutnya,” jelas Theo.
“Hooo, apa kau akan menjadi prajurit pengembara?” ucap Calder, dengan nada mengejek.
Theo menanggapi dengan senyum kecil.
“Oh, hei Ash. Apa kau sudah mengambil kontrak dalam satu minggu ke depan?” tanya Oren.
“Belum, aku baru selesai dengan kontrak terakhirku,” jawab Theo.
“Baguslah, jadi kau bisa ikut kami,” ucap Calder.
“Yah, ikutlah Ash. Kalau ini berhasil, kita bisa langsung naik ke tingkat perak dengan cepat,” tambah Oren.
Theo bingung.
“Memang apa yang akan kalian lakukan?” tanya Theo.
“Apa kau dengar, bahwa dua hari lalu ada penyerangan pada desa Grayma oleh bandit?” Calder berbicara sedikit berbisik.
“Grayma?” Theo semakin bingung.
“Yah, itu desa di perbatasan, daerah pinggiran yang dekat dengan kerajaan Graymarch.” jawab Calder.
“Lalu?” Theo mulai penasaran.
“Bandit di sana tak langsung pergi seperti biasanya, jadi kerajaan memberi perintah untuk pembersihan.” jelas Oren.
“Karena tak banyak prajurit kerajaan yang bisa di kerahkan, mereka menawari kontrak kepada prajurit bayaran,” tambah Calder. “Dan untungnya kelompok pamanku bisa mendapatkan kontrak itu, dan akan membawa sepuluh prajurit bayaran, lalu aku dan Oren sudah mendapat posisi disana. Mungkin kau bisa ikut untuk kontrak ini Ash.”
“Bukankah kelompok pamanmu sudah penuh?” tanya Theo.
“Kau tenang saja, aku akan bicara pada pamanku. Kau bisa menjadi porter untuk kelompok ini,” jawab Calder.
“Kau bisa anggap ini sebagai pengalaman, Ash,” bujuk Oren.
Theo diam sebentar, memikirkan untung dan rugi kalau ikut dengan mereka.
“Baiklah, aku akan ikut,” ucap Theo.
Calder dan Oren senang.
“Baguslah, Ash. Aku akan mentraktirmu makan sekarang, pesan apa saja yang kau mau.”
“Asal jangan alkohol!!!” ucap Oren.
Mereka berdua tertawa.
Theo hanya tersenyum.
Mereka bertiga akhirnya menghabiskan waktu di kedai itu.
Dan perjalanan menuju perak pun di mulai.
.
.