NovelToon NovelToon
Asal Mula Pedang Buta

Asal Mula Pedang Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.

Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.

Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ular di Balik Pintu

Perjalanan pulang dari Lembah Angin Puyuh ke Sekte Awan Hijau yang seharusnya memakan waktu tiga hari, kini ditempuh Ren Zhaofeng hanya dalam satu hari satu malam.

Tubuhnya yang telah ditempa oleh Sumsum Angin Bumi memiliki afinitas mengerikan terhadap udara. Dia tidak lagi berlari "di atas" tanah, melainkan "meluncur" bersama arus angin. Setiap langkah kakinya seringan kapas, namun setiap dorongannya sekuat ledakan meriam.

Saat gerbang megah Sekte Awan Hijau terlihat di kejauhan, Zhaofeng memperlambat langkahnya.

Penampilannya saat ini mengerikan. Jubah biru murid luarnya sudah menjadi kain perca yang melambai-lambai, memperlihatkan kulitnya yang penuh debu namun memancarkan kilau metalik samar. Rambutnya acak-acakan seperti orang gila yang baru keluar dari hutan larangan.

Dua murid penjaga gerbang menyilangkan tombak mereka saat melihat sosok mencurigakan itu mendekat.

"Berhenti! Siapa kau?!" bentak salah satu penjaga.

Zhaofeng mengangkat kepalanya. Kain putih penutup matanya sudah berubah warna menjadi abu-abu karena debu.

"Murid Luar, Ren Zhaofeng," jawabnya tenang. Dia melemparkan Token Identitas Giok-nya ke arah penjaga.

Penjaga itu menangkap token tersebut, memeriksanya, lalu menatap Zhaofeng dengan mata terbelalak. "Ren Zhaofeng? Si Juara Ujian baru itu? Kami dengar kau mengambil misi bunuh diri ke Lembah Angin Puyuh. Kau... masih hidup?"

"Seperti yang kau lihat," Zhaofeng mengambil kembali tokennya dan melangkah masuk.

Aura yang memancar dari tubuhnya membuat kedua penjaga itu mundur selangkah tanpa sadar. Itu bukan aura penindasan Qi biasa, melainkan aura "tajam" yang membuat kulit merinding, seolah ada pedang tak terlihat yang menempel di leher mereka.

Balai Misi.

Zhaofeng berjalan membelah kerumunan murid yang sedang sibuk mencari tugas. Bau keringat, debu lembah, dan sedikit aroma darah kering yang menempel di tubuhnya membuat orang-orang menyingkir dengan hidung berkerut.

"Lihat itu... bukankah itu Kakak Ren?" "Gila, dia terlihat seperti baru bergulat dengan beruang." "Apa dia berhasil? Misi Lembah Angin Puyuh itu terkenal sulit."

Zhaofeng mengabaikan bisikan-bisikan itu. Dia berjalan lurus ke meja resepsionis misi tingkat tinggi. Penjaga meja itu adalah seorang wanita paruh baya dengan tatapan tajam.

"Menyerahkan misi?" tanya wanita itu skeptis.

Zhaofeng tidak bicara. Dia menggerakkan tangannya di atas meja (menggunakan Cincin Penyimpanan secara diam-diam agar terlihat seperti mengambil dari balik lengan baju).

Sepuluh batang Rumput Angin Besi yang masih segar tergeletak di atas meja kayu. Daun-daunnya yang berwarna hijau metalik bergetar pelan, mengeluarkan suara nging yang khas.

Mata wanita itu membelalak. "Kualitas sempurna! Akarnya utuh! Bagaimana kau mencabutnya tanpa merusak daunnya di tengah badai?"

"Dengan hati-hati," jawab Zhaofeng singkat. "Bisa dicairkan poinnya sekarang?"

"Tentu! Tentu!" Wanita itu buru-buru menghitung. "100 Poin Kontribusi. Dan bonus 50 poin karena kualitas sempurna."

Saat Zhaofeng menunggu proses administrasi, telinganya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak beres.

Di sudut ruangan, sekitar sepuluh meter di arah jam empat, ada detak jantung yang tiba-tiba berakselerasi saat melihat Zhaofeng mengeluarkan rumput itu.

Dug-dug-dug-dug.

Zhaofeng tidak menoleh. Dia membiarkan telinganya membedah suara orang itu.

Napasnya tertahan. Gesekan pakaiannya halus—jubah sutra kualitas tinggi. Dan ada suara denting logam kecil yang sangat spesifik... suara dua benda giok beradu di dalam saku.

Salah satunya adalah token identitas sekte. Satunya lagi... memiliki densitas suara yang mirip dengan token "Ular Hitam" yang Zhaofeng temukan di mayat pembunuh.

"Mata-mata," batin Zhaofeng dingin.

Dia mengambil tokennya yang sudah diisi poin, lalu berbalik pergi seolah tidak menyadari apa-apa.

Namun, di dalam benaknya, dia sudah menandai "suara" orang itu. Langkah kaki yang sedikit menyeret di kaki kiri. Bau minyak rambut cendana.

Zhaofeng berjalan keluar dari Balai Misi, tapi dia tidak menuju ke asramanya. Dia berbelok ke arah jalan setapak sepi yang menuju ke Puncak Bambu, tempat tinggal Tetua Pedang.

Dia merasakan orang itu mengikutinya. Jaraknya lima puluh langkah. Sangat ahli dalam menyembunyikan hawa keberadaan, tapi tidak bisa menyembunyikan detak jantung dari Zhaofeng.

Zhaofeng mempercepat langkahnya. Orang itu ikut mempercepat.

Saat sampai di sebuah tikungan tajam yang tertutup pepohonan rimbun, Zhaofeng tiba-tiba berhenti.

Dia berbalik badan menghadap semak-semak kosong di belakangnya.

"Keluar," katanya datar. "Atau perlu kuseret?"

Hening sejenak. Lalu, seorang murid laki-laki berwajah biasa keluar dari balik pohon dengan senyum canggung. Dia mengenakan jubah Murid Dalam.

"Hebat sekali, Adik Ren," kata murid itu, tangannya terlipat di dada. "Instingmu tajam. Pantas saja Tiga Saudara Hantu gagal membunuhmu di lembah."

Mata Zhaofeng menyipit di balik kainnya. "Kau mengenal mereka."

"Tentu saja. Kami satu... 'keluarga'," murid itu menyeringai, memperlihatkan gigi yang sedikit runcing. "Namaku Ular Tujuh. Aku datang untuk menyampaikan pesan dari Tuan Muda."

"Wang Gang?"

"Wang Gang? Hahahaha!" Ular Tujuh tertawa meremehkan. "Sampah cacat itu hanyalah pion kecil. Tuan Muda yang kumaksud ada di level yang tidak bisa kau bayangkan. Dia tertarik padamu, Ren Zhaofeng. Dia menawarkan satu kesempatan: Bersujudlah, serahkan rahasia teknikmu, dan bergabunglah dengan Aliansi Ular Hitam. Kami bisa memberimu mata baru. Mata Dewa."

Tawaran itu menggiurkan bagi orang buta biasa. Tapi Zhaofeng hanya mendengus.

"Aku tidak butuh mata yang diberikan oleh ular," kata Zhaofeng. "Dan aku tidak suka berlutut."

Wajah Ular Tujuh berubah dingin. "Sayang sekali. Kalau begitu, nikmatilah sisa waktumu. Sekte ini tidak seaman yang kau kira. Kau mungkin Juara Murid Luar, tapi di mata Aliansi, kau cuma tikus yang sedikit gemuk."

Ular Tujuh berbalik dan melompat pergi, menghilang ke dalam hutan dengan kecepatan tinggi.

Zhaofeng tidak mengejarnya. Dia tahu dia belum cukup kuat untuk melawan organisasi yang bisa menyusupkan anggotanya menjadi Murid Dalam. Menangkap satu kroco tidak akan menyelesaikan masalah.

Dia melanjutkan perjalanan ke kediaman Tetua Pedang.

Kediaman Tetua Pedang.

Tetua Pedang sedang memoles koleksi pedang antiknya saat Zhaofeng masuk. Melihat kondisi Zhaofeng yang hancur lebur tapi auranya meluap-luap, mata tua itu berbinar.

"Tahap 4 Puncak?" Tetua Pedang meletakkan kain lapnya, terkejut.

"Hanya keberuntungan, Guru," Zhaofeng membungkuk hormat.

Dia tidak menceritakan tentang gua dan warisan kuno itu secara detail—setiap orang punya rahasia—tapi dia mengeluarkan Token Ular Hitam yang dia dapat dari pembunuh di lembah.

"Saya diserang oleh tiga pembunuh bayaran. Dan barusan, seorang Murid Dalam bernama 'Ular Tujuh' mendekati saya."

Wajah Tetua Pedang yang ramah langsung berubah serius saat melihat token itu. Dia mengambilnya, meraba ukiran ular melilit di permukaannya. Aura membunuh yang dingin memancar dari tubuh tua itu, membuat ruangan bergetar.

"Aliansi Ular Hitam..." desis Tetua Pedang. "Hama-hama ini sudah mulai bergerak lagi."

"Guru tahu mereka?"

"Mereka adalah organisasi bawah tanah yang menyusup ke berbagai sekte di wilayah ini. Tujuan mereka adalah merekrut jenius-jenius muda, mencuci otak mereka, atau membunuh mereka jika menolak. Mereka didukung oleh kekuatan besar dari Wilayah Tengah."

Tetua Pedang meremas token itu hingga menjadi debu.

"Zhaofeng, kau dalam bahaya. Statusmu sebagai Juara Murid Luar membuatmu menjadi target utama. Wang Gang mungkin yang menyewa mereka awalnya, tapi sekarang, organisasi itu sendiri yang mengincarmu."

"Apa yang harus saya lakukan?"

"Kau harus menjadi lebih kuat. Lebih cepat dari yang mereka perkirakan," kata Tetua Pedang tegas. "Ujian Promosi Murid Dalam akan diadakan tiga bulan lagi. Tapi aku punya rencana lain."

Tetua Pedang berjalan ke lemari, mengambil sebuah peta gulungan.

"Sebulan lagi, Makam Pedang Kuno akan terbuka. Ini adalah dimensi saku yang hanya boleh dimasuki oleh kultivator di bawah Tahap Pembentukan Inti. Di sana, terdapat ribuan pedang peninggalan zaman dulu."

"Tempat ini berbahaya, tapi juga penuh peluang. Jika kau bisa mendapatkan pengakuan dari satu Pedang Roh di sana, kekuatanmu akan melonjak."

"Tapi syarat masuknya adalah menjadi bagian dari Tim Ekspedisi Sekte. Dan ketua timnya adalah Putri Ye Qingyu."

Zhaofeng teringat nama itu. Dewi Ye. Jenius sekte saat ini.

"Saya akan merekomendasikanmu masuk ke tim itu," lanjut Tetua Pedang. "Tapi Ye Qingyu sangat pemilih. Dia tidak peduli status. Dia hanya peduli kemampuan. Kau harus membuktikan diri padanya besok pagi di Lapangan Latihan Utama."

Zhaofeng mengangguk tegas. "Saya akan melakukannya."

"Bagus. Sekarang pergilah mandi. Kau bau seperti bangkai serigala."

Zhaofeng tersenyum tipis, membungkuk, dan undur diri.

Di luar, langit sudah gelap. Bintang-bintang bersinar.

Zhaofeng menatap langit (dengan telinganya mendengarkan angin malam).

"Makam Pedang Kuno..."

Pedang Karat di dalam cincin penyimpanannya bergetar pelan. Resonansi. Seolah-olah ada sesuatu di makam itu yang memanggil "saudara"-nya yang hilang.

Besok, dia akan bertemu dengan Dewi Ye. Dan dia akan memastikan kursinya di ekspedisi itu aman.

1
Apliti warman
alumrnya bagus, cara penulisannya dah expert nih, lanjut thor, ada yg hilang thor, tentang penguasaan jurus 2 mc, menarik cara othor menjelaskan, juga ranah mc, naikkan dikit...😁
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Panen Zhaofeng.... dan bersihkan harta karun Duanmu
Nanik S
Krek., hancur sudah tulangnya
yos helmi
lanjut
Nanik S
Nyonya Merah mengerikan juga, banjir Darah dibilang ramai
Nanik S
Jual barang rampasan
Nanik S
Xiao Yu... ikut saja Zhaifeng
Nanik S
Lanjutkan dan tetap semangat Tor
Nanik S
Mantap Pooool
Nanik S
Lanjutkan Zhaofeng dan bantai semua Taring naga
Nanik S
Demi melindungi Sekte Zhaofeng rela meninggalkan Sekte
Nanik S
Lanjut mengembsra
A 170 RI
cerita pendekar buta cukup menarik
A 170 RI
trus berkarya jangan hiatus ya thor..
💪
Nanik S
Zhaofeng perusak rencana
Nanik S
Racun disapu Petir.... k\kwkwkw
Nanik S
mana ada Penghianat mengaku
Nanik S
Qingyu.... ya karena juga Jenius
Nanik S
Tantangan yang Elegan pada Tuanya Li Ding
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!