Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*5
Mika hanya bisa nyengir kuda. Enak di dengar oleh telinga. Tapi, sulit untuk dijalani oleh dirinya ini. Karena otomatis, di tempat baru, semuanya akan baru. Sama halnya dengan memulai dari awal lagi.
Namun, apa yang bisa ia lakukan selain mengikuti apa yang atasannya katakan? Dia hanyalah karyawan yang sudah pasti harus patuh pada perintah atasan. Dan lagi, pekerjaan itu sangat ia butuhkan. Karena sang mama tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Baiklah, Pak. Saya bersedia pindah ke perusahaan pusat."
"Bagus, Mika. Hari ini juga, kamu akan pergi ke sana."
"Hari ini, Pak?" Wajah Mika langsung berubah terkejut.
"Iya. Hari ini. Perusahaan pusat memang sangat membutuhkan bantuan secepatnya."
Pasrah, Mika pun meninggalkan perusahaan cabang tempat di mana dia sudah bekerja selama ini. Hatinya sedikit gundah ketika ia memikirkan harus beradaptasi lagi dengan tempat yang baru. Memulai dari awal bukanlah hal yang mudah.
Dengan taksi online, Mika membutuhkan waktu lebih kurang dua puluh menit untuk tiba ke kantor pusat dari perusahaan lamanya. Gadis itu menarik napas panjang sekalu lagi ketika turun dari mobil yang dia tumpangi.
"Heh ... cukup jauh."
"Beruntung juga tidak terjebak macet. Jika terjebak. Aku pasti butuh waktu berjam-jam."
Hembusan napas berat langsung Mika lepaskan. "Hah ... semangatlah, Mika. Ayo mulaikan perjuangan mu hari ini."
Mikaila Adinda Utari melebarkan senyum manisnya. Dia gadis yang sangat cantik, tapi tersembunyi di balik penampilan sederhana yang selalu dia tampilkan. Tanpa make-up, tanpa sentuhan pakaian mahal. Dia selalu tampil dengan penampilan sederhana yang alami.
Mika juga gadis yang pintar. Sayangnya, dia lahir dari keluarga yang sederhana. Kepintaran luar biasa yang dia miliki tidak bisa dikeluarkan dengan sepenuhnya karena terhalang oleh materi.
Mika terus berjalan dengan mata yang terfokus pada pintu kantor megah yang ada di depan matanya. Sungguh, kantor pusat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya, kini ada di depan mata. Kantor itu bisa tiga atau empat kali lipat megahnya dari tempat dia bekerja sebelumnya.
Mika kagum akan apa yang ada di depan mata. Sayangnya, rasa kagum itu sedikit membawa si gadis lupa pada dunia sekitar. Alhasil, bruk. Mika malah menabrak seorang pria yang sedang berjongkok untuk mengambil sesuatu.
"Auh!" Keluh Mika.
"Ah!" Si cowok tak kalah pula dalam mengeluh.
Pria tersebut dengan wajah kesal langsung mendongak. Tabrakan Mika yang membuatnya jatuh terduduk, tentu saja membuat hati si pria kesal bukan kepalang.
Namun, ketika melihat wajah Mika yang di dukung oleh keadaan, hati kesal si cowok langsung lenyap. Wajah Mika terlihat bercahaya. Tatapan mata indah, dengan rambut sebahu yang terbang di tiup angin pelan. Sungguh, hati si pemuda benar-benar tercuri oleh pandangan pertaman. Pria itu terpaku dengan tatapan mata penuh rasa kagum.
"Mas gak papa?"
"Mas! Gak papa?" Ulang Mika lagi sambil mengulurkan tangannya untuk membantu pria itu bangun.
"A-- e ya. Saya gak papa."
"Maaf ya, Mas. Saya beneran gak sengaja. Maaf banget," ucap Mika penuh sesal.
Si cowok malah tersenyum kecil. "Gak papa. Salah saya juga karena tiba-tiba jongkok di jalan."
"Oh, iya. Mau ke mana?"
"Saya? Ke kantor. Ah, bukan, maksud saya, saya mau ke sana," ucap Mika dengan telunjuk lurus ke arah pintu masuk kantor yang ada di depan mereka.
"Ke, dalam kantor itu maksud kamu?"
Mika langsung mengangguk. "Iya."
"Ada perlu apa kamu ke sana. Maaf, saya banyak tanya. Kalo boleh tahu, ngapain gitu?"
"Kerja, Mas. Saya kerja di sini mulai-- "
Ponsel Mika berdering. Nada panggilan masuk yangtiba-tiba mengalihkan perhatian keduanya. Mika pun langsung merogoh tas punggung kecil kesayangannya.
"Maaf, bosa saya menghubungi."
"Iya, silahkan di jawab."
Tanpa pikir panjang lagi, Mika langsung menjawab panggilan tersebut. Ternyata, si atasan memanggil karena mendapat laporan bahwa dirinya tidak kunjung tiba ke perusahaan induk. Bos utama ingin segera masalah yang ada di perusahaan pusat di tangani. Tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Maaf, Mas. Saya harus masuk sekarang. Permisi."
Tanpa menunggu jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Mika gegas beranjak dengan langkah besar. Tentu saja si pemuda ingin mencoba menghentikan. Namun, Mika tidak menghiraukannya. Mika terus melangkah. Karena yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah, dia harus masuk secepat mungkin. Dia tidak bisa terlambat. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaan. Apalagi ini adalah kali pertama dia datang ke tempat kerja yang baru itu.
"Hei! Tunggu! Siapa nama kamu?"
Pertanyaan itu terus saja si pemuda lontarkan meskipun tidak diperdulikan oleh Mika. Hingga pada akhirnya, pemuda itu menyerah.
"Aish, belum sempat tahu siapa nama si nona cantik, malah sudah di tinggal pergi."
"Tapi gak papa, dia 'kan tadi bilang kalo dirinya bekerja di kantor ini. Itu tandanya, tidak sulit untuk mencari tahu siapa dia." Senyum pemuda itu kembali melebar.
Namun, hanya sesaat. Karena tiba-tiba saja, benaknya terpikirkan sesuatu yang membuat perasaannya menjadi tidak enak. "Tunggu! Dia bekerja di sini? Tapi, selama ini aku tidak pernah bertemu dengannya. Apa jangan-jangan dia ... bohong?"
"Tidak. Aku harus mencari tahu yang sebenarnya sekarang juga. Aku tidak boleh melewatkan bidadari cantik yang telah mencuri hatiku," ucap si cowok sambil bergegas melangkah masuk ke dalam gedung megah yang ada di depannya.
Pria itu masuk ke dalam. Lalu, mengedarkan pandangan mata ke sekitar yang bisa matanya jangkau. Sayang, yang di cari tidak kunjung ia temui. Sedikit kecewa langsung menghampiri. Pria itupun memilih untuk langsung ke ruangan sahabat baiknya dengan membawa hati kecewa.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, pria yang bernama Samuel itu langsung menerobos masuk ke ruangan Paris. Ya. Dia adalah teman dekat Paris. Sedangkan perusahaan pusat yang saat ini Mika datangi adalah perusahaan utama milik keluarga Paris. Perusahaan itu sudah diserahkan ke tangan Paris sejak Paris lulus dari perguruan tinggi. Sudah bertahun-tahun lamanya, pria itu yang memimpin perusahaan.