Pertemanan dua keluarga tidak menjadikan Allegri dan Allegra akrab. Sejak kecil keduanya selalu berdebat dan membuat Allegra sebagai gadis mungil yang memiliki tubuh berisi menangis karena bullying yang di lakukan Allegri.
Allegra selalu memeluk Monica, mengadu pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Giana.
Beberapa tahun berlalu keduanya telah dewasa. Kini Allegri menjadi pimpinan rumah yang di dirikan orang tuanya. Laki-laki tampan itu menjadi pemimpin yang terkenal dingin dan berdedikasi tinggi terhadap aturan yang telah ia tetapkan.
Allegra tidak bisa menolak ketika kedua orangtuanya Valentino dan Giana , meminta ia melanjutkan bekerja untuk mengabdikan diri dirumah sakit yang kini di pimpin Allegri.
Bagaimana saat keduanya menjadi rekan kerja? Apakah keduanya masih saling membenci?
Ikuti sekuel TERJEBAK CINTA MAFIA ini ya. Anak Monica-Luigi & Valentino-Giana. Semoga kalian suka.
Jangan lupa interaksi kalian di setiap bab, agar novel ini bisa berk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SELAMAT DATANG DI TUSCANY
Beberapa hari kemudian...
Pesawat pribadi milik keluarga Allegri, mendarat dengan sempurna di bandara.
Allegri, Gabriel, Allegra dan Maura bersama hendak menghabiskan akhir pekan di perkebunan milik Allegri yang merupakan warisan ayah kandungnya.
"Hugo dan Daniello sudah menjemput kita", ujar Gabriel menunjuk dua orang pekerja perkebunan yang berdiri di pintu kedatangan.
"Aku ingin menyetir sendiri. Apa kalian ikut dengan kami?", ujar Gabriel.
"Kalian berdua pergi saja. Aku dan Alle menyusul. Biar Hugo dan Daniello naik kendaraan umum saja", jawab Allegri pada adiknya yang sedang menyusun koper ia dan Maura ke dalam mobil.
Gabriel menganggukkan kepalanya. "Oke, sampai jumpa di perkebunan", jawab Gabby.
*
Cuaca dingin menerpa kulit mulus Allegra, ia menyesal sebelum terbang tadi kenapa tidak memakai Coat yang lebih tebal.
"Al, kenapa kamu tidak bilang kalau di sini cuacanya sangat dingin sekali", ucap Allegra.
Walaupun bukan musim salju, tapi letak Tuscany di dataran tinggi membuat cuaca daerah tersebut sangat dingin sampai ke tulang. Lebih dingin di banding Castemola.
Allegri tahu Alle kedinginan, ia melepaskan coat luaran miliknya memasangkan ke tubuh Allegra.
Bahkan Allegri, menggenggam tangan Alle dan menggosok-gosoknya, agar tetap hangat. Laki-laki itu merogoh saku tas ranselnya mengambil sarung tangan. "Pakai ini supaya kamu tetap hangat".
Allegra menganggukkan kepalanya. "Terimakasih Al", ucap Alle dengan suara terdengar bergetar karena menahan dingin.
"Ayo kita ke mobil sebelum badan mu membeku kedinginan", ujar Allegri sambil sambil mendekap tubuh Allegra menuju mobil yang akan ia kendarai sendiri menuju ke perkebunan.
"Apa akan lama sampai di perkebunan mu?", tanya Alle ketika mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang. Ia sudah merasakan nyaman karena Allegri memasang penghangat mobil.
"Satu setengah jam perjalanan kalau tidak macet".
Menyusuri jalanan dari bandara, mata Allegra di suguhi pemandangan indah kanan-kiri jalan, terlihat hamparan kebun anggur yang luas.
Bangunan warna-warni rumah penduduk semakin mempercantik kota itu.
"Pemandangan indah di Tuscany berasal dari deretan bukit hijau itu", tunjuk Allegri kearah bukit yang ditumbuhi pohon-pohon tinggi.
Air nya sejernih kristal. Bahkan ada ladang-ladang bunga warna-warni yang sangat indah, aku yakin kau akan menyukai nya", ujar Allegri menjelaskan pada Alle yang begitu antusias menatap keluar mobil.
"Woww, kota ini benar-benar cantik", ucap Allegra tidak bisa menutupi rasa kagumnya. Sedangkan matanya masih fokus dengan keindahan alam Tuscany.
"Ini belum seberapa indahnya, kau akan takjub melihat desa dimana perkebunan ku berada", jawab Allegri sambil tersenyum.
"Iss kau ini percaya diri sekali", balas Alle sambil memukul pelan bahu Allegri yang tengah fokus mengendarai mobilnya.
*
Setelah berkendara dengan mobil kurang lebih satu jam setengah, mobil memasuki kawasan perkebunan anggur.
Plang nama "AA Plantation"
terpampang di pintu gerbang masuk perkebunan tersebut.
Kedua netra Allegra menatap intens merk di plang. "Allegri-Alice?", gumam Alle yang spontan memutar duduknya menghadap Allegri. "Kau sangat mencintai kekasihmu sampai-sampai nama perkebunan mu memakai inisial nama kalian berdua. Wow,.. Ternyata kalian sudah lama menjadi kekasih Al?". Allegra menatap pasat Allegri seakan meminta jawaban laki-laki yang tengah mengalihkan tatapannya keluar jendela mobil.
"Al..Kau tidak mau menjawab pertanyaan ku?", ucap Alle dengan wajah di tekuk.
"Kan aku sudah bilang, aku tidak akan menjawab urusan pribadi karena tidak ada di kontrak kerjasama kita–"
"Kau ini menyebalkan sekali!!", ketus Allegra nampak kesal.
"Kau sudah bisa berenang belum? Di perkebunan ada danau, rugi kalau di lewatkan tidak berenang di sana".
Allegra tidak menggubris ucapan Allegri kali ini, membalas laki-laki itu yang enggan menjawab pertanyaannya beberapa saat yang lalu. Alle fokus dengan kanan kiri hamparan kebun anggur yang sangat luas.
"Dasar wanita pendendam", ujar Allegri. Allegra tidak menggubris perkataan laki-laki itu.
Kini netra Allegra menatap bangunan yang lebih tepatnya seperti hacienda berdiri kokoh ditengah-tengah kebun milik Allegri.
"Aku benar-benar seperti mimpi bisa datang kesini. Indah sekali", lirih Alle kagum.
Allegri tersenyum mendengarnya.
Allegri memarkirkan mobilnya di carport, bersebelahan dengan mobil yang di kendarai Gabriel.
"Selamat datang tuan muda, senang sekali anda dan tuan Gabriel berakhir pekan di perkebunan", ucap laki-laki paruh baya membungkukkan badannya.
"Senang berjumpa dengan mu paman Conte dan bibi Linda". Tanpa ragu Allegri memeluk keduanya bergantian dengan akrab.
"Paman bibi...Perkenalkan ini Allegra, putri paman Valentino dan bibi Giana. Kalian tahu ia bukan orang lain bagi ku dan Gabriel.
Conte dan istrinya tersenyum hangat pada Allegra.
"Selamat datang nona muda, semoga anda betah tinggal di perkebunan ini", ujar Linda ramah.
Allegra pun membalas hangat sapaan keduanya.
Sementara orang-orang Allegri menurunkan kopernya, Sedangkan Allegri masih mengobrol dengan Conte. Diam-diam Allegra meninggalkan mereka, ia berjalan-jalan beberapa langkah kearah kebun anggur yang berbuah sangat lebat.
Gadis itu mulai memetik buah anggur yang sudah bewarna kehitaman, dan langsung memakannya. "Oh my god... ternyata rasanya manis sekali. Mereka memberi apa pada pohon-pohon anggur ini, rasanya bisa manis sekali", teriaknya girang.
Bahkan ia melompat-lompat kesenangan merasakan rasa manis dan segar buah anggur yang masuk ke mulut nya.
Allegra bahkan melupakan hawa dingin yang menerpa wajah mulusnya, rambutnya yang di ikat keatas secara acak, membuat penampilannya menggemaskan. Terlebih wajahnya semakin nampak memutih karena udara sangat dingin.
Hingga suara Allegri mengejutkan Alle.
"Berhentilah memakan langsung anggur itu Allegra, itu masih kotor belum dicuci.
Perut mu bisa sakit nanti.
Kalau ingin memakannya, kau bisa meminta orang memetiknya".
Namun Allegra tidak menggubris perkataan laki-laki itu. Ia tetap melakukan hal yang ia sukai.
"Allegra...apa kau tidak mendengar perkataan ku hah?", Ketus Allegri terlihat kesal dengan ulah gadis itu.
"Aku tidak akan sakit perut karena memakan langsung anggur-anggur ini Al. Kamu berlebihan sekali.", jawab Alle.
"Al, Kamu harus mencobanya rasanya sangat manis. Kamu harus memeriksa petani-petani mu Al... jangan-jangan mereka memberi obat pada pohon anggur ini", cicit Allegra dengan mata melotot.
Terdengar decapan dari mulut Allegri mendengar penuturan Alle.
Alle menyuapkan anggur yang ia petik ke mulut Allegri.
Gadis itu cemberut kala Allegri menolaknya. Alle mencebikkan bibirnya.
Melihat Allegra seperti itu,
akhirnya Allegri membuka mulutnya juga, memakan anggur dari tangan Alle.
"Aku ingin ke sana Al. Di sana buahnya sangat banyak", tunjuk Alle ke tengah perkebunan.
"Kita baru saja sampai Allegra, Apa kau tidak lelah? Nanti sore saja kita berkeliling ke sana. Lihatlah Gabriel dan Maura sudah menunggu kita di dalam", ujar Allegri.
"Aku akan menagih janji mu, mengajak ku berkeliling perkebunan sore nanti. Awas saja kalau kau lupa". Setengah menghentakkan kaki Alle mendahului Allegri menuju rumah.
"Apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak menepati janjiku Alle? Kamu akan menuntut ku?".
Allegra mengehentikan langkahnya. Menghadap Allegri yang berjalan kearahnya.
Alle berjalan mundur. "Aku akan memakan semua anggur–"
"Aww.
"Brughhh..
Kaki Alle tersandung batu, Beruntung Allegri sigap menangkap tangan gadis itu.
Kini tubuh Alle berada di atas tubuh Allegri yang terlentang di atas rerumputan hijau.
Kedua mata Allegra melotot. Mereka begitu dekat saling berpandangan. "M-aafkan aku..."
Allegra hendak berdiri. Namun pinggangnya di tahan Allegri.
Kini kedua tangan Allegri membingkai wajah pucat Alle. Tindakan itu membuat detak jantung Allegra berdebar kencang.
"Kenapa kau tidak berubah Alle, kau selalu keras kepala dan ceroboh...."
"A-ku..."
"Kalian telah tiba?". Gabriel dan Maura kaget melihat kakaknya dan Alle bertindihan seperti itu.
Allegra cepat-cepat berdiri. "Kakiku tersandung. Kakak mu menolongku", jawab Alle dengan cepat menjelaskan apa yang terjadi pada ia dan Allegri.
Gabriel membantu Allegri berdiri, memberikan tangannya.
"Hm...sebaiknya aku membersihkan diriku. Dimana kamar ku?". Allegra menatap Gabriel dan Maura bergantian.
"Di lantai dua, pintu nomor tiga", jawab Gabriel.
"Baik, terimakasih. Hm...Maura aku kekamar ku dulu", ujar Allegra terburu-buru. Ia tidak melihat ke arah Allegri lagi, tapi langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Allegri menatap punggung Alle hingga lenyap. Laki-laki itu menyugar rambutnya.
"Kak tangan mu terluka", ujar Gabriel.
Allegri melangkah hendak masuk juga. "Tidak apa-apa, luka kecil", jawabnya sambil menepuk pundak adiknya.
...***...
To be continue
Kalian jangan ragu tinggalkan komentar ya🤗, bantu karya ini meningkat viewernya biar bab-nya bisa panjang.
Kalau sepi pembaca paling sampe bab 20an saja up-nya. Tks 🙏