NovelToon NovelToon
Cakar Naga Pemutus Takdir

Cakar Naga Pemutus Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.

Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.

Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.

Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Melawan Gravitasi

"Namaku Xue Sha," pria berjubah merah itu memperkenalkan diri dengan sopan santun yang mengerikan. Dia memutar seruling tulangnya. "Dan kalian adalah bahan yang sempurna untuk menyempurnakan Pil Roh Darah-ku."

Wuuuut!

Xue Sha meniup serulingnya satu nada tinggi.

Tanah di sekitar mereka bergetar. Darah yang menggenang di tanah dari para Mayat Darah yang hancur tiba-tiba melayang ke udara, membentuk puluhan tombak merah cair yang berputar cepat.

"Hati-hati! Dia pengendali darah!" teriak Ye Qingyu. "Bao, perisai!"

Bao melompat ke depan, menghentakkan perisai raksasanya ke tanah.

"Benteng Guntur!"

Dinding energi listrik berwarna biru terbentuk di depan perisainya.

Slaaash!

Hujan tombak darah menghantam perisai Bao. Suara desisan nyaring terdengar saat darah korosif bertemu dengan petir.

"Ugh... berat!" Bao menggeram, kakinya terdorong mundur, membuat parit di tanah. "Kakak Ye, serangannya setara dengan Bangkit Jiwa Tingkat 7! Aku tidak bisa menahan selamanya!"

Ye Qingyu tidak tinggal diam. Dia melesat dari samping, pedang gandanya diselimuti aura es biru.

"Tarian Teratai Beku!"

Dia menebas leher Xue Sha. Namun, sebelum pedangnya menyentuh kulit, sebuah dinding darah kental muncul secara otomatis melindungi Xue Sha.

Tang!

Pedang Ye Qingyu terpental. Dinding darah itu tidak membeku, melainkan bergerak seperti makhluk hidup yang menelan energi esnya.

"Es?" Xue Sha terkekeh. "Darahku panas, Nona Cantik. Esmu tidak akan mempan."

Xue Sha mengibaskan tangannya. Dinding darah itu berubah menjadi cambuk raksasa yang menyabet Ye Qingyu.

Ye Qingyu melompat mundur, tapi ujung cambuk itu berhasil menyobek lengan jubahnya, meninggalkan luka bakar merah di kulit putihnya.

"Sial," desis Ye Qingyu. "Perbedaan ranahnya terlalu jauh. Dia Bangkit Jiwa Puncak, aku baru Tingkat 5."

Chen, yang bersembunyi di belakang Bao, melempar beberapa pisau angin dengan panik, tapi serangan itu bahkan tidak digubris oleh Xue Sha.

"Li Tian!" panggil Ye Qingyu. "Apa kau punya rencana? Atau kita mati di sini?"

Li Tian berdiri tenang di belakang formasi, matanya yang tajam menganalisis setiap gerakan darah itu. Zu-Long di dalam jiwanya sedang memberikan analisis tempur.

"Darah itu hidup," kata Zu-Long. "Dia menggunakan Qi-nya untuk memanipulasi cairan. Tapi cairan tetaplah materi. Dan materi tunduk pada gravitasi."

"Perisai darahnya padat," batin Li Tian. "Aku butuh satu celah."

Li Tian mengangkat Pedang Angin Biru-nya. Dia mulai mengalirkan Qi hitam Kehampaan ke dalam bilahnya. Pedang itu menjadi berat, sangat berat.

"Kakak Ye! Bao!" teriak Li Tian. "Beri aku waktu tiga detik! Buat dia tidak bisa bergerak!"

Ye Qingyu menatap Li Tian. Dia melihat aura hitam pekat yang mengerikan berkumpul di pedang pemuda itu. Instingnya mengatakan: Itu berbahaya.

"Bao! Sekarang!" perintah Ye Qingyu.

Bao meraung. Dia melepaskan perisainya dan menerjang maju dengan tangan kosong, membiarkan tubuhnya terkena beberapa sabetan darah. Dia memeluk tubuh Xue Sha (atau lebih tepatnya, pelindung darah di sekitar Xue Sha) dengan teknik gulat.

"Penjara Guntur!"

Bao meledakkan seluruh Qi petirnya, melumpuhkan pergerakan darah itu sesaat.

"Chen! Tembak matanya!" teriak Ye Qingyu sambil meluncurkan badai es untuk membekukan kaki Xue Sha ke tanah.

Chen, meski ketakutan, menembakkan jarum angin ke wajah Xue Sha, memaksanya menutup mata dan memfokuskan pertahanan ke kepala.

"Kalian semut pengganggu!" Xue Sha marah. Aura darahnya meledak, siap melempar Bao dan Ye Qingyu hingga hancur.

Tapi tiga detik itu sudah cukup.

Li Tian sudah berada di udara, melompat tinggi di atas kepala Xue Sha.

Di tangannya, Pedang Angin Biru telah berubah menjadi tongkat hitam legam karena kepadatan energi gravitasi. Ruang di sekitar pedang itu terdistorsi.

"Xue Sha!" panggil Li Tian.

Xue Sha mendongak. Matanya membelalak saat merasakan tekanan yang turun dari langit. Itu bukan tekanan tajam pedang, itu tekanan runtuhnya sebuah gunung.

"Apa—"

Li Tian tidak memberi ampun.

"Gandakan!"

Kekuatannya naik dua kali lipat.

"TEBASAN NAGA JATUH!"

Li Tian mengayunkan pedangnya ke bawah.

BOOOM!

Suara ledakan sonik terdengar sebelum pedang itu menyentuh target.

Perisai darah Xue Sha—yang mampu menahan es Ye Qingyu dan petir Bao—seketika penyok ke dalam. Cairan darah itu tidak bisa menahan beban gravitasi yang tak masuk akal. Perisai itu pecah berantakan seperti balon air yang diinjak raksasa.

Pedang Li Tian terus melaju, menghantam bahu Xue Sha.

KRAK!

Tulang bahu kultivator jahat itu hancur. Tubuhnya ambles ke dalam tanah hingga sebatas pinggang. Gelombang kejut hantaman itu menerbangkan Bao dan Ye Qingyu menjauh (menyelamatkan mereka dari ledakan darah).

"ARGGHHH!" Xue Sha menjerit, darah segar menyembur dari mulutnya.

Tanah di sekitar mereka retak membentuk kawah selebar lima meter.

Li Tian mendarat di depan Xue Sha, napasnya memburu. Pedang Angin Biru di tangannya... patah menjadi dua. Senjata Kelas Roh Rendah itu tidak kuat menahan beban teknik Zu-Long.

"Sayang sekali pedangnya," gumam Li Tian, membuang gagang pedang yang rusak.

Xue Sha menatap Li Tian dengan horor. "Teknik apa itu... Berat sekali... Kau bukan manusia..."

Tiba-tiba, mata Xue Sha terpaku pada sarung tangan perunggu di tangan kanan Li Tian. Matanya yang merah menyala melebar.

"Tunggu... aura itu..." Xue Sha gemetar, bukan karena sakit, tapi karena pengenalan. "Aura Kuno... Kehampaan... Kau... kau memegang kunci Makam Kaisar?"

Li Tian mengerutkan kening. "Makam Kaisar?"

"Hahahaha!" Xue Sha tertawa gila sambil memuntahkan darah. "Tuan Besar... ramalan Tuan Besar benar! Salah satu kuncinya telah muncul! Dunia akan kiamat!"

Xue Sha tiba-tiba menggembungkan pipinya. Tubuhnya mulai bersinar merah terang dan membengkak.

"Lari!" teriak Zu-Long. "Dia mau meledakkan diri!"

Li Tian bereaksi cepat. Dia melompat mundur sambil menyambar kerah baju Bao yang pingsan di dekatnya.

DUAAARRR!

Xue Sha meledak menjadi kabut darah yang korosif. Ledakan itu menghancurkan rumah kepala desa dan meratakan area sekitarnya.

Debu dan asap darah mengepul.

Saat suasana kembali tenang, hanya tersisa kawah besar di tempat Xue Sha berdiri.

Tim Ye Qingyu selamat, meski babak belur. Ye Qingyu menatap kawah itu dengan napas tersengal, lalu menatap Li Tian yang sedang membersihkan debu dari jubahnya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kau..." Ye Qingyu menggelengkan kepala tak percaya. "Serangan terakhir itu... setara dengan Bangkit Jiwa Tingkat Puncak. Li Tian, siapa kau sebenarnya?"

Li Tian tersenyum tipis. "Hanya murid baru yang kebetulan punya pedang berat, Kakak Senior."

"Pedangmu patah," tunjuk Chen yang merangkak keluar dari balik gerobak, wajahnya pucat.

"Ya," Li Tian menatap potongan logam itu. "Sepertinya aku butuh senjata yang lebih baik."

Namun, pikiran Li Tian tertuju pada kata-kata terakhir Xue Sha. Makam Kaisar? Kunci?

"Guru," tanya Li Tian dalam hati. "Apa maksudnya?"

"Aku tidak tahu soal Makam," jawab Zu-Long, suaranya terdengar serius. "Tapi jika dia mengenali auraku... berarti ada pecahan ingatanku atau pusaka lain yang terkait denganku di tangan organisasi mereka. Ini kabar buruk, Bocah. Musuhmu bukan lagi sekadar murid sekte yang iri. Kau baru saja masuk ke dalam radar organisasi gelap."

Li Tian mengepalkan tangannya. "Bagus. Biar mereka datang. Aku butuh lawan latihan."

Di dasar kawah bekas ledakan, sebuah benda berkilau tertinggal. Itu bukan daging, melainkan sebuah Cincin Penyimpanan berwarna merah darah yang selamat dari ledakan.

Mata Li Tian berbinar. "Jarahan Perang."

1
Nanik S
Musuh Lama bermunculan Li Tian
Nanik S
Li Tian... banyak sekali Musuhmu
Nanik S
Kadal Pitih.... Li Tian memang lumayan Konyol
𝘼̶N̶A̶L̶I̶S̶T
novel ke dua yg aku taruh di rak buku setelah " Legenda Pendekar Naga" karena emank layak di baca.
Nanik S
Keren Tor.. 👍👍👍
Nanik S
Dua Naga yang bermusuhan lagi Bersatu melawan musuh...
Nanik S
Musuh dari musuhmu adalah teman 👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Naga hitam Dan Naga putih bertarung
Nanik S
Apakah mereka akan bertemu kembali untuk adu kekuatan atau hancur bersama
Nanik S
God Joob
Nanik S
Li Tian dapat saingan
Nanik S
Jooooooos
Nanik S
Dimana tepatnya rumah Xiao Yu
Nanik S
Xiao Yu... keturunan terakhir penjaga Malam Kaisar
Nanik S
Dapat 3 inti
Nanik S
Li Tian akhirnya ikut mabuk juga
Nanik S
Maaaantaaap Pooool
Nanik S
Mau tarung mikirin paaha Ayam
Nanik S
Li Tian... pedang tak bermata...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!