NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: PEMBALASAN YANG DINGIN

Suasana sekolah mendadak mencekam setelah jam sekolah usai. Revaldi sedang berjalan menuju parkiran dengan langkah emosi karena rencananya gagal total. Dimas dan Bayu mengekor di belakangnya dengan wajah pucat.

"Gue nggak mau tahu, cari cara lain! Gue mau Samudera hilang dari sekolah ini!" bentak Revaldi sambil menendang ban mobilnya.

"Cari cara apa lagi, Val? Loe lihat sendiri tadi Alsya malah belain dia," sahut Dimas ragu.

"Makanya kita singkirin dulu penghalangnya—"

Ucapan Revaldi terhenti saat sebuah motor hitam besar tiba-tiba melesat dan berhenti tepat di depan mobilnya, menghalangi jalan keluar. Samudera turun dari motor tanpa melepas helmnya, auranya sangat mengancam.

"Loe lagi! Mau apa loe? Belum puas pamer di depan Alsya tadi pagi?" tantang Revaldi, meski tangannya sedikit gemetar.

Samudera membuka helmnya perlahan. Wajahnya sangat tenang, tapi matanya dingin seperti es. "Gue tadi mau diemin loe, Val. Tapi loe udah mulai main-main sama keselamatan Alsya dengan ngelibatin dia di jebakan murah loe itu."

"Gue nggak ngelibatin dia! Dia yang sok pahlawan!" bantah Revaldi.

Samudera maju satu langkah, membuat Dimas dan Bayu refleks mundur. "Loe denger ya. Gue pindah ke sini karena gue nggak mau lagi berurusan sama sampah kayak loe. Tapi kalau loe yang minta, gue bakal ladenin."

Tiba-tiba, Samudera mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman suara. Suara itu sangat jelas—itu adalah percakapan Revaldi, Dimas, dan Bayu di ruang ganti saat merencanakan jebakan obat terlarang tadi siang.

Wajah Revaldi langsung pucat pasi. "Loe... loe dapet dari mana itu?!"

"Loe pikir loe doang yang punya mata dan telinga di sekolah ini?" Samudera tersenyum tipis. "Kalau rekaman ini sampai ke tangan Pak Bagas, atau lebih bagus lagi, ke tangan bokap loe yang katanya rekan bisnis Papa Saga itu... gimana nasib 'anak emas' ini?"

"Samudera, jangan... gue cuma bercanda tadi," suara Revaldi langsung menciut. Dia tahu betul Papanya adalah orang yang sangat keras soal reputasi. Jika rekaman ini tersebar, karirnya sebagai kapten basket dan masa depannya tamat.

"Bercanda?" Samudera mencengkeram kerah baju Revaldi dengan satu tangan, mengangkatnya sedikit hingga Revaldi harus berjinjit. "Loe bikin Alsya nangis tiap hari, loe banding-bandingin dia sama Eliza, dan loe hampir bikin dia dikeluarin sekolah. Itu bukan bercanda, itu sampah."

Samudera mendekatkan wajahnya ke telinga Revaldi. "Mulai sekarang, kalau gue denger loe ngomong kasar lagi ke Alsya, atau kalau loe berani deketin dia lagi... rekaman ini bakal jadi berita utama di grup sekolah dan di meja kerja bokap loe. Paham?"

Revaldi mengangguk cepat, benar-benar ketakutan. Samudera melepaskan cengkeramannya hingga Revaldi terhuyung jatuh ke arah mobilnya.

Sementara itu, dari balik tembok koridor, Alsya melihat semuanya. Dia tidak menyangka Samudera akan bertindak sejauh itu. Ada rasa takut, tapi jauh di dalam hatinya, ada rasa lega yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berjuang untuknya sekeras itu.

Samudera kembali ke motornya, tapi sebelum dia memakai helm, dia menoleh ke arah tembok tempat Alsya bersembunyi.

"Keluar, Sya. Gue tahu loe di situ," ucap Samudera tanpa menoleh.

Alsya keluar dengan ragu. "Sam... loe beneran punya rekaman itu?"

Samudera menyodorkan ponselnya ke Alsya. Begitu Alsya melihat layarnya, ternyata Samudera tidak sedang memutar rekaman suara, tapi hanya memo kosong.

"Hah? Jadi loe cuma gertak dia?" tanya Alsya melongo.

"Orang kayak dia itu pengecut, Sya. Dia cuma berani kalau punya kuasa. Begitu loe pegang titik lemahnya, dia bakal berlutut," jawab Samudera santai sambil memakai helmnya. "Naik. Kita jemput motor loe di bengkel, terus kita cari es krim. Loe butuh sesuatu yang manis biar nggak tegang terus."

Alsya tertawa, kali ini tawa yang benar-benar lepas. Dia naik ke belakang Samudera, memeluk pinggang cowok itu erat tanpa ragu lagi.

"Samudera, loe bener-bener gila," bisik Alsya di balik punggung Samudera.

"Emang. Dan loe juga sama gilanya karena mau temenan sama gue," sahut Samudera sebelum menarik gas motornya.

Pembalasan yang cerdik dari Samudera!

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!