Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendaftaran kompetisi agung
Debu-debu pertempuran singkat tadi masih melayang di udara saat Zhou Yu memimpin rekan-rekannya melintasi kerumunan yang kini terdiam seribu bahasa. Ketegangan masih terasa mencekik, namun Zhou Yu berjalan dengan punggung tegak, langkahnya mantap, menciptakan ritme yang menenangkan bagi anggota timnya yang baru saja terguncang.
Di ujung alun-alun, berdirilah sebuah tenda megah berwarna emas dan merah, tempat di mana para delegasi dari seluruh kekaisaran mendaftarkan diri. Meja pendaftaran itu dijaga oleh beberapa pejabat kekaisaran yang mengenakan jubah sutra berat.
Zhou Yu berhenti tepat di depan meja utama. Ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah token perunggu yang diukir dengan lambang awan dan pedang yang bersilang. Dengan gerakan tenang, ia meletakkan token itu di atas meja kayu cendana.
"Zhou Yu.Akademi Tian Meng," ucapnya dengan suara rendah namun bertenaga.
Petugas pendaftaran, seorang pria paruh baya dengan kumis tipis, awalnya tampak bosan. Namun, begitu matanya menangkap lambang pada token tersebut dan telinganya mendengar nama "Tian Meng", ia tersentak hingga kursinya berderit. Pena bulu di tangannya hampir terjatuh.
"Akademi... Tian Meng?" Petugas itu mendongak, matanya membelalak kagum sekaligus ngeri. "Akademi yang tidak pernah keluar dari posisi tiga besar dalam sejarah kompetisi? Salah satu dari tiga pilar kekuatan kekaisaran?"
Ia menelan ludah. Reputasi Tian Meng sangatlah agung. Meskipun mereka sering kali harus puas di peringkat kedua atau ketiga karena dominasi tim inti Kekaisaran Zhonghua yang memiliki sumber daya tak terbatas, namun Tian Meng adalah satu-satunya akademi yang pernah merebut gelar juara dua kali dari tangan tuan rumah.
"Benar, Tuan," sahut Zhou Yu datar. "Kami datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami."
Petugas itu mengangguk cepat, tangannya gemetar saat mencatat nama mereka. "S-silakan... silakan lanjut ke area pengujian identitas di sebelah sana untuk verifikasi garis darah dan energi. Kami harus memastikan tidak ada penyusup dari luar kekaisaran."
Area pengujian identitas adalah sebuah gerbang batu yang dilengkapi dengan kristal pendeteksi energi. Di sini, kejujuran setiap kultivator diuji.
Zhou Yu melangkah maju terlebih dahulu. Ia meletakkan tangannya pada kristal tersebut. Kristal itu berdenyut dengan cahaya emas yang murni namun memiliki aura dingin yang tajam di intinya.
"Zhou Yu. Asal: Akademi Tian Meng. Elemen: Es. Status: Bersih," ucap penjaga gerbang dengan nada hormat. Zhou Yu hanya mengangguk dan masuk ke area dalam.
Kemudian giliran Yan Xu. Pemuda ini tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik perhatian. Ia melompat maju dengan cengiran lebar, lalu menghantamkan tangannya ke kristal penguji dengan penuh semangat.
"Namaku Yan Xu! Dari Keluarga Yan yang agung, si Penguasa Api Matahari!" teriaknya girang. Seketika, kristal itu membara merah terang, mengeluarkan uap panas yang membuat penjaga harus mundur beberapa langkah. "Bagaimana? Cukup panas untuk membakar semangat kompetisi ini, kan? Hahahaha!"
Penjaga itu mengusap keringat di dahinya. "Y-ya... Yan Xu. Status: Bersih. Tolong kecilkan apimu, kau hampir melelehkan meja kami."
Berikutnya adalah Xiao Bai. Karena tubuhnya yang mungil dan tertutup oleh jubah tabib yang agak besar, penjaga itu sempat celingukan. "Mana peserta berikutnya? Kenapa kosong?"
"HEI! AKU DI SINI!" teriak Xiao Bai sambil melompat-lompat kecil di depan meja yang tingginya hampir setara kepalanya. Ia cemberut, pipinya menggembung karena kesal. "Aku bukan hantu! Aku peserta sah dari Tian Meng!"
Penjaga itu menunduk dan terkejut melihat gadis mungil dengan wajah polos seperti salju. "Ah, maafkan aku, Nona Kecil. Aku pikir ada anak kecil yang tersesat mencari ibunya."
"Aku sudah tujuh belas tahun!" protes Xiao Bai dengan nada imut yang justru membuat penjaga itu terkekeh. "Periksa identitasku sekarang atau aku akan memberikanmu obat pencahar terkuat!"
"Baik, baik, jangan galak-galak dong," canda penjaga itu sambil memverifikasi energinya. "Xiao Mei alias Xiao Bai. Status: Bersih. Silakan masuk, tabib mungil."
Suasana berubah drastis saat Wang Da melangkah maju. Bayangan besar menutupi meja pendaftaran. Wang Da memiliki tinggi badan yang sangat intimidasi, bahkan Zhou Yu yang tergolong tinggi hanya setinggi lehernya. Penjaga itu harus mendongak begitu jauh hingga lehernya terasa kaku.
"Wang Da," ucapnya pendek. Suaranya berat seperti guntur yang terpendam.
"K-kau... kau manusia atau raksasa gunung?" gumam penjaga itu gemetar. "Letakkan tanganmu di kristal... pelan-pelan saja, tolong jangan dihancurkan."
Wang Da meletakkan tangannya, dan kristal itu bergetar hebat memancarkan warna cokelat bumi yang solid. "Sudah?" tanya Wang Da dingin, entah kenapa insting pemimpin garda depan nya kembali muncul saat melihat Xiao Bai nya di goda oleh penjaga. Penjaga itu hanya mengangguk cepat, tidak berani bercanda sedikitpun.
Terakhir, suasana menjadi sangat sunyi dan mencekam saat Su Lin mendekat. Begitu namanya tertera di gulungan identitas, hawa dingin yang tidak alami menyebar. Orang-orang di sekitar mulai berbisik dengan nada penuh kebencian.
"Keluarga Su... Su Lin?" "Wanita iblis... kenapa dia diizinkan ikut?"
Yan Xu yang mendengar itu langsung berbalik, matanya menyala. "Siapa yang bicara?! Maju sini! Aku akan membakar lidah kalian satu-satu kalau berani menghina rekan timku lagi!" teriaknya menantang massa.
Penjaga gerbang tampak ragu, wajahnya menunjukkan rasa jijik saat menatap Su Lin. Namun, ia teringat bahwa meskipun banyak rumor buruk, Keluarga Su tetaplah bangsawan tingkat tinggi yang memiliki pengaruh politik kuat di kekaisaran.
"Selesaikan pekerjaanmu, tua bangka!" bentak Yan Xu pada penjaga itu. "Atau kau ingin aku melaporkanmu karena menghambat proses pendaftaran bangsawan?"
Penjaga itu segera mencap gulungan Su Lin dengan tangan gemetar. "Su Lin. Status: Bersih. Masuklah."
Setelah pendaftaran selesai, mereka berkumpul di lapangan utama bersama ratusan tim lainnya. Di atas panggung tinggi, seorang Tetua Agung dengan jubah kebesaran berdiri, suaranya diperkuat oleh energi Qi hingga terdengar ke seluruh penjuru kota.
"Dengarlah, para pejuang!" teriak Tetua itu. "Kompetisi akan dimulai dalam dua hari. Lembah Kabut Kematian telah menanti kalian. Di sana, tidak ada hukum selain kekuatan."
Ia menjelaskan secara detail: "Babak penyisihan berlangsung satu hari penuh. Tugas kalian adalah mengumpulkan Mutiara Nyawa dari tim lawan. Di dalam lembah, kabut beracun akan mengikis energi kalian setiap detik. Binatang buas tingkat tinggi akan memburu kalian. Dan ingat... di dalam sana, kematian adalah risiko yang kalian tanda tangani sendiri. Pembunuhan diperbolehkan jika itu demi merebut mutiara."
Suasana lapangan menjadi sangat tegang. Banyak murid sekte kecil yang mulai pucat mendengar kengerian yang akan dihadapi. "Gunakan dua hari ini untuk bernapas, karena mungkin itu adalah napas terakhir kalian!" pungkas Tetua tersebut sebelum membubarkan massa.
Zhou Yu yang mendengar hal itu pun segera memikirkan dan memperkirakan keuntungan, resiko dan kesempatan tim nya dengan sangat cepat melalui kemampuan analisis jari aritmatika nya. setelah beberapa saat perkiraan Zhou Yu akhirnya menemukan strategi dan taktik yang cocok untuk di gunakan saat kompetisi awak di mulai, itu semua tergambar dalam sebuah visual di dalam kepalanya.
Lalu beberapa saat kemudian saat dalam perjalanan pulang menuju kamp, suasana terasa berat. Su Lin berjalan paling belakang, kepalanya tertunduk. Kata-kata "Wanita Iblis" tampaknya menghujam jiwanya lebih dalam dari yang ia perlihatkan. Langkahnya sempoyongan, seolah tenaganya telah terkuras habis oleh tekanan mental.
Yan Xu, yang selalu memperhatikan Su Lin, tidak tahan melihatnya seperti itu. Ia tiba-tiba melompat ke depan Su Lin dan mulai bertingkah seperti monyet mabuk, melakukan gerakan-gerakan bela diri yang ngawur sambil membual.
"Lihat aku, Su Lin! Dengan jurus 'Monyet Terbakar' ini, aku akan mengalahkan seluruh peserta sendirian! Kau tinggal duduk manis dan melihat ketampananku menyinari lembah itu!" teriak Yan Xu sambil berputar-putar hingga hampir menabrak gerobak pedagang.
Xiao Bai ikut mendekat, ia memegang tangan Su Lin yang dingin. "Kak Su Lin, jangan dengarkan mereka. Mereka hanya iri karena kau sangat cantik dan kuat. Aku akan selalu ada di belakangmu untuk menyembuhkan setiap lukamu. Kita adalah tim, bukan?"
Wang Da mengangguk, suaranya berat dan tulus. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada yang bisa menghinamu lagi di depanku. Aku akan meremukkan kepala siapa saja yang berani mencemooh teman-temanku."
Su Lin menatap mereka satu per satu. Matanya yang dingin mulai berkaca-kaca, namun ia menahannya dengan senyum tipis yang tulus. "Terima kasih..."
suasana berbalik di depan mereka, Zhou Yu berjalan menyendiri. Ia seolah berada di dunianya sendiri. Tangannya diam-diam merogoh balik jubahnya, menggenggam sebuah liontin giok kecil berbentuk bulan sabit pemberian terakhir dari Ling'er sebelum tragedi itu terjadi. Sorot matanya dipenuhi kerinduan yang menyayat hati, sebuah kesedihan yang begitu mendalam hingga atmosfer di sekitarnya terasa sunyi.
Wang Da dan Yan Xu saling lirik. Mereka tahu pemimpin mereka sedang tenggelam dalam duka. Tanpa aba-aba, keduanya berlari kecil dan langsung merangkul bahu Zhou Yu dari kedua sisi, hampir membuat Zhou Yu terhuyung karena beban mereka yang besar.
"Woi, bocah es! Berhenti memasang wajah seperti orang mati!" teriak Yan Xu sambil mengacak-acak rambut Zhou Yu. "Kita akan menang! Aku akan membantai semua musuh musuh kita dengan satu gerakan!"
"Benar!," tambah Wang Da dengan tawa pendek. "Ayo makan besar malam ini! Aku yang bayar!"
"MAKAN!? BENAR KAH! AKU MAU!" Teriak Xiao Bai dengan kegirangan, "Ya!!, kita makan sepuasnya!" Saut Wang Da sambil tersenyum lebar.
Zhou Yu tertegun. Ia menatap wajah rekan-rekannya yang penuh semangat. Perlahan, beban di dadanya seolah sedikit terangkat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, sebuah senyuman tipis sangat tipis namun tulus terpahat di wajah Zhou Yu.
"EH?! DIA TERSENYUM?!" teriak Yan Xu histeris, melompat mundur seolah melihat keajaiban dunia.
"DEMI DEWA! KAK ZHOU YU BISA TERSENYUM!" teriak Xiao Bai sambil menunjuk-nunjuk wajah Zhou Yu dengan mata melotot kaget. Su Lin pun terpaku, menutup mulutnya karena tidak percaya.
Wang Da hanya tersenyum bangga. Ia melihat cahaya yang sudah lama padam di mata adiknya kini mulai menyala kembali. "Akhirnya... kau kembali, adik ku.."
Matahari sore yang berwarna merah keemasan mulai tenggelam di cakrawala, menyinari kelima pemuda itu yang berjalan beriringan menuju penginapan. Bayangan mereka memanjang di atas tanah, melambangkan sebuah persatuan yang tidak akan bisa dipatahkan oleh kabut kematian sekalipun.
Hari itu, mereka bukan lagi sekadar rekan setim, mereka telah menjadi sebuah keluarga. Di bawah langit senja yang indah, langkah mereka terasa lebih ringan, menyongsong badai yang akan datang dua hari lagi dengan keberanian yang baru.
Langkah kaki mereka membawa tim menuju sebuah kedai restoran besar yang terletak di sudut jalan utama kota kekaisaran. Kedai itu bernama "Paviliun Awan Merah," tempat yang terkenal dengan masakan daging panggangnya yang lezat dan araknya yang wangi. Suasana di dalam sangat ramai, namun sebuah meja besar di pojok ruangan segera menjadi milik mereka.
"Pelayan! Bawakan menu paling mahal, paling banyak, dan paling enak di sini!" teriak Yan Xu sambil menepuk meja dengan semangat. "Hari ini Wang Da yang bayar, jadi jangan ragu!"
Wang Da memelotot. "Woi!!, jangan kebanyakan bisa bisa aku jatuh miskin!" teriak Wang Da
"Ah, kau pelit sekali, Da Ge..." Yan Xu menyeringai jahil. "Anggap saja ini investasi mental. Kalau perut kenyang, nyali pun kencang!"
Tak butuh waktu lama, meja mereka dipenuhi dengan ayam panggang madu, iga sapi rempah, dan berbagai macam tumisan sayur. Wang Da langsung menyambar paha ayam raksasa.
"Xiao Bai, makan ini," ucap Wang Da sambil menaruh potongan daging besar ke piring Xiao Bai. "Tubuhmu itu sudah kecil, kalau tidak makan banyak, kau bisa terbang terbawa angin di Lembah nanti."
Xiao Bai menggembungkan pipinya. "Wang Da! Berhenti memanggilku kecil! Dan aku bisa mengambil sendiri, tahu!" Namun, meski mengomel, ia tetap memakan daging itu dengan lahap sampai pipinya penuh.
"Su Lin," Yan Xu mendekatkan kursinya ke arah Su Lin yang sedang memotong sayuran dengan anggun. "Kau tahu, melihatmu makan itu seperti melihat lukisan abadi. Dingin, tapi... membuatku lapar. Maksudku, lapar ingin makan bersamamu selamanya."
Su Lin terhenti, wajahnya yang dingin mendadak sedikit memerah. "Yan Xu, makanlah makananmu atau aku akan membekukan sumpitmu."
"Lihat! Dia malu-malu lagi!" Yan Xu tertawa riang, membuat Su Lin memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum tipis yang hampir lolos.
Zhou Yu duduk di tengah mereka, hanya memperhatikan. Ia menyesap teh hangatnya. Melihat interaksi ini pertengkaran konyol Wang Da dan Xiao Bai, serta usaha keras Yan Xu mendekati Su Lin Zhou Yu merasakan sesuatu yang sudah sangat lama hilang dari hatinya. Kehangatan. Ia merasa seolah-olah beban berat yang selama ini dipikulnya sendirian, kini terbagi ke pundak-pundak di sampingnya.
"Pelayan! Bawa sepuluh guci arak terbaik!" seru Wang Da.
Saat guci-guci tanah liat itu tiba, Xiao Bai dengan mata berbinar mencoba meraih salah satunya. Namun, tangan besar Wang Da lebih cepat menangkap leher guci tersebut dan menjauhkannya.
"Eit! Anak kecil dilarang minum ini. Ini urusan laki-laki dewasa," ejek Wang Da.
"Wang Da! Aku sudah bilang berkali-kali, aku sudah tujuh belas tahun! Aku sudah dewasa!" Xiao Bai berdiri di atas kursinya agar terlihat lebih tinggi, wajahnya merah padam karena kesal. "Aku seorang tabib! Aku tahu dosis minuman ini!"
"Tujuh belas tahun bagiku tetap saja bocah mungil yang perlu dijaga," Wang Da membalas sambil meneguk araknya. "Minum saja jus jerukmu itu, Xiao Bai. Nanti kalau kau mabuk, kau bisa mengira paluku ini adalah bantal."
"Aku dewasa! Aku dewasa! Berikan padaku!" Xiao Bai mencoba merebutnya dengan melompat ke arah Wang Da, namun Wang Da hanya menahan kening Xiao Bai dengan satu telunjuknya, membuat gadis itu hanya bisa menggerakkan tangannya di udara tanpa bisa menjangkau guci itu.
"Hahaha! Lihat dia, seperti kucing kecil yang marah!" Yan Xu menimpali sambil menuangkan arak ke cawan Zhou Yu dan Su Lin.
Beberapa jam berlalu. Suasana kedai semakin riuh. Guci-guci kosong mulai berserakan di bawah meja. Wang Da dan Yan Xu ternyata tidak sehebat bualannya dalam urusan minum. Pada akhir nya Zhou Yu dan Su Lin lah yang minum paling banyak.
"Zhou Yu... kau tahu..." Wang Da merangkul leher Zhou Yu, bicaranya mulai tidak jelas dan tubuhnya limbung ke kiri dan kanan. "Kau itu... adik terbaikku. Kalau ada yang berani melukaimu... aku akan... hic... aku akan memukulnya sampai ke cakrawala!"
"Dan Su Lin..." Yan Xu di sisi lain mencoba berdiri namun kakinya seperti jeli. Ia menunjuk Su Lin dengan jari yang bergoyang. "Kenapa... kenapa ada dua Su Lin? Apakah ini teknik penggandaan es? Tapi keduanya... sama-sama cantik... hic."
Su Lin hanya menghela napas, wajahnya juga sedikit memerah karena beberapa cawan arak, tapi ia masih tetap sadar. Sementara Xiao Bai sudah tertidur pulas di atas meja setelah diam-diam meminum sisa arak di gelas Wang Da saat pria itu tidak melihat.
"Sudah waktunya pulang," ucap Zhou Yu tenang.
Adegan berikutnya adalah kekacauan yang menggelikan. Zhou Yu, dengan kekuatannya, harus membopong Wang Da di bahu kanan dan Yan Xu di bahu kiri. Kedua pria besar itu terus meracau tidak jelas sepanjang jalan.
"Ayo... satu gelas lagi!" gumam Yan Xu di bahu Zhou Yu. "Yu... jangan jalan terlalu cepat... buminya berputar..." keluh Wang Da.
Xiao Bai berjalan di belakang mereka dengan langkah yang sedikit goyah, dibimbing oleh Su Lin. Mereka berjalan menembus malam kota kekaisaran yang tenang. Di bawah sinar bulan, Zhou Yu tersenyum kecil melihat beban di bahunya. Meski mereka berat, hatinya terasa sangat ringan.
Inilah timnya. Inilah keluarganya. Dan ia bersumpah akan membawa mereka semua pulang dengan selamat.
...Bersambung.... ...