Ongoing
Feng Niu dan Ji Chen menikah dalam pernikahan tanpa cinta. Di balik kemewahan dan senyum palsu, mereka menghadapi konflik, pengkhianatan, dan luka yang tak terucapkan. Kehadiran anak mereka, Xiao Fan, semakin memperumit hubungan yang penuh ketegangan.
Saat Feng Niu tergoda oleh pria lain dan Ji Chen diam-diam menanggung sakit hatinya, dunia mereka mulai runtuh oleh perselingkuhan, kebohongan, dan skandal yang mengancam reputasi keluarga. Namun waktu memberi kesempatan kedua: sebuah kesadaran, perubahan, dan perlahan muncul cinta yang hangat di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Hari-hari setelah pertemuan pertama itu berjalan aneh bagi Feng Niu.
Tidak ada perubahan besar yang terjadi di rumah. Ji Chen tetap pulang larut, tetap dingin, tetap sopan dengan jarak yang terasa seperti tembok kaca—terlihat dekat, tapi tak bisa disentuh. Xiao Fan tetap bangun pagi dengan mata sembab, memeluk boneka kelinci yang sudah lusuh, dan belajar membaca suasana sebelum bersuara. Semuanya tampak sama.
Namun di dalam diri Feng Niu, sesuatu telah bergeser.
Ia mulai menunggu pesan.
Bukan dari Ji Chen—ia bahkan sudah lama berhenti berharap. Melainkan dari sebuah nama yang muncul di layar ponselnya dengan nada notifikasi yang terlalu cerah untuk hidupnya yang abu-abu.
Hao Yiran.
Pesannya selalu sederhana. Tidak pernah menuntut. Tidak pernah bertanya berlebihan.
Sudah makan?
Hari ini kamu terlihat cantik, walau hanya lewat bayangan di pikiranku.
Aku tahu kamu lelah. Jangan lupa istirahat.
Kata-kata itu… ringan. Hampir tidak bermakna. Tapi justru karena itulah Feng Niu terperangkap.
Di rumah ini, setiap kata selalu mengandung tuntutan.
Setiap tatapan selalu membawa penilaian.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada seseorang yang memandangnya bukan sebagai istri yang gagal, bukan ibu yang tidak becus, bukan anak perempuan yang mengecewakan.
Hanya… perempuan.
Hari itu hujan turun sejak pagi. Bukan hujan deras, hanya gerimis panjang yang membuat kota tampak kusam dan lambat. Feng Niu duduk di dalam mobilnya, mesin belum dimatikan, menatap gedung kantor tempat Hao Yiran bekerja—tempat ia kini sering “tak sengaja” mampir.
Ia tidak langsung turun.
Tangannya gemetar di setir. Ada suara kecil di kepalanya yang berteriak bahwa ini salah. Bahwa ia seharusnya pulang. Bahwa Xiao Fan mungkin sedang menunggunya, meski anak itu jarang menunggu dengan harapan.
Namun suara lain—yang lebih lembut, lebih menggoda—berbisik bahwa ia pantas bahagia.
Dan Feng Niu, untuk pertama kalinya, memilih suara itu.
Ketika ia masuk ke lobi, Hao Yiran sudah menunggunya. Tidak berdiri mencolok. Tidak berlebihan. Jas abu-abu rapi, rambut disisir sederhana, senyum kecil yang muncul bukan karena ingin dilihat orang lain—melainkan karena melihatnya.
“Cuacanya buruk,” katanya pelan.
“Tapi kamu tetap datang.”
Feng Niu mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. “Aku kebetulan lewat.”
Hao Yiran tidak tertawa mengejek. Tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, seolah itu jawaban paling jujur di dunia.
“Kopi?” tawarnya.
Mereka duduk di sudut kafe yang sepi. Jendela besar memperlihatkan hujan yang jatuh malas, seperti dunia yang sedang kelelahan. Hao Yiran memesan tanpa bertanya—kopi susu hangat, tidak terlalu manis.
“Kamu ingat?” Feng Niu bertanya, sedikit terkejut.
“Kamu bilang minggu lalu. Kalau kopi pahit bikin kepalamu sakit.”
Kalimat itu sederhana. Tapi ada sesuatu yang retak di dada Feng Niu.
Ji Chen bahkan tidak tahu ia minum kopi atau tidak.
Percakapan mengalir tanpa arah yang jelas. Tentang pekerjaan. Tentang film yang tidak sempat ditonton. Tentang restoran kecil yang baru buka. Hao Yiran lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tatapannya selalu tertuju padanya—bukan menilai, bukan menginterogasi, hanya… memperhatikan.
Dan itu membuat Feng Niu berbicara lebih banyak dari biasanya.
Tentang lelah. Tentang malam-malam panjang. Tentang perasaan kosong yang tidak pernah benar-benar ia akui pada siapa pun. Ia tidak menyebut nama Ji Chen. Tidak menyebut pernikahan. Tapi Hao Yiran mengerti.
Ia selalu mengerti.
“Kamu tahu,” katanya pelan, setelah Feng Niu terdiam lama. “Ada orang yang hidupnya dipenuhi kewajiban sampai lupa caranya bernapas.”
Feng Niu menatap cangkirnya. Uap tipis naik, mengaburkan pandangannya.
“Dan ada orang lain,” lanjut Hao Yiran, “yang hanya ingin kamu bernapas… meski tidak bersamanya.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang ia duga.
Feng Niu tertawa kecil—getir. “Kamu terlalu baik.”
Hao Yiran menggeleng. “Tidak. Aku hanya jujur.”
Di rumah, malam itu, Feng Niu pulang dengan langkah ringan yang aneh. Xiao Fan sudah tidur. Ji Chen belum pulang. Rumah sunyi, tapi tidak menyesakkan seperti biasanya.
Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap wajahnya sendiri. Ada sesuatu yang berubah. Bukan di riasan—ia bahkan tidak memakai apa-apa hari ini. Tapi di mata.
Mata itu… hidup.
Dan itu menakutkan.
Hari-hari berikutnya, Hao Yiran menjadi bagian kecil namun konsisten dalam hidupnya. Pesan pagi. Telepon singkat saat jam makan siang. Pertemuan “kebetulan” yang terlalu sering untuk disebut kebetulan.
Ia tidak pernah menyentuhnya.
Tidak pernah mencoba melampaui batas.
Dan justru itu yang membuat Feng Niu semakin terjerat.
Di sisi lain, Ji Chen mulai merasakan perubahan itu—tanpa tahu sumbernya.
Feng Niu tidak lagi memancing pertengkaran setiap kali ia pulang. Tidak lagi melempar kata-kata tajam. Ia lebih sering diam… dan diamnya berbeda. Seolah pikirannya berada di tempat lain.
Ada senyum kecil yang kadang muncul tanpa sebab.
Dan Ji Chen—yang terlalu lama hidup dalam dingin—tidak tahu apakah harus lega atau waspada.
Suatu malam, saat Feng Niu berdiri di balkon, ponsel di tangannya bergetar.
Kalau kamu sedih malam ini,
tutup mata sebentar.
Bayangkan ada seseorang yang menganggapmu cukup. Tanpa syarat.
Air mata Feng Niu jatuh tanpa suara.
Ia tidak membalas pesan itu.
Tapi di dalam dadanya, sesuatu yang lama mati… mulai berdetak pelan.
Jauh di dalam rumah, Xiao Fan terbangun dari tidurnya, memanggil pelan tanpa suara. Tidak ada yang mendengar. Anak itu memeluk bonekanya lebih erat, seperti biasa.
Dan tanpa disadari siapa pun, jarak di antara mereka—ibu, ayah, dan anak—mulai berubah bentuk.
Bukan semakin dekat.
Melainkan semakin berbahaya.