Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Karina tersentak bangun, matanya membelalak, pandangannya berputar cepat ke sekeliling kamar. Ia melihat Damon, Tasya, dan Jake. Tubuhnya kaku, benar-benar membeku, bukan sekadar perasaan. Matanya turun, memperhatikan telapak tangannya yang pucat pasi dan mulai membiru.
“Apa yang terjadi padaku?” gumam Karina. Bibirnya gemetar kedinginan, padahal saat ini bukan musim dingin, dan ia bahkan tidak tinggal di negara yang memiliki salju.
“Kamu hampir mati,” ucap Tasya pelan, menatap Karina dengan penuh kekhawatiran.
“Kenapa kamu memakai kalung ini?” tanya Damon, matanya menyala marah saat menggenggam erat liontin merah itu. Rahangnya menegang, dan gigi bergemeletukkan.
Di sisi lain, Jake diam. Ia hanya berdiri agak jauh, dekat dengan gagang pintu, waspada, seolah siap menghadapi seseorang… atau sesuatu yang mungkin datang.
Namun alih-alih menjawab pertanyaan Tasya dan Damon, Karina justru terpaku menatap kalung yang digenggam Damon. Liontinnya menjuntai, memancarkan warna merah pekat seperti darah segar. Kenangan yang baru saja ia dapatkan kembali berputar cepat dalam kepalanya, membanjiri pikirannya dengan perasaan campur aduk.
Jika apa yang tadi ia lihat adalah potongan dari ingatannya yang hilang, bagian dari masa lalu yang lama terlupakan, apakah itu berarti—
Ia dan Hugo… pernah menikah? Ia pernah tinggal di rumah itu?
Dan Kate, atau Katerina, adalah wanita yang dicintai Hugo. Apakah itu sebabnya Kate begitu membencinya? Pikiran itu menusuk Karina seperti belati, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dan dada terasa sesak.
“Karin! Hei,” Tasya melambaikan tangannya di depan wajah Karina membuatnya tersentak kaget.
“Ahm…Itu, kalung itu–” Karina membasahi bibirnya yang kering beberapa kali sambil menyusun kalimat yang hendak ia sampaikan. “–apa asal usulnya? Kenapa aku kedinginan saat memakainya?” Tanyanya kemudian.
Damon tiba-tiba melemparkan kalung dalam genggamannya ke dalam kotaknya, kemudian memindahkan Karina dengan gerakan cepat ke dalam gendongannya.
“AAa!” Karin berteriak kaget, refleks mengalungkan kedua tangannya ke leher Damon. Matanya dan Damon bertemu. Untuk kesekian kalinya Karina tidak berhasilnya menembus masuk ke dalam netra gelap itu. Benar-benar misterius dan tak terbaca.
Tanpa sepatah katapun, Damon membawa Karina ke tempat tidur mendiang ibunya. Ia membaringkan tubuhnya dengan sangat hati-hati disana dengan mata yang terus menatap Karina. Tak sanggup lagi, Karina memilih mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Jangan lakukan kebodohan itu lagi,” ucap Damon datar setelah menidurkan Karina dan membungkusnya dengan selimut hangat. Jake membuka pintu, lalu melangkah keluar setelah mengangguk singkat pada Damon.
“Itu bukan kebodohan,” balas Karina agak kesal. “Aku melakukannya karena kebingungan. Aku terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi di masa lalu, tapi tidak ada yang mau memberitahuku. Semua orang selalu bilang aku lebih baik tidak tahu.”
Tawa miris lolos dari bibir pucatnya. Ia menatap dinding sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang hampir bergetar, “Aku tidak mau gila karena terus menebak-nebak apakah aku melakukan kesalahan besar atau hanya menjadi korban–”
“Dan apakah kamu sudah menemukan jawaban yang kamu cari?” potong Damon cepat.
“Aku–”
BRAK!
Pintu terbuka dengan kasar sebelum Karina sempat menyelesaikan kalimatnya. Jake masuk tergopoh-gopoh, sebelah tangannya berlumuran darah, wajahnya pucat pasi.
“Gawat, Tuan! Sepertinya mereka sudah tahu nona Karin ada di sini. Aura kalung itu memang sangat kuat,” lapor Jake, suaranya tersengal.
Karina ngeri sendiri melihat darah dari tangan Jake yang terus bercucuran dan menetes ke lantai. Pasti sakit sekali.
“Kita harus segera menyembunyikan Karin,” Tasya bergerak cepat, panik, dan menghampiri Karina dengan langkah tergesa.
“Di mana mereka, Jake?” tanya Damon.
“Mereka ada di ruang tamu, Tuan. Aku menahannya di sana, tapi itu tidak akan bertahan lama,” jawab Jake, matanya menatap tajam ke arah pintu.
Damon dengan cepat mengambil Karina ke pelukannya lagi. Tubuhnya ringan tapi tetap saat Damon menggendongnya keluar dari kamar. Tasya mengikuti di belakang dengan langkah cepat, matanya waspada ke segala arah. Jake tetap di kamar, berdiri tegak di dekat pintu.
“Aku mau dibawa kemana, Damon?” suara Karina terdengar panik, sedikit gemetar, namun Damon tetap diam. Tidak ada jawaban, mereka melangkah cepat menuju bagian belakang rumah tersebut.
Karina menempel di dada Damon, mencoba menenangkan dirinya sendiri, pikirannya penuh rasa takut dan kebingungan. “Damon setidaknya beri aku petunjuk,” bisiknya, hampir tidak terdengar di tengah langkah kaki mereka.
Damon tidak menjawab. Ia hanya terus masuk ke sebuah ruangan lalu Tasya membantu membuka satu kotak lantai. Terlihat sebuah tangga menuju bawah tanah. Damon menuruni tangga, memutar tubuhnya dengan presisi agar tidak ada celah bagi orang luar untuk mengintip. Tasya berjalan di belakang, sesekali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
Mereka akhirnya tiba di ruang bawah tanah yang selama ini tidak pernah diketahui oleh Karina. Hawa dingin menusuk tubuh begitu pintu terbuka, bercampur dengan aroma khas cairan pengawet. Damon menurunkan Karina dengan hati-hati, menempatkannya di lantai, matanya tidak lepas menatapnya.
Karina menoleh, matanya membesar saat melihat sosok yang sudah tidak asing lagi. Ranra, ibunya, terbaring dalam kotak bening yang sama seperti kemarin. Cahaya redup dari lampu biru laut menyelimuti tubuh Ranra, membuatnya terlihat seperti sedang tertidur dalam air.
“T–tapi… kenapa?” Karina suaranya tercekat, langkahnya ragu mendekat. “Kenapa dia ada di sini?”
Seingatnya kemarin ada di rumah Damon, kenapa bisa ada disini? Apakah Damon membawanya saat menyusul Karina ke rumah ini?
Karina menunduk, rasa bersalah kembali datang. Tubuhnya gemetar saat perlahan ia mendekati kotak bening itu. Ia sekarang menyadari bahwa dunia yang ia kenal, masa lalu, keluarganya, dan kenyataan tentang ibunya, semua telah bersatu di hadapannya dalam bentuk yang paling dingin dan nyata.
“Damon, aku harus apa?” suaranya nyaris berbisik.
“Tetap di sini. Jangan keluar, apapun yang terjadi. Jika sampai pagi aku tidak kembali kemari,” Damon menjeda sejenak. Lalu pandangannya beralih ke Tasya. “Tasya akan tahu kemana harus pergi setelah ini.”
“Damon,” Karina menahan tangannya, menatapnya panik sambil menggeleng. “Jangan keluar. Kita bisa tetap bersembunyi di sini, bersama.”
Damon yang sudah setengah berbalik berhenti sejenak. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, terbit di wajahnya. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah cepat, dan dalam sekejap sudah menghilang dari ruangan itu.
“Hati-hati,” bisik Karina pelan, suaranya nyaris tertelan oleh keheningan di ruang peristirahatan yang dingin.
...***...
...Like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor