setelah berhasil membalas dendam, Tang Yan merasakan kelegaan di hatinya yang membuat kepribadian nya berubah riang dan sedikit konyol.
perjalanan Tang Yan kali ini akan dimulai dari dunia Cyber-kultivasi.
bagaimana ceritanya..? tunggu dan nantikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan neraka
Lucunya, asap dari masakan Tang Yan itu tanpa sengaja menyembuhkan flu massal yang sedang dialami para tamu karena pergantian musim di Neo-Ark. Beberapa orang tua yang tadinya batuk-batuk tiba-tiba merasa tubuh mereka segar bugar.
"Luar biasa! Aroma ini... asmaku hilang!" teriak seorang mentri tua.
"Aku juga! Sendiku tidak sakit lagi!" sahut yang lain.
Dalam sekejap, Tang Yan dikerumuni oleh para elit kota yang bukannya marah karena pestanya dikacaukan, malah berebut ingin mendapatkan resep "bubuk cabai" miliknya.
"Satu-satu! Jangan dorong-dorong! Bubuk cabai ini langka, hanya ada di sekte 'Dapur Membara'!" Tang Yan berteriak sambil mencoba melarikan diri dari kerumunan dengan membawa sepiring penuh kaviar bakar.
Chu Ziyi hanya bisa tersenyum tipis di sudut ruangan. "Dia memang selalu punya cara untuk mengubah martabat menjadi dagelan, tapi di balik itu... dia adalah satu-satunya orang yang bisa menghubungkan langit dan bumi dengan cara yang paling tidak masuk akal."
...
Pagi hari di penthouse keluarga Lin tidak lagi diawali dengan suara musik lembut atau aroma kopi otomatis. Sebagai gantinya, suara ledakan kecil dan teriakan frustrasi Luna terdengar dari ruang latihan pribadi yang luas.
Tang Yan berdiri di tengah ruangan, mengenakan celana pendek dan kaos oblong sambil memegang kipas lipat yang ia temukan di lemari barang antik Arthur Lin. Di depannya, Luna tampak kelelahan, tubuhnya dibanjiri keringat, mencoba menahan beban sebuah rompi gravitasi yang diatur Tang Yan ke tingkat maksimal.
"Tang Yan... ini... ini tidak masuk akal!" Luna terengah-engah, lututnya gemetar. "Teknologi modern menggunakan stimulasi otot elektrik untuk membangun kekuatan, bukan dengan cara berdiri diam menahan beban seperti ini!"
Tang Yan mengipasi dirinya sendiri dengan santai. "otot yang dibangun oleh listrik itu seperti balon; terlihat besar tapi kosong di dalam. Kau ingin kekuatan sejati, bukan? Ingat apa yang kukatakan pada murid pertamaku dulu?"
Tang Yan terdiam sejenak, matanya menatap menembus dinding laboratorium, kembali ke kenangan saat ia berdiri di kamar kecil bersama Yun Lang.
"Penderitaan adalah guru terbaik," gumam Tang Yan, suaranya yang biasanya riang kini terdengar dalam dan berwibawa. "Jika kau tidak bisa menahan beban gravitasi ini, bagaimana kau bisa menahan tekanan Qi yang akan membakar pembuluh darahmu nanti?"
Luna tertegun melihat perubahan drastis pada aura Tang Yan. Pria yang biasanya memperebutkan stik game dengannya kini memancarkan tekanan yang membuat ruangan terasa sangat sempit. Luna menggigit bibirnya, menguatkan tekadnya, dan kembali tegak.
...
Sambil mengawasi Luna, Tang Yan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah batu merah redup yang sudah pecah. Itu adalah sisa dari Kristal Api yang pernah ia berikan pada Yun Lang, atau mungkin serpihan cadangan yang tertinggal di cincin ruangnya.
'Xiao Lang, apakah kau sudah bisa menyerap energi kristal itu sepenuhnya?' pikir Tang Yan. Ia teringat betapa beraninya bocah itu saat memegang batu panas tersebut tanpa rasa takut. Dibandingkan dengan teknologi Neo-Ark yang serba instan, ketabahan Yun Lang adalah sesuatu yang sangat dirindukan Tang Yan.
"Chu Ziyi, lihat ini," Tang Yan melemparkan serpihan batu itu ke arah Chu Ziyi yang sedang duduk bermeditasi di sudut ruangan.
Chu Ziyi menangkapnya dengan ujung jari. "Esensi api yang murni. Muridmu itu... jika dia masih hidup di Bumi, dia pasti sudah mencapai ranah Seniman Beladiri tingkat tinggi dengan bantuan ini."
"Dia pasti hidup," jawab Tang Yan tegas. "Bocah itu punya mata yang sama denganku. Mata seorang petarung yang tidak akan menyerah pada nasib."
Setelah Luna menyelesaikan latihan fisik selama empat jam, Tang Yan tidak membiarkannya istirahat di ranjang pijat otomatis. Sebaliknya, ia menyeret Luna ke sebuah bak mandi besar yang sudah ia isi dengan cairan berwarna ungu pekat yang mengeluarkan uap berbau menyengat—seperti campuran belerang dan deterjen murah.
"Masuk ke dalam," perintah Tang Yan.
"Apa?! Ini bau sekali! Dan warnanya mengerikan!" Luna memprotes.
"Ini adalah 'Cairan Pembersih Sumsum Versi 2.0'. Aku membuatnya dari sisa-sisa ramuan serum semalam ditambah beberapa mineral yang ku petik dari mesin pendingin mobil ayahmu," kata Tang Yan sambil nyengir.
Luna ragu, tapi mengingat bagaimana sereal Tang Yan menyembuhkan putri walikota, ia pun masuk ke dalam bak mandi tersebut.
Ssssssss!
Seketika Luna menjerit kecil. Rasanya seperti ribuan jarum panas menusuk setiap pori-kulitnya. Cairan itu mulai bereaksi dengan kotoran genetik di dalam tubuhnya.
"Jangan keluar! Tahan selama tiga puluh menit!" Tang Yan berteriak, kembali ke mode riangnya namun matanya tetap mengawasi detak jantung Luna dengan teliti. "Jika kau bisa bertahan, kau bukan lagi gadis fana yang lemah. Kau akan memiliki fondasi untuk berkultivasi di dunia besi ini."
Di saat Luna sedang berjuang di dalam bak mandi, pintu ruang latihan terbuka secara paksa. Arthur Lin masuk dengan wajah panik, diikuti oleh beberapa pria berseragam militer dengan logo "Satuan Tugas Keamanan Global".
"Tang Yan! Maaf mengganggu, tapi mereka memaksa masuk!" Arthur mencoba menghalangi, namun para perwira itu mendorongnya ke samping.
Seorang jenderal bertubuh tegap dengan mata sibernetik menatap Tang Yan dengan tajam. "Tuan Tang Yan? Kami dari Divisi Riset Pertahanan. Kami mendeteksi aktivitas energi ilegal di gedung ini yang setara dengan reaktor nuklir skala kecil. Dan kami punya laporan tentang keterlibatan Anda dalam insiden keluarga Valerius."
Tang Yan tidak beranjak dari kursinya. Ia tetap memegang kipas lipatnya, menatap sang jenderal dengan wajah polos yang menyebalkan.
"Energi ilegal? Oh, itu mungkin hanya Xiao Bai yang sedang buang angin petir di balkon," jawab Tang Yan santai. "Dan soal Valerius... bukankah bagus kota ini jadi lebih hijau dengan bunga-bunga itu?"
Sang jenderal menggebrak meja di dekatnya. "Jangan main-main dengan kami! Anda adalah ancaman keamanan tingkat nasional. Kami diperintahkan untuk membawa Anda ke fasilitas karantina untuk diinterogasi!"
Tang Yan berdiri perlahan. Auranya yang tadinya santai tiba-tiba menghilang, digantikan oleh sesuatu yang sangat tajam, seperti pedang yang baru dicabut dari sarungnya.
"Paman Jenderal, aku sedang melatih muridku. Jika kau mengganggunya saat dia sedang berada di saat kritis..." Tang Yan melirik ke arah bak mandi Luna yang uapnya semakin pekat. "...aku tidak bisa menjamin gedung ini tidak akan berubah menjadi kebun bunga kedua besok pagi."
Suasana ruangan menjadi sangat tegang. Para prajurit sudah meletakkan tangan di senjata laser mereka, sementara Chu Ziyi di sudut ruangan sudah menyiapkan energi di ujung jarinya.
"Tang Yan... jangan," Luna bersuara dari dalam bak mandi, suaranya terdengar lebih berat dan penuh kekuatan. "Biar aku yang mengurus mereka... setelah aku selesai dengan 'sup' ini."
Tang Yan tersenyum lebar. "Dengar itu? Muridku sedang marah. Sebaiknya kalian duduk diam dan minum teh dulu, atau kalian ingin merasakan sereal buatanku?"