Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1.
'Di balik sebuah musibah besar, ada kebahagiaan yang menantimu di depan sana setelahnya.'
Kalimat ini lah yang membuat Zella berusaha kuat menerima segala ujian yang merintang dalam kehidupannya. Rumah tangganya yang kandas karena kehadiran pelakor, namun setelah badai itu berlalu, Zella mendapat kebahagiaan yang tak pernah ada dalam khayalannya. Setelah dikhianati mantan suaminya, Zella begitu disayang dan dicintai oleh sosok Ayah yang mana sebelumnya tak pernah dia rasa.
Tak hanya perhatian dan kasih sayang dari sang Ayah yang dulu tak pernah ada. Bahkan dukungan materi yang Ayahnya beri membuat tujuan Zella lebih mudah dicapai. Kebahagiaan lain, dia mendapat keluarga baru dari pernikahan ibunya dengan laki-laki yang hampir menjadi mertuanya. Semula canggung bertemu dengan mantan yang kini menjadi Kakak sambung. Tapi dengan seiring 8berjalannya waktu, Zella dan Taufik perlahan terbiasa.
Kini hampir 3 tahun Zella menjalani kehidupan sebagai janda. Mimpi dan tujuannya adalah bekerja keras sekuat mana dia bisa, untuk mempersiapkan jalan mulus untuk putrinya menjalani masa depan yang indah dan mudah. Tak terpikir untuk menikah lagi, yang ada hanya ingin kebahagiaan dan kendali yang bisa dipegang penuh oleh putrinya sendiri.
Zella tak ingin putrinya saat besar nanti tak mampu menentukan pilihan dan kebahagiaan sendiri. Cukup dirinya yang menjalani kehidupan sulit, di mana dia tak mampu memperjuangkan keinginannya. Jika sebagian orang ingin anaknya menikah dengan orang sukses dan kaya raya, keinginan Zella putrinya sendiri yang sukses dan kaya dan berkuasa penuh dengan hidupnya sendiri.
Keseharian Zella disibukan dengan mengurus beberapa toko yang diberikan Ayahnya dulu, dan kadang membantu keluarga Ayah sambungnya menjual hasil kebun. Sedang putrinya, memilih masuk pondok pesantren saat lulus SD. Zella tak bisa membujuk putrinya tetap disisinya, karena pilihan putrinya adalah hal baik.
Zella mengikhlaskan putrinya mondok, selain pondok pesantren yang memang amanah dan terpercaya, di desa itu juga ada mantan suaminya, Ayah kandung putrinya yang menjamin akan memantau putri mereka selama anak mereka menempuh pendidikan di sana.
*
*
*
Di bagian kota yang lain ....
Prank!!
Suara riuh dari lemparan barang yang pecah dan teriakan seorang pria, memecah kesunyian rumah itu.
"Poligami??" ucapnya penuh emosi. Tatapannya begitu tajam pada seorang wanita yang duduk di kursi roda yang berada tepat di depannya.
"Mau bagaimana lagi? Aku tak berdaya menjaga dan merawatmu. Lihat keadaan kita berdua. Kita sama-sama tak berdaya." ucap wanita itu lirih.
Laki-laki itu merasa sulit bernapas. Mulutnya terbuka memaksa napas keluar dari mulutnya. Jika bagi laki-laki lain poligami sangat diimpikan, tapi sejak dulu dirinya tidak menginginkannya.
"Kini aku mengerti mengapa almarhumah Kak Fatma dulu memaksamu menikahiku. Aku melihat langsung bagaimana pelayan berlaku buruk padamu, bahkan keluarga yang sangat kamu percaya tega membuat kita berdua berakhir di kursi roda ini."
"Pasti ada jalan keluar lain selain memintaku menikah lagi, Anjani."
"Jika ada jalan lain, maka aku juga tidak memintamu menikah lagi, mas."
Laki-laki itu terlihat frustasi. Entah mengapa Asisten yang bertugas merawatnya selalu berkhianat. Bahkan saat memberikan tugas ini pada keluarga, malah membuatnya semakin celaka. Tak hanya kecelakaan, bahkan satu perusahaannya direbut secara halus oleh keluarganya. Dengan kuasa dan harta melimpah yang dimiliki penjahatnya, membuat hukum tumpul pada mereka yang berbuat kejahatan.
"Aku cacat, mana ada perempuan yang mau menikah denganku, apalagi jika dia tahu dia diseret masuk kedalam rumah tangga kita hanya untuk menjadi pelayan yang merawatku."
"Jika kamu bersedia, aku pasti menemukan wanita itu, mas."
Laki-laki itu memutar roda kursi rodanya dan menggerakannya menuju kamarnya. "Terserah dirimu, aku juga tak punya cara untuk menolaknya." ucapnya seraya meninggalkan wanita itu.
Setelah pria itu pergi, wajah yang semula penuh kesedihan dan frustasi itu berubah dengan expresi liciknya. Tangannya langsung menyambar handphonenya. Jemarinya lincah mengetik kata demi kata.
{Jalankan rencana semula kita}
Handphone wanita itu bergetar, menerima pesan balasan.
{Siap!}
***
Hari yang tenang tiba-tiba berubah mencekam. Kabar kematian seorang wanita berusia kisaran 30 tahunan menggemparkan dunia nyata dan maya. Terlebih wanita itu tewas diduga karena dibunuh. Kontrakan wanita itu dipenuhi banyak orang, petugas kepolisian sibuk mengamankan lokasi dan membentangkan garis polisi. Sedang petugas terkait yang lain tengah menyelidiki TKP untuk mencari petunjuk dan bukti-bukti.
Zella yang berada di rumahnya juga mengikuti perkembangan kasus yang tengah terjadi. Terlebih identitas korban mengarah pada salah satu mantan istri ayahnya. Tiba-tiba panggilan masuk dari nomor asing menyita perhatian Zella. Karena banyak jenis usaha yang Zella lakoni, membuatnya sigap menerima panggilan dari siapa pun itu.
"Halo, selamat siang." sapaan dari ujung telepon.
"Iya, selamat siang." sahut Zella.
"Pak Bagas meminta kami menghubungi anda. Silakan Anda berbicara dengan beliau."
Suara kecil terdengar dari ujung sana, seorang pria mempersilakan Bagas berbicara di telepon.
"Zella." Suara itu terdengar lirih.
"Ayah, ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Ayah?" Zella panik mendengar suara Ayahnya yang berbeda dari biasanya.
"Zella ... Ayah tak tahu harus bagaimana. Ayah dijebak! Entah mengapa saat Ayah terbangun di semak belukar, Ayah memegang pisau berdarah dan itu dilihat warga yang lewat, dan mereka melaporkan Ayah ke polisi."
"Ayah ...." Zella menjerit, air matanya menetes deras begitu saja.
*Ya Allah, cobaan apa ini? Ayahku memang pernah salah, tapi dia tak akan sejahat ini.
"Kantor polisi mana? Aku akan segera ke sana."
Zella mendapat alamat kantor polisi yang menangani kasus Ayahnya. Dia segera bersiap menuju tempat itu.
"Zella, mau jenguk Tifa?"
Sapaan itu membuat tangan Zella yang sedari tadi sibuk menyusun barang di motornya, terhenti. "Mama."
"Padahal Tifa belum libur kan, kamu tetap mau ke desa cari tifa? Bawaan kamu banyak banget."
"Aku mau ke Provinsi tetangga ma. Ayah dapat musibah di sana."
"Ya Allah, kasian Ayahmu. Padahal dia berusaha memperbaiki kehidupannya 4 tahun belakangan ini."
"Minta doa mama, aku berangkat ya."
Indri menatap haru kepergian Zella. Dengan harapan dan do'a putrinya selamat sampai tujuan.
***
Perjalanan panjang Zella yang ditempuh hampir 8 jam, kini Zella sampai di kantor polisi yang menangani kasus Ayahnya. Zella meminta izin untuk menemui Ayahnya. Mereka kini berada di ruangan yang biasa dipakai saat kunjungan keluarga tahanan datang.
Zella tak menghujani Ayahnya dengan pertanyaan, walau banyak pertanyaan yang ingin dia tujukan pada Ayahnya. Namun saat ini meminta Ayahnya untuk makan dan mengisi tenaga menjadi fokus utamanya.
"Sudah Zella. Ayah tak sanggup lagi."
Zella membereskan meja yang dipenuhi makanan dan buah-buahan. "Bagaimana keadaan Ayah sekarang?"
"Ayah sendiri bingung, bagaimana bisa Ayah tiba-tiba terbangun di daerah asing dengan memegang pisau berlumur darah. Yang semakin membuat Ayah bingung, bagaimana bisa Ayah dituduh membunuh Maria. Sedang Ayah sudah lama tidak bertemu atau berkomunikasi dengannya."
"Aku sangat percaya, Ayah tidak melakukan tuduhan keji yang ditujukan pada Ayah. Aku akan berjuang membantu Ayah keluar dari tempat ini dengan nama yang bersih."
"Kepercayaanmu membuat Ayah lebih kuat!" Bagas menggenggam hangat tangan putrinya.
"Apa Ayah ada keinginan menunjuk pengacara yang pasti Ayah percayai?"
"Ayah tidak tahu Zella. Sehebat apa pun, sebersih apa pun seseorang jika dia sudah jadi target, kekuatan biasa tidak akan bisa melepaskannya dari jerat yang telah menjeratnya."
"Maksud Ayah?"
"Ayah lama berada dalam dunia penuh tipu daya ini, Ayah sangat faham keadaan Ayah saat ini. Pastinya Ayah saat ini dijebak dalam kasus ini. Keadilan dan perjuanganmu tidak akan berhasil, kecuali kamu bernegoisasi dengan dalang masalah ini."
(Bersambung.)
Cuitan Author ...
Duh, berat banget bagiku yang lama bobo buat melek untuk nulis lagi. Tapi karena akhir-akhir ini aku sulit tidur, jadi tersesat lagi di kolom naskah🤣
Kenapa judulnya paksa-paksa? Kayak judul viral di masa 2019-2020 an ya. 🤣aku lagi cari hoki siapa tahu kan keramat paksa dipaksa bisa bantu karya ini naik, ngarep boleh dong😂
Judulnya aja ya yang dipaksa. Kalian nggak dipaksa kok buat baca.
Oh iya, cerita ini adalah cerita tentang kehidupan Zella, tokoh utama dalam karya 'Bidadari Kedua Suamiku' kehidupan Zella setelah bercerai.
Mohon do'a nya, moga aku bisa konsisten nulis😭 karena entah kenapa sekarang baru nulis 100 kata aja aku ketiduran, makanya kalau lagi nggak bisa tidur aku milih nulis, karena saat natap kolom naskah aku langsung ngantuk🤣