Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 32.
Klinik itu akhirnya sunyi.
Ethan dibawa pergi oleh pihak berwajib dengan wajah pucat dan mata penuh kebencian yang tak lagi punya kuasa. Semua bukti—rekaman suara, video penguntitan, kesaksian dokter terkumpul rapi.
Namun kemenangan itu tidak terasa manis.
Milea berdiri di luar gedung, udara malam menyentuh kulitnya. Hujan rintik turun pelan, seolah ingin menetralkan semua emosi yang terlalu panas.
Rangga berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Sayang, ayo kita pulang,” ucap Rangga akhirnya, suaranya serak.
Mereka saling bertatapan, lalu berpelukan melepaskan semuanya.
Begitupun Jenny, akhirnya dia juga pulang. Saat ia datang, rumahnya tidak berubah secara fisik. Dinding krem, sofa lama, rak sepatu yang selalu penuh, namun rasanya berbeda. Ada kehampaan yang tak bisa dijelaskan, seperti rumah yang kehilangan ritmenya.
Ibunya sedang duduk di ruang tengah, menyortir kertas-kertas lama. Ayahnya berada di dapur, menyeduh kopi.
Saat melihat putrinya akhirnya pulang dengan membawa koper masuk, orang tuanya hanya menghembuskan nafas lega.
“Kamu sudah makan?” tanya ibunya.
“Belum,” jawab Jenny pelan.
Ayahnya muncul membawa dua cangkir. “Tidak apa-apa, kita makan nanti saja.”
Jenny menatap wajah ayahnya lebih lama, ada kelelahan yang tidak pernah ada sebelumnya disana. Bukan lelah fisik, melainkan harga diri yang sempat direnggut paksa.
“Papa…” Jenny menarik napas, “Aku minta maaf.”
Ayahnya tersenyum kecil. “Untuk apa?”
“Karena aku menolak perjodohan itu, karena aku tidak menurut.”
Ayahnya menggeleng pelan. “Papa sudah tahu, Papa kehilangan pekerjaan bukan karena kamu menolak pernikahan itu... tapi karena ada investor besar yang mengancam menarik seluruh investasinya. Mereka mengajukan satu syarat, Papa harus dipecat.”
Ibunya menimpali lirih, “Jika tidak salah, nama investor itu Tuan Ethan.“
Ayahnya mengangguk. “Orang tua Vino sudah meminta maaf pada Papa, mereka bilang dapat tekanan dari relasi bisnis.“
“Sekarang semuanya sudah terjadi. Mulai sekarang, kita akan baik-baik saja. Jenny cuma minta satu hal, Papa tak kerja di perusahaan Vino meski diminta bekerja lagi. Jenny akan membantu Papa membuka usaha sendiri, tabungan Jenny setelah mengundurkan diri juga masih ada.”
Kedua orang tuanya saling bertukar pandang sejenak. Namun akhirnya, mereka mengangguk, menerima keputusan putri semata wayang mereka. Kini, yang mereka inginkan hanya satu—melihat anak mereka bahagia bersama pria yang dipilihnya sendiri.
Usaha itu dimulai sederhana, di sebuah gudang kecil. Usaha distribusi bahan bangunan lokal, tidak besar tapi cukup untuk mereka.
Jenny ikut turun tangan, mencatat pesanan, mengantar barang, bahkan ikut mengangkat semen jika perlu. Ia tidak mengeluh, justru di sana ia menemukan ketenangan.
Sampai Vino muncul.
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan gudang. Mengkilap, mencolok, dan tidak salah alamat.
“Jenny,” sapa Vino santai, turun dari mobil dengan senyum yang terlalu percaya diri. “Aku dengar kamu buka usaha.”
Jenny menyeka tangannya dengan kain. “Kalau mau beli, silakan bicara dengan staf. Kalau tidak, aku sibuk.”
Vino tertawa kecil. “Masih keras kepala, padahal aku bisa bantu usaha ini berkembang cepat.”
“Kami tidak butuh bantuanmu.”
“Kalian butuh izin distribusi, dan aku... kebetulan punya koneksi.”
Jenny menatap laki-laki narsis itu dengan tatapan tajam. “Apa maumu sebenarnya?”
Vino mendekat satu langkah. “Sederhana, kita perbaiki semuanya. Aku bantu usaha kalian, dan kamu… berhenti menolakku.”
Jenny terkekeh dingin. “Kau tidak pernah ingin membantu, kau hanya ingin menguasai.”
“Bukankah itu sama saja?” balas Vino ringan.
Jenny menarik napas panjang. “Aku tidak butuh! Pergi!“
Vino tersenyum miring. “Baiklah, tapi aku akan kembali. Dan lain kali, kamu tidak akan punya pilihan selain menurut padaku!”
Mobil Vino pergi, meninggalkan debu dan perasaan tidak enak yang menempel di dada Jenny.
Gangguan mulai terasa beberapa hari kemudian. Ada pengiriman tertahan, izin dipersulit. Supplier mendadak mundur tanpa alasan jelas. Ayah Jenny mencoba tetap tenang, tapi Jenny melihat kegelisahan di balik senyumnya.
Malam itu Jenny duduk sendirian di gudang, menatap buku kas yang tidak balance.
Ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari Arga.
Arga: [Kamu baik-baik saja?]
Jenny membalas: [Tidak sepenuhnya.]
Lalu, Arga datang tanpa banyak bertanya. Ia berdiri di pintu gudang, mengenakan kemeja sederhana, lengan digulung. Kehadirannya membuat ruangan terasa lebih aman.
“Kamu nggak perlu datang,” kata Jenny pelan.
“Tapi aku mau,” jawab Arga singkat.
Jenny akhirnya menceritakan semuanya, tentang kedatangan dan ancaman Vino.
Arga mendengarkan tanpa memotong.
“Dia pikir kamu akan menyerah dan menerimanya,“ kata Arga akhirnya.
Jenny tertawa getir. “Jujur, aku sedikit lelah. Orang tuaku sangat percaya padaku dengan usaha ini...“
“Capek itu wajar, tapi menyerah itu pilihan. Dan aku tahu, kamu bukan tipe yang memilih menyerah....”
Jenny menunduk. “Kenapa kamu seolah-olah bisa baca pikiranku?”
Arga terdiam sejenak sebelum akhirnya bicara. “Karena sejak kecil, kamulah yang selalu maju paling depan saat orang lain memilih mundur. Bahkan ketika Milea dan Rangga punya masalah, kamu tetap membantu mereka tanpa memikirkan dirimu sendiri.”
Jenny mengangkat wajah, mata mereka bertemu. Dan... tatapan keduanya terasa berbeda.
Namun, Vino tidak berhenti. Suatu sore ia muncul lagi, kali ini bersama dua pria berbadan besar.
“Kami hanya mau bicara,” katanya santai.
Jenny berdiri di depan ayahnya tanpa sadar. “Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Salah satu pria melangkah maju, tapi berhenti ketika suara lain menyela.
“Berhenti!” Arga berdiri di belakang Jenny.
Vino menghela napas, seolah bosan. “Kau lagi?”
Arga tidak menjawab. Ia hanya berdiri di depan tubuh Jenny, posisi tubuhnya jelas melindungi.
“Kau tahu ini wilayah abu-abu hukum,” lanjut Vino. “Aku bisa membuat usaha ini berhenti besok.”
Arga menatapnya dingin. “Dan aku bisa memastikan semua orang tahu caramu menjalankan bisnis.”
Vino menyipitkan mata. “Kau mengancamku?”
“Tidak,” jawab Arga tenang. “Aku memperingatkan.”
Ketegangan memuncak, tapi akhirnya Vino memilih mundur. Dia pergi dengan wajah dipenuhi dendam pada Arga.
Beberapa hari kemudian, tekanan pada usaha milik Jenny berkurang. Izin keluar, supplier kembali. Jenny tahu, ini bukan kebetulan.
“Ada Rangga dan Milea di balik semua ini. Aku sudah bicara pada mereka agar mau membantumu,” ujar Arga dengan jujur.
Jenny tersenyum tipis. “Aku harus berterima kasih pada mereka. Saat tahu aku sedang kesulitan, mereka membantu menekan pihak-pihak yang berpihak pada Vino.”
“Mereka sangat menghargaimu,” tambah Arga pelan.
Jenny menatap pria di depannya, sahabat kecilnya, tapi juga pelindung diam-diamnya.
Dan di sanalah ia sadar, cinta tidak selalu datang sebagai badai. Kadang, ia tumbuh… dari orang yang tidak pernah pergi dari sampingnya.
semangat berkarya ka💪💜
Makasih kak, ceritanya bagus banget... Sukses terus yah Kak, aku tunggu karya kak Re selanjutnya... 😇😇😇
Tapi oke lah, sekarang kalian udah nikah.. dan sah secara hukum dan agama.. ☺
aku senang bahagia melihat mereka berdua bahagia 😍
huaaaaaa dah tamat l, aslinya belum rela pisah dgn mereka, tapi ada pertemuan pasti ada perpisahan.
terimakasih thor ceritanya luar biasa, sukses terus dgn karya-karyanya di novel 💪
cengeng bgt deh aku, sedih seneng terharu nangis 🙈
lagian hati Nara dah buat Langit kok, dia dah mulai cemburu gitu, apalagi cintanya Langit dari dulu hanya untuk Nara 😁