NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Kuil di Puncak Void

​Puncak Void tidak seperti puncak gunung lainnya yang pernah didaki Aethela. Di sini, di atap dunia, angin berhenti menderu. Awan badai yang ganas tertinggal jauh di bawah mereka, membentuk lautan abu-abu yang bergejolak. Langit di atas mereka berwarna ungu pekat, hampir hitam, bertaburan bintang-bintang yang bersinar stabil tanpa kedipan, seolah-olah atmosfer di sini begitu tipis hingga mereka berdiri di ambang ruang angkasa.

​Suara langkah kaki mereka di atas batu vulkanik hitam terdengar sangat keras di tengah kesunyian yang mutlak ini. Tidak ada burung, tidak ada serangga, bahkan tidak ada lumut yang tumbuh. Ini adalah tanah kematian, atau mungkin, tanah keabadian.

​Rasa lelah fisik yang menyiksa tubuhnya—kaki yang melepuh, paru-paru yang terbakar karena oksigen tipis—seolah memudar digantikan oleh rasa takjub spiritual. Ia merasakan sihir bulannya bergetar, bukan karena takut, tapi karena pengakuan. Tempat ini memiliki energi yang mirip dengan sihirnya: dingin, jauh, dan bercahaya dalam kegelapan.

​"Kita sampai," suara Valerius memecah keheningan. Suaranya tidak bergema; udara di sini menyerap suara secepat ia menyerap panas.

​Aethela mendongak. Di depan mereka, melayang beberapa inci di atas tanah, berdiri reruntuhan megah yang terbuat dari material yang tidak ia kenal—batu yang tampak seperti potongan langit malam yang dipadatkan.

​Kuil Leluhur.

​Bangunan itu tidak memiliki pintu atau jendela. Ia hanyalah serangkaian monolit raksasa yang tersusun membentuk lingkaran spiral menuju satu titik pusat. Di antara celah-celah batu itu, energi ungu berdenyut pelan seperti napas raksasa yang sedang tidur.

​"Ini... ini melayang," bisik Aethela, mengulurkan tangan untuk menyentuh salah satu pilar yang mengapung.

​"Gravitasi bekerja berbeda di Puncak Void," jelas Valerius. Ia tetap waspada, tangannya berada di gagang pedang, meskipun tidak ada musuh yang terlihat. "Tempat ini adalah titik di mana dimensi naga dan dimensi manusia bertemu pertama kali. Hati-hati, Aethela. Pikiranmu bisa tersesat di sini jika kau tidak fokus."

​Valerius melangkah masuk ke dalam lingkaran monolit itu, menarik Aethela agar tetap dekat di belakangnya. Ia merasakan beban sejarah menekan bahunya. Selama ratusan tahun, hanya Raja Naga yang diizinkan menginjakkan kaki di sini saat penobatan. Valerius datang ke sini sebagai buronan, membawa seorang wanita manusia. Ini adalah penistaan terhadap tradisi, namun hatinya mengatakan ini adalah takdir yang seharusnya.

​Ia dididik untuk percaya bahwa Api Pertama hanya akan menjawab panggilan naga yang "murni" dan "sempurna". Ia menatap tangannya yang memiliki bekas luka dan sisik permanen akibat fusi dengan Aethela. Ia tidak lagi murni. Ia adalah hibrida. Apakah Kuil ini akan menolaknya? Atau lebih buruk, menghancurkannya?

​Namun, saat mereka melangkah lebih dalam ke pusat kuil, sesuatu yang aneh terjadi. Monolit-monolit itu tidak menyerang. Sebaliknya, mereka mulai bersinar. Rune kuno yang terukir di permukaan batu menyala satu per satu, menciptakan jalan setapak cahaya yang menuntun mereka.

​"Mereka tidak menolak kita," gumam Valerius, ketidakpercayaan mewarnai nadanya.

​"Mereka menyambut kita," koreksi Aethela. Wanita itu berjalan mendahuluinya sekarang, seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata.

​Mereka tiba di ruang tengah—sebuah plaza terbuka yang lantainya terbuat dari kaca cermin. Di bawah kaca itu, Aethela bisa melihat galaksi yang berputar pelan. Dan di tengah plaza, terdapat sebuah cawan batu sederhana yang kosong.

​Tidak ada api.

​"Kosong," kata Valerius, bahunya merosot. Harapan yang membawanya mendaki tebing kematian itu seolah padam. "Legenda itu bohong. Api Pertama sudah mati."

​Aethela menggelengkan kepala. Ia mendekati cawan itu. Ia bisa merasakan sisa-sisa kehangatan purba yang masih melekat di sana.

​"Tidak mati, Valerius. Hanya... tidur," kata Aethela. Ia menunjuk ke arah dinding-dinding monolit di sekeliling mereka. "Lihat mural itu."

​Valerius mendekat. Di permukaan batu hitam, terdapat ukiran yang menceritakan kisah penciptaan.

​Gambar pertama menunjukkan seekor Naga Raksasa yang sendirian di kegelapan.

Gambar kedua menunjukkan sebuah Bintang yang jatuh dari langit.

Gambar ketiga menunjukkan Naga itu menangkap Bintang tersebut, bukan untuk memakannya, melainkan untuk melindunginya.

Gambar keempat... menunjukkan Naga dan Bintang itu menyatu, menciptakan nyala api yang berwarna emas dan perak.

​Aethela menoleh ke arah Valerius dengan mata berkaca-kaca. "Api Pertama bukanlah benda, Valerius. Itu adalah sebuah peristiwa. Itu adalah penyatuan antara dua kekuatan yang berlawanan. Naga dan Bintang. Bayangan dan Cahaya."

​Valerius menatap mural itu, lalu menatap Aethela. Pemahaman perlahan muncul di wajahnya.

​"Kau..." Valerius tercekat. "Kau adalah Bintang itu. Keluarga Vespera... Vespera berarti Bintang Malam. Leluhurmu bukan hanya penyihir bulan, mereka adalah keturunan dari entitas bintang yang jatuh."

​"Dan kau adalah Naga itu," lanjut Aethela. Ia meraih tangan Valerius dan membawanya ke atas cawan kosong. "Kita tidak datang ke sini untuk menemukan api. Kita datang ke sini untuk menyalakannya kembali."

​Ia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi ia juga tahu risikonya. Penyatuan di Jantung Gunung adalah fusi pertahanan hidup. Penyatuan di sini, di Kuil Void, adalah fusi penciptaan. Ini membutuhkan penyerahan total. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi bagian diri yang disembunyikan.

​"Apakah kau siap?" tanya Aethela. "Jika kita melakukan ini, tidak akan ada lagi 'kau' dan 'aku'. Jiwa kita akan terikat selamanya. Jika aku mati, kau mati. Jika kau gila, aku gila."

​Valerius menatap wanita di depannya. Di mata ungu itu, ia melihat masa depannya. Ia melihat rumah yang selama ini ia cari. Keraguan tentang kelayakannya lenyap. Ia tidak perlu menjadi naga murni. Ia hanya perlu menjadi pasangan Aethela.

​"Aku sudah menjadi milikmu sejak kau membelah longsoran salju untukku, Aethela," jawab Valerius mantap. "Nyalakan apinya."

​Valerius mengeluarkan belati dari pinggangnya. Ia mengiris telapak tangannya sendiri, lalu mengiris telapak tangan Aethela—sebuah ritual darah kuno. Mereka menangkupkan tangan mereka yang berdarah di atas cawan batu.

​Darah mereka menetes, bercampur di dasar cawan.

​Aethela memanggil cahaya bulannya.

Valerius memanggil bayangan naganya.

​Kedua energi itu mengalir melalui darah mereka, jatuh ke dalam cawan.

​Awalnya, tidak terjadi apa-apa. Hening.

​Lalu, sebuah percikan kecil muncul. Suaranya seperti bisikan ribuan leluhur.

​WUSH!

​Api meledak dari dalam cawan. Bukan api merah atau biru, melainkan api putih cemerlang dengan inti hitam pekat—The First Flame.

​Gelombang energi dari api itu menghantam mereka, bukan dengan panas yang membakar, melainkan dengan gelombang kebenaran.

​Aethela terlempar ke dalam visi. Ia tidak lagi berada di Puncak Void. Ia melayang di antara bintang-bintang. Ia merasakan kesadaran Valerius di sampingnya—bukan sebagai suara di kepala, tapi sebagai perasaan. Ia bisa merasakan cinta Valerius yang begitu besar hingga membuatnya ingin menangis. Ia merasakan ketakutan Valerius saat di jembatan gantung. Ia merasakan betapa Valerius memuja setiap inci dirinya.

​Dan Valerius pun merasakan hal yang sama. Ia merasakan betapa Aethela berjuang melawan rasa takutnya demi dia. Ia merasakan kerinduan Aethela akan rumah, dan bagaimana Aethela perlahan menjadikan Valerius sebagai rumah barunya.

​Di dalam visi itu, roh mereka berdansa. Naga hitam dan Cahaya Bintang berputar, melilit, dan menyatu.

​Ketika visi itu berakhir, Aethela mendapati dirinya kembali di plaza kuil. Ia berlutut di lantai, napasnya tersengal. Valerius juga berlutut di hadapannya, tangan mereka masih saling menggenggam di atas cawan yang kini menyala abadi.

​Valerius menatapnya dengan tatapan yang benar-benar baru. Mata emasnya kini memiliki cincin perak di sekeliling pupilnya.

​"Kau..." bisik Valerius, suaranya penuh kekaguman. "Kau melihat semuanya."

​"Semuanya," jawab Aethela, pipinya merona. Tidak ada lagi privasi di antara mereka. Valerius tahu segalanya tentang dirinya, termasuk fantasi-fantasi kecil dan ketakutan terdalamnya. Dan Aethela tahu segalanya tentang Valerius.

​Valerius tertawa pelan, tawa yang lepas dan bahagia. "Ternyata kau juga takut ketinggian. Sangat takut."

​Aethela memukul bahu Valerius pelan, tersenyum. "Dan ternyata kau suka saat aku memerintahmu, Pangeran Perang."

​Wajah Valerius memerah padam, tapi ia tidak menyangkalnya. Ia menarik tangan Aethela dan mencium telapak tangannya yang terluka, yang kini lukanya menutup dengan cepat meninggalkan bekas garis perak.

​"Api ini," Valerius menunjuk ke cawan. "Ini bukan senjata untuk membunuh musuh, Aethela. Ini adalah sumber kehidupan. Lihat."

​Aethela melihat ke sekeliling. Di mana cahaya api itu menyentuh batu hitam yang gersang, bunga-bunga kristal kecil mulai tumbuh. Kehidupan kembali ke Void.

​"Kita bisa menggunakan ini untuk memulihkan Obsidiana," kata Aethela penuh harap. "Bukan hanya menyembuhkan penyakit naga, tapi membuat tanah beku menjadi subur kembali."

​"Ya," Valerius berdiri, lalu membantu Aethela berdiri. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Aethela, menariknya mendekat di depan api suci itu. "Tapi sebelum kita menyelamatkan dunia... kita punya satu urusan yang belum selesai."

​Valerius menatap bibir Aethela. Di tempat suci ini, di hadapan api penciptaan, tidak ada lagi hukum manusia atau naga yang bisa menghalangi mereka. Mereka telah melewati ujian darah, jiwa, dan takdir.

​"Pernikahan kita," bisik Valerius. "Mari kita sempurnakan di sini, di bawah saksi bintang-bintang dan leluhur. Bukan karena politik. Bukan karena ancaman kakakmu. Tapi karena kita menginginkannya."

​Aethela mengangguk, matanya bersinar lebih terang dari api itu sendiri. "Ya, Valerius. Jadikan aku milikmu, selamanya."

​Di puncak dunia, di mana waktu berhenti, mereka berdiri berpelukan. Buronan yang menjadi raja dan ratu dari takdir mereka sendiri, siap untuk mengambil langkah terakhir dalam penyatuan mereka sebelum turun kembali ke neraka perang yang menunggu di bawah sana.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!