Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota di Atas Lumpur
Pagi itu, gerbang istana yang biasanya tertutup rapat bagi rakyat jelata, terbuka lebar. Sebuah tandu megah berwarna merah keluar, namun tidak menuju taman bunga atau kuil suci. Tandu itu menuju ke Distrik Barat—wilayah paling kumuh yang kini menjadi pusat wabah.
Li Hua duduk di dalam tandu, menggigit bibirnya menahan perih. Penyakit di kakinya semakin ganas; setiap guncangan tandu terasa seperti tulang betisnya sedang dipahat. Namun, ia tidak boleh menunjukkan kelemahan. Di tangannya, ia memegang botol kecil berisi penawar sementara yang diberikan tabib rahasia Kaisar.
"Yang Mulia, kita sudah sampai," suara Mei Lin bergetar.
Saat pintu tandu dibuka, pemandangan di depan mata Li Hua sungguh mengerikan. Orang-orang tergeletak di pinggir jalan dengan ruam hitam di leher mereka. Bau busuk mayat dan keputusasaan memenuhi udara. Para pengawal kerajaan tampak menutup hidung mereka dengan kain tebal, wajah mereka penuh jijik.
Li Hua turun dari tandu. Tanpa ragu, ia melepaskan kain penutup hidungnya.
"Yang Mulia! Jangan! Udara di sini beracun!" cegat panglima pengawal.
"Jika rakyatku harus menghirup udara ini setiap detik, mengapa aku harus merasa lebih mulia dari mereka?" jawab Li Hua tegas. Ia melangkah maju, menyeret kakinya yang kaku dengan sangat anggun sehingga tak ada yang menyadari ia sedang sekarat.
Di Tengah Kerumunan Rakyat
Li Hua berjalan mendekati seorang ibu yang menangis sambil memeluk anaknya yang tak lagi bernapas. Orang-orang di sekitar mulai berbisik, "Itu dia... sang pembawa kutukan."
Li Hua berhenti tepat di tengah kerumunan. "Aku mendengar kalian menyebut ini kutukan langit karena aku menyentuh seorang yatim piatu," suaranya nyaring, membelah kebisingan. "Tapi lihatlah! Jika ini kutukan langit, mengapa hanya rakyat miskin yang terkena? Mengapa para pejabat di istana yang perutnya kenyang tetap sehat?"
Ia berjongkok, mengambil segenggam tanah di dekat sumur desa, lalu menciumnya. Pupil matanya mengecil. "Ini bukan kutukan. Ini adalah racun Bubuk Arang Hitam."
Sebagai Li Hua si buruk rupa yang dulu hidup di jalanan, ia tahu benar bahwa racun ini sering digunakan oleh pemburu liar untuk mematikan sumber air hewan buruan. Racun ini tidak menular lewat udara, melainkan lewat air sumur.
"Mei Lin! Ambilkan air dari sumur ini dan campurkan dengan perasan jeruk nipis serta garam!" perintah Li Hua.
Saat air itu dicampurkan, warnanya berubah menjadi ungu pekat—tanda pasti adanya racun buatan manusia. Rakyat terkesiap. Kemarahan mereka yang tadinya tertuju pada Permaisuri, kini beralih menjadi kebingungan dan ketakutan.
"Seseorang telah meracuni sumur kalian untuk membuat kalian membenciku!" seru Li Hua. "Mereka ingin kalian mati hanya demi menjatuhkan mahkotaku!"
Kejutan dari Bayangan
Tiba-tiba, dari atas atap rumah yang reyot, beberapa pria bercadar melompat turun dengan pedang terhunus. Mereka bukan rakyat yang marah, melainkan pembunuh bayaran profesional.
"Bunuh sang penyihir!" teriak salah satu dari mereka, mencoba memprovokasi massa.
Kekacauan pecah. Pengawal Li Hua segera membentuk barisan pelindung, namun para pembunuh itu sangat lincah. Salah satu dari mereka berhasil menembus barisan dan mengayunkan pedang ke arah Li Hua yang sedang tidak berdaya karena kakinya kaku.
Li Hua memejamkan mata, bersiap untuk kematian keduanya.
TING!
Bunyi dentingan logam bertemu logam bergema. Li Hua membuka mata dan melihat punggung lebar yang sangat ia kenal. Kaisar Tian Long berdiri di depannya dengan pedang naga hitam yang bersimbah darah. Ia mengenakan baju zirah ringan, matanya berkilat penuh amarah.
"Berani sekali kalian menyentuh Permaisuriku di depanku!" geram Tian Long.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan mematikan, Kaisar menghabisi para penyerang itu sendirian. Rakyat yang melihat pemandangan itu langsung bersujud. Mereka tidak pernah melihat Kaisar mereka turun ke lumpur demi melindungi istrinya.
Setelah keadaan tenang, Tian Long berbalik. Ia melihat wajah Li Hua yang pucat dan bibirnya yang membiru. Tanpa mempedulikan protokol istana atau pandangan rakyat, Tian Long mengangkat tubuh Li Hua ke dalam dekapannya.
"Kau sudah melakukan cukup banyak untuk hari ini, Li Hua," bisik Tian Long di telinganya. "Sekarang, biarkan aku yang menghancurkan mereka yang melakukan ini."
Li Hua menyandarkan kepalanya di dada Kaisar. Di tengah rasa sakit yang hebat di kakinya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan di kehidupan pertamanya: Rasa aman.
Namun, saat mereka akan pergi, Li Hua melihat salah satu pembunuh yang sekarat memiliki tato kecil di pergelangan tangannya. Tato berbentuk Bunga Krisan Merah—lambang pribadi milik klan Selir Yue.
"Tian Long..." bisik Li Hua lemah sambil menunjuk tato itu. "Waktunya memangkas bunga yang busuk di tamanmu."